
Hari terus berlalu, entah itu pagi, siang atau malam, Mire dan Drago selalu saja bersama seolah mereka adalah perangko saja. Tidak masalah sih bagi keduanya karena mereka sering berbeda pendapat, tapi tetap saja mereka akan saling merindukan satu sama lain walaupun jarak tempat tinggal mereka sangat dekat.
Dua bulan sudah waktu terlewati, selama itu pula Mire menghabiskan waktunya untuk melukis. Tidak ada kegiatan keluar rumah, dia hanya menyibukkan diri dengan membantu Drago yang kini sudah mulai berkembang usahanya.
" Sayang, aku sudah menyelesaikan empat lukisan terbaruku, aku pajang di restauran boleh? " Ucap Mire seraya menyenderkan kepalanya di lengan Drago yang kini tengah sibuk dengan laptopnya.
" Boleh, pajang saya sebanyak yang kau mau. Besok pagi aku siapkan tempatnya ya? "
" Sayang, lihat nih! " Drago menggeser laptopnya ke hadapan Mire, membuat Mire menegakkan tubuhnya untuk melihat apa yang ditunjukkan Drago padanya.
" Ini apa maksudnya? " Tanya Mire yang masih belum paham benar meski dia tahu kalau ada photo lukisannya disana.
" Pelanggan restauran ada yang tertarik degan lukisan mu yang ada di dekat pintu masuk. Ada juga yang tidak sengaja berphoto Selfie di restauran dan lukisan mu ikut terpotret dan ada beberapa kolektor yang bertanya lokasi lukisan mereka berswaphoto. "
" Jadi maksudnya bagaimana? "
Drago membuang nafasnya, lalu merangkul Mire yang terlihat bingung dengan ucapannya tadi.
" Artinya, lukisan mu yang dipajang di restauran sudah ada peminatnya. Tidak disangka juga kalau selain bisa menjual makanan, kita juga bisa menjual lukisan ya? " Drago tersenyum senang, begitu juga dengan Mire. Rasanya dia cukup bangga kepada dirinya sendiri, juga merasa sangat bersyukur karena Drago begitu memperhatikan nya, juga membantunya diam-diam. Kalau saja dia tidak sengaja memergokinya, mungkin Mire tidak akan tahu betapa Drago berusaha sebisa mungkin untuk dirinya.
" Dia ingin melakukan panggilan, kau mau menerimanya tidak? " Tanya Drago kepada Mire.
" Tentu saja. "
Setelah itu Mire menjelaskan banyak hal tentang beberapa lukisannya, dan syukurlah lukisannya dihargai dengan harga yang termasuk lumayan. Sebenarnya bukan masalah harga, hanya saja Mire sangat bahagia begitu karyanya diminati oleh penyuka lukisan.
Setelah itu Mire mulai kembali aktif mempromosikan karya-karyanya di internet, juga menggunakan restauran milik Drago yang diberi nama Mirago. Benar-benar keberuntungan, karena setelah dua bulan mengandalkan Drago untuk kebutuhan sehari-hari, akhirnya kini dia bisa membiayai hidupnya sendiri dengan percaya diri. Sebelumnya sih dia punya cukup uang untuk kebutuhan setelah memutuskan untuk tidak datang lagi ke Nicki galeri, tapi kekhawatiran Drago benar-benar tidak bisa di bantah. Pria itu sibuk menyiapkan sarapan, makan siang, juga makan malam untuk Mire dan Nenek Santi.
" Lalu bagiamana dengan semua lukisan mu yang masih tertinggal di Nicki galeri? " Tanya Drago seraya mengambil posisi duduk disamping Mire setelah selesai mengambil sebotol air mineral.
Mire menghela nafas panjangnya, tidak tahu Wiliam itu sengaja atau tidak, tapi semenjak dia memutuskan untuk tidak lagi datang ke Niki galeri, lukisannya belum juga terjual. Anehnya kabar itu di dapat dari asisten Wiliam, dan ingin bertanya sendiri kepada Nenek galeri juga tidak bisa karena nomor itu selalu diluar jangkauan.
" Aku tidak tahu, apakah aku harus mengambil semua lukisanku, atau aku harus membiarkan saja karena kalau aku ambil pasti galeri akan mengalami sepi pengunjung lagi, atau setidaknya pasti akan mengalami penurunan pendapatan. Aku kasihan dengan nenek galeri. "
Drago membuang nafas, mengusap kepala Mire dengan lembut lalu menepuk pelan punggungnya.
" Nenek galeri pasti tahu kalau pada akhirnya ke egoisan cucunya akan menghancurkan galeri. Padahal sudah mulai akan berjaya lagi, sungguh sangat disayangkan. "
Mire mengangguk setuju dengan ucapan Drago.
Derel menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan pilu. Sudah berbulan-bulan, tapi masih saja tetap sama. Dia masih saja tidak bisa melupakan Drago, dan keadaan rumah juga semakin kacau dan membuatnya tak nyaman. Ibunya yang berubah menjadi sangat sensitif, Ayah Lua juga berubah menjadi pendiam dan murung dari waktu ke waktu. Jujur sebagai anak kandung mereka berdua Derel merasa sedih dengan apa yang tengah orang tuanya alami, tapi melakukan apapun sepertinya juga tidak akan merubah keadaan karena yang bisa mengubahnya adalah Mire seorang.
Mire, jika mengingat nya siapa yang tidak akan rindu? Derel juga merindukan Mire meski tak pernah ia ungkapkan. Tapi lagi-lagi cinta konyolnya juga membuatnya tak bisa berpikir jernih hingga sekarang karena sampai detik ini dia masih saja berharap pada seseorang yang bahkan tak sekalipun menoleh kepadanya.
" Derel, kau sudah tidur? " Tanya Ibu Ana seraya membuka pintu kamar Derel.
" Ibu, ada apa? Aku belum tidur kok. "
Ibu Ana memaksakan senyumnya, lalu duduk disebelah Derel yang tak mengubah posisinya dan masih berbaring seperti semula.
" Ibu ingin tidur disini. "
Derel menghela nafasnya, bangkit dari posisinya, lalu duduk disebelah Ibunya.
" Ibu dan Ayah bertengkar lagi? " Tanya Derel, sebenarnya kejadian seperti sekarang ini adalah hal yang biasa bagi mereka, tapi tetap saja kan rasanya tidak nyaman jika terus dilakukan.
Ibu Ana terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.
" Ayah dan Ibu sebenarnya sangat jarang bertengkar, tapi kami lebih sering diam satu sama lain, dan sibuk memikirkan pikiran kami, lalu berujung menduga-duga. Sebenarnya kejadian seperti ini sudah sering terjadi setelah kami memutuskan untuk menikah, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah pilihan hidup yang Ibu pilih, siap tidak siap ya harus ibu jalani kan? "
" Kenapa Ibu bisa jatuh cinta dengan Ayah? "
Ibu Ana tersenyum tipis, lalu menatap Derel yang sepertinya sangat penasaran dengan jawabannya.
" Ayahmu sangat perhatian kepada Bernika dulu, dan Ibu sempat iri tapi juga mengagumi sikap Ayahmu. Hingga jalan hidup mendekatkan kami dengan adanya Mire diperut Ibu, dia sama lembut dan perhatian kepada Ibu seperti dia memperlakukan Bernika. Ibu terlena, Ibu semakin jatuh cinta dan ke-egoisan Ibu membuat satu sahabat terbaik terluka, dan memilih mati karena tidak sanggup dengan sakit yang dia rasakan. " Ibu Ana meraih tangan Derel, lalu menggenggamnya erat-erat.
" Derel, pria yang dari awal hanya mencintai satu wanita dengan sepenuh hati, akan sulit baginya untuk memperlakukan dengan sama. Ibu merasakan itu, Ibu merasakan bagaimana sakitnya menjadi wanita yang menerima perlakuan seperti itu, jadi berhentilah mengharapkan Drago ya? Pria itu hanya melihat Mire, dan kau tidak bisa memaksakan hati mereka. "
Derel terdiam sebentar.
" Ibu, ini pertama kalinya aku jatuh cinta, bagaimana bisa aku menjalaninya dengan begitu mudah, dan melupakan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya? Itu tidak mudah Ibu. "
" Tidak mudah bukan berarti tidak bisa kan? Mire, dia adalah adikmu, dia juga anak Ibu karena siapapun Ibu kandungnya tetap saja Ibu yang melahirkannya. Dia sudah banyak menderita, dia sudah menyimpan luka itu sedari lama, tolong relakan, dan doakan adikmu bahagia dengan pria yang dia pilih. "
Derel melepaskan tangannya dari genggaman tangan sang Ibu.
Bersambung