I Am A Perfect

I Am A Perfect
Sad? Good bye!



Mire terus menatap Drago sembari menangis tanpa suara, berbeda dengan Ibu Rina dan nenek yang menangis haru hingga begitu lantang suara mereka. Sebabnya adalah mata Drago yang mulai terbuka, dan dia juga terus memanggil nama Mire pelan hampir tak terdengar. Cukup lama Mire diam dan meyakinkan bahwa bukan mimpi saat matanya melihat Drago membuka mata.


" Mi, re.... " Suara itu sungguh lirih tapi Mire bisa dengan jelas mendengar suaranya. Sejenak dia ingin meyakinkan dirinya jika itu nyata karena keterkejutannya membuat dia tuli untuk bisa mendengar tangis bahagia nenek Santi dan Ibu Rina yang tak henti mengucap syukur. Dokter Tasya dan perawat juga sampai menangis karena merasakan Haru. Mire, dia masih enggan berkedip karena takut saat membuka mata setelah berkedip yang akan ia lihat adalah lagi-lagi Drago tertidur.


" Mi, re..... " Lagi, suara lembut itu membuat Mire tak tahan untuk mengeluarkan suara tangisnya.


" Jika kau bangun hanya dalam khayalan, atau mimpi ku saja, tolong jangan sejauh ini, aku tidak sanggup menghadapi kekecewaan yang pasti akan sangat menyakitkan. "


" Nak, Drago sudah bangun! Dia terus memanggil nama mu! " Ucap Nenek Santi seraya mengguncang pelan tubuh Mire yang kini berbaring dengan kepala menoleh ke arah samping, tepatnya dimana Drago berada.


" Nenek? Apakah aku terlalu lelap tidur sampai melihat Drago membuka mata dan memanggil namaku? " Mire menatap dengan tatapan yang begitu putus asa. Iya, dia merasa pasti dia sudah putus asa hingga berkhayal semacam itu.


" Nak, Drago sudah bangun! "


Deg!


Cengkeraman tangan Drago kini semakin ia rasakan, dengan mata terarah padanya karena Mire beberapa detik menatap mata Drago yang tak henti meneteskan air mata tanpa suara.


" Kau bangun? " Tanya Mire menahan lagi suara tangisnya. Drago memejamkan mata sebentar untuk mengiyakan pertanyaan Mire. Sungguh tidak seperti drama pada umumnya saat orang koma tersadar dan bisa langsung bangkit, karena nyatanya Drago merasakan lemas di sekujur tubuhnya karena energi yang ada dia gunakan untuk terus berusaha bergerak.


Mire semakin menangis kencang, tak dia hiraukan bagaimana tubuh bawahnya baru saja mengalami kesakitan hebat, dia perlahan mengubah posisi tubuh bagian atas nya untuk semakin mendekati Drago. Dia mencium punggung tangan Drago yang masih menggenggam tangannya, lalu mencium pipi, juga kening Drago. Seandainya saja tidak ada selang oksigen, ingin juga rasanya mencium bibir pria yang selama ini sudah ia rindukan dengan sangat itu.


" Terimakasih, terimakasih sudah mau bangun. Terimakasih karena aku kembali memiliki alasan untuk hidup. "


" Sayang, jangan lupa ada ana kalian di dekatmu. " Ujar Ibu Rina yang merasa ngeri juga takut bayi yang ada di tengah Drago dan Mire tak sengaja tertekan. Maklum saja, semenjak Ayahnya terbangun, bayi cantik itu kembali tidur dengan tenang.


Mire terkekeh, begitu juga dengan yang lainnya.


Tak lama datanglah Dokter yang dari awal memang memantau keadaan Drago melalui dua suster yang bergantian menjaganya. Dokter itu menggeleng tak percaya, tapi dia juga terlihat bahagia dengan sadarnya Drago. Padahal sudah beberapa kali dia memeriksa keadaan Drago yang sepertinya sudah tidak bisa bertahan lagi, tapi apapun bisa terjadi ketika sang pemilik kehidupan berkehendak.


" Jujur, saya adalah salah satu orang yang tidak memiliki agama. Awalnya saya tidak percaya adanya kekuatan Tuhan maupun Tuhan sendiri, karena yang aku dengar selama ini hanyalah cerita tidak masuk akal tentang Tuhan. Tapi sekarang aku percaya jika Tuhan itu ada, dan Tuhan memang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Aku turut bahagia, sungguh aku sangat bahagia hingga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada anda semua. Keteguhan dan keyakinan anda sudah menyelamatkan satu nyawa yang sangat berarti bagi sebuah kehidupan. " Ucap sang Dokter.


Mire tersenyum bahagia, bahkan matanya masih saja tak bisa mengalirkan air mata. Tidak apa-apa, toh yang keluar dari matanya adalah air mata kebahagiaan kan?


" Besok pagi ambulans akan datang untuk menjemput Mr Eldrago. "


" Untuk memastikan kondisi terkini, akan lebih baik kalau memeriksakan keseluruhan, agar kami bisa membantu untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu di masa akan datang. Kalau dari detak jantung memang sudah normal, tapi kalau sudah pasti akan jauh lebih aman. Tidak akan memakan waktu lama, setelah selesai semua pemeriksaan yang dibutuhkan, Mr Eldrago akan segera di antara kembali ke rumah, dan keluarga juga boleh menemani. "


Mire mengangguk, begitu juga dengan semua orang yang setuju karena merasa jika itu adalah tindakan yang sangat penting.


" Ibu, besok pagi aku ikut juga ya? "


Semua orang menatap kaget. Padahal baru saja melahirkan, bahkan beberapa saat lalu terlihat seperti orang yang sudah akan sekarat, tapi sekarang menjadi begitu semangat seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.


" Mire, kau kan baru saja melahirkan, kau harus menjaga bayimu karena bayimu kan butuh menyusui. " Cegah Nenek Santi.


" Mire kami paham kau sangat mencintai Mr Drago, tapi coba lihat bayimu,ingat betapa mungilnya dia. Dia lahir hanya berbobot dua ribu empat ratus gram loh, padahal panjangnya lima puluh centimeter. Kau bisa bayangkan sekecil apa bayimu kan? Kau harus memberinya ASI tiap dua jam sekali agar bayimu tumbuh sehat, dan bobotnya bertambah pula. Kau sayang bayimu kan? " Ucap Dokter Tasya mengingatkan. Salut dia dengan cinta yang begitu besar seperti yang dimiliki Mire untuk pasangannya, dia bahkan sampai tak mengingat bahwa dia baru saja melahirkan, yah, mungkin dia juga belum tahu kalau nanti saat menginjak lantai kakinya akan merasa sangat lemah.


Mire terdiam, dia menatap Drago yang mengedipkan sekali kedua matanya seolah ingin Mire mendengarkan apa yang disarankan Dokter Tasya. Mire tentu saja paha apa maksudnya, meski dengan berat hati dia mengangguk setuju, dan kini menatap putrinya yang tengah tertidur di gendongan Ibu Rina. Dia sungguh masa bodoh dengan nenek Santi yang terus mengomel meminta Rina untuk meletakkan di boks bayi dengan alasan takut bau tangan dan bayinya tidak betah kalau ditidurkan di kasur.


" Ibu, aku juga mau gendong. " Rengek Mire karena sedari tadi dia sama sekali tidak kebagian waktu untuk bisa menggendong putrinya.


" Jangan Mire, lebih baik ditidurkan di boks nya saja, nanti kalau bau tangan kamu juga yang repot nak. "


" Bibi, tidak apa-apa repot, kan ada aku sebagai neneknya, nanti juga kita pakai jasa pengasuh kalau masih merasa repot. " Ujar Ibu Rina yang masih tak rela melepaskan bayi cantik di pelukannya itu.


" Tidak apa-apa Nyonya, bayi sebenarnya tidak ada istilah bau tangan, hanya saja ada masanya bayi yang baru lahir belum terbiasa dengan dunia luar dan merasa takut jadi dia merasa aman dan nyaman saat digendong atau di peluk. "


" Tuh Bi, dengar penjelasan Dokter Tasya kan? "


Nenek Santi mendesah sebal.


" Ya sudah kalau begitu! Gantian Gendongnya! Aku juga mau gendong cicit ku, Rina! "


Mire terkekeh, begitu juga dengan Drago yang tersenyum tipis karena tak mampu tertawa dengan tubuhnya yang lemah.


Bersambung...