
Ibu Ana dan Ayah Luan kini tengah duduk di kamar mereka seraya memasang wajah pusing setelah membicarakan tentang apa yang dikatakan Derel beberapa saat lalu.
Sebagai seorang Ayah, dia juga tidak ingin melihat Derel menderita meski Derel bukan putri kandungnya, tapi jika Drago sungguh lebih memilih Mire yang adalah putri kandungnya, dia juga merasa bahagia tapi juga sedih karena satu putrinya pasti akan lebih terluka. Lalu harus bagiamana? Melihat Derel yang sangat murung belakangan ini, apakah bisa disembuhkan dengan cara yang lain?
" Ayah, aku tahu permintaan ku ini sangat tidak masuk akal, tapi bagaimana kalau kita bicarakan lagi degan Rina dan Drago? Aku lihat Drago seperti bimbang antara Derel dan Mire, jadi bagaimana kalau kita perjelas saja? "
Ayah Luan menghela nafasnya terlebih dulu sebelum dia menjawab ajakan sang istri.
" Lalu bagaimana kalau hasilnya tidak seperti yang kau inginkan? Aku tahu kau menyembunyikan ke egoisanmu dengan mengharapkan Derel menikah dengan Drago, tapi bagaimana dengan Mire? Bagaimana dengan perasaan Drago? Tidakkah kau berpikir yang punya perasaan bukan hanya Derel saja? "
Ibu Ana menunduk kelu, serba salah memang .enjadi seorang Ibu. Bertindak sedikit saja bisa jadi akan menyakiti salah satu anaknya, atau mungkin malah kedua hati anaknya akan tersakiti.
" Yang sedang kita bicarakan adalah tentang hati. Jujur, kalau aku lihat Drago memang lebih cocok dengan Drago, tapi kita kan juga tidak berhak memaksa perasaan seseorang. " Ayah mengusap wajahnya kasar, rasa penat sekali setengah tahun ini. Rumah terasa seperti goa yang dingin dan tak memiliki cahaya, masalah demi masalah datang dari yang kecil dan kini sudah semakin membesar. Tidak tahu harus berbuat apa dengan hati yang sudah mulai merasakan lelah, tapi dia juga masih mengharapkan adanya kedaiaman seperti sedia kala.
Ibu Ana terdiam mendengar tiap kata yang keluar dari suaminya, tapi hatinya masih saja tak tenang hingga dia memutuskan untuk menemui Ibu Rina dan Drago malam esoknya.
" Apa yang ingin kau bicarakan, Ana? " Tanya Ibu Rina karena lelah juga melihat Ibu Ana terdiam sedari tadi sembari meremas kedua tangannya.
" Rina, Drago apakah masih lama untuk sampai di rumah? "
" Mungkin sebentar lagi, jadi kau bisa bicara sekarang. "
Ibu Ana nampak ragu, tapi tak lama dia mulai membuka mulutnya.
" Rina, bisakah kita membicarakan masala pertunangan untuk Drago? "
Ibu Rina tersenyum mengejek meski itu tidak terlalu diperlihatkan oleh wajahnya. Sebentar dia menghela nafas karena merasa aneh dengan apa yang ingin dibicarakan sahabat lamanya itu.
" Kau sadar dengan apa yang kau katakan? " Ibu Rina menatap Ibu Ana dengan tatapan menyelidik juga seolah merendahkan karena pertanyaan tidak masuk akal Ibu Ana padanya.
" Drago adalah putraku, kenapa kau mengurusi pertunangannya? "
Ibu Ana menelan salivanya mencoba untuk memberanikan diri meski dia sendiri seakan tidak sanggup mengatakannya.
" Derel, dia sangat menyukai Drago, dia sudah beberapa bulan ini terus saja murung. Aku lihat juga Drago masih bimbang dengan pertunangan ini, makanya aku ingin memperjelas agar- "
" Agar apa? " Saut Ibu Rina sebelum Ibu Ana menyelesaikan kalimatnya.
" Ana, kau bicara untuk putrimu Derel? Apakah kau sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi? Dan, dimana sikap putraku yang menunjukkan bahwa dia bimbang dengan pertunangan ini? Kau, Luan dan Derel sudah melihat, dan mendengar sendiri kan putraku tidak menolak pertunangan ini? "
Ibu Ana meremas kedua tangannya yang saling mengaitkan jemari.
" Maaf, Rina. Aku tahu aku tidak berhak ikut campur dengan pertunangan ini, tapi hatiku juga sakit melihat Derel terus bersedih. "
Ibu Rina menghela nafas.
" Derel, Derel, kau dam Luan sama saja. Derel benar-benar kalian nomor satukan ya? Lalu Mire, dia malah seperti tidak ada artinya seolah dia hanyalah anak pungut yang- "
" Rina! Aku yang melahirkan Mire, kita semua tahu aku yang melahirkan Mire, tolong jangan katakan apapun tentang Mire. "
" Aku minta maaf, aku sendiri juga tidak berdaya karena putriku menyukai satu pria. "
" Tapi putraku sudah menentukan sesuai dengan hatinya, jadi tolong hargai saja dan dukung hubungan Mire dan Drago. "
Ibu Ana terdiam sesaat.
" Bukankah Mire sudah mengembalikan cincin? "
" Putraku sudah memakaikannya lagi beberapa bulan lalu. "
Ibu Ana menyeka air matanya dengan cepat, dia nampak tertarik untuk membahas tentang ini.
" Jadi dia bertemu dengan Mire, bagaiamana kabar putriku disana? Apa dia hidup dengan baik? Lalu seperti apa tempat tinggalnya? Dia gemuk atau kurusan? "
" Dia baik, dia sedang berusaha melatih sayapnya agar bisa terbang dengan kokoh, dan membuktikan kepada dunia bahwa dia bisa melambung dengan pilihannya. "
" Ibu? " Sapa Drago yang baru saja kembali seraya me garukan layar ponselnya kepada Ibu Rina yang tengah berjalan menghampirinya.
" Ibu! " Teriak Mire sembari melambaikan tangannya dengan wajah bahagianya.
" Mire? " Ibu Rina melambaikan tangannya juga, lalu tersenyum.
Mendengar nama Mire, sontak Ibu Ana bangkit dari duduknya, dia kini bisa melihat dengan jelas bahwa Ibu Rina tengah memegang ponsel dan melakukan panggilan video, dan dari suara di ponsel itu, dia yakin benar jika itu suara Mire.
" Ibu, hari ini aku memasak sup telur, dan Lusi bilang kali ini aku berhasil, haha..... "
Ibu Rina terkekeh, sementara Drago baru menyadari jika ada Ibu Ana disana.
" Ibu, besok kirimkan aku resep membuat brownis ya? Aku akan mencoba membuat karena besok aku tidak ada pekerjaan. "
" Tentu saja, sayang. Ibu akan mengirim resep brownis, dan bolu pandan yang kau suka itu juga ya? "
Ibu Ana terdiam sembari menangis sedih, iya dia amat sedih karena Mire bahkan tidak sekalipun menghubunginya, bahkan membalas semua pesan darinya juga sama sekali tidak, lalu sekarang dia melihat Mire begitu dekat seolah Ibu Rina adalah Ibunya, tentu dia cemburu dengan itu, tapi juga tidak bisa melakukan apapun.
" Bibi, sudah lama datang? Bibi sendiri? " Sapa Drago, dan sontak Ibu Ana menyeka air matanya.
" Belum lama Drago, Drago boleh Bibi bertanya padamu? "
Drago mengangguk.
" Apakah Mire baik-baik saja? Bagaimana kehidupan disana? Apakah dia menderita, atau dia bahagia? "
Drago terdiam sebentar, lalu berjalan mendekati Ibunya untuk mengambil alih ponsel dari tangan Ibunya.
" Tanyakan saja sendiri, Bibi. " Drago menyerahkan ponsel itu kepada Ibu Ana.
Bersambung