I Am A Perfect

I Am A Perfect
Good Bye...



Sebuah lambaian dari dua orang terkasih, dan mereka adalah Ibu Rina dan Drago. Meski bibir mereka tersenyum, nyatanya mata mereka memerah menahan tangis seolah tak rela dengan perpisahan sementara ini. Drago, pria itu juga nampak murung di hari keberangkatan Mire tapi juga tidak boleh menunjukkan di hadapannya secara langsung.


" Mire, tunggu aku datang! Jangan ragu menghubungi aku saat kau dalam keadaan tidak baik, aku janji akan secepatnya datang padamu! " Ucap Drago berteriak kencang, tatapanya benar-benar terlihat tak rela meski masih saja bibirnya mencoba untuk tersenyum.


" Aku tahu! Aku menunggumu! " Balas Mire yang kini tengah menggandeng tangan Neneknya yang bernama Santi. Setelah mengatakan itu, Mire berbalik badan lalu melanjutkan langkah kakinya yang di iringi air mata. Sesungguhnya dia juga tidak rela kalau harus jauh dari Drago, tapi semua ini juga demi cita-citanya yang juga cita-cita Ibunya.


" Tidak apa-apa, Mire. Semua akan baik-baik saja. " Ucap Mire seraya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


" Benar-benar seperti Ibumu, dia juga akan memukul dadanya saat menahan tangis. " Ucap Nenek Santi lalu mengusap punggung Mire dengan lembut. Iya, Nenek Santi memutuskan untuk ikut kemana Mire pergi dengan tujuan agar bisa menjaga dan merawatnya sebagai ganti dari waktu dua puluh satu tahun yang terlewati begitu saja.


" Aku tidak tahu sejak kapan memukul dada itu membuat sedikit lega, tapi sekarang aku benar-benar bahagia karena ternyata Ibu mewariskan banyak hal yang tanpa aku sadari sebelumnya. " Mire menyeka air matanya, lalu tersenyum seraya kakinya melangkah mengimbangi kaki sang Nenek yang tentu tak bisa kalau secepat dia.


***


Ibu Rina menoleh ke arah Drago yang sepertinya sangat sedih berpisah dengan Mire meski hanya sebentar. Tidak tahu sejak kapan, tapi sekarang dia begitu yakin akan hati putranya yang sudah mencair sejak terakhir kali berhubungan dengan seorang gadis di masa lalu.


" Kalau kau tidak rela, bagaimana jika menyusulnya saja? " Ucap Ibu Rina seraya menyikut lengan putranya yang masih saja diam tak berkutik.


Sejenak Drago menghela nafas, matanya kini sudah tak bisa lagi melihat Mire yang sudah sangat jauh berada darinya.


" Aku inginnya begitu, tapi pekerjaanku disini akan menjadi beban untuk Ibu nantinya. "


Ibu Rina terkekeh geli, lalu menepuk pelan punggung Drago.


" Kau kira Ibumu ini sudah sangat tua? " Ibu Rina mengembuskan nafas panjangnya sebelum kembali berbicara.


" Drago, Ibu menikah di usia dua puluh tahun. Sekarang ini lima pulih tahun saja masih belum, jadi Ibu masih sangat bersemangat. Ayahmu saja tetap bekerja sampai usianya yang hampir delapan puluh tahun, lalu bagaimana bisa Ibu terlalu santai di usia yang masih terbilang muda? Lagi pula, kau kan biasa dengan makanan ala barat seperti Ayahmu, bagaimana kalau kau mencoba peruntungan juga disana? Dengan begitu, kau bisa bekerja untuk menghasilkan uang, juga bisa menjaga Mire kan? Yah, mungkin kau tidak terlalu perduli tentang hubungan jarak jauh ini karena begitu mempercayai Mire, tapi godaan itu akan datang kapan saja. Kau tahu kan disana banyak pria tampan? Selain itu juga pasti akan banyak pria yang lebih kaya akan mendekati Mire. Memang kau bisa tenang dengan itu semua? "


Drago menelan salivanya sendiri. Wiliam, pria itu selain tampan, dia juga terlihat banyak uang kalau dilihat dari pakaian, juga kendaraannya. Wiliam juga berkecimpung di dunia dimana banyak sekali cara untuk lebih mempercepat untuk Mire menjadi lebih terkenal.


" Ibu, Ibu sungguh yakin dengan apa yang Ibu katakan? "


Ibu Rina mengangguk dengan cepat.


" Ibu tahu, kau dan Mire sudah melakukan apa yang seharusnya belum kalian lakukan di masa sekarang ini. Jadi jagalah Mire dengan baik, dan pikirkan soal pernikahan kalian sebelum ada anak di perut Mire. "


Lagi, Drago menelan salivanya sendiri.


" Tidak Bu, aku tahu bagaimana caranya agar tidak hamil kok. "


Ibu Rina terperangah, lalu memukul punggung Drago dengan wajah yang sangat kesal.


Drago mengusap punggungnya yang terasa panas.


" Ibu, aku tentu saja ingin menikah, tapi tunggu saat Mire sudah siap, dan cita-citanya tercapai. "


Ibu Rina memijat pelipisnya karena merasa pusing dengan pembicaraan yang ia awali sendiri tadi. Padahal niatnya hanya ingin Mire dan Drago resmi menikah dan jangan berbuat hal seperti itu, tapi yang ada malah sakit kepala sendiri.


" Ibu benar-benar heran dengan cara berpikir anak muda zaman sekarang. Apa tidak bisa jangan terlalu mengikuti gaya pacaran orang barat? "


Drago menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan senyum yang ia paksakan terbit dari bibirnya. Iya mau bagaimana lagi? Setan ternyata lebih hebat dari pada iman yang ada di hatinya, batin Drago.


Tak lama setelah itu, Drago dan Ibu Rina kembali ke rumah mereka. Begitu turun dari mobil, rupanya mobil milik Ayah Luan sudah terparkir di teras rumah.


" Luan? " Gumam Ibu Rina seraya menjalankan kakinya masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka karena ada tamu di dalam.


" Kalian? Ada apa? " Tanya Ibu Rina saat mendapati Ayah Luan, Ibu Ana, dan Derel disana.


" Rina, kami ingin menemui Mire. Tapi pembantu mu bilang tadi kalian sedang keluar, jadi kami memutuskan untuk menunggu disini. " Ujar Ibu Ana setelah bangkit dari tempat duduknya.


" Mire, dia sudah berangkat ke London, Bibi. " Jawab Drago.


" Apa? " Ibu Ana terperangah dengan tatapan pilu. Padahal dia sengaja menahan diri selama empat hari terakhir untuk tidak menemui Mire agar Mire menjadi lebih tenang, tapi yang ada dia malah terlambat dan tidak bisa lagi melihat wajah Mire hingga waktu yang belum bisa ditentukan kapannya.


" Kenapa kalian tidak memberi tahu kami? " Protes Ayah Luan yang juga dia merasa kesal, padahal dia sudah membeli banyak pakaian, juga aksesoris rambut seperti yang selama ini Mire sukai agar hati putri bungsunya sedikit mencair.


" Maaf, keadaan Mire sudah lebih baik beberapa hari setelah kalian tidak menemuinya lagi. Dia juga sudah bertemu dengan neneknya, Ibu kandung Bernika. Sekarang Bibi Santi akan ikut kemanapun Mire pergi untuk menjaga dan merawatnya. Kalian tidak perlu khawatir, Nenek Santi masih terbilang muda dan tidak akan membuat Mire kesulitan. "


Ibu Ana terkejut hingga mengepalkan tangan dengan begitu kuat, matanya mulai tak fokus di barengi dengan air mata yang mulai menggenang disana.


" Rina, sekarang ini seberapa benci Mire kepadaku? " Tanya Ibu Ana.


" Tidak tahu, aku tidak bisa melihat kebencian itu dari matanya karena selama tiga hari terakhir dia hanya banyak tersenyum dan terlihat tanpa beban saat di manja oleh Neneknya. " Jawan Ibu Rina yang terlihat sedikit malas menjawab.


" Rina, apakah kau sengaja membuat situasi seperti ini? " Protes Ayah Luan.


" Kau sendiri yang menciptakan banyak kebohongan, tapi kau sendiri yang merasa menjadi korban. Sekarang pulanglah, aku tidak ada waktu membicarakan itu itu saja tanpa ujung. Sekarang aku harus berpikir bagaimana caranya agar Mire dan Drago segera menikah sebelum Mire hamil terlebih dulu. " Gumam Ibu Rina seraya berjalan meninggalkan ruang tamu.


Bersambung.