
Selamat membaca.Semoga suka.Jangan lupa like,commen,dan subscribe ya say..
♡♡♡
----
"Mbak.." panggil Eva dan Ken bersamaan
"Ya" pelayan toko bergantian melihat ke Eva dan Ken
"Ah mana yang akan kalian beli?" Eva dan Ken menyadari warna dan motif yang mereka ambil sama persis
"Yang itu saja" Eva meletakkan kembali dasi yang ia ambil ke tempatnya
"Terima kasih sudah berbelanja di toko.." ucap pelayan toko
Ken mengibaskan tangannya diudara meminta sang pelayan untuk berhenti
"Bawakan" Eva yang tidak sadar gelagapan menerima bungkusan yang dilempar Ken
Tujuan mereka ke mall hanya untuk membeli dasi untuk hadiah klien saja.Tapi kaki Ken mendadak berhenti didepan butik.Tak lama ia masuk dan memilih beberapa dress selutut.
Pelayan toko menghampiri mereka berdua.Eva hanya melihat lihat sepintas.
"Totalnya delapan juta tuan" ucap pelayan
"Njirrr itu baju apaan mahal amat" batin Eva
"Untukmu" ucap Ken sembari melempar tas berisikan dua dress yang tadi ia pilih.Lagi lagi dilempar.
"Hah?" Eva tercengang
"Kurang?" tanya Ken
"Penampilanmu itu membuatku malu" ucap Ken lalu melanjutkan kembali langkahnya
"Terima kasih tuan" ucap Eva yang berusaha mengejar langkah Ken
"Apanya yang salah.Pakaian gua sopan kok" batin Eva sembari melihat pakaiannya.
Eva reflek duduk di kursi belakang membuat kening Ken sedikit berkerut.
"Duduk depan.Kau pikir aku supir" pedas sekali ucapan Ken.Eva segera memasang sabuk pengaman saat sudah berada dalam posisi duduk di bangku depan.
Sampai
Brumm..brummm..
Gerbang otomatis terbuka.
"Kakak.." panggil seorang wanita dengan manja
*Kendrick Emery River
"Kakak.." suara yang sudah tidak asing lagi dikupingku
"Emma kangen kak Ken" ia lalu memeluk erat tubuhku
"Mana Caleb?apa ia kesini juga?" ia hanya mengangguk dalam pelukanku
"Saya permisi kedalam tuan" melihat Eva sontak membuat Emma melonggarkan pelukannya.Bisa kulihat Pandangan sinis darinya yang ditujukan untuk Eva.
"Apa?" bentak Emma pada Eva.Kulihat tak ada raut kesal dari wajahnya.Ia malah tersenyum menanggapi ucapan tidak sopan dari wanita ini.
Aku segera masuk menemui Caleb yang sudah duduk diruang tengah.
"Kau kesini hanya untuk menghabiskan makananku?" tanyaku saat melihat mulut Caleb menguyah makanan
"Itu pelayan barumu?" aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya
"Lumayan juga untuk ukuran pelayan"
"Kakak.." pekik Emma mengakhiri pertanyaan tidak bermutu dari Caleb.
Hingga sore dua manusia kakak beradik itu berada dirumahku.Emma yang terus menempel membuatku risih seperti seekor induk yang sedang menggendong bayinya.
Caleb pun jengah melihat kelakuan adiknya,akhirnya ia memaksa Emma untuk ikut pulang.Huh.Lega rasanya.
*Stevany Aurelli
Tatapan mata wanita itu membuatku ingin menusuknya dengan garpu.Menyebalkan sekali rasanya.Jika saja ia bukan tamu tuan sudah ku balas.
Kulihat sejak kedatangan wanita bernama Emma itu Ken gelisah sekali.Aku hanya tersenyum melihat Ken yang menghirup nafas lega karena bebas dari jeratan Emma yang terus menempel.Kurasa karena Ken menghargai Caleb sebagai sahabatnya membuatnya tidak mengusir Emma.Lagi pula siapa yang tidak risih dengan wanita seperti itu.
Marry dan Teo pamit pulang karena Ken yang mengijinkan mereka.Sejauh ini kulihat Ken lelaki baik meski sedikit menyebalkan.
Aku sedang berada didapur menyeduh kopi buatanku sendiri.
Harumm..
"Apa yang kau buat?" tanya Ken yang entah sejak kapan berdiri di tangga
"Kopi.Tuan mau?"
"Buatkan satu" aku kembali membuat kopi didapur
Slurrpppp...
Ia meminum kopi yang masih panas itu.
"Enak" ucapnya lalu kembali meminumnya
"Buatkan aku kopi seperti ini saat berangkat dan pulang kerja"
Aku menyanggupi lalu segera menuju dapur untuk meminum kopi yang kubuat tadi
"Berikan milikmu" belum sempat kuminum ia sudah meminta kopi yang ada ditanganku.Pupus sudah.
Setelah mencuci dua cangkir kopi aku menuju kamar untuk melakukan video call dengan Melani.Sudah larut tapi Matthew belum tidur.Aku jadi tidak enak karena selalu merepotkan Melani.Tapi ia selalu saja mengatakan jika ia senang mengasuh anakku.