
Eva mendapat berita buruk jika anaknya tengah dirawat dirumah sakit.Ia buru buru pulang setelah mendapat kabar dari Melani.Untung saja Ken ada perjalanan bisnis ke Taiwan jadi ia bisa diam diam pulang ke negaranya.
Bandara Internasional Soekarno Hatta jam delapan pagi Eva sampai.Ia segera menyetop taksi diluar bandara menuju rumah sakit Harapan.
Langkahnya buru buru menuju ruang kelas tiga khusus balita.
"Mamama" ucap Matthew saat melihat kedatangan Eva.Hatinya terenyuh melihat anaknya yang sedang dalam keadaan sakit.
"Mbak udah makan?" tanya eva pada Melani yang setia merawat anakku
"Udah Va.Kok kamu bisa kesini?emang bos kamu ngijinin?"
"Aku diem diem kesini mbak"
"Astaga Eva"
"Lagian bos aku ada urusan bisnis mbak"
Melani tidak bisa lagi mengatakan apapun.
Taiwan..
Ken sibuk melakukan pertemuan dengan beberapa kliennya.
Perasaannya sedari tadi tidak tenang.
Sebaiknya ia segera menyelesaikan urusannya disini agar bisa cepat pulang menemui Eva.
Eva meminta Melanubntuk pulang ia yang akan menunggu Matthew di ruang rawat.
Eva terbangun saat ada dokter jaga malam yang akan memeriksa Matthew.
"Gimana dok?" tanya Eva
"Besok akan ada pemeriksaan lanjut" dari diagnosa yang diberikan oleh dokter anaknya mengalami demam berdarah.
"Baik dok terimakasih" ucap Eva
"Anda sendirian?ayahnya kemana?" pertanyaan dokter lelaki muda itu membuat Eva diam sejenak
"Kami berpisah" jawab Eva lesu
"Maaf saya tidak bermaksud" tuturnya kala mendengar jawaban Eva
"Anda sudah makan malam?"
"Sudah" Eva malas menanggapi arah pembicaraan dokter tersebut
"Sayang sekali.Saya ingin mengajak anda makan dikantin rumah sakit"
"Maaf dok saya tidak bisa meninggalkan anak saya"
"Ni orang betah banget sih ngbrolnya.Males banget buat ngeladeninnya" batin Eva
"Baiklah sepertinya anda butuh istirahat" ucapnya sebelum pamit
Melani membawakan Eva beberapa pakaian ganti dan makanan.
"Jam berapa janji temu dengan tuan Souji?"
"Jam dua siang tuan" ucap sekretaris sambil melihat catatan
"Apa agenda kita masih banyak?"
"Aiishhh" Ken gusar karena padatnya jadwal dia.
Menyesal karena tidak memaksa Eva lebih keras untuk ikut dengannya
*Stevany Aurelli
Sudah dua hari aku disini.Diam diam pulang tanpa memberi tahu Ken.
Drttt..
"Halo tuan"
"Lama sekali kau mengangkatnya" gerutu Ken dari seberang sana
"Kau dimana?"
Eva diam.Apa sebaiknya ia jujur pada Ken.
"Saya.."
"..di Indonesia"
"Haha..jangan bercanda"
"Saya tidak bercanda tuan"
Hening.
"Mungkin saya tidak akan bisa bekerja lagi dengan tuan"
"Kenapa!" aku menghela nafas panjang tak sanggup melanjutkan kata kataku
"Gajinya kurang banyak" kenapa aku malah berbohong
"Eva..Eva.Kamu serius di Indonesia?"
"Iya tuan"
"Tunggu kerjaan aku selesai pasti aku jemput kamu" kenapa kamu gamau lepasin aku Ken.Aku cuma gabisa terus terusan bohongin kamu.
"Aku cinta kamu" ucap Ken ditengah keheningan
"Saya tahu tuan" jawabku pelan
"Kalo begitu istirahatlah.Jangan matikan ponsel"
"Ya tuan"
Tutt..tutt..
Kupustuskan sambungan telefon.Gimana gak klepek klepek kalo dia kaya gini terus.