
"Bulan madu kemana?" lanjut Risa
"Ada deh" Ken lalu membawa Eva menemui keluarganya.Ada Ayahnya,Anneth dan Mona keponakan kecilnya.
"Eva" Anneth langsung memberi Eva pelukan hangat
"Halo kak" sapa Eva meski sedikit kikuk
"Halo om"
"Kau sudah jadi menantuku Eva panggil saja daddy" ia ikut memeluk Eva
"I..i..iya dad" Ken mengangguk saat dimintai persetujuan Eva
"Kenalkan ini Mona anakku"
"Hai peri kecil" sapa Eva yang sedikit membungkuk
"Halo tante" jawabnya malu malu
"Selamat pengantin baru" sapa Stevan yang baru saja datang.
Ken langsung mengeratkan pelukannya pada Eva
"Selamat" Stevan mengulurkan tangannya.Eva melirik Ken sekilas,takut takut ia menyalami Stevan
"Makasih" Ken lantas menarik tangan Eva dari genggaman Stevan
"Maaf dad kami harus menyapa tamu yang lain" ucap Ken
"Kau selalu saja begitu.Baiklah kalian boleh pergi" sahutnya kemudian
Wajah Eva sedikit memucat.Ken bisa merasakan ketakutan Eva karena tangannya yang dingin.
"Tenang Eva.Kau aman bersamaku"
Satu bulan setelah pesta pernikahan mendadak ala Ken.Tiara sedang di ruang loker sembari memegangi perutnya.Merasakan sakit pada lambungnya yang begitu nyeri.
Jimin yang hendak pulang tidak sengaja melihat pintu loker terbuka,dilihatnya Tiara yang masih duduk dalam ruangan itu.Padahal seluruh karyawannya sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
"Ra.." panggil Jimin yang masuk kedalam ruangan
"Ya" suara lirih Tiara hampir tidak terdengar.Wajahnya begitu pucat menahan sakit.Keringat dingin pun mulai keluar dari pelipisnya.
"Kau sakit?!" Jimin lalu menghampiri Tiara
"Kau pucat sekali.Ayo kita ke rumah sakit" Tiara setuju dengan usulan Jimin.Ia juga merasakan lambungnya yang kian sakit.
Setelah dari rumah sakit Jimin mengantar pulang Tiara ke apartemen yang diberikannya dulu pada Eva.Kini setelah Eva menikah hanya Tiara yang tinggal disana.Jimin masih belum pulang meski Tiara sudah tidur di kamarnya.Sebaiknya ia menginap karena masih merasa khawatir.
---
"Sayang tolong ambilin daging di kulkas dong" pinta Eva yang sibuk memotong bahan makanan
"Kulkas kan dibelakang kamu" gerutu Ken yang sedang sibuk dengan laptopnya diruang tamu
"Nih" itulah Ken meski ia mengomel tapi tetap saja menuruti permintaan Eva
"Makasih sayang" Eva melempar senyuman manis kearah Ken
"Masak apa?"
"Ish..jangan peluk dulu kenapa sih.Aku lagi ribet" omel Eva
"Iya cheff" ledek Ken yang berlalu menuju ruang tamu lagi.Tugas kantornya masih banyak.Kali ini ia akan melewatkan menggoda Eva
"Eva..Eva.Masak ma rajin tapi rasanya gak karuan" ucapnya saat kembali berkutat pada laptopnya.Apalah Ken yang selalu pasrah dengan makanan hasil buatan istrinya itu.Enak tidaknya tetap ia makan.Setidaknya sekarang rasanya sudah lebih tertolong ketimbang Eva yang dulu masih jadi pelayannya.
Drttt..
Ponsel Ken bergetar
"Ya Cal" jawabnya
"Ayo kita ke klub malam" ajak Caleb
"Kau gila.Apa kau mau melihatku diomeli Eva habis habisan!"
"Kau takut pada Eva!"
"Terserah kau saja.Aku hanya terlalu mencintai istriku"
"Hah Ken" terdengar Caleb menghela nafas panjang diseberang sana
"Kenapa?" tanya Ken
"Aku juga ingin menikah" gurau Caleb
"Dengan siapa?"
"Dengan Eva jika kau menceraikannya" tawa Caleb meledak seketika
"Sampah!" umpat Ken
"Hahaha..aku bercanda kawan.Yasudah aku akan ke klub bersama yang lain saja"
"Hemm" sahut Ken sebelum Caleb memutuskan sambungan telefon.Sejak menikah Ken memang tidak sekalipun menginjakkan kaki di klub malam.Berada dirumah dengan memandangi Eva saja sudah membuatnya begitu betah.Jadi untuk apa ia mencari hiburan di luar rumah sedangkan ada istrinya yang begitu cantik.