
Sejak Jimin melihat Tiara sakit ia menjadi begitu perhatian.Tiara juga tidak menolak kedekatannya dengan Jimin.Seluruh karyawan Last Cake pun sudah tahu.Yeni pun langsung terang terangan memusihinya tanpa malu.Dia yang lebih dulu menyukai Jimin tapi malah Tiara yang mendapatkan perhatiannya.
"Ara" panggilan sayang mama Jimin untuk Tiara
"Tante"
"Ikut yuk.Tante mau belanja" wanita itu memaksa Tiara untuk segera mengganti pakaiannya
"Mau dibawa kemana Tiara ma?" cegah Jimin
"Shopping lah.Emang kamu dianggurin aja" jawab mamanya yang membuat Jimin memprotes keras.Sohee memilih mengabaikan Jimin,ia menarik tangan Tiara untuk masuk kedalam mobilnya.Jimin mengikutinya masuk mobil pula.
Berjam jam Jimin mengikuti mamanya dan Tiara sambil membawa paper bag dikedua tangannya.Kakinya sudah pegal.Rengekannya yang kesekian kalinya tak ditanggapi mamanya.
"Tante pulang yuk.Kasian pak Jimin udah capek" pinta Tiara
"Jangan lemes jadi lelaki" omel mamanya
"Kita dari sore keliling ma"
"Yaudah kita makan dulu aja" ajak mamanya kesebuah restoran.
Sohee memang selalu hangat pada siapapun.Tapi Tiara tetap saja merasa sungkan dengan segala kebaikannya.
"Ara udah punya pacar?" pertanyaan mendadak yang membuat Jimin langsung terbatuk batuk
"Belum tante" jawabnya malu malu
"Jimin emang belum pernah nembak kamu?" orang tua memang selalu terang terangan mengutarakan isi pikirannya
"Kamu gimana sih?" tanyanya pada Jimin
"Tiara mana mau sama aku ma" jawaban Jimin membuat pipi Tiara kian merona hebat
"Mana tahu kalau kamu gak nanya sama orangnya!"
Percakapan yang membuat jantung Tiara berloncatan kesana kemari.Sejak bekerja di Last Cake ia memang sudah menyukai bosnya itu.Karena sadar diri Tiara hanya bisa memendam perasaannya.
"Pak maaf ya atas ucapan tante tadi" ucap Tiara kala mereka berdiri didepan pintu apartemen
"Saya yang harusnya minta maaf" ucapnya
"Kalau begitu saya masuk dulu pak" Jimin menahan tangan Tiara yang hampir memegang knop pintu
"Saya suka kamu"
Hening beberapa menit.Tiara tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Gimana?" tanya Jimin.Tiara hanya mengangguk.
"Jadi?" tanyanya lagi
"Tidurlah" pelan Jimin mencium kening Tiara sekilas lalu pergi meninggalkannya yang tak sempat merespon.
Tiara masuk kedalam apartemen sembari memegangi keningnya.Mimpikah yang terjadi baru saja.Ia jadi senyum senyum sendiri.Saat hendak tidur pun bayangan Jimin masih memenuhi otaknya.
"Jadi gak bisa tidur kan" Tiara masih saja terjaga sampai tengah malam
---
"Kita mau kemana sih malem malem begini?" Ken membawa Eva pergi tanpa membiarkannya mengganti baju tidur
"Rahasia" jawabnya dengan sedikit menggoda
Mobil Ken terus melaju meninggalkan kawasan Nassim Road.
Eva mulai mengantuk.Perjalanan mereka lebih jauh dari perkiraan Eva.
"Sampai" Ken turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Eva
"Rumah siapa ini?" tanya Eva
"Ayo masuk"
Eva tidak tahu persisnya mereka ada dimana.Yang pasti mereka ada di daerah perbukitan.Ken membawa Eva masuk untuk berkeliling.Banyak tanaman hias didalam rumah yang membuat setiap ruangan terasa asri.Di halaman belakang ada kolam ikan juga disana.Dengan tanaman merambat di pinggir kolam itu.Beberapa meter dari kolam ikan.Ada sepasang bangku kayu yang diletakkan ditengah taman.Eva sangat suka bagian ini.Membuat rumah itu terasa hidup.
Dari situ Ken membawa Eva melihat dapur dan beberapa ruangan lainnya.Kemudian beralih menuju kamar utama di lantai dua.Kamar itu besar sekali dengan ranjang king size.Ruangannya tertata begitu rapi dan terlihat elegan.
"Rumah siapa ini Ken?"
"Rumah lamaku"
"Kenapa tidak pernah memberitahuku"
"Aku memang sengaja merenovasinya lagi.Kupikir kau suka tanaman jadi aku meminta orang untuk menanamnya"
"Kau yang terbaik Ken" Eva memeluk erat suaminya itu
"Dalam hal apapun" Ken lalu membopong Eva menuju ranjang
"Beri aku baby sayang" Ken lalu mencium bibir Eva