
Selamat membaca semoga suka ya sayy..
Jangan lupa like komen dan subscribe..
---
*Stevany Aurelli
Sudah hampir jam dua belas tapi Ken belum juga pulang.Apa ia ke klub malam lagi? sepertinya memang iya.
Ting tong...
Ah mungkin itu dia?
Aku berlari kepintu depan untuk segera membukakan pintu.
Ceklekk..
"Tu.." ucapanku terhenti saat melihat lelaki asing berkulit putih berada diluar pintu
"Apa aku boleh masuk?" belum sempat menjawab tapi ia sudah menerobos masuk
"Aku ini kakak ipar Ken" ujarnya seraya duduk disofa.
"Saya akan mengambil minum tuan"
"Jangan repot.Aku kesini untuk bersenang senang denganmu" ia berjalan menghampiriku
"Apa maksud anda tuan,saya tidak mengerti?" langkahku semakin terpojok hingga menyentuh tembok
Ingin ku hajar ia saat itu juga ketika tangannya dengan lancang menyentuh wajahku.Aku hanya menepisnya dan berusaha menghindar.Tapi ia malah kembali mendorongku ke tembok.
Aku berusaha melawan sebisaku tapi perlawananku tak sebanding dengan tenaganya.
Ken kau dimana aku takut!
Ia dengan kasar mencium bibirku berulang kali.Air mataku semakin deras mengalir mendapatkan perlakuan darinya yang merendahkan diriku.
Kudorong ia sekuat tenaga,berhasil membuat sedikit jarak diantara kami.Kugunakan kesempatan itu untuk berusaha kabur darinya tapi ia malah menarik bajuku sampai sedikit sobek.
Aku menangis dan terus memohon agar ia melepaskan aku.
"Aku tidak akan kasar sayang" ucapnya.
Bagian mana yang tidak kasar.Perlakuannya sekarang seperti sedang memperlakukan seorang jalan* saja,membuatku jijik setengah mati.
Tanganku meraih benda diatas meja,memukul kepalanya sekuat tenaga.
"Kau!" kulihat tangannya sedikit berdarah akibat hantamanku.
Emosinya meledak,ia menyeret diriku bagai binatang lalu menjatuhkanku diatas sofa.
"Tidak tuan jangan" aku meronta sekuat tenaga,berusaha sebisa mungkin mencegah agar ia tidak melakukan lebih lagi.
Lagi dan lagi ia mencium setiap inci leherku.Jika seperti ini terus rasanya aku ingin mati saja.
Tolong aku Ken,kau dimana??
Brakkkk..
*Author POV
Brakkk..
Gebrakan dari arah pintu membuat Stevan menoleh.
Darah Ken mendidih saat melihat posisi Stevan dan Eva.
Bugg..
Bugg..
Ken kalap meninju wajah Stevan berulang kali.Bukannya meringis,Stevan malah menyeringai mendapat bogem mentah dari Ken,ia juga tidak tinggal diam.
Bugg..
Sebuah tinju melayang mengenai bibir Ken.Caleb yang baru saja datang segera membantu Ken.
Eva mendekap erat kedua lututnya.Tubuhnya bergetar hebat akibat tangisan.Penampilannya sudah sangat kacau.Rambutnya berantakan dengan baju yang sedikit sobek.Entah kapan Stevan memukulnya,tapi ada bekas darah ujung bibir Eva.
"Eva.." Ken bergegas menghampiri Eva saat Caleb datang membantunya
"Tu..tuan" Eva mendongak melihat kearah Ken.Sungguh tatapan yang menyayat hati.Tangis Eva kian pecah saat mendapat pelukan dari Ken.
"Tenang Eva kau aman sekarang" ucap Ken sembari mengelus lembut rambut Eva.Ia berusaha menenangkan tangisan Eva yang memilukan.
"Kita apakan dia Ken?" Caleb sudah menghajar Stevan sampai babak belur.Tapi Ken merasa itu belum setimpal atas perbuatan bejatnya.
Ken berusaha bangkit tapi Eva menahannya.
"Jangan tuan" suara Eva terdengar parau
"Kau urus sisanya Cal" Ken menarik Eva dalam dekapannya.
"Baik Ken" Caleb menarik paksa Stevan keluar rumah.
Selama beberapa saat Ken membiarkan Eva menangis untuk meluapkan ketakutannya.
"Bagian mana saja yang ia sentuh?" tanya Ken.Eva tak bergeming.Ia tidak mau mengingat kejadian tadi lagi.Tidak sudi.
"Disini?" Ken menyentuh kening Eva
Cupp..
"Disini?" Ia beralih memegangi kedua pipi Eva
Cupp..
Cupp..
"Disini juga?" jemari Ken menyentuh hidung dan mata Eva
Cupp..
Cupp..
Cupp..
"Dan disini?" tangan lembut Ken menyentuh bibir Eva yang sedikit bengkak
Cupp..
Awalnya Ken hanya menempelkan bibirnya.Tapi lama kelamaan ia tidak tahan untuk tidak melumat bibir Eva.Ia diam tak bergeming.Tidak menolak ataupun menerima lumatan yang diberikan Ken.
Lumatan demi lumatan Ken berikan pada bibir Eva.Hatinya perih melihat wanita yang dicintainya dilecehkan,terlebih dirumahnya sendiri.
Ken melepas ciumannya.
"Tenanglah aku sudah menghapus bekas ciumannya.Jangan menangis lagi Eva"
Dasar jiwa pembisnis.Selalu saja memanfaatkan peluang.