Hug Me, Please

Hug Me, Please
#32 Terbiasa



Eva segera turun.Ini sudah hampir jam tujuh.Marry dan Teo datang lebih lambat atas permintaan Ken.


"Masak apa sayang?" tanya Ken saat melangkah Ken dapur


"Roti bakar" sahut Eva sambil mengoleskan selai kacang.Ia sudah terbiasa jika Ken memeluknya dari belakang.Percuma menolak Ken malah akan semakin mengeratkan pelukannya.


Terbiasa.Semua berawal dari kata itu.


Ken yang lebih dulu jatuh cinta melihat kebiasaan Eva yang setia menunggunya pulang.Terbiasa dengan segala perhatian yang diberikan padanya.Entahlah,Ken hanya merasa jika Eva tulus padanya.


"Pa.." ucapan bibi Marry terhenti saat melihat Ken tengah memeluk Eva didapur


"Bibi" Eva lebih terkejut melihat kedatangan Marry yang memergoki mereka.Sedangkan Ken malah semakin bersikap manja


"Pagi bi" sahut Ken santai


"Maaf tuan" ucap Teo yang berada di belakang Marry


"Tidak masalah.Kurasa kalian harus mulai terbiasa melihat kami seperti ini" Ken menarik Eva untuk menemaninya sarapan


"Kami permisi dulu tuan" ucap Marry yang menarik Teo ke halaman depan


Eva sudah pasrah jika nantinya ia akan dicecar berbagai pertanyaan dari kedua orang tua itu.Hatinya juga tak kuasa menolak perlakuan Ken pada dirinya.Salah dirinya yang jatuh cinta pada bos nya yang tampan dan kaya.


Seperti dugaannya setelah Ken berangkat ke kantor Marry segera menghampirinya di dapur.


"Kalian sudah sejauh mana?"


"Ga tau bi" Eva juga bingung mendapat pertanyaan itu


"Tuan sudah tau?" Eva menggeleng lemas


"Jangan menutupinya terus Eva"


"Secepatnya bi" sahut Eva mengakhiri percakapan mereka


Ponsel Eva berdering mendapati sebuah pesan dari Ken.


*Ken


Jangan lupa nanti siang


*Eva


Semenjak kejadian Eva hampir dilecehkan Stevan.Ken selalu meminta Eva berada didekatnya sebisa mungkin.Kamar Eva saja sudah pindah disebelah kamar Ken.


Eva segera menuju kantor Ken dengan diantar paman Teo.Kupingnya sudah mulai kebal mendengarkan bisik bisik yang semakin jelas diucapkan oleh karyawan Ken.Mulai dari mengatakan ia pelayan murahan,wanita bayaran,sampai mengatakan ia pelacur yang berkedok pelayan.Terserah kalian.Toh bukan kalian yang menggaji Eva.Lagi pula mereka mana tahu jika Ken yang terus saja menempel pada Eva sejak awal.


"Tuan sudah menunggu nona" ucap Mei Qing ramah.Ia tahu persis jika bosnya yang mabuk cinta terhadap Eva.Bertahun tahun bekerja dengan Ken membuat dirinya hafal sifat asli Ken.Luarnya saja terlihat angkuh tapi jika sudah kenal ia adalah pribadi yang hangat.


"Suapi aku makan" ucap Ken saat melihat Eva masuk ke ruang kerjanya.Banyak sekali berkas yang ia harus periksa dan tanda tangani.Bahkan membuatnya tak sempat untuk sekedar meluangkan waktu makan siang.


"Sebaiknya tuan makan siang terlebih dulu" ucap Eva yang sibuk menyuapi Ken


"Apa hadiahnya jika aku makan dulu?" tawar Ken


"Permen" ledek Eva


"Bagaimana jika kamu menjadi nyonya River"


"Maksud tuan menjadi pelayan sampai anda memiliki nyonya River?" Ken menggeleng


"Baiklah" Ken tersemyum puas mendengar jawaban Eva.Tapi Eva tidak benar benar serius dengan ucapannya itu.Tujuannya ia hanya ingin Ken fokus makan.Tanpa sibuk memeriksa tumpukkan berkas berkas di jam makan siang.


"Bagaimana jika bulan depan" tanya Ken serius


"Ya tapi makan dulu"


"Kau maunya yang seperti apa?"


"Apanya?" tanya Eva balik


"Dekorasi dan segalanya?"


"Hanya ada kita dan pendeta" jawab Eva tanpa pikir panjang


"I love you"


"Aaaa buka mulutnya" Eva menyuap sesendok penuh bekal nasi yang ia bawa.


Biasanya Eva boleh pulang setelah menemani Ken makan siang tapi ia malah ditahan Ken sampai ia pulang kantor nanti.


Ken tidak pernah menanggapi ledekan Caleb yang mengatainya manja dan apalah itu.


Jika sudah ditinggal Ken Eva akan memilih untuk streaming pertandingan bola.Karena Eva bukan tipe wanita yang hobi nonton drama atau sejenisnya.