
"Wah..wahhh" Caleb turut senang melihat wajah Ken yang begitu bahagia.Pasalnya ia menjadi sasaran amarah Ken selama beberapa bulan terakhir
"Hey Cal" sapa Eva yang merasa mendapat pertolongan agar tidak digoda Ken terus
"Kau seksi sekali Eva!" mata Caleb sampai membulat melihat pemandangan langka.Sebab Eva selalu berpakaian longgar dan panjang biasanya
"Eit!" Ken langsung berdiri didepan Eva untuk menghalangi pandangan Caleb menelisik lebih jauh
"Minggirlah Ken!" Caleb mendorong Ken kesamping
"Kau ingin matamu itu ku congkel!" tatapan Ken menusuk tajam
"Dasar protektif!" gerutu Caleb.Eva tersenyum mendengar ledekan yang diberikan Caleb.Tak mau berdebat lebih lanjut dengan Ken temannya itu memilih pamit.
Setelah Caleb pergi Ken berbalik badan.Ia langsung melepas jaketnya untuk dipakaikan ke Eva.
"Mau kemana lagi?" tanya Eva saat Ken menarik tangannya lagi
"Pulang" pulang kemana yang dimaksud Ken.Apa ia tahu jika Eva tinggal di apartemen.Tapi mana mungkin.
Setelah waktu yang cukup lama.Akhirnya mobil sport milik Ken sampai disebuah rumah minimalis.Pagar otomatis terbuka,Ken langsung memasukkan mobilnya ke garasi.
Eva sebenarnga sudah menebak jika Ken akan membawanya pulang kerumahnya.Tapi hal itu tak membuat Eva berusaha mencegah Ken.Ia malah diam sambil mengamati wajah Ken yang sudah lama tidak ia lihat.Kini ia baru sadar,betapa dirinya sudah ketergantungan dengan lelaki ini.Salahmu Ken karena tampan dengan level keterlaluan.
Belum juga Eva duduk Ken sudah memberi komando padanya.
"Buatkan aku kopi Eva" perintah Ken.Kebiasaan yang sangat keduanya rindukan selama beberapa saat.Senyum masih saja betah menempel pada bibir Eva.Susah sekali rasanya untuk menahan itu.Terlampau senang hatinya bisa bertemu dengan Ken.
"Ini tuan" Eva menaruh secangkir kopi dimeja
"Gantilah pakaianmu!" perintah Ken karena merasa tak nyaman melihat Eva mengenakan gaun super ketat itu ditambah adanya belahan pada bagian bawah yang panjang sampai ke paha.Takut tak bisa menahan diri lebih lama.
"Memangnya baju saya masih ada tuan?" tanya Eva serius
"Panggil saja Ken.Dipanggil tuan terasa menggelikan!" ucap Ken sambil bergidik geli
Eva kembali setelah mandi dan berganti baju tidur yang serba panjang.Dengan begini Ken bisa lebih tenang mengobrol dengan Eva.
"Nanti saja!" sahut Ken malas.Malas berjauhan dengan Eva sebenarnya.
"Yasudah" membawa gelas berisi air dingin keruang tamu
"Aku begitu merindukanmu Eva" Ken memeluk Eva yang tengah duduk disampingnya.Menggelayut manja dipundak Eva.Wajah Eva memerah lagi.Tak bisa dipungkiri hatinya sedang dalam suasana sangat baik.
"Aku juga" jawab Eva lirih namun tetap didengar oleh Ken
"Lebih tepatnya kopi buatanmu" lanjut Ken yang langsung membuat Eva mengomel
Eva merasa ngantuk dan lelah.Ia pergi lebih dulu ke kamar untuk tidur.Ken hanya memandangi kepergian Eva yang menaiki anak tangga satu persatu.Dirinya masih tidak percaya jika sekarang Eva sudah kembali padanya.
Pelukan dan ciuman itu.Sudah membuat Ken mengerti semuanya.Tidak perlu lagi dijelaskan dengan kata kata.Sentuhan Eva yang jauh berbeda dengan dulu sudah memperjelas semuanya.Dikatakan atau tidak itu tetap cinta bagi keduanya.Ken hanya tidak mau memperumit segalanya karena mereka cukup dewasa untuk bisa memahami perasaan satu sama lain.
Bukankah dunia terasa begitu indah bagi dua insan yang sedang jatuh cinta.
---
*Stevany Aurelli
Aku hanya perlu bersyukur sebanyak mungkin sudah dipertemukan dengan Ken.Lelaki yang selalu mencintaiku.Ya meski aku suka dibuat kesal dengan sifatnya yang kadang menyebalkan dan protektif.Tapi itu bukanlah hal besar,karena yang paling penting ia selalu mau menerima segala kekuranganku dengan semua kelebihan yang ia punya.Jika saja ia hanya lelaki miskin dengan wajah biasa.Aku tetap mencintainya,karena yang membuatku jatuh cinta adalah bagaimana cara ia memperlakukanku dengan hatinya.Karena memang benar,wanita tidak akan luluh jika hanya karna materi semata.Percuma uang banyak jika kita tidak merasa dicintai.Toh kita tetap akan merasa kesepian.