Hug Me, Please

Hug Me, Please
#36 Penghiburan



"Kamu puas?"


Eva mengamuk setelah melontarkan kalimat itu.Dito hanya melihat tanpa mencoba untuk menenangkan.Melani yang mendengar kegaduhan itu langsung memeluk Eva erat berusaha menenangkannya.


"Pergi!"


"Pergi dari sini!" usir Melani yang langsung membuat suaminya menyeret Dito keluar dari rumah mereka.


Dito yang diusir pasrah meninggalkan rumah itu.Niatnya kesana hanya karena untuk melihat anaknya.Ia ingin lihat rupa buah hatinya yang ia tinggalkan dulu.


Tidak ada sesal didalam hatinya meninggalkan Eva.Yang ia sesalkan adalah tak pernah melihat wajah anaknya sendiri sampai akhir hayatnya.


Rasa sayang pada Eva sudah ia buang jauh jauh sejak menikahi istrinya.


Sedangkan tanpa ia ketahui Eva tengah hancur.


Luka..


Siapa yang tahu seberapa hebat luka yang harus ditanggung Eva seorang diri.Seberapa lelahnya ia terus tersenyum dalam luka.Tak ada yang tahu selain dirinya sendiri.Memendam setiap inci luka dihatinya dalam diam.


Berulang kali ia ingin menyerah pada keadaan.Tapi nalurinya sebagai seorang ibu membuat dirinya memaksakan diri untuk tetap kuat.Karena ada anak yang harus ia bahagiakan.


Kini yang menjadi alasannya bertahan sejauh ini sudah pergi.


 


 


 


 


---


 


 


Waktu berlalu minggu demi minggu.


Eva berangsur angsur membaik.Ia mencoba menerima kenyataan yang ada.Sesakit apapun itu,bangkit dan terus lanjutkan hidup.


"Mbak pergi dulu ya" Eva mengambil tas yang tergeletak dimeja


"Sore nanti balik mbak" enggan menceritakan kemana tujuannya


"Hati hati" teriak Melani dari dapur


"Ya mbak" menutup pintu gerbang


Eva berjalan keluar perumahan.Untung saja halte bus tidak jauh dari rumah Melani.


Disepanjang perjalanan pikirannya melayang kemasa dimana ia dengan tangis haru memeluk buah hatinya.Sudahlah tidak baik terlalu berlarut larut.


Satu jam perjalanan.Eva sampai ketempat yang ia tuju.Dari terminal ia masih harus naik ojek online untuk meneruskan perjalanan.


"Makasih pak" mengembalikan helm yang dipakainya.


Disana ia berdiri cukup lama didepan bangunan tua itu.Hampir tiga tahun ia tidak pernah lagi menginjakkan kaki ditempat itu.


Dibukanya gerbang kecil lalu menutupnya perlahan.Pelataran bangunan itu lumayan luas dengan rumput hijau dimana mana ditambah ada beberapa tanaman hias yang rajin dirawat oleh pemiliknya.Seulas senyum terukir dibibirnya.Mengenang masa kanak kanak yang ia habiskan dipanti asuhan itu.Eva melihat sosok sedang duduk diteras sembari merajut.


"Bunda" Eva menyapa seorang ibu yang duduk di bangku depan rumah itu.


Wanita tua itu diam sembari menatap lamat lamat wajah Eva.Berusaha mengenali wajahnya karena pandangan yang semakin mengabur.


"Eva bun" Eva membantu mengingat wanita tua itu


"Ya ampun Eva" ia meletakkan rajutannya terlebih dulu sebelum memeluk Eva dengan erat


"Kemana aja?" sambil mengajaknya duduk bersama


"Eva baru pulang bun" dulu Eva memang sempat bercerita jika dirinya akan bekerja diluar negeri.


Langkah kaki beberapa anak terdengar menuju teras.Beberapa anak yang mengenalinya langsung berlarian memeluk dirinya.


Eva membawakan hadiah untuk mereka.Anak anak itu langsung masuk untuk membuka hadiah yang Eva bawa.


Bundanya mengucapkan terima kasih pada Eva yang masih peduli pada anak panti.Menarik nafas lega saat anak anak kembali masuk kedalam rumah.Bundanya itu ingin mengobrol dengan Eva tanpa gangguan karena merasa rindu dengan mantan anak asuhnya itu.Tanpa diminta Eva dengan suka rela menceritakan semuanya tentang Matthew dan Dito.


Dulu bunda panti memang tidak setuju saat Eva mengenalkan Dito dengannya.Seakan punya firasat tidak baik melihat gelagatnya.Perasaan seorang ibu memang peka,meski ibu panti bukanlah ibu kandungnya.


Berbicara banyak hal dan melihat anak anak panti bermain membuat Eva sedikit melepas beban dihatinya.Seharusnya ia datang lebih awal kemari agar pikirannya lebih terbuka.