
"Si Yeni kan naksir tuh ama pak bos!" Tiara mulai terpancing gosip Risa
"Mana mau pak bos sama uler cobra kayak dia" Eva menatap bingung kedua teman barunya itu.Ya mereka tadinya memang sudah akrab tapi tidak mengira jika keduanya begitu ramah dan cukup menyenangkan menurut Eva.
"Gimana gak kayak uler cobra.Senggol dikit langsung mau matok" Risa menjelaskan maksud dari ucapannya tadi
"Dah yuk takut dipatok.Masih anak baru kan gua ma" Eva membenarkan seragamnya sebelum mengajak keduanya keluar dari ruang khusus karyawan.
"Anak baru cassing lama" ucap Tiara yang menyusul Eva keluar.
Tiara dengan sabar mengajari segala pekerjaan yang harus Eva lakukan.Mulai dari menerima pesanan dan banyak lagi.
"Makan siang yuk Va" ajak Tomy yang dari awal memang memperlihatkan ketertarikannya
"Ngaca Tom.Kalo gua jadi Eva ma pasti milih oppa" ujar Yudis yang diselingi tawa keras Risa
"Lu pikir bos mau sama lu" keduanya selalu saja ribut antara Tomy dan Risa.Ada saja setiap hari yang membuat mereka berdebat.
Tak lama Sohee datang membawa masakan rumah untuk Eva.Keakraban tersebut membuat Yeni semakin tidak suka padanya.Apa yang kurang darinya ia cantik dan modis.Bahkan keluarga Yeni termasuk keluarga berada.Hanya karna tertarik dengan Jimin ia rela bekerja Last Cake menurunkan rasa gengsinya.
Selesai makan siang Sohee pulang karena ada urusan dengan teman temannya.
Tiara dan Risa masih sibuk melayani pelanggan.Eva yang telat bekerja sudah dipelototi oleh Yeni.
"Kesini mau kerja apa cari muka?" tanya Yeni saat Eva melewati meja kasir.Lebih baik diam daripada meladeni hal yang tidak penting.
"Budek lu ya?gua ngmong sama lu!" Yeni sampai berkacak pinggang.Eva hanya menoleh sekilas lalu berjalan lagi.
"Da.." Yeni langsung bungkam saat melihat Jimin sudah berdiri diambang pintu
"Oppa sudah makan siang" Jimin tak menghiraukan dirinya.Langkahnya cepat menuju lantai atas.Lebih penting memeriksa laporan keuangan dari pada meladeni Yeni pikirnya.
"Oppa" panggil Yeni yang merasa diabaikan terus menerus oleh Jimin.
Toko cukup ramai sampai menjelang sore.Mereka dibuat sibuk dengan banyaknya pelanggan yang datang.Eva merasa sedikit lelah dengan aktifitas barunya karena cukup lama beristirahat di Indonesia.
Last cake biasa tutup jam empat sore.Tapi mundur satu jam karena mereka perlu membereskan toko sebelum pulang.Jimin menarik paksa Eva keluar agar ia bisa pulang lebih awal.
"Kakak nyuruh kamu kerja ya gak ampe segitunya Va.Supaya kamu tu bisa ada kegiatan aja" ucap Jimin saat ia sudah melajukan mobilnya meninggalkan Last Cake
"Ya kali yang lain kerja aku cuma duduk sambil ngopi" jawab Eva enteng.Lagi pula toko lumayan ramai sampai kakinya terasa pegal bolak balik mengantar pesanan.
"Kakak langsung pulang ya.Kamu jangan ngayap" perintah Jimin saat menurunkan Eva didepan lobby apartemen
"Ya..ya" sahut Eva yang merasa Jimin lebih cerewet daripada mamanya
Ia melangkah meninggalkan lobby.Security yang berjaga menyapanya saat melihat Eva berjalan menuju lift.Apartemennya berada dilantai paling atas lantai dua puluh sembilan.Setiap lantai hanya ada masing masing empat pintu.
Hanya langkah kaki Eva yang terdengar menggema sepanjang lorong.Sepi sunyi.
Ia menekan beberapa angka untuk membuka kode.
Dulu jika ia pulang pasti ada Ken yang menyambutnya dengan ocehan yang tiada henti.Tapi kini ia seorang diri tanpa ada yang menyapa.
Direbahkannya tubuh Eva diaras sofa.Sepatu haknya tergeletak berantakan.Sekali kali ia ingin berperilaku acuh dengan kerapihan.
Eva bertelanjang kaki menuju dapur.Membuka kulkas dua pintu yang besarnya melebihi ukuran empat orang yang berjejer disana.
Glekk..glekk..
Ia ingat spagetti yang tidak jadi ia masak kemarin.Tangannya membuka lemari diatas kepalanya.Lalu mengeluarkan daging dan bahan pelengkap lainnya.