Hug Me, Please

Hug Me, Please
#41 Jisub



Jimin membawa Eva kerumahnya atas permintaan mamanya.Ia ingin Eva membantunya menyiapkan makan malam.


Dimeja makan sudah berkumpul empat orang.


 


 


 


 


"Untuk apa kau membawa dia kemari Jimin?" tanya sang ayah saat menarik kursi meja makan


"Biarkan ia bergabung" tutur Sohee


"Kau menyukainya?" Jisub tidak mengindahkan ucapan Sohee yang memintanya tidak memperpanjang masalah


"Apa itu penting untuk papa?" Jimin menyahuti tanpa menoleh pada papanya


"Aku hanya tidak mau kau dekat dekat dengan pelacur!" Eva syok mendengar kata pelacur yang keluar dari mulut Jisub.Paman yang dulu selalu ramah dan sayang padanya berubah total sekarang.Pandangannya dingin dan sinis melihat Eva.


 


 


Brakkk...


 


 


Jimin meletakkan sendok dengan keras.Membuat semua yang berada dimeja makan sontak kaget.Pasalnya Jimin bukan pribadi yang kasar.


"Sudah sudah ayo makan.Jangan dilanjutkan lagi" Sohee mengambilkan Jisub makanan kedalam piringnya


"Seleramu semakin rendah saja!" cibir Jisub


"Cukup!!" bentak Jimin yang tidak tahan dengan kalimatnya yang semakin tidak disaring


"Udah kak bener kata mama jangan dilanjutin" Eva memegang lengan Jimin berusaha meredam emosinya


"Mama kau bilang?terasa begitu menggelikan mendengarnya!" Jisub tersenyum miring mendengar sebutan mama yang diucap Eva


"Ayo kita pergi Eva.Maaf ma kami tidak bisa ikut makan malam!" Jimin menarik paksa tangan Eva semakin menjauhi meja makan


Sohee menarik nafas dalam dalam.Memijit pelipisnya yang terasa begitu nyeri.


"Mama gak nyangka punya suami yang mulutnya begitu kotor!" Sohee beranjak meninggalkan meja makan


"Ma!mama mau kemana?" teriak Jisub yang tinggal seorang diri dimeja makan


 


 


Jimin memacu mobilnya diatas rata rata.Eva sampai merapalkan do'a untuk keselamatan mereka.Tidak biasanya Jimin bersikap sekasar tadi.Apalagi memacu mobil dengan kecepatan tinggi.


"Awassss!" teriak Eva kencang


Citttttt....


Jimin menginjak rem dalam dalam.


Mobil Jimin berhenti tepat dibelakang mobil derek yang hendak mengangkut mobil yang sepertinya mogok.


"Apa apaan sih kak!" bentak Eva yang syok berat.Hampir nih nyawa batin Eva.


"Maaf Va" Jimin lalu menepikan mobil dipinggir jalan yang sepi


 


 


 


"Ngapain kayak gitu barusan!"


"Aku gasuka aja sama omongan papa Va.Dia keterlaluan!"


"Lagian aku udah biasa disebut pelacur" Eva mengalihkan pandangannya keluar jendela.Menerawang kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya dihina dan dimaki banyak orang.


"Gimanapun aku udah anggep kamu kayak adek kandung Va.Mana mungkin aku diem aja saat dia hina kamu didepan mata aku!" Jimin bersungguh sungguh mengucapkan itu


"Kakak tenang aja.Aku gak sakit hati kok" Eva menggenggam tangan Jimin untuk meyakinkan.


Jimin mengusap pelan rambut Eva.Berterima kasih karena dia tidak mengambil hati ucapan papanya tadi.Jimin begitu menyayangi Eva.Bahkan rasa sayangnya itu membuat dia enggan membaginya untuk wanita lain.


 


 


 


 


Kendaraan roda empat itu berhenti di tepi sungai.Disana sepi dengan pencahayaan remang.Berbeda jauh dengan sisi sungai yang ada disebelah,ramai dan begitu terang karena banyaknya lampu yang menerangi jalanan.


"Ngapain kesini kak?" tanya Eva


"Mancing"


"Serius?" tanya Eva heran


"Ya gak lah"


"Oh" Eva ber-oh ria lalu mengalihkan pandangannya ke sisi sungai yang satunya.


Sunyi.Hanya angin malam yang menerpa kulit mereka.Keduanya hanyut dalam pikiran masing masing.


Jimin menghembuskan nafas kasar,Eva menoleh kesebelahnya sambil menautkan alis.


"Ken gak pernah ngabarin kamu lagi Va?"


Degg..


Eva kaget kenapa Jimin harus menanyakan masalah Ken padanya.


"Kalo kamu emang suka kejar jangan cuek terus"


"Apaan sih kak!" sanggah Eva


Kenapa pula harus membahas Ken.


"Jujur sama perasaan kamu Va"


"Jangan sampe Ken cape ngejar kamu terus"


Eva tersenyum getir.


"Udah empat bulan dia gada kabar kak"


"Ya cari jangan ngebatin doang"


 


 


Ucapan Jimin terus saja terngiang di otak Eva saat ia duduk sendirian di apartemen.Duduk diruangan sebesar itu seorang diri.Terlalu besar untuk dirinya tinggal seorang diri.Sepi.


 


 


---


Haloo..haloo...


Jangan lupa like komen dan subscribe yaa..


Buat yang lupa kasih like gpp,mungkin kalian keasyikan baca sampe lupa..


Tenang author tetep sayang kalian termasuk yang gak pernah komen..


Masa cuma satu part yg dapet like lebih dari 100..


Hehehe..