Hug Me, Please

Hug Me, Please
#42 Akhirnya



*Author POV


"Va ingat nanti malam kamu harus menemani kakak menghadiri pesta tuan Simon" ucap Jimin yang duduk di ruang tengah


"Ya..ya" sahut Eva yang tengah memasak didapur


"Masak apasih?" tanya Jimin yang baru bangkit dari sofa


"Omelet" sahut Eva


"Masakan kamu ma paling banter juga spagetti" sindir Jimin


"Namanya juga lagi belajar kak"


Setelah percakapan mereka di apartemen Eva.Beberapa hari kemudian Jimin membawanya ke salon kecantikan untuk melakukan berbagai jenis perawatan.Katanya Eva perlu diperbaiki.Memangnya penampilan Eva seburuk itu.


 


 


 


 


 


 


Malam pesta keluarga Simon.


Tamu undangan sudah hadir memenuhi gedung.Eva tengah menemani Jimin menyapa beberapa kenalan papanya.Kedatangannya kesana karena mewakili papanya yang tengah pulang ke Korea.


 


 


Eva yang tak mengerti dengan topik pembahasan mereka lama kelamaan mulai pusing,ia memilih untuk berdiam diri disudut ruangan.


 


 


Tiba tiba ada yang menarik lengan Eva menjauhi ruangan tempat diadakan pesta.Berjalan cepat menyusuri koridor yang lumayan sepi.


Brakkkk...


Lelaki itu membanting pintu ruangan sambil mengusap frustrasi wajahnya,dengan satu tangan melepas dasi secara kasar.


Kaget.Marah.Kesel.Dan tangannya sakit karna ditarik paksa.Tapi semua kekesalan itu tak ada artinya dibanding kebahagiaan melihat lelaki yang kini mukanya tengah merah padam.


 


 


Satu tetes air mata Eva jatuh membasahi pipi.


Lalu tanpa pikir panjang lagi langsung memeluknya yang masih dalam keadaan kacau.Menangis dalam diam.


 


 


"Ken" ucap Eva yang masih dalam posisi memeluknya.Lelaki itu balas memeluknya erat.Tersenyum simpul.Melupakan kemarahan yang hampir saja meledak.


"Kamu marah sama aku?" tanya Eva kemudian


"Mana mungkin" sahutnya pelan


"Empat bulan ini kemana aja?" sambil mendongak melihat ekpresi Ken


"Ckk.." Ken berdecak kesal sendiri.


"Kenapa?"


"Maksudnya?" tanya Eva bingung


 


 


 


 


Flashback on..


Ken tengah berbaring dirumah sakit Taiwan.Ia dirawat karena luka pada tangannya yang cukup dalam.


 


 


"Mei siapkan penerbangan ke Singapura.Aku perlu menemui seseorang" ucap Ken


"Baik pak" sekretarisnya itu lalu undur diri untuk mempersiapkan segalanya


 


 


Setibanya di Singapura Ken langsung mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.


"Hey" yang dipanggil langsung menengok


"Ada apa?" tanya Jimin


"Aku perlu bantuanmu" ucap Ken pelan.Malu harus meminta bantuan pada orang yang dulu selalu ia anggap saingan


"Hahahaha.Aku tidak salah dengar?" tanya Jimin yang masih heran


"Ini penting!" wajah Jimin langsung berubah serius


Ia lalu menceritakan perihal Eva yang meminta Ken untuk menjauhinya.Wajah Ken kusut dan terlihat putus asa menceritakan keluh kesahnya pada Jimin.Jimin menarik nafas dalam dalam.


"Jadi tolong bantu aku" pinta Ken lagi


"Apa kau mau mengikuti caraku?" tanya Jimin


"Kau punya solusi apa?"


"Berjanjilah kau akan mengikuti caraku" ucap Jimin yang langsung membuat kening Ken berkerut dalam


"Kau harus membiarkan Eva mengenali perasaannya padamu!" ucap Jimin yang beralih mengajak Ken menuju lantai dua Last Cake


"Caranya?" Ken mulai merasa ada yang tidak beres dengan ide Jimin


"Jangan hubungi Eva sampai pesta tuan Simon diadakan" ucap Jimin santai


"Kau gila!"


Tentu saja mana mungkin Ken setuju.Pesta itu akan diadakan sekitar lima bulan lagi.Sehari saja tanpa kabar Eva ia bisa merasa gila.Ini lima bulan?Ken merasa Jimin berniat menjauhkannya dengan Eva secara frontal.


"Hanya sampai saat itu.Maka kau akan melihat hati Eva yang sebenarnya"


Ken tampak berfikir keras.Mungkin ia harus tarik ulur dengan Eva.


Apa Jimin yakin idenya itu akan berhasil.Bagaimana jika Eva malah jadi semakin jauh dengannya.Ken ragu dengan ide Jimin.Tapi otaknya yang brilian itu tak mampu memikirkan sebuah rencana untuk membuat Eva kembali lagi.


"Bagaimana?"


"Seberapa besar kemungkinan berhasilnya?"


"Percayalah.Aku adalah orang yang paling mengenal Eva"


Satu hari.Dua hari tangan Ken terasa gatal untuk menghubungi Eva.Setiap jarinya hendak memencet nomor Eva.Jimin selalu lebih dulu menelfonnya untuk mengingatkan.Hal itu membuat Ken kesal tak bisa mendapatkan kabar dari Eva.