
Tangannya terampil memotong daging dengan irisan tipis.Seakan ada Ken yang memeluknya dari belakang sambil memberinya instruksi.Karena dulu Ken selalu mengajari Eva dengan posisi seperti itu.
Bayangan bayangan itu terus berputar dikepala Eva.Membuat gerakannya terhenti sejenak lalu kembali fokus untuk memasak.
Setelah semua bahan selesai dipotong Eva memulai untuk memasak.Memasukkan daging terlebih dulu.
Ia menyajikan dua piring dimeja makan.Menuang spagetti hasil buatannya menjadi dua porsi.Eva menarik salah satu bangku.Memakan hasil masakannya dalam diam.
Selesai makan Eva malah diam selama hampir setengah jam.Menatap nanar pada bangku kosong yang ada didepannya.Sedetik kemudian ia bangkit dan membuang spagetti yang masih utuh kedalam tong sampah.
Kebiasaan memasak dua porsi itu berlangsung sampai tiga hari.Dan selalu berakhir di tong sampah karena tidak ada yang memakannya.
---
*Stevany Aurelli
Sudah empat bulan.empat bulan tanpa kabar sekalipun.Kamu kemana Ken?gak biasanya ngilang kayak gini.
Saat sibuk bekerja dan bercanda dengan Tiara dan Risa aku bisa melupakanmu sejenak.Tapi saat membuka pintu apartemen hatiku merasa sepi.Dan itu bertambah dua kali lipat setiap harinya.Sudah ribuan kali aku menatap layar ponsel.Berharap kamu akan menelfonku dan menceramahiku seperti biasa.Tapi kebiasaan itu semakin lama mulai hilang tak berbekas.
Kamu kenapa?
Apa sekecewa itu kamu sampai tak pernah menghubungiku lagi?
Kenapa kamu gak ngerti Ken.Aku gak pernah benar benar serius buat nyuruh kamu jauhin aku.
Lihat!
Sekarang aku mulai hampa tanpa semua perhatian kamu.
Kenapa kamu gak pandai buat baca maksut aku.Saat itu aku cuma butuh kamu dateng dan jemput aku kesini lagi.
Atau..
Kamu sudah punya penggantiku Ken.
Jangan katakan kamu sudah melupakan aku.
Pikiran pikiran buruk itu terus saja menggangguku sampai larut.Tanpa kusadari aku tertidur disofa dengan pakaian yang masih sama.Lupa mandi juga.
Ting..tong..
Siapa pagi pagi begini?
"Eva kamu sakit?" tanya Jimin diambang pintu.Ia memegang dahiku dengan telapak tangannya.Mungkin hendak memastikan suhu tubuhku
"Apa sih kak pagi pagi begini" gerutuku sambil menyingkirkan tangannya agar menjauh
"Liat udah jam berapa!" Jimin menunjuk pukul dua belas yang membuat mataku langsung melek seketika
"Ya ampun!" aku menepuk jidat karena kesiangan
"Makanya lain kali kalo kakak mau jemput jangan nolak.Belagu mau naik bis aja!" sifat bos yang mulai terlihat
"Maaf kak" ucqpku sambil mengambil tas dan berlari ke lantai atas untuk mandi dan bersiap kerja
"Mandi?" tanya Jimin saat melihatku sudah rapi dalam waktu lima belas menit
"Yang penting kena air" aku menarik tangannya agar mempercepat keberangkatan.
Mobilnya melaju meninggalkan apartemenku.Semua karyawan Jimin sudah datang karena toko buka jam sepuluh.
Jimin segera naik kelantai dua setelah sampai di Last Cake.Aku buru buru berganti seragam dan membantu pekerjaan yang belum selesai.
"Enak ya berangkat siang!" sindir Yeni saat melewatiku yang sedang mencuci piring
"Jangan mentang mentang akrab sama oppa langsung seenaknya berangkat siang!" Tu mulut belum pernah ngerasain sabun cuci piring kali
"Cape lah ngmong ama orang gagu!" Yeni lalu pergi meninggalkanku yang betah diam mendengarkan ocehannya
"Kenapa lagi tu uler?" tanya Tiara yang baru saja masuk ke dapur
"Biasalah curhat" biar keliatan akrab dikit gitu.
Aku membuat kopi yang dulu biasa aku buatkan untuk Ken.Teman temanku yang mencium aroma kopi itu memintaku untuk membuatkan mereka.Termasuk si Yeni yang sok galak tapi diem diem mau juga.Dasar.
Jimin mengusulkan kopi buatanku untuk dijadikan menu baru di Last Cake.Kusetujui idenya karena beberapa pelanggan yang mencium aromanya mulai sering menanyakan apakah itu termasuk kedalam menu atau tidak.Siapa tahu toko bisa menjadi bertambah rame.