Hug Me, Please

Hug Me, Please
#38 Baru



Jimin membawa Eva ke sebuah apartemen.Letaknya lumayan dekat dari Last Cake miliknya.


"Ini kita tinggal disini berdua kak?" tanya Eva


"Ya gak lah.Kakak tinggal di apartemen deket sama toko"


Eva menghela nafas lega.


"Kopernya udah kakak bawa keatas kamu tinggal beres beres aja"


"Ternyata sekarang kak Jimin banyak uang" Eva memandangi interior yang elegan dipadu dengan perabot yang sepertinya mahal


"Ini gak gratis Va.Minggu depan kamu harus kerja di toko"


"Tuh kan Eva pikir juga apa" merebahkan disofa empuk yang ukurannya lumayan lebar


"Kakak tinggal ya.Semua kebutuhan udah ada.Kalo ad perlu lagi telfon"


Sebelum pulang ia memberi tahu kode password apartemennya itu.Ia tertidur disofa sampai pukul delapan malam.Televisi juga masih dalam keadaan menyala.Sepi sekali rasanya.Eva bersingut menuju dapur karena perutnya sudah mulai lapar.


Cukup lama ia memilih bahan bahan yang ada didalam kulkas.Kakaknya itu memang nomor satu.Semua ada didalam sana.


Ia lalu membuka lemari kecil yang ada diatas kepalanya.Reflek tangannya meraih spagetti.


Gerakannya terhenti diudara dengan satu bungkus spagetti ditangannya.


"Huh..gak jadi deh" Eva menaruh kembali satu pak spagetti


Kembali ke kulkas dan mengambil daging dan sayuran.Beras,ya dia melupakan itu.Rasanya gak makan kalo gak makan nasi.


Satu jam Eva berkutat didapur.Masakannya sudah mulai ada kemajuan karena dulu Ken selalu mengajarinya masak.


 


 


 


 


Langkahnya buru buru menuju kamar atas untuk mandi.Mungkin masakannya kepedesan.Mules.


Eva berendam lama di bathup.Wangi bunga mawar membuatnya lebih rileks.


Ia keluar mengenakan handuk yang melilit di badannya.Berjalan menuju lemari pakaian.


Betapa kagetnya ia saat membuka lemari.Melihat beberapa set pakaian serta baju tidur yang minim.


"Njirrr" ucapnya saat melihat beberapa set pakaian dalam


"Gak salah nih kak Jimin" Eva melihat modelnya yang sexy dan tipis


"Perlu diaduin nih sama mama.Punya siapa sih?" ia memegang jijik celana dalam.Ternyata masih baru karena bandrolnya masih menempel dengan berbagai ukuran.Mungkin kakaknya itu asal saja membeli karena tidak tahu ukuran persis miliknya.Lagian sampai ke pakaian dalam sudah disiapkan.


"Gini rasanya jadi holang kaya" Eva terkikik sendiri.Sekarang perasaannya sudah jauh lebih baik.


 


 


Ragu.Tentu saja ia ragu ingin mengabarinya lebih dulu.Bukankah dirinya yang pertama kali meminta lelaki itu untuk tidak mencarinya lagi.Lalu kenapa sekarang ia malah ingin menelfon.


"Tauklah.Kesel..kesel..kesel" ucap Eva sambil memukul mukul bantal.Apa ini yang dinamakan puber kedua.Astaga.


 


 


 


 


---


 


 


 


 


"Gak perlu kenalan lagi kan?Mulai sekarang dia bakal bantu disini" Jimin mengumpulkan semua karyawannya.


Tomy adalah asisten cheff disana.Tiara,Risa merupakan pelayan.Yeni adalah kasir.Sedangkan Yudis dan Rio adalah karyawan yang membantu Jimin didapur.


"Halo semua.Mohon bimbingannya" Eva membungkuk untuk memberi salam


"Yasudah Eva kau bisa mulai bekerja.Aku akan pergi ke toko lain sebentar"


"Ya kak" sahut Eva.Sepeninggalnya Jimin Tiara dan Risa langsung mendekati Eva.


"Kok oppa jadi memperkerjakan kamu sih?" tanya Tiara yang memang sudah akrab dengannya


"Ya gitu lah dia ma.Ngasih tempat tinggal tapi kudu nyicil buat bayar" sahut Eva yang memilih duduk untuk obrolan yang sepertinya akan berlanjut panjang


"Gilaaa..dibeliin apartemen ama pak bos?" Risa malah jadi salah fokus.Eva mengangguk untuk memberi jawaban.


"Pada gosip aja sih.Kerja..kerja" Yeni memberi komando pada mereka untuk membubarkan diri


"Yee..biasa aja dong" sahut Risa yang paling sering meladeni omelan Yeni


Tiara lalu menunjukan loker milik Eva.Ia memberikan dua seragam untuk ganti.


"Lu emang ada hubungan sama pak bos?" Risa lagi lagi datang dengan pertanyaan tak masuk akal itu


"Apaan sih Ris.Gua sama kak Jimin itu udah kayak adek kakak"


"Mau dong jadi adeknya pak bos" sumpah ekspresi Risa malah terlihat menjijikkan ketimbang imut.