Hug Me, Please

Hug Me, Please
#46 Tak Bisa Jauh



"Eva?!" suara Marry mengagetkannya didapur


"Ya Tuhan!"


"Kupikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi" sambil memegangi kedua lengannya lalu berhambur memeluk Eva yang tersenyum sumringah


"Semua baik baik saja Eva?" tanya Teo yang sedari tadi hanya mengamati


"Ya paman" jawab Eva lesu


Ken yang baru turun menyapa ketiganya dari anak tangga yang masih ia jejaki satu per satu.Marry membungkuk hormat pada Ken,sedikit memberi jarak diantara mereka.


"Kenapa tidak membangunkanku?" sapa Ken yang langsung mencium pelipis Eva tanpa persetujuan.


Setelah sekian lama Eva merasa agak canggung keduanya melihat kemesraan mereka lagi.Marry dan Teo tersenyum lega.Seolah beban berat telah lepas dari pundak mereka.


Setelah keduanya pergi Eva langsung berbalik badan kearah Ken.Menatap kesal.


"Apa?" tanya Ken tak paham


"Sudahlah!" tak jadi melanjutkan


"Ini masih pagi,jangan mengawali hari dengan kekesalan" nasihat Ken yang melingkarkan tangannya di perut Eva.Posisi yang paling disukainya.


"Ya maaf" jawab Eva datar sembari mengaduk kopi


"Oh ya Ken,bisa antar aku bekerja nanti?" wajah Eva berubah cerah lebih cepat


"Kerja?" tanya Ken heran


"Last Cake milik kak Jimin"


"Kau bekerja disana?!"


"Iya,pokoknya kau harus mengantarku kesana nanti!"


"Ya..ya" lebih baik menurutinya saja,lain kali ia bisa membujuk Eva untuk resign.


Setengah jam kemudian Eva sudah siap dan menunggu Ken tak sabar diluar.Eva menggerutu sepanjang perjalanan karena telat sepuluh menit saat sampai disana.


 


 


 


 


Ken betah berlama lama dalam posisi memeluk Eva didepan Last Cake.Membuat teman temannya tak fokus dengan pekerjaan yang mereka lakukan demi memperhatikan keduanya.Setelah ocehan Eva yang makin panjang Ken melepas pelukannya,pergi menemui Jimin di lantai dua untuk membahas masalah kemarin.


 


 


"Parah..parah..parah" kata itu yang pertama kali meluncur di mulut Risa saat ia dan Tiara mengekori Eva menuju loker.Eva sudah menyiapkan kupingnya yang akan dicecar begitu banyak pertanyaan.


"Itu Ken kan?mata gua gak mungkin rabun kan?" Risa masih saja tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.Pengusaha kaya yang sering nongol di majalah dan televisi.


"Va jangan diem aja" ternyata Tiara lebih penasaran daripada Risa


"Oke aku bakal jelasin.Dia.." belum juga Eva melanjutkan perkataannya


"Buset Va,lu pake jampi apaan sampe bikin tu cowok lengket gitu?" tanya Risa yang tak mampu menahan rasa penasarannya


"Apaan sih lu Ris" sahut Tiara yang rada kesal dengan mulut Risa yang selalu asal bicara.


 


 


 


 


 


 


 


 


---


 


 


Setibanya dikantor Ken langsung menghadiri rapat penting.Ia telat setengah jam karena dirinya yang enggan berpisah dengan Eva.


"Kau begadang semalaman?" tanya Caleb jahil


"Apa kau tidak pernah punya pertanyaan yang sedikit bermutu?" tanya Ken balik


"Ayolah ceritakan sedikit" pancing Caleb yang menyiratkan rasa penasaran begitu besar


"Tidak terjadi apapun" sahut Ken sembari meneguk kembali sekaleng bir dingin ditangannya


"Yahh..aku kecewa mendengarnya" Ken menatap bingung pada sahabatnya itu.


Menjelang siang,jari jemari Ken sibuk mengetik pesan yang kelima untuk Eva.Gusar karena Eva tak kunjung membalas pesan singkatnya.Diraihnya kunci mobil lalu bergegas keluar ruangan.


"Anda mau kemana pak?satu jam lagi akan ada jadwal makan siang dengan Pak Shing" ucap Mei Qing tanpa jeda


"Aku tidak akan lama" sahutnya yang masih mantap berjalan menuju lift


Tingg..


Ia memencet lantai menuju lobby.Lima menit yang terasa begitu lama baginya.Langkahnya buru buru menyusuri lobby,dan langsung menyalakan mesin mobil saat sudah berada dibalik kemudi mobil sport miliknya.


 


 


 


 


Ken memberhentikan mobilnya didepan Last Cake,dilihatnya Eva sedang sibuk.Pantas saja ia tak membalas pesannya satupun.


"Ken?" Eva bertanya pada diri sendiri saat melihat lelaki itu tengah mengamatinya sambil melipat kedua tangan,duduk santai disalah satu bangku.


 


----


Maaf ya baru bisa up sayy..


Makasih udah mau baca..