Hug Me, Please

Hug Me, Please
#35 Kepergian



"Pak sebentar lagi anda ada jadwal makan siang dengan direktur rumah sakit" ucap Mei Qing


"Terima kasih Mei"


Setelah itu Ken menemui pak Tan direstoran yang berada tak jauh dari rumah sakit.


"Selamat siang pak Ken" sapa Tan


"Selamat siang juga pak Tan" sahut Ken yang langsung duduk disusul dengan Mei Qing.


Obrolan kedua berlangsung cukup lama.Ken yang sedari tadi gelisah mencoba fokus pada topik pembahasan yang mereka bahas.


 


 


Dengan sopan Ken pamit undur diri terlebih dulu.Ada hal penting yang harus dia urus agar tidak semakin menggganggu fokusnya.


Ken duduk di dalam mobilnya.Jari jemarinya sibuk menekan layar ponselnya.


"Bagaimana?" tanya Ken pada seseorang diseberang sana


"Maaf tuan.Sejauh ini saya belum bisa menemukannya" sahutnya


"Apa kau bilang?" Ken mengeratkan rahangnya menahan emosi yang hampir meledak


"Cepat temukan dia atau nyawamu akan ikut menghilang" ucapnya sebelum menutup sambungan telefon.


Tuttt..tutt...tuttt..


Sifat Ken yang dulu arogan dan pemarah kembali muncul.


 


 


Apa Ken?sebenarnya apa yang membuatmu begitu tergila gila dengan Eva?-Author


Kepo lu thor-Ken


 


 


Ken sibuk mondar mandir di villa yang ditinggalinya.Mei Qing menghela nafas beberapa kali melihat kekacauan bosnya itu.


Drttt..


Ken hampir melompat kegirangan saat mendapat telefon dari Eva.


"Halo Eva kau dimana?kenapa mematikan telefon" hardik Ken setelah memencet tombol hijau pada layar ponselnya


"Maaf" ucap Eva lirih


"Ada apa Eva?" Ken melembutkan suaranya


"Maaf tuan saya akan menetap di Indonesia" Ken menahan nafasnya saat mendengar penuturan Eva


"Tidak!" suara Ken menggelegar sampai sampai membuat Mei Qing menjatuhkan buku catatannya


"Saya harus menemani anak saya tuan"


 


 


Duarrrrr...


 


 


Ken seolah kehilangan tenaga saat mendengar penjelasan Eva.


 


 


Brakkkk..


 


 


Ken mangamuk sejadi jadinya.Kali ini bukan hanya ponsel.Tapi seluruh barang diruang tamu pecah membuat ruangan itu nampak habis terkena gempa.


 


 


Drttt..


 


 


Isinya dari orang suruhan Ken yang mengatakan jika Eva memiliki anak diluar nikah dengan lelaki bernama Dito.Tapi sekarang lelaki itu sudah menikah dan istrinya Sherly baru saja melahirkan bayi perempuan.


"Dito..liat lu udah nyakitin Eva dan bikin dia ninggalin gua" gumam Ken meremas pecahan guci peninggalan dinasti Ming yang tadi ia pecahkan.


Tangannya yang sudah berlumuran darah tak lagi ia rasakan sakit.Hatinya lebih sakit saat ditinggal oleh Eva.


 


 


 


 


 


 


 


 


---


 


 


Eva tengah mondar mandir didepan ruang ugd.Matthew sedang dalam masa kritis.Melani dan suaminya setia menemani dirinya.


Krekkk..


Pintu ruang ugd terbuka.


Mereka langsung menghampiri dokter yang menangani keadaan Matthew.


Dokter Rudi yang menangani melepas maskernya.Ia menghela nafas berat sebelum mengatakan sesuatu pada mereka.


"Maaf bu.Kami sudah berusaha semaksimal mungkin" kata kata yang tak pernah ingin Eva dengar seumur hidupnya


Eva langsung jatuh pingsan mendengar kabar tersebut.Ia dibawa keruang rawat karena mengalami syok berat.


Suami Melani mengurus segala persiapan untuk pemakaman Matthew.


 


 


Hari itu..


Menjadi hari terberatnya.


Ia mengetahui jika Dito meninggalkannya demi uang.Lalu anaknya pergi meninggalkan dia untuk selama lamanya.


Eva terus saja pingsan selama proses pemakaman.Tangisannya tak kunjung reda sedikitpun.Bahkan sudah beberapa hari semenjak kematian Matthew membuat Eva tak menyentuh makanan barang secuilpun.


 


 


 


 


---


 


 


Seminggu kemudian..


"Apa benar Eva tinggal disini?" tanya seorang lelaki


"Ya anda siapa?" Melani tak mengenali pria tersebut


"Saya perlu bicara penting dengan Eva"


Melani mengijinkannya masuk berharap ia bisa membujuk Eva untuk makan.


"Eva" panggilnya seraya berjalan menghampiri Eva.Hening tak ada jawaban.Guratan wajahnya yang lelah dengan sisa sisa air mata yang mengering membuat Eva begitu menyedihkan.


"Mana Matthew?" tanya Dito yang berdiri di tepi ranjang


Pandangan Eva tetap saja kosong.Memandang tirai yang menutupi jendela.


Setelah keheningan yang cukup lama..


"Kamu puas?" tanya Eva dengan lirih.Dito tak mengerti dengan pertanyaan itu.