Hug Me, Please

Hug Me, Please
BONUS CHAPTER 5



Halooo...


Ada yang bosen nunggu?


Jangan yaa..


Author selalu usahain update cepet kok..


Dannnn...


Makasih banyak buat SUSY PRYSTIANI yang udah kasih point lope you darling ♡♡♡


----


Malam hari ditempat lain dengan suasana yang sangat kontras dengan pesta River Group.


Tiara tengah memandangi bangunan yang berdiri kokoh didepannya.Ia berulang kali membaca pesan dari Jimin yang mengajaknya bertemu di kawasan Orchad Road,tepatnya Masjid Al-Falah.


"Assalamualaikum,mbak Tiara ya?" sapa perempuan dengan pakaian syar'i ditambah senyum hangatnya


"Waalaikumsalam,iya saya Tiara mbak" senang sekali menemukan sesama orang Indonesia ditambah mendapat salam yang menyejukkan hati


"Masuk mbak semua sudah menunggu" ia menyilahkan Tiara masuk kedalam asjid


"Mbak Tiara sudah sholat?" tanyanya


"Belum mbak" Tiara merasa malu mendapat pertanyaan itu.Sudah lewat jam sholat isya' sejak satu jam yang lalu


Akhirnya Tiara berjalan ke sisi masjid untuk mengambil air wudhu.Menghadap Sang Pencipta yang telah memberinya kenikmatan sehat dan rizki yang berlimpah.Bukan uang yang banyak, namun lebih dari cukup untuk biaya hidupnya dan sedikit uang untuk kedua orang tuanya di tanah air.


"Mari mbak,pak Ustadz dan yang lainnya sudah menunggu" perempuan itu kembali menghampiri Tiara yang sedang melipat mukena


Tiara baru sadar jika disana ada Jimin serta  beberapa pria dan wanita yang duduk.


"Duduklah" titah Jimin saat melihat Tiara datang


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Ustadz Ahmad


Ustadz Ahmad mulai membimbing Jimin mengucap dua kalimat syahadat.Semuanya berlangsung begitu cepat.Suasana syahdu dan penuh khidmat.Tiara sendiri bahkan sampai menitihkan air mata,ia tidak menyangka sebesar ini usaha Jimin sampai ia merubah keyakinannya dan memeluk agama Islam.


"Alhamdulillah" seru semua yang menjadi saksi proses Jimin mengucap kalimat syahadat.


Lalu pria yang duduk disebelah pak Ustadz memberikan selembar kertas yang bertuliskan jika Jimin masuk islam dalam keadaan sadar,seha dan tanpa paksaan dari siapapun.


Kejadian hari ini adalah bukti bahwa Jimin sungguh-sungguh dalam mengucap janjinya dulu.


Diluar masjid mama Jimin sudah berdiri disamping pintu mobil.Merentangkan kedua tangannya saat melihat Tiara berlari kearahnya.


"Mama merestui kalian,semoga kedepannya semua berjalan lancar" ucap Sohee yang menenangkan Tiara yang menangis.Tangis bahagia dan rasa syukurnya karena dipertemukan dengan keluarga yang baik.


Meski Tiara harus lebih banyak bersabar untuk meluluhkan hati Jisub papa Jimin.


"Ayo kita makan,kau pasti lapar" Sohee mengelus rambut Tiara penuh kasih sayang.


"Terima kasih Eva,terima kasih sudah menjadi sahabat baikku dan mempertemukan aku dengan dua orang yang luar biasa baik ini" ucap Tiara dalam hati


"Mama sudah mengatur semua persiapan kalian,satu bulan lagi kalian akan menikah" ucap Sohee yang masih mendapat pelukan dari Tiara


"Tapi.." ucap Tiara


"Tapi apa?mama sudah menemui orang tua mu dan meminta restunya untuk kalian" Sohee seolah bisa membaca pikiran Tiara


----


Rahasia seminggu sebelum pesta pembukaan canang River Group.


Caleb sedang berada di London untuk menjalankan perintah dari Ken.Ia diminta turun tangan langaung untuk membereskannya.


Brakkk..


Caleb melempar amplop coklat besar didepan Stevan.


"Apa ini?" tanya Stevan bingung


"Bukalah" jawab Caleb santai sambil menyecap kopi yang baru saja diantarkan oleh sekretaris Stevan


Stevan mulai membukanya.Matanya sampai terbelalak saat melihat berbagai foto dirinya bersama wanita yang berbeda.Lalu laporan keuangan perusahaan papa Anneth yang ia pimpin langsung.


"Kau!" Stevan geram bukan main.Matanya merah menahan amarah menatap tajam pada Caleb yang berikap berkebalikan darinya.Caleb terlihat santai menyecap pekatnya kopi hitam.


Perlahan Caleb menaruh keatas meja.Menatap Stevan dengan tatapan merendahkan.


"Tujuanku kesini hanya menyampaikan pesan dari adik ipar yang paling mencintaimu" sindir Caleb.Ia bahkan tahu persis betapa Ken membenci suami kakaknya itu.


"Apa maumu?" Stevan berusaha menahan emosinya


"Ken memberimu dua pilihan.." Caleb menggantung kalimatnya