
Pertarungan melawan Arcanea Cipher masih berlanjut, dan seperti apa yang ia ucapkan barusan, jalannya pertarungan ini menjadi semakin sengit. Meski sebelumnya aku berhasil menemukan celah untuk bisa melakukan serangan kepadanya, tetapi hal yang sama tidak akan terjadi lagi, sepertinya.
“Firewall!” Suara Arcanea Cipher kembali terdengar merapalkan skill miliknya, dengan skill Firewall ini tubuhnya kini dilindungi oleh kobaran api yang mengelilingi tubuhnya. Benar-benar tidak bisa diremehkan begitu saja, karena kini saat aku sudah mulai menyerang dari jarak dekat, ternyata ia masih punya skill sihir yang bisa digunakan untuk jarak dekat.
Awalnya aku mengira aku bisa mengalahkan Arcanea Cipher menggunakan strategi yang sama dengan caraku mengalahkan Queen’s Gambit sebelumnya. Aku pikir, Arcanea Cipher sebagai pemain Black Wizard yang cenderung mengeluarkan serangan dari jarak jauh pasti memiliki kelemahan dari jarak dekat. Dugaanku sepertinya benar karena tadi saat aku menyerangnya dari jarak dekat dan membuat Arcanea Cipher mengubah posisinya, buff untuk peningkatan jumlah Mana serta regenerasi Mana miliknya langsung tidak aktif. Sepertinya buff ini hanya aktif jika pemain Black Wizard diam di satu tempat, tepat di mana lingkaran sihirnya berada.Namun kini begitu menyerang dari jarak dekat, Arcanea Cipher masih memiliki skill sihir untuk melakukan serangan jarak dekat. Sial, apakah tidak ada celah lagi yang bisa aku manfaatkan?
Dari balik tembok api yang masih membara, sebuah garis lurus berwarna merah muncul tepat di hadapanku. Tidak salah lagi, ini adalah garis penanda area damage, sepertinya ia akan melancarkan serangan berikutnya!
Kilatan petir menyambar tepat di garis merah yang baru saja muncul. Tentu saja aku langsung menghindar dengan melemparkan tubuhku ke arah samping kanan. Tetapi yang tidak aku sadari, ternyata saat tubuhku menghindar, sebuah bola api muncul di hadapanku. Dalam posisi ini, sudah jelas aku tidak bisa menghindar lagi.
“Meski sempat menghindar dari skill Thunder Strike namun Lily Aeonia ternyata menerima telak serangan Fireball dari Arcanea Cipher!” Suara Magical Kirari sebagai komentator memenuhi seisi arena di siang hari itu.
“Heal!” aku segera mengaktifkan skill Heal untuk memulihkan HP ku yang sempat terkuras akibat serangan tadi. Tidak kusangka ternyata Arcanea Cipher bisa meluncurkan dua skill dalam jarak hampir berbarengan. Sepertinya efek skill Slow yang kuberikan kepadanya sudah habis.
Tanpa kenal rasa ampun, setelah HP ku kembali penuh berkat skill Heal, serangan demi serangan kembali diluncurkan secara beruntun oleh Arcanea Cipher. Dari balik tembok api yang membara ia terus meluncurkan berbagai skill sihir miliknya kepadaku. Kini aku kembali menghindari serangan demi serangan yang diluncurkan olehnya.
Kalau begini terus, sepertinya aku yang akan kalah. Dari jarak jauh aku tidak bisa menyerang karena serangan sihir jarak jauh terus menerus diaktifkan tanpa henti. Sedangkan dari jarak dekat, jika berhasil masuk ke jarak yang dituju aku bisa membuatnya keluar dari lingkaran sihir yang memberinya bonus Mana, namun skill sihir jarak dekatnya juga bisa diaktifkan dengan bertubi-tubi seperti ini.
“Kalau gitu, tidak ada cara lain lagi…” Ucapku seraya mengaktifkan skill Barrier, Regen, serta menggunakan item Armorskin Spray, sebelum aku kembali melangkah maju ke arah Arcanea Cipher.
“Lily Aeonia kembali melesat maju! Namun sepertinya serangan demi serangan dari Arcanea Cipher menyambut setiap langkah Lily!” Terdengar suara Game Master Edgar kembali memberikan komentarnya.
Benar, saat ini aku memutuskan untuk terus maju saja dengan nekatnya. Serangan demi serangan dari Arcanea Cipher mengenaiku dengan telak! Namun karena serangan ini berasal dari skill bertipe sihir, efek yang ditimbulkan hanyalah damage, dan sesekali memberikan efek Burn yang mengurangi HP ku setiap detiknya jika terkena skill serangan Fireball. Namun dari berbagai skill yang dilancarkan olehnya, tidak ada satu skill-pun yang bisa memberikan efek Knockback yang bisa menghentikan gerakanku. Kalau begini, aku bisa terus mengantisipasi damage yang dihasilkannya dengan menggunakan seluruh skill penyembuhan yang ku miliki.
Untuk mengimbangi kecepatan skill yang dilancarkan secara bertubi-tubi, aku juga mengaktifkan skill Quicken untuk meningkatkan kecepatan gerakan dan waktu aktivasi skill penyembuhan milikku. Kali ini rasanya aku menjalani pertempuran yang sama seperti melawan NightAbyss hanya saja kini serangan yang diluncurkan datang dari berbagai skill sihir, bukan dari tebasan pedang.
“Gawat! Tidak bisa dibiarkan… Slow!” Aku langsung mengaktifkan skill ini seketika, benar, jika Arcanea Cipher mendapat jarak untuk menjauh maka ia bisa mengaktifkan kembali lingkaran sihir miliknya dan ia bisa melanjutkan serangan dari jarak jauh. Aku tidak boleh diam saja, aku akan terus menyerangnya dengan sekuat tenaga!
Mengejar tubuhnya yang terlempar menjauh, aku melanjutkan serangan menggunakan Aero Cut dan Light Shot ke arah Arcanea Cipher. Namun dari jarak ini ia mengaktifkan Thunder Bolt, Fire Ball, serta Ice Knife, serangan sihir yang mengeluarkan bola api, bola petir dan tusukan bilah pedang es yang menghujam telak ke arahku. Berbagai serangan ini berhasil mengurangi HP-ku, sama seperti serangan Light Shot ku berhasil mengenai Arcanea Cipher dengan telak. Satu hal yang membedakan adalah aku bisa langsung menyembuhkan HP-ku yang hilang di saat Arcanea Cipher hanya bisa mengandalkan Health Potion miliknya. Namun karena efek skill Slow yang aku berikan, gerakannya melambat sehingga ia tidak bisa mengaktifkan Health Potion dengan cepat. Kini HP Arcanea Cipher berada di posisi 50% sedangkan HP ku baru saja kembali pulih ke arah 80%.
Dari jarak dekat aku terus melancarkan serangan demi serangan, membuat posisi Arcanea terus berubah. Dengan ini jumlah Mana dan regenerasi Mana miliknya akan berada pada posisi normal. Meskipun aku harus terus menerus menerima serangan darinya tetapi setidaknya dengan ini aku bisa terus melakukan serangan.
Hingga kemudian aku tersadar bahwa Arcanea Cipher menyiapkan satu lagi kejutan untukku.
“Dengan ini, total semua skill yang dibutuhkan sudah cukup..Escaton Magic!” dengan mengucapkan kalimat tersebut, Arcanea Cipher mulai mengaktifkan skill barunya. Kini lingkaran sihir berukuran besar mulai muncul di bawahku. Jangan bilang ini.. Adalah skill pamungkas dari job Black Wizard seperti Wrath of Divine milikku?
Dalam kondisi panik tersebut, aku langsung melihat ke arah skill Wrath of Divine, ternyata aku masih baru mengeluarkan 28 kali skill saja selama pertarungan ini! Kurang dua skill lagi, aku harus mengaktifkan dua skill lagi untuk bisa mengeluarkan skill pamungkasku juga.
Aku langsung mengaktifkan skill Barrier serta Regen, untuk bersiap menerima serangan Escaton Magic dari Arcanea Cipher. Sebelumnya aku sudah mengaktifkan Health Potion yang membuat HP ku berada di posisi 100%. Kini dengan bantuan Barrier, aku mendapatkan bonus 30% Barrier HP serta efek skill Regen akan aktif sampai 1 menit ke depan. HP Arcanea Cipher kini berada di 85%, ia baru saja menggunakan Health Potion sebelum mulai mengaktifkan skill ini. Kini skill Wrath of Divineku sudah bisa diaktifkan, berkat efek skill Slow dariku, waktu aktivasi skill Escaton Magic milik Arcanea Cipher sedikit melambat. Dalam sisa waktu ini, bisakah aku mengaktifkan Wrath of Divine untuk mengalahkannya terlebih dahulu?
“Tidak disangka ternyata Arcanea Cipher langsung mulai mengaktifkan skill ultimate dari job Black Wizard, Escaton Magic! Namun di sisi lain, Lily Aeonia juga mulai mengaktifkan skill Wrath of Divine miliknya, siapakah yang akan tumbang dalam pertarungan ini?” Komentar dari Game Master Edgar kembali terdengar jelas di saat aku dan Arcanea Cipher masih terus berfokus untuk mengaktifkan skill pamungkas kami.
Beberapa detik berselang sebelum akhirnya ledakan besar terjadi di atas arena Colosseum pada hari itu. Dua ledakan terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, satu ledakan berasal dari skill Escaton Magic milik Arcanea Cipher yang mengeluarkan batuan meteor, badai es, serta serangan petir besar yang menghujam ke arahku. Di sisi lain, pilar cahaya yang sangat terang dari skill Wrath of Divineku juga menghujam tepat ke arah Arcanea Cipher. Kedua skill kami ternyata aktif dalam waktu bersamaan. Kilauan cahaya menyinari seisi Colosseum yang langsung berguncang dengan getaran dan suara ledakan yang sangat keras.
Setelah itu, keheningan muncul, sebelum akhirnya dipecahkan dengan suara Magical Kirari yang memberikan komentarnya, “Akhirnya pertarungan yang sengit dari White Wizard melawan Black Wizard ini kini berakhir dengan skill ultimate yang diluncurkan secara bersamaan, namun ternyata dengan HP yang tersisa hanya tinggal 5%... pemenangnya adalah……”
“....Lily Aeonia!” dengan suara Magical Kirari terebut, aku langsung mengangkat tanganku ke atas sambil berteriak dengan sangat puas. Efek Barrier dan Regen milikku berhasil menahan serangan Escaton Magic hingga menyisakan 5% HP terakhirku. Sedangkan di hadapanku, Arcanea Cipher tersungkur dengan sisa HP 0% akibat serangan Wrath of Divine dariku.