
Sudah hampir empat setengah jam berlalu sejak event Treasure Hunt dimulai, dan kini aku masih berkeliling menghabisi satu per satu Boss Monster yang kutemui. Sepertinya sudah lewat dari dua jam sejak harta karun terakhir ditemukan oleh Maria, harta karun kedua dari total tiga harta karun tersembunyi yang bisa didapatkan dari melawan Boss Monster di area kota Adelaine pada event hari ini.
“Hahhh… masa masih belum dapet-dapet juga sih???” Aku meluapkan segala emosi, rasa lelah, dan kekesalan yang sudah sedari tadi kupendam dari dalam hati. Entah sudah berapa banyak Boss Monster yang aku kalahkan, bahkan kini aku sudah berhadapan dengan beberapa Boss Monster yang sama berkali-kali. Namun masih belum juga kutemukan sisa satu harta karun lagi.
“Apa jangan-jangan dari tadi eventnya sudah selesai ya? Sebenarnya sudah ada yang menemukan harta karun terakhir tapi aku tidak mengetahuinya…” Suara lelah kulepaskan seraya mengantarkan tubuhku terbaring di hamparan padang rumput luas yang ada di dunia game virtual ini.
“Aku rasa tidak mungkin, karena sampai saat ini layar untuk menghitung urutan pemain yang mengalahkan Boss Monster terbanyak masih ditampilkan jelas, nih!” Jawab Navi sambil membuka menu layar yang ia maksud. Dari sekumpulan nama pemain yang ada, aku masih bisa dengan jelas melihat namaku berada di posisi pertama dengan total 37 Boss Monster yang sudah kukalahkan hari ini. Sebelumnya aku berada di posisi ketiga, di mana posisi pertama diraih oleh Kurogane Kisaragi dan posisi kedua ditempati oleh Maria. Namun karena mereka berdua sudah berhasil menemukan harta karunnya, nama mereka berdua sudah tidak dimunculkan lagi dan kini namaku yang berada di posisi puncak. Di posisi bawahku itu ada Skypirate Ravenloft dengan total 36 Boss Monster yang sudah ia kalahkan.
“Ngomong-ngomong Navi, aku kepikiran apakah jangan-jangan kita harus pergi ke tempat yang belum pernah kita datangi ya? Siapa tahu ternyata harta karun terakhir ada disimpan oleh Boss Monster yang ada di sana?” Mendengar pertanyaanku tersebut Navi langsung menaruh tangan kanannya di bawah dagu, terlihat jelas ia sedang berpikir sebelum akhirnya tubuhnya yang mungil terbang menuju ke layar peta yang sedang aku buka.
“Seingatku sih hari ini kita belum menyentuh wilayah daerah perbukitan di sebelah utara, apakah mau ke sana?” Navi memberiku saran sambil menunjukkan posisi yang ia maksud di peta. Posisinya cukup jauh namun memang sepertinya sedari tadi aku belum sempat ke sana sama sekali. “Boleh deh, ayo coba kita ke sana.” Jawabku sambil mulai berdiri untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
Hampir 20 menit berlalu, kini aku sudah sampai di tempat tujuanku. Setibanya di sana aku kembali melihat daftar urutan sementara. Ternyata masih belum ada perubahan signifikan di posisi puncak, baik aku dan juga Skypirate Ravenloft masih sama-sama berada di posisi yang sama, aku di posisi pertama dengan 40 Boss Monster dan Skypirate di posisi kedua dengan 39 Boss Monster. Dalam perjalananku tadi aku sempat menemui tiga Public Event dengan Boss Monster level rendah yang cukup bisa kutangani dengan mudah.
“Lily! Di sebelah sana! Ada Area Boss Monster yang muncul!” suara Navi langsung mengubah fokusku yang semula melihat layar menu dengan sontak beralih melihat ke arah yang ditunjuk oleh Navi. Benar juga, di sana terdapat notifikasi bertuliskan “Area Boss Monster Incoming..” sebuah notifikasi khas yang menandakan kemunculan Area Boss Monster.
Aku segera bergegas untuk berjalan ke arah sana, dan setibanya di sana ternyata Boss Monster tersebut sudah muncul. Namun aku tidak mempercayai apa yang aku lihat saat ini.
“Eh…. Ini… Area Boss Monster?” Ucapku sambil menunjuk ke arah monster yang baru saja muncul. Navi langsung memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya.
Ini benar-benar mengejutkan, selama ini aku seharian berburu Boss Monster demi mendapatkan harta karun selalu bertemu dengan monster berukuran besar dan bentuk yang cukup menyeramkan. Namun kali ini yang berdiri di hadapanku justru hanyalah seekor kelinci putih kecil bermata merah dan satu tanduk kecil di dahinya. Iya, hanya sebuah kelinci kecil bernama “Lesser Harebannog”.
“Sepertinya monster lucu ini tidak nampak menyeram….”
“Gawat… tidak bisa dibiarkan.. Aku harus bertahan…” pikirku saat hendak mengaktifkan skill Heal, sebelum akhirnya kelinci ini kembali berteriak dan kali ini memberiku efek Silence, yang membuatku tidak bisa mengaktifkan skill selama beberapa waktu. Sial, ga bisa pake Heal!! Pikiranku mulai panik, namun untung saja efek Paralyze hanya bertahan selama 5 detik dan aku langsung bergerak menjauh untuk menyembuhkan HP menggunakan Health Potion. Namun gerakkan kelinci kecil ini lincah sekali sampai-sampai ia bisa mengejarku dan kembali melakukan serangan. Aku terus berusaha memulihkan HP yang hilang dengan menggunakan beberapa Health Potion, hingga akhirnya efek Silence menghilang dan aku langsung mengaktifkan Regen untuk berjaga-jaga.
“Nggak…. Kelinci ini ga ada lucunya sama sekali… ga ada!!!!” aku berteriak sambil mencari jarak aman untuk melakukan serangan balasan menggunakan skill Light Shot. Baru selesai melancarkan satu serangan, kelinci ini kembali berteriak memberikan efek Paralyze. Untung saja aku berhasil mengaktifkan skill Barrier dan Regen untuk menanggulangi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan sebelum akhirnya ia memberikan teriakan Silence.
Kalau boleh jujur, kelinci di hadapanku ini adalah Boss Monster paling sengit yang pernah aku hadapi sepanjang hari ini. Meski HP barnya hanya satu baris saja, tetapi kecepatan serangan dan skill untuk membuat Paralyze dan Silent cukup membuatku kerepotan! Serangan yang bisa kulakukan hanyalah serangan fisik menggunakan senjata Zanscarean Warclub, jarang sekali aku bisa mengaktifkan Light Shot untuk menyerang sebelum akhirnya aku kembali mendapat efek Silence. Pada pertarungan ini aku benar-benar merasakan ternyata karakterku masih sangat lemah, begitu karakterku terdiam dan tidak bisa menggunakan skill, rasanya aku sudah hampir tamat di tempat. Untung saja beberapa pukulan senjata yang kuberikan sempat membuat kelinci kecil ini terkena efek Stun.
Kini HP ku dan HP kelinci kecil di hadapanku sama-sama tersisa hanya 5%. Aku tidak bisa memulihkan HP karena Health Potionku sudah habis seluruhnya, dan kini sedang berada dalam posisi Silence. Skill terakhir yang kuaktifkan sebelum mendapat Silence hanyalah Attack Up. Aku akan bertaruh pada serangan fisik di detik-detik terakhir ini!
Selesai memberikan efek Silence kelinci ini langsung menerjang kearahku. Aku langsung mengayunkan senjataku ke arah kelinci yang ada di hadapanku, jika seranganku berhasil maka aku akan menang, namun jika aku telat maka aku yang akan kalah. Inilah saat-saat genting di mana presisi akan sangat menentukan!
“Musnahlah dan berikan aku harta karunnya sekarang!!!” Aku berteriak sekuat tenaga, mengayunkan senjataku yang ternyata mengenai telak memukul bagian kepala monster kelinci ini, menghabisi seluruh sisa nyawanya hingga akhir.
Begitu monster tersebut musnah, aku langsung melihat tubuhnya perlahan menghilang. Beberapa item mulai nampak muncul di tanah, apakah ini.. Saatnya untuk?
“Dan, harta karun terakhir akhirnya ditemukan!” Sebuah layar notifikasi kembali terbuka secara tiba-tiba, dengan suara Game Master Edgar terdengar sangat jelas. Selama hampir 5 jam lamanya akhirnya event Treasure Hunt ini berakhir juga!
“Selamat kepada Skypirate Ravenloft yang telah mendapat harta karun terakhir dari Boss Monster Scarlet Flaming Treant!”
Benar, setelah bertarung mati-matian melawan kelinci tadi ternyata aku masih belum mendapatkan harta karunnya. Meski jumlah Boss Monster yang dikalahkan masih lebih sedikit satu ekor dibandingkan denganku, namun Skypirate Ravenloft yang berhasil mendapatkan harta karunnya. Sepertinya waktu ia mengalahkan Scarlet Flaming Treant berbarengan dengan aku mengalahkan Lesser Harebannog, dan sistem game ini memilih untuk memberikan drop item Exotic kepadanya.
Aku kembali terbaring di tanah, di sebuah wilayah perbukitan dengan hambusan angin yang cukup kencang, langit yang mulai gelap pertanda datangnya malam, dengan isak tangis yang kulepaskan sekencang-kencangnya kepada semesta virtual ini. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa besarnya rasa lelah, sedih, dan kecewa yang sedang kurasakan saat ini.