Here Comes The Combat Healer

Here Comes The Combat Healer
Chapter 48 - White Wizard Melawan Black Wizard



Setelah meraih dua kemenangan secara berturut-turut, kini aku berhadapan dengan lawan ketiga ku di hari ini, seorang pemain Black Wizard bernama Arcanea Cipher. Berbeda dengan dua lawanku sebelumnya yang tampak merendahkan dan meremehkanku begitu pertandingan dimulai, Arcanea Cipher justru muncul di hadapanku dengan sangat tenang dan tidak memberikan komentar apa-apa mengenai gaya pertarunganku. Entah kenapa sosoknya yang nampak diam-diam saja sepertinya menyimpan sejuta ancaman mengerikan untukku.


Ternyata, benar dugaanku, belum sampai 1 menit sejak pertarungan dimulai, kini aku sudah berada dalam posisi yang cukup sulit. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Arcanea Cipher dari jarak jauh. Sebagai pemain Black Wizard, Arcanea Cipher memiliki berbagai skill bertipe sihir yang bisa memberikan damage elemental sesuai dengan skill yang diaktifkan. Sedari tadi aku berusaha berlari untuk menghindari serangan bola api dan pisau es yang menghujam tanpa ampun ke arahku.


“Ooo… apa ini? Baru di awal pertarungan namuun nampaknya Lily Aeonia sudah kalang kabut menghindari serangan sihir yang terus dilancarkan oleh Arcanea Cipher!” suara Game Master Edgar bergema memenuhi seisi arena. Seperti apa yang diucapkan oleh komentator barusan, sedari tadi aku terus berusaha menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh musuhku saat ini.


Kalau boleh jujur sebenarnya serangan yang dilancarkan oleh Arcanea Cipher cukup mudah terbaca. Begitu ia mulai nampak merapalkan mantra untuk mengaktifkan skillnya, lingkaran merah penanda target skill milik Arcanea Cipher mulai muncul di permukaan arena. Tentu saja aku langsung menghindari area tersebut agar tidak terkena serangannya. Tetapi yang merepotkan bukanlah itu, yang jadi masalah sebenarnya adalah…


“Fireball!” Sebuah lingkaran merah penanda proyeksi arah datangnya serangan muncul tepat di hadapanku begitu Arcanea Cipher mengucapkan nama skillnya. Dengan cepat aku langsung beranjak kembali menghindar.


Benar, yang menjadi masalah bukanlah skill sihirnya yang bisa dengan mudah dihindari, tetapi intensitas serangan yang diluncurkan oleh Arcanea Cipher bisa dibilang sangatlah cepat sekali! Sepertinya setiap detik ia bisa mengeluarkan skill  yang sangatlah mengancam. Kalau terus dibiarkan begini, aku hanya bisa menghindar saja tanpa melakukan serangan balik.


Sesekali aku melihat status dari Arcanea Cipher ini, ternyata ada hal yang membuatku cukup kaget di sana. Jumlah Mana miliknya sangatlah besar dan setelah meluncurkan skill, Mana miliknya langsung kembali bertambah dengan cepat. Dengan jumlah Mana yang besar dan regenerasi yang cepat ini, pantas saja dia bisa melancarkan serangan secara bertubi-tubi seperti ini!


‘Aku harus mencari celah!’ Itulah yang menjadi fokusku sejak tadi. Mau bagaimanapun pasti tetap ada satu celah yang bisa aku manfaatkan untuk memberikan serangan balasan.


Saat ini posisi kami berdua masih sama-sama berada di HP 100%, serangan dari Arcanea Cipher bisa kuhindari namun sebagai gantinya aku hanya berfokus menghindar tanpa memberikan serangan. Jika pertarungan berlangsung semakin lama dengan ritme begini, bisa-bisa aku yang kalah karena stok item yang bisa dibawa dalam pertarungan di tiap  rondenya terbatas hanya 30 buah saja.


Ayo pikir… berpikir… pasti ada cara..


Ah! Benar! Mungkin aku bisa mencoba cara itu..


“Akhirnya Lily Aeonia mulai bergerak mendekat ke arah Arcanea Cipher, apakah ini pertanda ia akan memberikan serangan balasan?” suara dari Magical Kirari terdengar jelas di telingaku seraya aku menggerakkan tubuhku untuk bergerak maju. Setidaknya aku butuh mendekat ke jarak di mana seranganku bisa mencapai Arcanea Cipher.


Di tengah-tengah diriku yang terus bergerak mendekat, aku menggunakan item Armorskin Spray untuk meningkatkan pertahananku. Selain itu aku juga mengaktifkan skill Quicken untuk mempercepat gerakan dan waktu aktivasi skill milikku. Dengan kecepatan ini aku langsung mengaktifkan Barrier dan Regen secara bergantian begitu kakiku menginjak lingkaran merah, di mana tembakan bola api dari langit menghujam telak ke arahku.


“Ooo apa yang terjadi? Sempat menghindar berkali-kali tetapi kini Lily Aeonia justru menerima damage serangan dari Arcanea Cipher dengan sangat telak!” kali ini giliran suara Game Master Edgar yang memberikan komentar mengenai diriku yang baru saja terkena skill Fireball dari Arcanea Cipher. Sial, serangannya mengerikan juga karena satu skill ini saja berhasil mengurangi HP ku sampai ke angka 90%. Untung saja aku sudah mengaktifkan Barrier dan Regen, jika tidak serangan tadi pasti sudah mengurangi HP ku menjadi 75%!


Namun aku tidak begitu peduli, selama HP ku masih tersisa, aku akan terus maju. Kini aku sudah berada tepat di jarak sekitar 5 meter dari hadapan musuhku. Dari jarak ini, aku akan langsung melancarkan serangan pertamaku.


“Slow!!”


Benar, meskipun Arcanea Cipher memiliki Mana yang besar dengan tingkat regenerasi Mana yang sangat cepat, setidaknya aku bisa menghambat ritme serangannya dengan Slow yang bisa melambatkan waktu aktivasi skillnya.


Dalam gerakannya yang tengah melambat, aku segera melancarkan serangan balasan. Kali ini aku langsung mengaktifkan skill “Attack Up” yang dilanjutkan dengan “Light Shot”.


“Akhirnya! Serangan balasan dari Lily Aeonia berhasil mengurangi HP Arcanea Cipher menjadi 90%!” kembali suara Magical Kirari terdengar memberikan komentar di tengah pertandinganku saat ini. Satu serangan ini bisa mengurangi 10% HP, sepertinya aku mulai melihat ada secercah harapan.


Begitu serangan “Light Shot” ku berhasil mengenai Arcanea Cipher, aku terus melangkah ke arah belakang tubuh Arcanea Cipher untuk memberikan serangan fisik melalui pukulan senjata di tangan kananku. Namun secara cepat akhirnya Arcanea Cipher mengubah posisinya dan menjaga agar bagian belakang tubuhnya tidak bisa dikenai oleh seranganku. Akhirnya pukulan senjataku berhasil mengenai bagian samping tubuhnya dan mengurangi HP Arcanea Cipher menjadi 85%. Namun di saat itu aku menyadari sesuatu, begitu Arcanea Cipher mengubah posisinya, ternyata lingkaran sihir yang sedari tadi bersinar menyala di bawah kakinya langung menghilang. Tidak hanya itu saja, jumlah Mana maksimal dari Arcanea Cipher juga langsung berkurang.


“Hmm, sepertinya kau sudah berhasil menemukan celahnya ya?” akhirnya untuk pertama kalinya aku mendengar suara Arcanea Cipher selain menyebutkan nama skill yang diaktifkannya. Dari jarak dekat ini akhirnya aku bisa melihat jelas wajah pemain Black Wizard perempuan dengan rambut ungu dan bola mata berwarna merah ini.


“Begitu, jadi kuncinya ada di lingkaran sihir tadi ya?” ucapku memberikan balasan, yang langsung disambut oleh senyuman yang nampak mengancam di wajah Arcanea Cipher.


“Kalau begitu, aku akan mengeluarkan kekuatanku yang sebenarnya.” ucap Arcanea Cipher kepadaku. Sepertinya, pertarungan ini benar-benar akan berjalan dengan cukup sengit, nih.