
Sabtu, 4 Februari 2045
Setelah menunggu cukup lama di kursi penonton, akhirnya tepat di hari yang nampak terik ini aku turun ke arena untuk melakukan pertandingan PVP pertamaku di event Crucible of Beast. Setelah menekan tombol menerima tantangan yang muncul, saat ini aku berada di ruang persiapan. Dari ruangan ini aku bisa melihat jelas situasi arena di luar, nampak jelas seorang pemain dengan job Assassin tengah melambaikan tangannya seraya bersorak. Jelas saja ia melakukan hal tersebut karena di hari ini, ia menjadi pemain pertama yang berhasil meraih 9 kali kemenangan secara beruntun.
Di dalam ruang persiapan aku mendapatkan waktu sekitar 5 menit untuk melakukan penyesuaian terhadap skill dan item yang akan aku gunakan di pertandingan nanti. Untuk skill tidak ada yang aku ubah kecuali susunan tombolnya saja agar lebih mudah aku aktifkan. Selama ini skill bar ku tersusun hanya berdasarkan urutan skill mana yang aku unlock terlebih dahulu. Namun kali ini aku mengatur agar berbagai skill yang memiliki efek serupa berada di lokasi berdekatan. Untuk item, ternyata di event ini ada peraturan khusus di mana satu jenis item hanya boleh dibawa sebanyak 30 buah saja. Sepertinya pertarungan PVP hari ini aku harus mengatur strategi berbeda karena jika saat melawan monster biasa aku bisa membawa satu stack penuh item sebanyak 99 buah, kali ini untuk satu pertandingan hanya terbatas 30 buah saja. Semoga pertandingan yang berlangsung tidak memakan waktu cukup lama, deh.
“Dengan combo skill yang bisa dilancarkan secepat kilat, hingga saat ini masih belum ada yang bisa menghentikan win streak dari NightAbyss!” suara dari Magical Kirari yang bertugas menjadi komentator pertandingan di hari ini terdengar begitu jelas dari ruang persiapan tempatku berada saat ini. Tidak lama kemudian terdengar suara sang komentator satu lagi, Game Master Edgar yang berucap “Memang ga heran sih, karena pada dasarnya jika di-utilize dengan baik job Assassin sebagai melee DPS bisa menjadi job yang cukup unggul dalam pertarungan satu-lawan-satu.”
TIING! Setelah suara Game Master Edgar terdengar, kini aku mendengar suara notifikasi dengan bunyi yang cukup nyaring. Sebuah layar notifikasi muncul di hadapanku bertuliskan “Apakah kamu sudah siap untuk bertanding?”, sebelum menekan tombol konfirmasi aku kembali melihat susunan skill dan item yang aku bawa.
Setelah memastikan semuanya sudah diatur dengan baik, aku langsung menekan tombol konfirmasi yang membawa karakterku untuk berpindah tempat ke lantai arena. Pemandangan di hadapan mataku perlahan berubah, dari interior ruangan persiapan menuju ke arena luas dengan pemain bernama NightAbyss muncul di hadapanku. Namun begitu aku tiba di atas arena, suasana yang tadi sangat ramai dengan sorak sorai sontak berubah menjadi keheningan.
‘Apa yang terjadi? Ini pengaturan sound dan audioku tidak rusak kan?’ pikirku sebelum akhirnya aku mendengar suara Game Master Edgar memberikan komentarnya.
“Wah apa ini? Kini ada satu lagi peserta yang naik ke atas arena bersiap menantang NightAbyss!? Dan peserta ini……. Seorang pemain dengan job White Wizard?!!!” Tidak lama setelah kalimat tersebut terucap, suasana hening berubah menjadi suasana penuh rasa kaget dan heran.
‘Ah benar juga, dari tadi belum ada sama sekali pemain White Wizard yang bertanding ya….’ akhirnya aku mendapatkan jawabannya. Dari bawah arena ini ternyata aku bisa sangat jelas mendengar suasana para penonton yang duduk mengitari kami. Suara-suara penuh rasa kaget, heran, dan ungkapan ketidakpercayaan terdengar jelas di telingaku. Namun pandanganku tidak berani untuk beranjak melihat ke suasana para penonton. Aku tidak ingin semangat juangku semakin turut karena melihat pandangan para penonton hari ini. Pandanganku hanya tertuju kepada satu hal saja, seorang pemain bernama NightAbyss yang berdiri di hadapanku, pemain yang mulai berjalan maju mendekat ke arahku.
“Heh? Apa ini? Kukira aku akan bertemu player yang lebih kuat lagi, ternyata aku malah mendapatkan kemenangan gratis untuk win streak ke-10 ini, heh” ucap NightAbyss sambil mengacungkan pedang di tangan kanannya ke arahku. Sial, belum mulai bertarung ternyata emosiku sudah terkuras dengan hinaan ini.
‘Sabar Lily… Sabar… balas saja dengan pertarungan nanti.’ aku terus berucap dalam hati berusaha menenangkan diri.
“Baiklah kalau begitu tanpa lama lagi, mari kita mulai ronde berikutnya dari Crucible of Beast. Match… START!” suara Magical Kirari dengan penuh semangat membuka ronde pertandingan PVP pertamaku melawan NightAbyss.
“Quicken…”
Tanpa pikir panjang aku langsung mengaktifkan skill yang meningkatkan kecepatan gerakanku ini. Ada alasan kenapa aku memilih untuk bertarung melawan NightAbyss yang sudah mendapatkan 9 kali kemenangan di hari ini. Sejak awal pertarungan dimulai tidak banyak pemain yang bisa bertahan lama sehingga aku tidak bisa melakukan analisa akan strategi apa yang digunakan oleh para pemain lain. Namun NightAbyss muncul ke atas arena dan terus menerus meraih kemenangan, dan dari sembilan pertandingan yang sebelumnya ia jalani aku sudah cukup tahu strategi apa yang akan dia lakukan. Karena itu, untuk menandingi serangannya ini aku akan meningkatkan kecepatan dan bertaruh untuk melakukan gerakan menghindar secara cepat.
Setelah skill Quicken selesai diaktifkan, tubuh NightAbyss sudah terlontar ke arahku, skill Dash Attack miliknya sudah diaktifkan. Aku langsung menggerakkan kakiku untuk bergerak ke arah kanan. Dari pengamatanku dan latihanku bersama dengan Kuro, aku tahu kalau Dash Attack adalah skill yang cukup unik karena begitu dilancarkan, tidak ada arahan proyeksi arah serangan yang muncul. Namun aku tahu kalau skill ini akan memiliki lintasan garis lurus dan pemain Assassin tidak bisa mengubah arah posisinya dengan leluasa begitu menggunakan skill ini. Karena itu aku bertaruh apakah aku bisa…
“Berhasil!” secara tidak sengaja aku mengucapkan hal tersebut begitu tubuhku bergerak dengan sangat cepat berbelok ke arah kanan, menghindari serangan Dash Attack yang barusan diluncurkan oleh NightAbyss.
Dari posisi ini aku bisa melihat jelas ekspresi NightAbyss penuh rasa kaget dan heran. Perlahan ia menengok ke arahku dengan matanya yang terbelalak, “A.. apa? Bagaimana bisa?!” ucap NightAbyss kepadaku.
Tanpa menunggu waktu lama, aku tidak ambil pusing untuk membalas kata-kata tersebut. Aku langsung kembali mempersiapkan diri untuk mengaktifkan skill buff ku berikutnya. Kini NightAbyss tidak akan bisa melancarkan serangan balasan untuk beberapa detik karena skill Dash Attacknya tidak berhasil mengenaiku. Setidaknya ia butuh 2 hingga 3 detik lagi sebelum menggunakan skill lainya. Jika saja serangan Dash Attack tadi berhasil mengenaiku dengan telak maka kondisi akan sangat berbeda, ia bisa melancarkan skill lanjutan karena efek dari Dash Attack membuat pemain Assassin bisa melakukan skill lanjutan hanya jika serangan tersebut berhasil mengenai targetnya. Namun serangannya tadi meleset dan ia tidak bisa melakukan serangan lanjutan, sekaranglah waktunya untukku melakukan serangan balasan.
“...Attack up…”
Skill tersebut aku aktifkan sambil aku terus bergerak mengubah posisiku untuk menuju ke arah belakang NightAbyss. Posisi ini cukup penting karena dalam waktu singkat ini aku tidak bisa menyerangnya dengan skill Light Shot. Aku hanya perlu memukulnya dengan Zanscarean Warclub di tangan kananku, dan sebagai senjata dengan tipe jarak dekat, ternyata senjata ini memiliki damage tambahan jika aku menyerang dari arah belakang target.
Begitu aku mengayunkan senjataku, aku bisa melihat jelas mata NightAbyss yang kini menengok ke arah belakang. Matanya penuh dengan kepanikan, heran, dan tidak percaya akan seorang White Wizard yang kini akan menghujamkan senjatanya kepada dirinya yang tengah terdiam tak berdaya.
Di hari ini, aku bertekad untuk menunjukkan kekuatanku sebagai Combat Healer tidak boleh diremehkan begitu saja!