Here Comes The Combat Healer

Here Comes The Combat Healer
Chapter 47 - Kemenangan Berlanjut



“Wrath of Divine!!”


Dengan suara lantang aku meneriakkan nama skill pamungkasku dengan sekuat tenaga. Lingkaran sihir mulai muncul tersusun menimpa tubuh NightAbyss yang langsung disusul ledakan cahaya putih yang bersinar terang menyilaukan dengan suara yang memekikkan telinga.


Meskipun pada awalnya aku sempat ragu, akhirnya aku berhasil memenangkan pertandingan pertamaku. Mengalahkan sang juara bertahan dengan telak berkat hasil latihan, skill baru dan juga equipment milikku yang sudah di upgrade semaksimal mungkin.


Penonton dan komentator yang semula tidak percaya akan kehadiranku, dan hanya terdiam begitu aku naik ke atas arena, kini perhatian mereka semua dipecahkan dengan kemenanganku yang langsung disambut dengan sorak sorai yang kembali bergemuruh seperti pada awal pertandingan berlangsung.


“Tidak dipercaya! Sungguh tidak dipercaya! Bagaimana bisa seorang White Wizard mengalahkan Assassin dengan telak seperti ini!!!” Aku mendengar jelas suara Game Master Edgar memberikan komentar dengan penuh rasa kaget.


“Sebagai pemain White Wizard sendiri, aku juga kaget loh ternyata ada pemain yang bisa melakukan pertandingan PVP sampai seperti ini!” Gawat, kali ini aku mendengar suara Kirari memuji kemenanganku barusan! Tenang Lily, tenangkan dirimu, jangan terlihat norak karena kini semua tertuju kepadamu.


Begitu tubuh NightAbyss mulai perlahan menghilang dari arena, sebuah notifikasi muncul di hadapanku dengan tulisan, “Apakah kamu mau melanjutkan pertandingan sebagai juara bertahan dan menantang pemain berikutnya?” Oh jadi ini yang terjadi ketika kamu memenangkan pertandingan ya. Sepertinya meskipun seorang pemain memenangkan pertandingan, ia bisa memilih untuk tidak melanjutkan pertandingan. Sampai saat ini sih belum ada yang melakukan hal ini tapi aku kepikiran kalau ada yang melakukannya apakah berarti dua peserta baru akan dipilih acak seperti pertandingan pertama?


Tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol “Iya”, bagaimana bisa aku memilih berhenti dari pertarungan ketika aku baru saja mendapatkan kemenangan pertamaku di hari ini. Itu berarti aku selangkah lebih dekat untuk bisa mencapai hadiah utama. Hadiah yang sudah sangat dinanti-nantikan yaitu sesi meet and greet di dalam game ini bersama sang komentator pertandingan hari ini yaitu Magical Kirari!


Melihat diriku seorang White Wizard yang menang melawan Assassin, tiba-tiba aku merasakan seisi Colosseum kembali bersemangat. Sebelumnya para pemain sudah kehilangan semangat begitu melihat NightAbyss berhasil memenangkan sembilan kali pertarungan secara berturut-turut, namun kini tahta pemenang berhasil aku geser dan nampaknya banyak pemain yang ingin mencoba melawanku. Sepertinya mereka ingin mencoba apakah kemenanganku tadi memang terjadi karena beruntung saja atau memang karena kemampuanku yang sebenarnya.


“Baik, akhirnya kita sudah mendapatkan peserta berikutnya yang akan menantang Lily Aeonia. Dengan job sebagai Archer, mari kita sambut Queen’s Gambit!!” Game Master Edgar memanggil nama peserta yang menjadi penantang berikutnya untuk berhadapan melawanku. Tidak lama kemudian muncul sesosok pemain dengan pakaian serba hijau bersenjatakan busur panah berdiri di hadapanku.


“Aku yakin kemenangan mu tadi hanyalah keberuntungan saja!” ucap Queen’s Gambit memberikan tantangan kepadaku.


“Oke mari kita mulai ronde berikutnya.. Crucible of Beast, Match.. START!!” Game Master Edgar membuka mulainya pertarungan ronde baru. Selesai suara tersebut terdengar aku melihat Queen’s Gambit sudah mulai mengambil posisi untuk menyerang menggunakan busur panahnya, sebuah trayeksi arah serangan terlihat jelas mengincar tepat ke arah kepalaku. Tanpa waktu lama aku langsung mengaktifkan skill “Quicken”, skill buff yang meningkatkan kecepatan gerakanku dan juga kecepatan aktivasi skill dan waktu cooldown skill ku dalam beberapa detik.


“Critical Shot!!” Suara Queen’s Gambit meneriakkan skillnya terdengar sangat jelas di telingaku, sebuah busur panah dengan cepatnya melesat melintas trayeksi yang sudah terlihat sebelumnya. Namun dengan efek skill Quicken, aku bisa bergerak dengan cepat untuk menghindari tembakan panahnya tersebut.


Di saat Queen’s Gambit terlihat tengah menyiapkan serangan berikutnya, aku masih melesat maju mencari jarak aman untuk menyerang. Di sela-sela itu aku mengaktifkan berbagai skill seperti Regen dan Barrier untuk bersiap menerima serangan yang akan mengenaiku.


“Ternyata kini Lily Aeonia langsung melesat maju ke arah Queen’s Gambit dan nampaknya ia tengah menyiapkan sesuatu… apakah ia akan melancarkan skill tersebut?” Suara Game Master Edgar kembali terdengar memberikan komentar. Sepertinya komentator yang satu ini sudah tahu apa yang akan kulakukan. Begitu aku sampai di jarak aman, aku langsung mengaktifkan skill Slow dan langsung kuiringi dengan Light Shot secepatnya, efek Quicken memungkinkanku memakai dua skill ini secara bergantian dengan sangat cepat.


“Akhirnya serangan pertama dilancarkan dari Lily Aeonia yang berhasil mengurangi HP Queen’s Gambit menjadi 90%! Dengan gerakannya yang masih melambat akibat efek skill Slow, serangan balasan dari Queen’s Gambit berhasil dibaca dengan jelas oleh Lily yang membalasnya dengan skill Aero Cut serta lemparan Toxicspray, yang membuat HP Queen’s Gambit akan semakin berkurang setiap detiknya!” kali ini aku mendengar suara Kirari mengomentari setiap langkah serangan yang baru saja aku lakukan.


Dari pengamatanku sebelumnya, beberapa peserta dengan job Archer memiliki keuntungan jika pertarungan berlangsung pada jarak jauh. Karena itulah kali ini aku menerobos maju ke hadapannya dan memberikan serangan beruntun. Benar saja, ternyata dari jarak dekat Queen’s Gambit sebagai Archer di hadpaanku ini nampak sangat panik tidak bisa melakukan serangan balasan.


“Jadi, apakah kamu merasa kurang beruntung tersudut oleh pemain White Wizard sepertiku?” Aku berbisik ke arah Queen’s Gambit sambil terus memberikan serangan. Secara bergantian aku memberikan serangan Light Shot dan pukulan fisik dengan Aero Cut dan Toxic Spray untuk mengurangi HP lawanku ini. Beberapa kali ia sempat memberikan serangan balasan namun HP yang berkurang berhasil kembali dipulihkan dengan cepat berkat efek skill Regen dan Barrier yang aku terus aktifkan. Terlihat jelas sesekali Queen’s Gambit berusaha menyembuhkan HPnya menggunakan Health Potion namun efek skill Slow dan Stun dari senjata yang kumiliki menghalau Queen’s Gambit untuk mengaktifkan Health Potion secara cepat. Hingga akhirnya serangan demi serangan yang aku berikan berhasil mengenai telak dan mengurangi HP Queen’s Gambit menjadi 0%.


“Gimana, masih menganggap aku menang karena beruntung?” aku berucap ke arah Queen’s  Gambit yang kini tengah tersungkur di arena.


“Tidak dapat dipercaya!! Lily Aeonia kembali meraih kemenangan keduanya di hari ini!!” Game Master Edgar mengucapkan kalimat tersebut dengan suara yang penuh akan ketidakpercayaan. Seisi Colosseum kembali bergemuruh dengan semangat begitu notifikasi tantangan untuk pertarungan berikutnya kembali dikirimkan kepada pemain yang tersisa.


Peserta berikutnya pun muncul di hadapanku, kali ini aku berhadapan dengan seorang pemain Black Wizard bernama Arcanea Cipher. Berbeda dengan Queen’s Gambit yang sebelumnya memulai pertarungan dengan cukup menyebalkan karena meremehkanku, Arcanea yang ada di hadapanku ini justru nampak begitu tenang. Seharusnya di saat itu aku tahu bahwa ketenangan diri dari Arcanea adalah pertanda bahaya yang sangat mengancam dan tidak bisa diremehkan begitu saja.