
Memasuki ruangan paling pojok dari lantai dua dungeon Harrowing Tomb of Zanscare, aku dan Maria mendapatkan satu lagi de-buff di mana semua senjata kami tidak bisa digunakan. Mace yang ada di tangan kananku, serta perisai dan palu milik Maria menghilang dari genggaman tangan kami. Aku merasa sangat panik, apakah de-buff ini bisa menghilangkan senjata kami? Namun untung saja saat aku mengecek inventory, senjata kami masih ada namun terdapat notifikasi yang menyebut kalau senjata tidak bisa di-equip saat berada di area ini. Kalau begini gimana kami bisa mencapai lantai selanjutnya tanpa senjata?
Dalam kebingungan itu, lagi-lagi suara lolongan mengerikan terdengar mengucapkan kalimat “Kalian harus enyah dari sini! Musnahlah segera!”. Setelah suara tersebut terucap, lagi-lagi cahaya biru dan merah menyinari tubuh kami. Kali ini aku mendapat cahaya merah dan Maria mendapat cahaya biru. Tidak lama kemudian dari lubang di dinding dan langit-langit tempat ini muncul tombak panjang masing-masing berwarna biru dan merah. Salah satu tombak berwarna biru sempat mengenaiku dan memberikan damage kecil kepadaku.
“A.. apa ini? Maria apa yang harus aku lakukan di sini? Aku tidak punya senjata!! Gimana caranya kita bisa lanjut??” ucapku dengan nada panik sambil berusaha menghindari tombak-tombak yang bermunculan.
“Di ruangan ini tidak akan ada monster yang muncul, pintu menuju lantai ketiga akan terbuka jika kita berdua bisa bertahan selama 10 menit di sini.”
“Ta..tapi… gimana caranya bertahan dari tombak-tombak yang terus bermunculan di sini?? Aaarghhh” Aku masih terus berusaha menghindari serangan tombak di ruangan ini, namun karena kecepatanku sangat lambat, kali ini aku terkena serangan dari tombak berwarna merah dan memberikan damage yang cukup besar, dan tubuhku kini tidak bisa bergerak.
“Lily! Maaf aku lupa memberitahu, di sini kau harus bertahan jangan sampai terkena serangan dari tombak yang memiliki warna sama dengan cahaya di tubuhmu. Tombak dari warna yang berbeda akan memberimu damage kecil namun tombak dengan warna sama akan memberi damage besar dan juga efek Stun selama 3 detik.” Aku melihat Maria menghindari masing-masing tombak dengan sangat lihai, dan untuk sesekali ia rela menerima serangan dari tombak berwarna merah. Setelah itu ia memberikan Health Potion kepadaku, untuk memulihkan sebagian HP ku yang hilang dari serangan tombak tadi.
“Te.. terima kasih..” Ucapku seraya berusaha terbangun setelah efek Stun mulai menghilang. Seharusnya aku yang memberikan support di sini, kenapa malah aku yang dibantu Maria sih? Hah, pikiran negatif mulai muncul di benak kepalaku.
Kini aku sudah bisa bergerak kembali, dan serangan tombak mulai kembali muncul dari berbagai lubang yang ada di dinding dan lantai ruangan ini. Dalam satu sekali serangan ada 2 tombak yang muncul, dan kami harus berusaha tidak terkena serangan tombak yang salah. Karena jarak antar lubang cukup jauh dan kecepatan gerak kami berkurang, ditambah dengan statusku yang rendah dalam AGI, membuatku kesulitan untuk menghadapi puzzle di lantai ini. Meskipun tidak berhadapan dengan monster namun sepertinya puzzle ini jauh lebih menyeramkan.
Sedari tadi Maria berhasil menghindar dengan gesit, HPnya hanya berkurang sedikit. Sedangkan aku masih harus berusaha menghindar dengan gerakkan yang lambat. Apa yang harus aku lakukan??
‘Eh iya, meski senjataku hilang, apakah aku masih bisa memakai skill?’ Tiba-tiba pikiran itu terbesit di benak kepalaku. Aku langsung mencoba untuk mengaktifkan skill Heal, dan ternyata skill tersebut bisa diaktifkan dengan normal!
Moodku kembali bangkit setelah mendengar kata-kata Maria barusan. Pikiran negatifku mulai tersingkir dan kini yang ada hanyalah sekumpulan ide untuk bertahan hidup memenuhi isi kepalaku. Karena aku bisa memakai skill support, tak peduli terkena damage bahkan Stun sekalipun, asal aku masih tetap bisa bertahan!
Eh iya tapi kalau terkena Stun cukup repot juga aku tidak bisa bergerak selama 3 detik, setidaknya apakah aku bisa mengurangi damage dengan menggunakan item? Kalau tidak salah saat terkena Stun tadi Maria mengaktifkan Health Potion kepadaku. Aku langsung mengambil botol Armorskin untuk kugunakan, ternyata item bisa dipakai dengan normal juga! Kini status defenseku meningkat.
Di hadapan mataku terdapat sebuah tombak berwarna merah melesat, aku tidak sempat menghindar! Mau tidak mau aku akan terkena Stun, dan saat Stun aku tidak bisa menggunakan Heal, kalau begitu aku bisa mencoba hal ini.
“Regen!” Tepat sesaat sebelum tombak merah tersebut mengenaiku, aku mengaktifkan skill Regen. Tak lama akhirnya tombak itu menyentuh tubuhku dan memberikan damage serta efek Stun. Lagi-lagi aku jatuh tersungkur ke tanah! Tetapi kali ini damage yang diberikan tidak terlalu besar karena aku menggunakan item Armorskin, selain itu HP ku juga perlahan pulih berkat efek Regen. Baik, kini aku sudah mendapat kunci untuk lolos dari tempat ini! ‘Sip cara ini sepertinya bisa dilakukan!’ ujarku dalam hati.
Setelah efek Stun 3 detik menghilang, aku langsung perlahan berjalan ke arah Maria. Sesampainya di dekat Maria aku mengaktifkan skill Regen serta menggunakan Armorskin ke arahnya. “Hoo sepertinya kau sudah mendapat ide ya? Terima kasih Lily!” kali ini gantian Maria yang mengucapkan terima kasih kepadaku! Berkat defensenya yang tinggi, serta efek Armorskin dan juga Regen, serangan tombak yang diterima oleh Maria nampak tidak berarti apa-apa. Ia juga bisa dengan lihai menghindari tombak yang sama dengan warna cahaya di tubuhnya untuk menghindari efek Stun. Akhirnya aku bisa kembali memberikan support yang berarti!
Dengan strategi baru ini, kini aku berusaha untuk tetap bertahan hidup dengan terus memberikan Armorskin, Regen, dan sesekali menggunakan Health Potion serta Heal untuk memulihkan HP. Tidak lupa juga saat durasi efek skill Regen milik Maria sudah habis, aku kembali mengaktifkan skill ini untuknya, dan juga memberikan Armorskin untuk meningkatkan pertahanannya.
Meski gerakanku sangat lambat, aku menerima banyak serangan tombak dan beberapa kali terkena Stun namun kini HP ku tetap terjaga, kami tetap bertahan hidup hingga waktu 10 menit tidak terasa sudah berlalu. Cahaya merah di tubuhku dan cahaya biru di tubuh Maria kini menghilang, lubang di dinding, lantai, dan langit-langit ruangan ini juga sudah berhenti mengeluarkan tombak. Efek de-buff yang kami terima juga menghilang dan senjata kami berdua akhirnya kembali bisa digunakan! Tidak hanya itu saja, peti harta pun muncul memberikan kami reward item sebagai tanda telah selesainya rintangan di lantai dua.
Kemudian lantai di ruangan ini mulai bergetar, namun getarannya tidak sebesar waktu berada di lantai pertama. Karena getaran ini bukan berasal dari longsoran batu di dalam gua, melainkan datang dari pintu batu di hadapan kami yang perlahan bergerak membuka jalan untuk kami bisa lanjut ke lantai terakhir dari dungeon ini.
“Kerja bagus Lily! Sekarang ayo kita bersiap menghadapi lantai terakhir!” Kata-kata Maria tersebut mengantarkan langkah kaki kami menuju lantai terakhir tempat final boss dari dungeon ini berada. Tunggu saja, aku pasti akan menyelesaikan dungeon run pertamaku!