Here Comes The Combat Healer

Here Comes The Combat Healer
Chapter 23 - Malam Pergantian Tahun di Dalam Game



Kini akhirnya aku beranjak untuk kembali ke kota Adelaine, setelah hampir lima jam berkeliling menghabisi Boss Monster. Waktu yang terasa sangat panjang karena pencarian harta karun ini berakhir sia-sia. Harta karun utama berupa Exotic Equip yang menjadi alasan utama aku mengikuti event ini ternyata gagal kudapatkan.


Meski begitu aku tetap mendapat Exotic Item juga sih, meski item ini bukan sebuah equipment ataupun senjata. Setelah ketiga Exotic Item dari harta karun utama sudah ditemukan, seluruh pemain yang berpartisipasi dalam event ini mendapatkan sebuah Exotic Item berbentuk Ornament. Menurut Navi, item dengan jenis Ornamen ini bisa dipasang sebagai hiasan equipment maupun senjata. Karena bersifat hiasan, biasanya item ini hanya menambah efek estetik saja dan tidak berpengaruh terhadap status karakter maupun menambah skill.


Untuk event ini Exotic Ornamen yang dibagikan adalah sebuah pin berbentuk segi empat dengan teks bertuliskan “Happy New Year 2045!”. Pin ini langsung kupasang di bagian kiri atas jubah putih yang aku kenakan, dan setelah memasang pin ini seluruh karakterku diselimuti oleh efek aura bersinar terang berwarna putih kekuningan dan sesekali jika aku mengayunkan senjata untuk menyerang, nampak efek percikan kembang api muncul. Tetapi seperti yang dijelaskan Navi, semua ini hanyalah efek estetika semata tidak menambah kemampuan bertarungku sama sekali.


Setibanya di kota Adelaine, langit sudah mulai gelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 19:30 malam. Seisi kota dipenuhi oleh banyak sekali pemain yang berkumpul di area air mancur yang menjadi pusat kota ini. Sama seperti saat event Treasure Hunt pertama kali dimulai siang tadi, para pemain dari berbagai level dan berbagai job memenuhi area ini. Mereka semua berkumpul untuk menantikan perayaan pergantian malam tahun baru yang diadakan di dalam game ini.


Dengan perasaan masih sangat lelah, aku melangkahkan kakiku dengan sedikit berat berusaha mencari Maria yang katanya sudah janjian menungguku di sini. Sesekali aku melihat ke sekeliling namun masih belum juga kutemukan di mana Maria berada. Kalau tidak salah tadi dia menunggu di dekat sini tetapi aku masih belum melihat keberadaannya.


“Kenapa ga coba kamu tanya Maria lagi via chat?” tanya Navi kepadaku, sedari tadi nada bicaranya agak sedikit rendah, sepertinya ia mengerti kalau moodku sedang tidak baik-baik saja.


Bukannya aku tidak mau mengirim chat lagi sih, tetapi sudah dari tadi aku mengirim chat kepada Maria namun tidak mendapat balasan sama sekali. Rasa lelah yang kurasakan sudah tidak tertahan lagi. Meskipun saat ini aku berada di dunia virtual bermain game, dan tubuhku yang asli sedang terbaring di atas kasur di dalam kamarku, rasa lelah ini begitu terasa menghinggapi mentalku. Sepertinya aku butuh istirahat sejenak, tidak ingin menambah rasa lelah menunggu kedatangan Maria.


Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang yang ada di dekat air mancur. Sambil menghela nafas, aku menghembuskan rasa lelah yang tersimpan dalam hati sambil menatap betapa gemerlapnya suasana kota Adelaine malam ini. Ramainya para pemain yang berkumpul dengan berbagai senjata dan equipment berbeda-beda, ditemani dengan kelap-kelip lampu kecil yang menggantung di pinggiran jalan serta dekorasi balon berwarna-warni khas malam tahun baru semakin menambah suasana meriah di kota virtual ini. Menatap sekeliling pemandangan yang penuh semarak dan senyuman di wajah para pemain yang ada di sini entah kenapa mengangkat sedikit rasa lelah yang kurasakan.


Kemudian dari kejauhan aku melihat seorang pemain wanita tengah berlari dengan kencang ke arahku. Baju zirah tebal dan perisai besar yang terpasang di punggungnya membantunya menerjang lautan para pemain yang tengah berkerumun. Tidak lama kemudian wujud pemain wanita ini mulai nampak dengan cukup jelas.


“Hai Lilyyyy maaf menunggu lama!!!” Maria memberikan permintaan maaf sambil agak berbungkuk di hadapanku.


“Eh… Ng.. Nggak apa kok santai saja aku juga nggak lama baru sampai ke sini.” Sebenarnya tidak sih, sebenarnya aku sudah cukup agak lama di sini. Tapi entah kenapa aku agak merasa nggak enak juga melihat Maria sampai meminta maaf seperti ini.


Setelah itu Maria ikut duduk di sampingku dan menyebut alasannya kenapa agak sedikit telat. Ternyata setelah ia mendapatkan harta karunnya tadi ia sempat logout sebentar untuk menyelesaikan deadline dadakan. Rasa lelah mental yang tadi kurasakan sepertinya langsung tidak ada apa-apanya dibandingkan orang-orang seperti Maria yang pada malam tahun baruan, sebuah momen dimana seharusnya orang-orang berkumpul dengan keluarga dan orang-orang terdekat mereka, menikmati masa-masa liburan di penghujung tahun, namun mereka masih harus berjibaku dengan tugas dan pekerjaan yang masih menghantui.


“Ngomong-ngomong kamu kenapa? Kok dari tadi terlihat agak murung gitu sih?” Ah, akhirnya Maria melontarkan pertanyaan yang terdengar cukup menohok.


“Iya kah?? Tapi kayaknya ekspresimu berkata lain deh.” Maria terus melayangkan pertanyaan tanpa henti. Memang dasar game VR generasi sekarang sangat canggih karena bisa melakukan rendering ekspresi wajah pemain dengan detail yang sangat presisi sampai-sampai aku bisa membuat berbagai ekspresi wajah yang sangat realistis di dalam game ini. Saking realistisnya sampai Maria bisa mengetahui kegundahan yang tengah kurasakan sejak tadi.


“Erm.. Anu.. sebenarnya itu…. Karena….” Akhirnya aku menceritakan secara jujur apa yang tengah aku rasakan saat ini. Tentang kekecewaan dan rasa lelahku karena tidak berhasil mendapatkan harta karun di event tadi.


“Oh begitu toh, yah tapi kalau dilihat dari sisi lain, kamu masih tetap berada di posisi puncak sebagai pemain yang mengalahkan Boss Monster paling banyak, lho! Bahkan aku dan Kurogane Kisaragi juga cukup kalah jauh karena kita berdua langsung berhenti berburu begitu mendapatkan harta karunnya, hahaha” Ucap Maria sambil membuka kembali tampilan urutan pemain yang mengalahkan Boss Monster terbanyak dari event hari ini. Benar juga, mau bagaimanapun meski tidak berhasil mendapatkan harta karunnya tetapi aku berhasil mengalahkan Boss Monster lebih banyak dari para pemain lainnya.


“Meski ga dapet hadiah utamanya, tapi hal ini membuktikan kalau kemampuan bertarung kamu sudah meningkat cukup jauh, kan? Setidaknya kamu perlu mengapresiasi bagian itu, hehe.” Maria melanjutkan kata-katanya sambil mengeluarkan senyuman khasnya tepat ke arahku. Entah kenapa aku merasa kata-kata Maria barusan cukup meringankan sebagian beban yang ada di tubuhku.


Benar juga, beberapa waktu lalu aku yang baru saja memulai bermain game ini dengan secara ceroboh memaksakan seluruh status poinku untuk skill penyembuhan saja. Aku masih ingat saat-saat aku kewalahan mengalahkan Angry Treant untuk pertama kalinya. Namun kini, dengan seluruh status poinku terfokus di MND, seluruh skill penyembuhan dan supportku meningkat drastis, didukung dengan equipment buatan Maria, aku bisa mengimbangi kelemahanku dan bahkan bisa menjadi pemain yang mengalahkan Boss Monster paling banyak dalam event ini!


“Iya juga sih, terima kasih Maria atas bantuanmu aku benar-benar bisa sampai seperti sekarang ini.” Kali ini aku yang gantian memberikan senyuman kepada Maria.


“Hahaha, sama-sama, aku juga senang sekali ada kamu yang bisa selalu memberiku support saat bertarung. Eh ngomong-ngomong kayaknya sebentar lagi acaranya akan dimulai, nih!”


Tidak lama setelah Maria mengatakan hal tersebut, akhirnya karakter Game Master Edgar kembali muncul di tengah kota. Kali ini ia muncul untuk memberikan ucapan selamat kepada tiga pemenang utama di event hari ini. Game Master Edgar membacakan nama Kurogane Kisaragi, Juggernaut Maria, serta Skypirate Ravenloft secara bergantian dan ketiga pemain tersebut kemudian maju ke depan berdiri tepat di bawah patung Dewi Adelaine yang menghiasi air mancur di hadapan kami. Para pemain lain memberikan sorak sorai penuh semangat kepada mereka bertiga. Dari balik kerumunan aku juga memberikan ucapan selamat kepada Maria yang berhasil menjadi salah satu dari pemenang di event ini.


Setelah beberapa seremoni perayaan, akhirnya Game Master Edgar memunculkan sebuah layar countdown besar di atas langit kota Adelaine. “Baiklah, ayo waktunya kita hitung mundur menuju tahun baru! 5….. 4….. 3……”


Pada hitungan ke satu, semua pemain kembali bersorak menyambut munculnya berbagai kembang api dengan warna-warni yang indah menghiasi langit malam dari dunia virtual ini. Sama sekali tidak terpikirkan aku bisa menjalani malam tahun baru seperti ini. Bersama-sama dengan para pemain game lainnya di dunia virtual. Meski baru bermain beberapa minggu tapi sudah banyak sekali hal baik yang aku temui di dalam game ini. Rasanya seluruh kekhawatiran yang dari tadi menggangguku semua ikut lenyap bersamaan dengan letupan kembang api di malam itu.


Kecewa akibat kegagalan itu normal kok, namun rasanya aku tidak boleh terus larut karena masih banyak hal baik yang bisa terus aku lakukan. Toh tadi Maria menyebut juga bahwa nanti pasti masih ada event lain yang bisa aku menangkan di kemudian hari.


”Terima kasih kepada para pemain atas tahun yang luar biasa ini! Terima kasih juga atas partisipasinya dalam event Treasure Hunt hari ini. Sampai jumpa di in-game event kita berikutnya yaitu Crucible of Beast!” Suara Game Master Edgar kembali membakar semangatku untuk bisa menjadi yang terbaik di event berikutnya!