Here Comes The Combat Healer

Here Comes The Combat Healer
Chapter 32 - Haruskah Kami Menyerah?



Pertarungan melawan “Major Minotauros” di lantai terakhir dungeon “Underground Labyrinth” masih terus berlangsung. Memasuki fase bar HP ke-3, pertarungan menjadi semakin keras karena ruang gerak yang semakin terbatas berkat serangan pasak kayu dan bilah pisau besi besar dari Boss Monster yang tengah kami hadapi. Efek serangan dari “Epicenter Smash” menjadi semakin besar dan aku semakin dipaksa untuk bisa semakin lebih cepat memulihkan HP dari rekan satu partyku.


Pada awal di fase ketiga ini, kami bertiga sempat terkena serangan hampir fatal karena kami tidak memperhatikan posisi dengan aman untuk menghindari serangan “Epicenter Smash”. Namun kini kami sudah menemukan sedikit celah yang sepertinya bisa dimanfaatkan. Sesaat setelah “Labyrinth Curse: Guillotine” diaktifkan dan tiga bilah pisau besi raksasa menancap di lantai ruangan ini, Kuro segera bergerak cepat ke depan untuk memberikan serangan. Sedangkan aku bergerak tidak terlalu ke depan, bisa dibilang aku hanya cukup berada di posisi agak ke tengah ruangan.


Hal ini dilakukan agar tetap bisa memberikan skill dan support item kepada Maria dan Kuro, serta ketika “Epicenter Smash” diaktifkan oleh “Major Minotauros” aku bisa langsung menghindar dengan aman. Dengan strategi dan posisi baru ini, hasil serangan dan pemulihan HP yang kami lakukan menjadi semakin berkurang dibanding fase sebelumnya. Namun setidaknya secara pelan tapi pasti kami mampu memangkas HP bar ketiga dari “Major Minotauros”! Jika saja ini Boss Monster lain pasti pertarungan kami sudah berakhir, namun realitanya masih ada dua baris HP bar lagi yang harus kami kurangi.


“Semangat teman-teman, kita pasti bisa!!” Selain memberikan support melalui skill penyembuhan, peningkatan serangan serta item peningkatan pertahanan, aku juga berusaha memberikan support moral kepada Maria dan Kuro yang raut mukanya sudah nampak sangat lelah.


Pada fase keempat ini, “Major Minotauros” memiliki skill baru yaitu “Labyrinth Curse: Flood”, sebuah serangan yang tidak bisa dihindari sama sekali namun untung saja tidak memberikan damage. Skill ini merupakan salah satu skill perangkap lain yang dimiliki, di mana lantai tempat kami berada saat ini dibanjiri dengan air yang merendam sampai setinggi betis kami. Efek dari air yang menggenang ini adalah mengurangi kecepatan gerak kami. Lagi-lagi, kutukan dari labirin ini membuat ruang gerak kami menjadi semakin sangat terbatas!


Akibatnya pertarungan pada fase keempat ini berlangsung dengan cukup lama. Sepertinya sudah hampir tujuh menit berlalu sejak HP bar ketiga “Major Minotauros” sudah dipangkas habis, dan kami masih bertarung mengurangi HP bar keempat “Major Minotauros” baru sampai ke angka 57%.


“Sudah hampir 50%, Kuro dan Lily cepat mulai mundur! Biar aku yang mengurangi sisa 7% HPnya sebelum ‘Epicenter Smash’ kembali diaktifkan!” Maria terus memberi instruksi kepada kami. Sedari tadi kami bergerak dengan strategi baru di mana sebelum “Epicenter Smash” diaktifkan, aku dan Kuro segera beranjak untuk pergi ke tempat aman. Hal ini dilakukan agar kami berdua masih bisa menyelamatkan diri dari efek serangan yang akan datang, karena kini kecepatan kami semua berkurang akibat genangan air. Kuro sih masih bisa tetap menghindar dengan agak cepat, namun yang paling berdampak adalah aku.


Tetapi sebelum pergi aku sudah mengaktifkan Barrier, Regen, serta Armorskin Spray kepada Maria agar ketika ditinggal ia masih memiliki cukup HP untuk bertahan. Pada fase kali ini aku dan Kuro juga tidak menghindar terlalu jauh, yang penting cukup hingga kami sampai ke titik aman tidak terkena stun karena jika terlalu jauh ke belakang aku tidak akan sempat sampai ke depan untuk memulihkan HP Maria, begitu juga Kuro tidak akan sempat sampai ke depan untuk menyerang, hal itu justru akan membahayakan Maria dan bisa berdampak pada Party Wipe. Karena itu bisa dibilang strategi kami saat ini sangatlah bermain dengan aman, tidak tergesa-gesa memberikan serangan maupun menghindar agar tidak terjadi hal yang fatal.


“Epicenter Smash” pun diaktifkan oleh “Major Minotauros”, aku dan Kuro segera kembali ke depan untuk melanjutkan serangan dan pemulihan HP. Untungnya pada fase keempat ini, efek genangan air yang ada tidak ikut menambahkan damage dari serangan “Epicenter Smash”, namun tetap saja gerakan kami semakin terhambat.


Skill “Labyrinth Curse: Flood” juga kembali diaktifkan oleh “Major Minotauros”, menambah ketinggian genangan air dan sangat berdampak pada kecepatan gerak kami yang terus menerus berkurang.


‘Apakah kami harus menyerah saja?’ Jujur saja pikiran tersebut berkali-kali terlintas di benakku. Karena kondisi pertarungan sudah semakin sulit untuk dihadapi.


“Kita pasti bisa!!!” Ucapku dengan sekuat tenaga saat terus berusaha mengaktifkan berbagai skill penyembuhan dan buff kepada Maria serta Kuro sebelum “Epicenter Smash” kembali diaktifkan.


Masih tetap dalam taraf perlahan tapi pasti, kami mampu memberikan damage kepada “Major Minotauros” yang kini HP bar keempatnya sudah terkikis sampai ke angka 20%. Dengan seluruh kekuatan yang ada Kuro lantas melancarkan combo skill miliknya dan berhasil mengurangi HP “Major Minotauros” sampai ke angka 15%... 10%...


“Kuro, Maria, bertahanlah!!” Aku kembali berteriak memberikan semangat dan juga memberikan buff kepada mereka berdua. Tinggi genangan air sudah mencapai tepat ke lutut kami, jika melihat ke arah status baru kami, kini kecepatan gerakan kami sudah berkurang sampai 35%. Namun dengan perlahan, Kuro terus mengikis HP lawan kami, Maria terus menerima damage agar Kuro tidak terkena serangan, dan aku terus mengaktifkan skill penyembuhan dan support agar kami bisa bertahan. Hingga akhirnya HP bar keempat dari “Major Minotauros” berhasil terpangkas habis.


‘Yes! Satu bar HP lagi, kita bisa menang!!’ Ucapku dalam hati ketika melihat hanya satu fase lagi sebelum perjuangan kami membuahkan hasil.


Selagi gerakan “Major Minotauros” terhenti sejenak, aku segera mengaktifkan skill Heal, Regen, serta Health Potion kepada Kuro dan Maria, bermaksud memulihkan HP mereka yang masing-masing tengah berada di titik 25%, posisi HP yang cukup fatal jika menerima serangan lagi.


“Tidak Lily, lupakan kami, cepatlah lari!” Eh? Kenapa tiba-tiba Kuro meneriakkan kata-kata tersebut kepadaku? Kenapa aku harus lari? Bukankah aku harus memulihkan HP mereka terlebih dahulu? Toh mereka yang memang sedang berada di posisi cukup kritis saat ini.


Beberapa pertanyaan tersebut terlintas bebas di benakku, namun semua pertanyaan tersebut sontak bubar begitu aku melihat bahwa ternyata “Major Minotauros” tengah menyiapkan palu raksasanya, bersiap mengaktifkan skill barunya bernama.. “Triple Epicenter Smash”? Dari namanya saja sudah terdengar mematikan. Bagaimana efeknya…


Belum sempat pikiranku mencapai konklusi, skill tersebut langsung aktif dengan sangat cepat, lebih cepat dari skill lain yang ia aktifkan sebelumnya.


Palu besar dari “Major Minotauros” dihentakkan dengan keras ke lantai ruangan ini. Padahal belum lama sebelumnya lantai ruangan ini bergetar hebat akibat “Epicenter Smash” yang diluncurkan, kali ini getaran kembali terasa. Total ada tiga kali hentakkan palu yang dilancarkan, setiap hentakkan menggetarkan lantai ruangan ini dengan keras, setiap hentakkan memberikan damage yang sangat besar, serta efek stun kepadaku yang tidak sempat menghindar. Perlahan mataku melihat ke arah HP bar dari party kami. Sebelumnya HP ku berada di angka 90% karena sebelum memulihkan HP Maria dan Kuro aku sudah terlebih dahulu menggunakan Regen dan Health Potion kepada diriku sendiri. Karena efek serangan beruntung ini HP ku terus terkuras hingga mencapai angka 15%! Namun nasib yang lebih mengerikan menimpa Kuro dan Maria, sebelumnya HP mereka berada di posisi 25% dan akibat serangan barusan HP mereka….. Habis?


Maria dan Kuro ternyata Game Over, dan kini hanya tersisa aku sendiri. Apakah ini pertanda aku harus menyerah saja?