
Aku dan Maria sudah sampai di penghujung lantai pertama dari dungeon Harrowing Tomb of Zanscare. Area terakhir dari lantai pertama dungeon ini adalah ruangan berukuran agak besar dengan dinding batu berisi bilik-bilik dengan tulang-belulang dan tengkorak di dalamnya, sepertinya ruangan ini adalah sebuah pemakaman di mana mayat ditaruh di ruangan-ruangan kecil di dinding gua. Pencahayaan di ruang ini masih agak redup namun di sisi kiri dan kanan terdapat obor dengan api yang memberi pencahayaan. Di ujung ruangan juga terdapat pintu batu besar yang menutup jalan, sepertinya di sanalah ruangan menuju lantai dua dungeon ini berada.
Sesampainya di ruangan ini tiba-tiba terjadi sebuah guncangan cukup keras, tubuhku lumayan bergoyang. “A.. ada apa ini??” Dalam kepanikan ini aku menengok ke belakang dan melihat bahwa ternyata jalan yang barusan kita lalui untuk menuju ke ruangan ini sudah tertutup oleh tumpukan batu. Guncangan ini ternyata terjadi akibat adanya longsoran di dalam gua!
“Ingat Lily, lakukan seperti yang sudah aku beritahu sebelumnya ya?” Maria tetap terlihat tenang dalam suasana ini dan masih memberiku instruksi untuk langkah selanjutnya yang harus aku lakukan. Sebelumnya saat membahas strategi memang Maria memberi tahu bahwa di ruang penghujung lantai pertama akan ada sebuah triggered event yang membuat pemain tidak bisa kembali ke tempat sebelumnya, ternyata ini yang dimaksud olehnya. Setelah guncangan keras akan ada sesuatu lagi yang terjadi yaitu…
“Enyahlah kalian wahai hama yang mengganggu tidur abadi tuan Zanscare!” suara lolongan mengerikan terdengar selepas guncangan longsoran dalam gua terjadi. Suara ini adalah bagian dari serangkaian triggered event yang terjadi sebelum pertarungan di ruang terakhir lantai pertama dungeon ini.
Setelah suara tersebut terdengar, muncul dua cahaya berwarna merah dan biru dari pintu batu di depan kami. Cahaya berwarna merah menyinari tubuh Maria dan cahaya biru menyinari tubuhku. Munculnya cahaya ini adalah pertanda pertarungan akan segera dimulai!
Benar saja, tulang-belulang di dinding gua perlahan saling menyambung dan membentuk berbagai monster tengkorak yang siap menyerang kami. Masing-masing monster ini memegang dua jenis senjata, ada yang bersenjatakan pedang berwarna merah dan tombak berwarna biru. “Jangan sampai salah serang ya!” Maria mengingatkanku kembali bahwa dalam pertarungan ini kami harus melawan masing-masing 4 tengkorak, pemain dengan cahaya merah harus menyerang tengkorak berpedang merah dan pemain dengan cahaya biru harus menyerang tengkorak dengan tombak biru. Jika ada pemain yang salah menyerang monster maka tengkorak yang hidup jumlahnya akan terus bertambah.
Untuk pertarungan ini, kami memiliki strategi lain di mana Maria akan memberikan skill Protect kepadaku, untuk mengurangi jumlah damage yang aku terima. Aku juga memberikan skill Attack Up, serta menggunakan Energy Drink dan Armorskin Spray kepada Maria dan juga kepadaku sendiri. Dengan ini masing-masing kami memiliki buff yang bisa membantu kami mengalahkan target monster masing-masing. Seluruh tengkorak sudah tersambung utuh, dan di atas kepala mereka masing-masing tertulis nama ‘Zanscare’s Footmen’, jadi itu nama mereka? Dengan seluruh persiapan sudah selesai, kami langsung memulai pertarungan.
Dari kejauhan aku melihat Maria langsung menghantam masing-masing tengkorak dengan skill serangan fisik menggunakan perisai dan palu miliknya. Berkat efek skill Attack Up dan Energy Drink, kemampuan serangan Maria meningkat sampai ia bisa langsung mengalahkan dua monster sekaligus! Karena Enmity Maria yang cukup tinggi, beberapa Zanscare’s Footmen bersenjatakan tombak juga ikut mendekati Maria. Namun ia sangat berhati-hati untuk tidak menyentuh mereka karena akulah yang harus mengalahkan mereka.
Pertarungan berlangsung hingga hampir 2 menit lamanya, sebelum akhirnya seluruh monster tengkorak tersebut musnah dan pintu menuju lantai dua terbuka. “Yes, berhasil!!!” dengan spontan aku berteriak sangat senang. “Kerja bagus Lily! Sekarang mari kita pergi ke lantai dua.” Kata Maria sambil membuka peti harta yang muncul di hadapan kami. Reward berupa 10 Enhancement Shard dan beberapa item serta uang langsung bertambah ke inventory ku! Kini kami langsung masuk menuju lantai 2.
Lantai dua dari dungeon ini terlihat memiliki nuansa yang berbeda. Jika lantai satu masih memiliki interior bagaikan gua alami, kali ini di lantai 2 temboknya terbuat dari batu dengan berbagai ukiran terpampang di berbagai sisi. Peti mati yang terbuat dari kayu juga berserakan di mana-mana. Lalu satu hal yang cukup terasa berbeda dari lantai 2 ini adalah, begitu menginjakkan kaki di sini kami mendapat efek de-buff di mana kecepatan gerak kami berkurang sebanyak 10%. De-buff ini terus aktif selama kami berada di lantai 2, membuat jalannya pertarungan di sini menjadi sedikit lebih sulit dibandingkan lantai pertama.
Wave pertama di lantai ini kami disambut oleh sekumpulan Zanscare’s Footmen seperti di area sebelumnya, namun kali ini senjata mereka tidak memiliki warna biru dan merah sehingga kami bisa bebas menyerang mereka. Pada pertarungan ini kami menggunakan strategi di mana Maria menahan para monster dan memberikan serangan fisik, sedangkan aku fokus bergantian untuk menyembuhkan HP dan buff kepada Maria sambil menyerang para tengkorak itu dengan Heal. Karena skill Healku fokus untuk menyerang, aku memberikan tambahan HP kepada Maria menggunakan Health Potion serta Regen.
Pertarungan wave berikutnya kami berhadapan dengan Zanscare’s Footmen, Razorwing Familiar serta Poisonous Spore Warrior. Dalam pertarungan ini strategi yang dijalankan cukup rumit karena aku ada monster jamur yang memiliki resistansi terhadap poison damage serta tengkorak yang bisa menerima serangan dari skill Heal.
Meskipun sedikit menyita waktu namun kali ini aku mengaktifkan skill Slow kepada para Zanscare’s Footmen serta Razorwing Familiar, lalu aku gunakan beberapa Toxic Spray ke arah mereka. Di saat gerakkan mereka melambat dan terkena damage tiap detik dari efek Poison, Maria berfokus untuk menghajar para Poisonous Spore Warrior dengan membabi-buta. Aku berfokus menyerang Zanscare’s Footmen dengan Heal serta mengaktifkan Light Shot ke arah Razorwing Familiar. Sambil sesekali aku memberikan Regen dan Health Potion kepada Maria. Pertarungan tersebut berlangsung agak lama sekitar hampir 5 menit, dan benar-benar menguras tenaga kami.
Sebelum lanjut ke ruangan ujung dari lantai dua ini, kami beristirahat sejenak untuk memulihkan kembali HP, Mana serta mengecek persediaan item yang kami miliki. “Sisa berapa banyak lagi Potion yang kamu punya Lily?” tanya Maria dengan nafas terengah-engah. “Health Potion dan Mana Potion masih tersisa 120 buah, Energy Drink dan Armorskin Potion masih tersisa 60 buah, Toxic Spray tersisa 20 buah.” Jawabku sambil melihat jumlah item di dalam inventoryku.”Sip, harusnya stok tersebut masih aman.” ujar Maria.
Setelah beristirahat sejenak kami langsung berjalan menuju area ujung dari lantai 2. Interior di ruangan ini masih dipenuhi dengan ukiran bahasa kuno yang tidak kumengerti di sekeliling dindingnya. Namun ada beberapa lubang besar baik di dinding sebelah kiri-kanan, hingga langit-langit di atas. Tak lama setelah kami masuk ke ruangan tersebut, kami mendapatkan satu de-buff lagi di mana kali ini senjata kami tidak bisa digunakan sama sekali!