Here Comes The Combat Healer

Here Comes The Combat Healer
Chapter 34 - Langkah Nekat seorang Healer



“Triple Epicenter Smash”, skill baru milik “Major Minotauros” yang akan diaktifkan begitu HP barnya tersisa satu baris adalah skill yang membuat kedua temanku, Juggernaut Maria dan Kurogane Kisaragi langsung Game Over. Kini hanya tersisa aku seorang diri, seorang pemain White Wizard, job dengan tipe Healer yang tidak seharusnya menghadapi musuh seorang diri, malah harus berhadapan dengan boss monster yang kini terlihat tengah mengaktifkan kembali skill “Triple Epicenter Smash” miliknya.


Aku langsung kembali bersiap menerima serangannya. Kali ini aku berkali-kali mengaktifkan skill Heal untuk memulihkan HP ku ke arah 100% dan berkali-kali juga mengaktifkan skill Barrier serta Regen. Berkat Barrier yang beberapa kali kuaktifkan, kini aku memiliki Barrier yang siap menahan 40% HP ku dari serangan. Skill Regen yang berkali-kali kuaktifkan tidak semerta-merta meningkatkan efeknya seperti Barrier yang barusan aku aktifkan, namun dengan ini durasi dari Regen ku terus kembali ke semula. Hal ini kulakukan agar aku bisa bertahan setelah menerima damage besar dari “Triple Epicenter Smash” karena Barrierku yang tebal dan durasi Regenku yang utuh, selain itu aku melakukan ini juga untuk memperbanyak hitungan skill yang kuaktifkan agar bisa menggunakan Wrath of Divine.


“Triple Epicenter Smash” pun diaktifkan, dan sesuai dugaanku, meskipun damage yang diberikan sangat besar tetapi aku masih tetap bisa bertahan.


“Lihat ini Maria, Kuro, aku pasti akan mengalahkan monster ini saat ini juga!” Aku berteriak dengan kencang melalui Party Chat. Maria dan Kuro tidak lantas memberikan balasan karena sepertinya aku tahu mereka berusaha untuk tidak mengganggu konsentrasiku.


Serangan demi serangan kulancarkan, berbagai skill ku aktifkan untuk memulihkan HP ku yang terkuras. Menanggulangi Manaku yang menipis aku langsung mengaktifkan Mana Potion. Perlahan tapi pasti aku bisa terus mempertahankan serangan hingga HP “Major Minotauros” sudah tersisa 30%. Begitu sudah mencapai 30 skill aktif, aku langsung kembali mengaktifkan skill Wrath of Divine. Memangkas HP sang Dungeon Boss Monster menjadi tinggal tersisa 10%! Dengan ini aku berhasil melompati fase “Epicenter Smash” yang seharusnya dilancarkan saat HPnya mencapai angka 25% tadi.


Rotasi antara serangan, pemulihan HP, serta menggunakan item untuk memulihkan Mana dan mengaktifkan Toxic Spray terus aku lakukan. Meskipun terasa sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya HP dari “Major Minotauros” telah mencapai angka 5%. Skill Wrath of Divineku juga sudah bisa kembali aktif. Di saat itu, aku melihat “Major Minotauros” mulai mengangkat palunya ke atas. Tetapi tepat sebelum nama skill muncul tepat di bawah HP barnya aku langsung mengaktifkan Wrath of Divine.


“Aku adalah Lily Aeonia! Aku adalah seorang White Wizard! Dan aku adalah seorang Combat Healer! Rasakan ini.. Wrath of Divine!” Karena tidak ada siapa-siapa, dengan penuh percaya diri aku mengucapkan kalimat tersebut yang sudah sedari dulu ingin kuucapkan. Skill Wrath of Divine pun aktif, dan dalam sekejap HP “Major Minotauros” mencapai angka 0%.


“Dungeon Run: Underground Labyrinth - CLEAR!” Notifikasi besar muncul di hadapanku begitu tubuh “Major Minotauros” perlahan menghilang menjadi partikel-partikel kecil yang beterbangan ke seluruh sudut ruangan sebelum akhirnya menghilang total. Pasak kayu, genangan air, dan pisau besi besar yang memenuhi ruangan ini juga menghilang.


“Ah… akhirnya… me.. nang…” Ucapku ketika tubuhku langsung kuhempaskan jatuh ke lantai. Kini mataku hanya menatap ke arah langit-langit ruangan labirin yang sudah menjadi sunyi dan sepi. Tidak ada siapapun lagi di sini, kecuali diriku seorang diri…


Itu pikirku sebelumnya, sebelum kemudian aku mendengar suara langkah kaki bergerak mendekatiku. ‘Gawat, jika ada monster lagi yang muncul udah lah aku rela Game Over saja’ pikirku.


Namun aku cukup kaget begitu melihat ternyata yang mendekatiku adalah dua rekan seperjuanganku, Juggernaut Maria dan Kurogane Kisaragi yang kedua wajahnya langsung menghalangi pandanganku ke arah langit-langit di atas ruangan ini.


“Lily! Kamu ga apa??” terdengar jelas kata-kata Maria di telinga sebelah kananku.


Setelah melontarkan pertanyaan itu mereka berdua membantuku untuk terbangun dari posisi terbaring. “Loh, he kok kalian hidup lagi, bukannya sudah Game Over?” Kali ini aku yang justru kaget melihat kenapa karakter mereka berdua bisa ada di sini padahal tadi sudah Game Over.


“Oh itu, memangnya kamu ga tahu ya? Kalau ada pemain yang Game Over di dalam Dungeon dan Party Member yang lain berhasil menyelesaikan Dungeonnya, maka mereka yang sudah Game Over akan otomatis respawn di tempat mereka dikalahkan.” Kuro memberikan penjelasan kepadaku.


“Oh begitu ya?? Wah syukurlah, tadi aku sudah khawatir kalau aku harus keluar dari Dungeon ini sendirian karena aku masih belum hafal jalan pulang menuju kota Dalmasville.” Ucapku sambil menghela nafas.


“Yakin? Kamu emang ga kepikiran untuk mengambil semua rewardnya untuk kamu sendiri kan?” Kata Maria sambil memberikan senyum yang agak nampak menyebalkan.


“Ughh Maria kamu kenapa malah jadi kayak Navi sih? Enggak kok aku nggak kepikiran gitu!” Kami semua langsung tertawa lepas begitu aku mengucapkan kata-kata tersebut. Ternyata memang sistem di dalam game ini cukup adil juga, membuat pemain yang sudah Game Over kembali muncul di tempat mereka kalah begitu Dungeonnya berhasil diselesaikan oleh Party Member lainnya. Maria sempat menjelaskan kalau hal ini dibuat untuk mencegah pembagian reward yang tidak seimbang antar para pemain yang bisa membuat konflik.


Tidak lama kemudian peti harta yang kami tunggu-tunggu pun muuncul. Kami langsung membukanya secara bersamaan dan masing-masing kami cukup terkejut dengan hadiah yang kami dapatkan. Maria mendapatkan equipment Legendary berupa armor badan baru bernama Armor of Ancient Gladiators. Kuro mendapatkan senjata Legendary berupa pedang kembar dengan bilah yang nampak terbuat dari besi berwarna hitam kelam dan pegangan pedang yang dihias dengan emas, senjata tersebut bernama Twin Daggers of Ancient Soldiers. Sedangkan aku mendapatkan sebuah Legendary Orb bernama Ancient Orb of Earth Shaker.


“Jadi, apa fungsi Orb ini?” Aku bertanya kepada Maria.


“Oh, Orb itu harusnya bisa kamu gunakan untuk mengupgrade senjata kamu dan memberikan….” Sebelum menyelesaikan kalimatnya, ia membuka menu deskripsi dari item yang tengah kupegang dengan tangan kananku ini. “...Apa? Orb ini bisa membuat senjatamu bisa memiliki kesempatan 30% memberikan efek Knockback sejauh 5 meter saat menyerang!”


“Wah, jadi kalau memakai Orb ini, senjataku bisa memiliki 30% kesempatan untuk memberikan Stun, dan 30% kesempatan untuk memberikan Knockback?” Aku kembali bertanya kepada Maria, yang langsung disambut dengan anggukan kepalanya.


Dengan seluruh reward telah kami dapatkan, dan seluruh rintangan serta musuh telah kami kalahkan, akhirnya kami keluar dari dungeon Underground Labyrinth dan segera kembali ke kota Dalmasville. Masing-masing dari kami menggunakan fitur teleport untuk kembali ke kota karena kami tidak ingin bertemu dengan monster lagi di tengah perjalanan. Sesampainya di kota, suara notifikasi terdengar bersahut-sahutan. Aku melihat ke arah Menu ternyata ada surat masuk yang aku terima. Dan sepertinya surat tersebut tidak hanya diterima olehku saja, seluruh pemain yang ada di kota Dalmasville langsung menundukkan kepalanya dan membaca isi surat yang baru saja mereka terima.


“Pemberitahuan mengenai event selanjutnya: Crucible of Beast.” Begitulah isi kalimat pertama dari pesan yang kami terima. Sebuah pemberitahuan tentang event PVP yang akan segera dilaksanakan di game ini.