
“Lily, awas perhatikan langkahmu! Amankan dirimu terlebih dahulu!” Maria memberi ku instruksi disaat ia masih menahan serangan dari monster besar yang ada di hadapannya. Sesuai dengan arahannya, aku melihat ada berbagai lingkaran merah berukuran kecil muncul di tanah. Aku langsung menghindari berbagai lingkaran itu dan mengatur posisi ke tempat yang aman. Benar saja, tidak lama kemudian bongkahan batu menghujam tepat ke lingkaran merah yang muncul. Kini karena aku sudah di posisi aman, aku bisa mengaktifkan skill Heal untuk memulihkan nyawa Maria.
Saat ini kami tengah bertarung melawan salah satu Area Boss Monster yang ada di area Western Dalmasia Flatland, area berburu monster yang ada di sebelah barat kota Dalmasville. Boss Monster yang tengah kami hadapi saat ini adalah Furious Golem, monster batu dengan tinggi sekitar tiga meter yang terus menyerang dengan serangan lemparan bongkahan batu. Saat ini kami sudah berhasil menghabisi dua bar HP Furious Golem dan HP bar terakhir monster ini hanya tersisa 15% lagi sebelum kami benar-benar menghabisinya.
“Quake of Devastation!” Maria memukulkan palu dan perisai di kedua tangannya ke arah Furious Golem untuk mengaktifkan skill baru miliknya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Efek skill ini sangat luar biasa! Sebuah skill serangan milik job Knight yang memberikan damage area dalam radius 5 meter dan memberikan efek stun. Kini gerakan Furious Golem terhenti akibat skill Maria barusan. “Sekarang waktunya Lily, apakah skill kamu sudah siap?” tanya Maria kepadaku.
Aku melihat ke arah skill bar milikku, ada satu skill yang baru saja aku dapatkan hari ini. “Masih kurang satu skill lagi nih!” Jawabku sambil bersiap mengaktifkan skill lain terlebih dahulu. Melihat efek skill Regen yang ada di karakter Maria baru saja selesai, aku langsung mengaktifkan kembali skill Regen. Sip! Dengan satu skill yang baru saja kuaktifkan, akhirnya aku melihat angka “30/30” terisi penuh di menu Skill Gauge, dan icon skill baru milikku sudah menyala pertanda bisa diaktifkan.
Efek stun dari Furious Golem masih tersisa 3 detik lagi, harusnya ini masih cukup untuk aku mengakhiri pertarungan ini secepatnya. Aku langsung bersiap mengambil posisi, mengarahkan Zanscarean Warclub milikku ke arah depan. Aura berwarna putih bersinar terang di sekeliling tubuhku seraya aku mulai masuk dalam posisi untuk melakukan casting skill baruku yaitu… “Wrath of Divine!”
Selepas aku menyebutkan nama skill itu, sebuah lingkaran sihir muncul di bawah Furious Golem dan di atas kepalanya. Dalam waktu 2,5 detik kemudian sebuah tiang cahaya berwarna putih menyilaukan muncul dari lingkaran sihir yang ada di atas kepala Furious Golem. Efek ledakan besar pun terdengar dengan jelas di telinga begitu HP bar dari Furious Golem langsung terpangkas habis menjadi 0%, penanda bahwa pertarungan kami sudah selesai.
“Whoaa, baru kali ini aku melihat efek skill Wrath of Divine, mengerikan juga ya!” Maria memujiku dengan ekspresi wajah penuh kagum.
“Hehehe keren kan? Tapi tadi skill Quake of Devastation milikmu ga kalah keren kok!” Aku membalas pujian Maria dengan senyuman lebar merekah di wajahku.
“Dengan ini questnya sudah selesai, ayo kita kembali ke Adventurers Hall!” ucap Ageha yang sedang berada di pundak Maria. Sesuai ucapan Ageha tersebut, tadi kami memang sedang menjalani quest untuk mengalahkan Furious Golem. Quest yang barusan kami selesaikan ini adalah salah satu dari rangkaian quest, atau yang sering disebut sebagai quest chain untuk kami bisa mengakses dungeon yang ada di kota ini.
Di bawah teriknya langit dan dataran Dalmasia Flatland yang nampak tandus, kami beranjak berjalan kembali ke kota Dalmasville. Ternyata kota ini dan wilayah sekitarnya benar-benar terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan kota Adelaine. Jika di kota Adelaine pemain akan berkeliling menjelajahi area padang rumput dan hutan yang dipenuhi oleh tanaman lebat, di kota Dalmasville ini areanya justru terdiri dari dataran bebatuan, tebing batu dan area padang pasir yang cukup tandus. Pemandangan Adelaine yang didominasi oleh warna hijau nampak kontras dibandingkan dengan pemandangan berwarna kuning kecoklatan di sini. Untungnya saja ini hanya dunia di dalam game sehingga aku tidak merasa kepanasan sama sekali.
Dalam perjalanan kami untuk menuju Adventurers Hall yang ada di sebelah selatan kota Dalmasville, lagi-lagi aku merasakan ada sesuatu yang janggal. Aku tidak tahu apakah Maria merasakannya juga namun firasatku mengatakan bahwa ada orang yang membuntuti kita. Sesekali aku menolehkan pandanganku ke belakang namun tidak melihat seorangpun membuntuti kita. Tetapi firasatku jelas merasakan bahwa ada orang yang membuntuti sejak tadi, aneh sekali.
“Gimana Lily? Mau istirahat sebentar atau langsung lanjut lagi?” Maria bertanya kepadaku.
“Langsung aja deh! Kamu masih bisa kan? Ga ada deadline tiba-tiba kan hari ini?” Aku bertanya balik kepada Maria karena khawatir takutnya di tengah-tengah perjalanan dia harus logout untuk menyelesaikan pekerjaan dadakan lagi.
“Hahahaha aman kok, aku benar-benar sudah free banget jadwal hari ini.” Jawaban Maria tersebut membuatku sedikit lega, karena jujur saja dari tadi aku khawatir apakah hari ini bisa bermain dalam waktu lama dengan Maria atau tidak.
Dengan jawaban itu, kami langsung beranjak untuk pergi ke tempat quest berikutnya. Kami kembali menyusuri jalanan kota Dalmasville yang padat untuk pergi ke wilayah Surveyor Oasis Camp yang berada di wilayah timur kota Dalmasville. Lagi-lagi dalam perjalanan kami, aku merasakan lagi langkah kaki yang mengikuti kami. Sepertinya orang ini masih mengikuti kami, tapi berkali-kali aku mencoba melihat kebelakang tetap saja tidak kutemukan ada seorang pun yang berada di belakang kami.
Perjalanan menuju Surveyor Oasis Camp disambut oleh para monster liar yang agresif dan menyerang kami secara tiba-tiba. Tempat yang kami tuju harusnya tidak jauh dan bisa ditempuh dalam waktu singkat namun serangan monster dari anjing liar, kalajengking, hingga robot berbentuk burung gagak lumayan menghambat arus perjalanan kami. Namun satu per satu monster tersebut berhasil kami kalahkan hingga akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Tetapi selain serbuan monster, aku masih sangat jelas merasakan keberadaan langkah kaki misterius yang masih terus mengikuti kami sampai ke tempat ini.
Setelah berbicara dengan NPC bernama Tyron, kami lekas kembali ke kota Dalmasville untuk menemui beberapa NPC lainnya sebelum kami akhirnya benar-benar bisa mendapatkan akses untuk menjelajahi dungeon bernama Underground Labyrinth yang ada di kota ini. Untuk sekian kalinya, kali ini firasatku masih dengan sangat jelas merasakan adanya keberadaan orang yang mengikuti kami.
Kembali ke kota, kekhawatiranku semakin menjadi karena masih merasa diikuti oleh orang misterius ini. Akhirnya aku membuka menu untuk mengirim text chat kepada Maria yang ada di sebelahku. Jariku langsung mengetikkan pesan bertuliskan “Ada yang membuntuti kita!” Setelah pesan tersebut terkirim dan dibaca oleh Maria, ia langsung menengok ke arahku dan menganggukkan kepalanya. Kemudian aku melihat jarinya mengetikan pesan balasan, dan aku cukup kaget membacanya, “Ternyata kamu merasakannya juga ya?”. Entah kenapa aku merasa sedikit lega karena ternyata bukan hanya aku sendiri yang merasa paranoid, tetapi sebagian diriku justru merasa takut karena ternyata benar ada orang yang mengikuti kami.
Seiring perjalanan kami terus berbalas pesan melalui text chat, karena kami merasa ini adalah jalur komunikasi yang aman dibandingkan melalui suara. Aku sangat khawatir jika orang yang membuntuti kami tahu kalau kami merasakan keberadaannya, justru ia akan kabur atau malah menyerang kami secara tiba-tiba. Tapi agar tidak terlihat mencurigakan kami sesekali berbicara dan mengobrol topik lain sambil jari jemari kami saling berkoordinasi mengirimkan pesan satu sama lain. Kami berencana untuk memergoki orang ini dengan menggiring dia berjalan berkeliling mengitari kota, sebenarnya ini bukanlah tanpa tujuan, karena kami bermaksud menggiringnya untuk berjalan mengikuti kami ke tempat sepi yang ada di pelosok sudut kota.
Akhirnya kami sampai berjalan ke belakang bangunan toko senjata dan perlengkapan yang ada di sebelah timur laut kota Dalmasville. Kami berjalan menuju gang sempit dengan jalan buntu untuk menjebak penguntit misterius ini. Sesampainya di pojokan jalan tepat di tembok belakang bangunan toko perlengkapan, Maria mengarahkan palunya ke belakang dan menolehkan kepalanya sambil berkata, “Cukup sudah! Tunjukkan dirimu sekarang juga jika kamu ingin selamat!” ucap Maria memberikan ancaman, bersamaan dengan aku juga mengarahkan senjataku ke depan dan bersiap melancarkan serangan jika diperlukan.
“Heh sudah kuduga cepat atau lambat pasti ketahuan…” tiba-tiba terdengar suara misterius membalas ucapan Maria. Siapakah sebenarnya orang ini? Untuk apa dia mengikuti kami?