
“Aktifkan… Protokol… Perlindungan…” Suara robotik terdengar begitu kami tiba di ujung ruangan lantai dua dari dungeon Underground Labyrinth. Ternyata suara tersebut datang dari dua buah pilar di hadapan kami dengan ukiran teks kuno yang tiba-tiba menyala dan memiliki HP bar. “Reassembling Totem Pilar”, itulah nama dari tidak hanya satu tetapi dua Boss Monster yang harus kami hadapi di lantai ini.
Meskipun berbentuk hanya dua buah tiang pilar yang tidak bergerak dari posisinya, ternyata kedua objek yang menjadi Boss Monster ini menyerang dengan memutar bagian-bagian pilarnya dan menyusun semacam susunan kata-kata yang tidak dapat kubaca dari teks kuno yang tertulis di sana. Bisa dibilang pertarungan kali ini cukup unik karena monster yang kami hadapi tidak mengeluarkan serangan dari dirinya, melainkan mengeluarkan serangan dari ruangan tempat kami berada. Beberapa kali kami harus menghindari reruntuhan batu, tembakan gas beracun, serta panah yang melesat dari dinding ruangan. Rasanya seperti kedua tiang inilah pengendali seluruh jebakan yang ada di lantai ini dan kami diserang bertubi-tubi oleh jebakan yang diaktifkan secara berturut-turut dari tiang yang terus menerus berputar.
Pada awalnya Tank Stance dari Maria terasa seperti tidak membuahkan hasil karena serangan demi serangan yang muncul tidak menarget kepada satu pemain saja tetapi dilemparkan secara merata ke seisi ruangan. Alhasil kami harus terus bergerak untuk menghindari satu per satu serangan yang dilancarkan. Tentu saja hal ini membuat koordinasi serangan kami agak sedikit kacau. Meski begitu kami berhasil secara perlahan mengurangi nyawa masing-masing pilar batu ini hingga akhirnya kedua pilar ini tersisa masing-masing hanya satu bar HP saja.
“Nah di sinilah waktunya pertarungan akan menjadi menarik.” ucap Kuro dengan suara yang tidak terlalu besar. Selama perjalanan kami menjelajahi dungeon ini Kuro-lah yang secara aktif membimbing dan memberi kami instruksi karena memang hanya dia yang pernah berhasil menjelajahi dungeon ini sampai lantai kedua seorang diri.
“Hah? Memangnya apa yang akan terja….. di?” Niat awalku berbicara ingin bertanya apa maksud ucapan Kuro barusan, tetapi rasanya kini aku mengetahui jawabannya dengan menyaksikannya secara langsung.
Bagian-bagian blok dari kedua pilar di sisi kiri dan kanan yang sedari tadi terus berputar kini saling terlepas dan melayang ke udara. Kemudian beberapa utas kabel muncul dari masing-masing bagian pilar, tersambung ke bagian yang lain. Beberapa bagian dari kedua pilar ini mulai saling menyusun membentuk satu kesatuan, menjadi satu bagian monster yang kini nampak seperti robot yang tersusun dari beberapa blok batu lengkap dengan kaki, badan, kepala dan tangan yang tersusun dari gabungan bagian blok batu kedua pilar yang sedari tadi kami hadapi. Tidak hanya itu saja, kedua bar HP Boss Monster ini juga menyatu, dengan dua bar HP Boss Monster di hadapan kami berubah nama menjadi “Reassembling Protector Golem”.
“Hoo begitu, jadi sebenarnya dua pilar yang dari tadi kita hadapi adalah satu kesatuan monster ya? Menarik!” kata Maria seraya ia mengaktifkan kembali Tank Stance. Karena lawan kami sudah menyatu menjadi satu monster, kali ini Tank Stance bisa kembali berguna untuk menarik perhatian monster yang ada di hadapan kami.
Benar saja, setelah menyatu akhirnya “Reassembling Protector Golem” mulai menyerang Maria dengan memukulkan lengan batunya secara keras. Selain serangan fisik ia juga mengeluarkan tembakan laser, gas beracun, dan berbagai perangkap lainnya dari kedua tangannya secara bergantian. Tidak jarang ia melakukan serangan yang ditujukan tidak hanya kepada Maria tetapi juga ditargetkan sebagai serangan Area of Effect.
Dengan Tank Stance dan berbagai skill miliknya Maria berusaha menahan semua serangan tersebut seorang diri. Untuk mencegah Maria tumbang, aku terus memberinya buff dan healing melalui skill dan item yang aku miliki. Di saat yang bersamaan, ketika perhatian “Reassembling Protector Golem” hanya tertuju kepada Maria, Kuro terus melancarkan serangan skill combonya secara bertubi-tubi hingga akhirnya Boss Monster tersebut berhasil dikalahkan.
“Hah akhirnya menang juga!” ucapku seraya meluapkan perasaan lelah akibat pertarungan yang baru saja aku hadapi. Aku tidak habis pikir seberapa kuatnya Kuro karena sebelumnya ia bisa mengalahkan “Reassembling Protector Golem” sendirian.
“Terima kasih Lily, Maria! Tapi sebenarnya bantuan yang aku butuhkan dari kalian berdua justru setelah Boss Monster ini dikalahkan.” Kuro kembali memberikan apresiasinya kepada kami. Tidak lama setelah itu dinding ruangan kembali bergetar dan tiba-tiba sebuah lorong muncul di tembok yang ada di depan, kanan dan kiri ruangan ini.
“Nah di bagian ini, masing-masing dari kita harus pergi ke lorong yang baru saja muncul dan menekan tombol di ujung lorong ini secara bersamaan. Jika tombolnya tidak ditekan secara bersamaan, maka Boss Monster yang tadi kita hadapi akan hidup kembali.” Kali ini Kuro memberi penjelasan sambil menunjuk ke arah lorong yang baru saja muncul.
“Ah, pantas saja! Dari tadi aku menunggu munculnya peti harta dari Boss Monsternya muncul tetapi ternyata masih belum ada. Jadi pertarungannya sebenarnya masih belum selesai ya?” Aku kembali bertanya kepada Kuro.
Untuk mencegah “Reassembling Protector Golem” bangkit kembali, kami berbagi tugas untuk pergi ke ruangan yang berbeda. Kuro pergi ke lorong yang ada di depan, Maria pergi ke lorong yang ada di sisi kiri ruangan, sedangkan aku pergi ke lorong yang ada di sisi kanan ruangan. Tidak kusangka ternyata lorong yang kami masuki ini cukup panjang juga. Karena itu kami tidak bisa melakukan koordinasi menggunakan suara seperti biasa. Masing-masing dari kami langsung mengaktifkan fitur Party Chat, yang bisa memungkinkan kami berinteraksi kepada anggota party lainnya dalam jarak jauh. Sesampainya di pojok ruangan aku menemukan sebuah altar kecil dengan tombol di tengahnya. Sepertinya inilah tombol yang dimaksud oleh Kuro.
“Aku sudah menemukan tombolnya, bagaimana dengan kalian?” Aku bertanya kepada Kuro dan Maria melalui Party Chat.
“Aku sudah ketemu nih!” terdengar suara Maria memberikan jawaban.
“Sama, aku juga.” kali ini suara Kuro yang terdengar.
“Baiklah, kalau gitu kita tekan tombol ini secara bersamaan ya! Dalam hitungan tiga… dua….. Satu…..” Kuro melanjutkan pembicaraan untuk memberikan komando.
Tanganku langsung reflek menekan tombol pada hitungan ke satu. Namun setelah menekan tombol sepertinya tidak terjadi apa-apa. Aku tidak merasakan adanya getaran, pergerakan, atau bahkan suara khusus.
“Hmmm, tombolnya sudah dipencet kan ya? Kok aku tidak merasakan apa-apa ya?” Aku kembali bertanya melalui Party Chat.
“Memang tidak akan terasa apa-apa, karena itu kita harus kembali ke ruangan sebelumnya.” Kuro memberikan jawaban.
“Baik, aku segera kembali ke sana!” Maria ikut memberikan balasan.
Akhirnya kami bertemu kembali ke ruangan tempat kami mengalahkan “Reassembling Protector Golem” sebelumnya. Ternyata di tengah ruangan tersebut terdapat sebuah peti harta, menandakan bahwa Boss Monster di lantai ini telah sepenuhnya kami kalahkan. Tepat di belakang peti harta tersebut ada lubang yang terbuka di lantai dan samar-samar kami bisa melihat ada anak tangga menuruni lubang tersebut.
“Sip, sudah aman! Sekarang mari kita buka peti hartanya sebelum lanjut ke lantai terakhir!” ucap Kuro sambil kembali memberikan acungan jempol kepada kami berdua. Apa lagi rintangan yang akan menanti kami di lantai selanjutnya?