Here Comes The Combat Healer

Here Comes The Combat Healer
Chapter 29 - Tersesat Di Underground Labyrinth!



Menuruni tangga yang muncul dari tengah ruangan di lantai dua, akhirnya kami sampai ke lantai tiga dari dungeon Underground Labyrinth. Bentuk ruangan di lantai ini masih sama seperti lantai dua, penuh percabangan dan kelokan hanya saja dengan penerangan yang jauh lebih redup. Jebakan yang ada di lantai tiga ini juga semakin banyak, belum ada lima menit aku, Maria dan Kuro berjalan di sini kami sudah terkena berbagai perangkap mulai dari ranjau duri yang mengurangi HP kami, panah beracun dengan efek Poison, dan kini kami sedang tersungkur ke tanah karena tidak sengaja menginjak perangkap Paralyze yang ada di lantai.


“Ma.. maaf kali ini aku tidak… bisa… memberikan petunjuk jalan…” ucap Kuro saat tubuhnya masih tersungkur ke tanah dengan posisi wajahnya menghadap tepat ke lantai. Sama seperti aku dan Maria, ia tidak bisa mengubah posisinya karena efek Paralyze membuat kami tidak bisa bergerak selama beberapa detik, hingga akhirnya efek tersebut perlahan menghilang dan kami mulai bisa bergerak normal lagi.


“Ah akhirnya sudah normal, tunggu sebentar ya aku pulihkan HP kalian terlebih dahulu.” ucapku sambil mengaktifkan skill Heal, Regen, serta memberikan Health Potion kepada Kuro dan Maria. Jujur sedari tadi kami masih belum bertemu dengan monster satu ekor pun tetapi HP kami sudah terkuras hingga 50%.


“Jadi bisa dibilang saat ini kita semua benar-benar buta akan lokasi di lantai ini, gimana kalau kita buat semacam penanda agar tidak tersesat?” Di tengah sedikit kebingungan yang kami hadapi, Maria memberikan sebuah usul.


“Eh memangnya kita bisa ya membuat penanda semacam itu?” Tanyaku kepada Maria, karena jujur ini pertama kali aku mendengar akan hal ini.


“Tentu bisa, jadi kamu hanya perlu membuka menu ini di sini… lalu….” Maria memberikan penjelasan sambil membuka layar menu di karakternya. Terlihat jelas jari-jemarinya menekan berbagai tombol yang ada. “...Nah seperti ini!” lanjut Maria sambil ia mengeluarkan penanda bertuliskan huruf A dengan warna biru neon mengambang di lantai yang ada tepat di hadapannya.


“Hoo benar juga, dengan ini kita bisa menjelajahi lantai dungeon ini dengan lebih terarah.” Kali ini Kuro yang buka suara mengagumi apa yang baru saja dilakukan Maria.


“Yap! Setidaknya kita akan tahu jalan mana yang sudah kita lalui. Fitur ‘Marking’ ini juga akan bertahan di area ini sampai kita semua keluar meninggalkan tempat ini atau Game Over. Jadi aku harap kita semua bisa bertahan sampai akhir ya!” ujar Maria memberikan kami keyakinan dari kebingungan yang tengah kami hadapi saat ini.


“Baik kalau gitu ayo kita lanjut sampai ruang Final Boss!” Ucapku seraya kembali beranjak untuk melanjutkan perjalanan menyusuri lantai tiga Underground Labyrinth.


Tujuan kami menaruh beberapa penanda ini adalah agar kami tidak menelusuri lorong yang sama dua kali, karena rasanya cukup mengerikan jika kami terkena perangkap di jalan yang sama berkali-kali hingga Game Over. Selang beberapa menit perjalanan kami mulai lebih terarah, meskipun masih sempat terkena perangkap beberapa kali namun kami tahu jalan mana yang nantinya harus kami hindari, dan lorong mana yang harus kami jelajahi berikutnya. Untung saja Maria memikirkan strategi ini karena jujur saja layout lorong di lantai ini ternyata jauh lebih membingungkan daripada yang ada di lantai dua.


Perjalanan kami berlanjut hingga akhirnya kami sempat menemui beberapa monster mulai dari Golem berukuran kecil, rongsokan mesin yang nampak seperti robot, hingga kalajengking setengah mesin yang merangkak di dinding dungeon. Dengan bantuan Kuro yang berfokus sebagai DPS semua monster ini bisa kami kalahkan dengan mudah. Beberapa kumpulan monster dan lorong penuh perangkap telah kami lewati hingga akhirnya kami tiba di ruang paling ujung yang tidak memiliki percabangan lagi. Sepertinya inilah ruang terakhir di lantai ketiga dungeon Underground Labyrinth.


“Oke, jadi ini ruang Final Boss ya? Tapi di mana Final Bossnya berada?” ucapku sambil melihat ke sekeliling ruangan yang berukuran agak lebih luas dibandingkan lorong dan ruangan lainnya di lantai ini. Beberapa api obor yang ada di sudut ruangan memberikan sedikit penerangan di ruangan ini.


Kemudian beberapa saat kemudian akhirnya aku merasakan getaran yang sedikit mengguncang seisi ruangan ini. Biasanya ini adalah pertanda kalau Boss Monster akan muncul! Tetapi di mana dia berada? Aku menatap ke arah depan dan yang ada di hadapanku hanyalah dinding-dinding batu saja, tidak ada satu ekor monster pun yang..


“Lily! Awas!!!”


Maria berteriak dengan kencang sambil berlari dengan cepat ke arah belakangku. Ia sempat mendorong tubuhku hingga aku terlempar agak jauh sebelum akhirnya dia mengeluarkan perisai dan mengaktifkan skill pertahanannya. Saat tubuhku tersungkur jatuh akibat dorongan dari Maria, di saat itulah aku melihat kalau ternyata Final Boss Monster di dungeon ini muncul justru dari arah belakang! Seekor monster raksasa berkepala banteng mengayunkan palunya ke arah Maria yang berhasil ditangkis oleh perisai besarnya. Gawat, untung saja aku didorong Maria jika tidak pasti aku bisa menerima damage yang cukup besar.


Tanpa menunggu lama Kuro langsung melesat untuk melancarkan skill combonya memberikan serangan kepada Boss Monster bernama “Major Minotauros” tersebut. Aku langsung bersiap untuk mengaktifkan skill Attack Up kepada Kuro dan mengaktifkan Regen serta Heal kepada Maria. Setelah selesai memberikan skill tersebut aku langsung mengaktifkan Light Shot ke arah “Major Minotauros” untuk ikut berkontribusi memberikan damage kepada Boss Monster yang memiliki “… Sebentar… Ini aku tidak salah lihat kan?” Secara spontan mulutku mengeluarkan kalimat tersebut begitu melihat lapisan HP bar milik boss monster di hadapan kami ternyata ada lima baris! Sepertinya pertarungan ini akan berjalan dengan cukup sengit.


Benar saja, saat HP bar pertama dari “Major Minotauros” sudah mencapai angka 75%, ia menghentakkan palu raksasanya ke tanah dan menyebabkan goncangan besar yang memberikan damage area kepada aku, Kuro dan Maria serta memberikan kami efek Stun yang membuat kami tidak bisa bergerak selama 5 detik. Akibat serangan tersebut HP ku berkurang menjadi 70% namun HP Kuro dan Maria yang berada di depan semakin terancam karena di tengah efek Stun yang kami terima, sang monster berkepala banteng raksasa ini terus melancarkan serangan normalnya dengan mengayunkan palu besarnya yang berhasil mengenai Kuro dan Maria dengan telak! HP Maria tersisa 50% dan HP Kuro kini tersisa 30%! Sial, masih banyak HP dari “Major Minotauros” yang tersisa dan kami sudah terpojok sampai segini, sepertinya memang pertarungan ini akan berjalan cukup panjang.