
“...Sudah kuduga cepat atau lambat pasti ketahuan..” ternyata benar ada suara yang menjawab pertanyaan Maria. Saat ini kami sedang berada di pojokan gang sempit, tepat di belakang bangunan toko senjata dan toko perlengkapan yang ada di kota Dalmasville. Baik aku dan Maria, masing-masing dari kami mengacungkan senjata ke arah depan kami, bersiap untuk menyergap suara misterius yang sedari tadi mengikuti kami.
Suara langkah kaki terdengar cukup jelas, dan dari balik tembok di depan kami nampak wujud seorang pemain berjalan dengan mengangkat kedua tangannya. Pemain tersebut memakai pakaian serba hitam, memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi dan nampak cukup langsing. Rambutnya berwarna hitam lurus panjang dengan dua tanduk yang nampak agak runcing mencuat dari sisi kiri dan kanan kepalanya, khas dari karakter dengan ras Dragonborne. Dari cara melangkahnya aku bisa melihat jelas kalau dia adalah pemain perempuan.
“Siapa kamu? Apa maumu mengikuti kami seharian?” Maria mulai melangkahkan kakinya maju ke depan, sambil tetap mengacungkan palunya ke depan dan melindungi tubuhnya dengan kokoh menggunakan perisai tebal yang dipegang di tangan kirinya. Dibandingkan dengan pakaian serba hitam dari pemain misterius di hadapan kami, perisai milik Maria yang memiliki ornamen ukiran emas di berbagai sisinya nampak sangat kontras. Perisai tersebut adalah Exotic Item yang didapatkan Maria dari event Treasure Hunt, dan kini nampaknya Maria adalah perwujudan pasukan cahaya yang hendak menyergap pasukan kegelapan dengan pakaian serba hitam di hadapannya.
“..H.. Hey setidaknya bisa kau turunkan senjatamu dulu? Kau pasti tahu dong kalau area kota adalah ‘Safe Zone’? Tidak ada monster atau pemain yang bisa memberikan damage selama berada di area ini…” Sang pemain misterius juga perlahan maju namun dengan langkah yang hati-hati, dan kalimat yang keluar dari mulutnya sepertinya mengajak kami untuk menenangkan diri.
“Tapi aku masih bisa melakukan report ke Game Master, lho! Menguntit dan membuntuti pemain secara diam-diam termasuk pelanggaran…” Maria tidak gentar, ia tetap perlahan maju sambil terus mempertahankan postur tubuhnya tetap terlihat kokoh, seraya berkata bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan tinggal diam mengambil tindakan secepatnya jika situasi menjadi semakin parah.
“I.. iya juga sih… baiklah aku tidak mau akunku kena ban permanen..” Sang pemain misterius di hadapan kami akhirnya menghentikan langkahnya. Kemudian ia langsung menghilangkan dua sarung belati yang ada di pinggang kanan dan kirinya, menandakan bahwa ia sudah melepaskan senjata yang terpasang di karakternya. Tubuhnya yang semula berdiri juga mulai beranjak berganti ke pose berlutut tepat di hadapan Maria, kedua tangannya diletakkan di belakang kepala. Sepertinya saat ini ia benar-benar sudah dalam posisi sepenuhnya menyerah. Kemudian ia mulai kembali membuka mulutnya, “..Maaf kalau aku membuntuti kalian.. Karena sebenarnya aku…”
“Astaga kalau memang itu yang kamu inginkan ngomong dong, kenapa malah diam-diam ngekor sih?” Maria langsung menyimpan palunya kembali ke belakang punggungnya. Posenya yang semula nampak ganas mengancam langsung berubah menjadi santai begitu mendengar penjelasan dari pemain yang ada di hadapan kami ini.
Pemain yang sedari tadi membuntuti kami adalah Kurogane Kisaragi, seorang pemain dengan job Assassin yang pertama kali mendapatkan Exotic Item dalam event Treasure Hunt di malam tahun baru. Ternyata sedari tadi ia membuntuti aku dan Maria karena dia butuh bantuan untuk menyelesaikan dungeon yang kami rencanakan untuk kami taklukan juga, yaitu Underground Labyrinth. Namun ia memilih untuk membuntuti kami karena merasa agak tidak enak jika tiba-tiba muncul begitu saja meminta bantuan kepada aku dan Maria.
“Ohh jadi kamu sebelumnya sudah sempat masuk ke dungeon itu?” Aku bertanya kepada Kurogane Kisaragi.
Terlepas dari sifatnya yang agak aneh dan cukup membuatku sedikit panik karena mengikuti kami secara diam-diam sebelumnya, tetapi ternyata Kurogane Kisaragi ini cukup baik juga. Kali ini ia memberitahu kami tips dan trik untuk menyelesaikan berbagai quest yang dibutuhkan agar kami bisa mengakses dungeon Underground Labyrinth. Ia membimbing kami untuk menemui berbagai NPC penting yang harus kami temui, dan membantu kami mengalahkan beberapa monster yang dibutuhkan dalam quest kami. Mengingat baik aku dan Maria juga pertama kali menjalani rentetan quest ini, bantuan dari Kurogane Kisaragi benar-benar sangat membantu. Seiring perjalanan impresi kami terhadapnya juga mulai berubah, dari yang awalnya menatap penuh curiga di pojokan gang belakang toko senjata dan toko perlengkapan, menjadi cukup akrab antara satu sama lain seiring perjalanan kami menuntaskan berbagai quest yang harus diselesaikan.
“Oh iya, kalian bisa panggil aku Kuro saja ya~” ucapnya saat menemani kami untuk menyelesaikan quest.
Tidak hanya membantu untuk menyelesaikan quest, Kuro juga membantu kami mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk masuk ke Underground Labyrinth. Maria segera mengganti job menjadi Crafter untuk memperbaiki durability seluruh equipment dan senjata kami. Aku juga langsung berubah menjadi Alchemist untuk menyiapkan berbagai Potion yang dibutuhkan. Kuro dengan Side Jobnya sebagai Artificier juga membuat berbagai perangkap untuk membantu menghentikan gerakan sekaligus memberi damage kepada monster yang ada di dungeon nanti.
Sambil melakukan berbagai persiapan tersebut, Kuro bercerita tentang pengalamannya menghadapi Undergound Labyrinth seorang diri. Ternyata ia hanya bisa mencapai lantai dua saja dan belum sempat bertemu dengan Boss Monster yang ada di sana. Menurutnya hal yang membuatnya gagal untuk mencapai ruangan boss adalah mekanisme di lantai dua di mana untuk membuka pintu menuju lantai terakhir, dibutuhkan setidaknya dua pemain lain untuk pergi ke ruangan lain yang ada di lantai dua dan menekan tombol yang ada di masing-masing ruangan secara bersamaan. Selain itu ia juga mengaku kewalahan untuk bertahan hidup dari serangan monster di sana karena sebagai seorang DPS, ia memiliki kemampuan serangan yang sangat kuat namun pertahanan dan pemulihan HP yang ia miliki sangatlah rendah.
Dengan bantuan Kuro, akhirnya aku dan Maria berhasil menyelesaikan seluruh quest dan persiapan yang dibutuhkan, dan kini kami sudah berdiri di depan pintu masuk dungeon Underground Labyrinth. Kuro juga sudah menambahkan aku dan Maria sebagai teman, dan ia langsung mengirim undangan party kepada aku dan juga Maria. “Baik, apakah semuanya sudah siap?” tanya Kuro sebelum menekan tombol untuk memasuki dungeon.
“Siap banget! Lily, apakah kamu siap?” Maria memberi jawaban sekaligus melontarkan pertanyaan lanjutan kepadaku. Mendengar pertanyaan tersebut aku langsung menganggukkan kepalaku sambil mengucapkan kalimat “Tentu saja sudah siap!”
Mendengar jawaban kami berdua, Kuro langsung menekan tombol untuk memulai dungeon run kami di Underground Labyrinth. Pintu dungeon terbuka dan kami langsung melangkah masuk ke dalam. Entah kenapa aku merasa sedikit berdebar karena ini adalah pertama kalinya aku akan berpetualang tidak hanya dengan Maria saja, tetapi ada juga Kuro yang bergabung dengan tim kami. Rasanya kali ini kami pasti bisa menaklukan dungeon ini dengan mudah!