
Demi bisa mengikuti event Crucible of Beast, akhirnya aku, Maria dan Kuro memutuskan untuk melakukan perburuan monster bersama-sama agar bisa mencapai level 40 sebelum event dimulai. Perburuan pertama kami langsung lakukan di hari ini karena memang kami semua sedang bisa bermain bareng dengan waktu yang cukup lama di hari ini. Aku memang sedang libur karena hari Sabtu, Maria sudah menyelesaikan deadlinenya pagi tadi dan Kuro sedang tidak ada jadwal kursus maupun perkuliahan.
Untuk bisa meningkatkan level secara efisien, Kuro mengajak kami untuk melakukan perburuan monster di area bernama Grand Oasis yang ada di sebelah Timur kota Dalmasville. Menurutnya di tempat ini tingkat kemunculan monsternya cukup tinggi dan level monsternya juga yang tertinggi di seluruh wilayah alam liar yang ada di kota Dalmasville. Dengan dua kombinasi itu, tempat ini menjadi tempat paling ideal untuk meningkatkan level dengan cepat apalagi jika kami pergi dengan membentuk Party yang bisa mendapatkan bonus EXP.
“Benar juga, harusnya kita jangan lupa kalau yang main game ini ga hanya kita bertiga saja…” kata Kuro dengan suara agak lesu melihat pemandangan yang ada di Grand Oasis. Sesampainya kami di sana, kami langsung disambut oleh banyak sekali pemain yang melakukan perburuan monster. Ternyata tidak hanya kami saja, banyak juga pemain lain yang ingin mencapai level 40 dengan cepat agar bisa mengikuti event Crucible of Beast.
“Kalau seramai ini sih, kita yang akan cukup rebutan dengan party lain, belum lagi jika dilihat sepertinya mereka tergabung dalam party besar.” ucap Maria saat memperhatikan gerakan para pemain yang tengah mengalahkan monster di sini masing-masing berkumpul dalam kelompok yang beranggotakan 6-8 orang yang menempati posisi tepat di tempat kemunculan monster yang ada di Grand Oasis ini.
“Apa nggak sebaiknya kita coba dulu saja? Ikut berkumpul bersama mereka? Siapa tahu bisa bergantian, kan?” Dengan polosnya aku mengucapkan kalimat tersebut, yang langsung disambut oleh kepala Kuro yang menggeleng cepat.
“Nggak, nggak, kayaknya itu ide yang agak buruk deh karena… coba lihat ke arah sana.” Kata Kuro sambil ia mengacungkan telunjuk tangan kanannya ke sebuah bukit tandus yang ada di wilayah Utara. Di sana terdapat dua kelompok pemain yang nampaknya saling adu cek-cok satu sama lain.
“..Iya juga bisa-bisa kita bernasib kayak mereka, malah jadi saling berantem antar party karena rebutan lahan ya.” kata Maria dengan kedua tangannya disilangkan di depan dadanya.
“Kalau gini, di mana lagi kita bisa grinding level? Apa kita harus coba keliling mencari Boss Monster dari Public Event dan Field Boss seperti waktu Treasure Hunt?” Aku mencetuskan ide di tengah posisi yang sudah agak kebingungan.
“Itu bisa sih tapi sepertinya akan memakan waktu sangat lama karena berbeda dari kota Adelaine, area alam liar yang ada di kota Dalmasville ini semuanya memiliki ukuran yang jauh lebih luas. Takutnya kita justru hanya membuang waktu untuk berjalan saja nantinya.” Kuro langsung memberikan jawaban yang memang terdengar sangat masuk akal karena fokus kami saat ini adalah bisa naik level dengan cara yang efisien dan tidak memakan waktu yang sangat lama.
Setelah memberikan jawaban itu, Kuro langsung memanggil AI Assistant miliknya, Blaze dan ia nampak tengah berbisik kepada Blaze. Jelas sekali terlihat mereka saling berbisik satu sama lain. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tetapi sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu.
“Oh.. begitu bisa ya? Kalau begitu, ayo ikuti aku, aku dapat satu ide lagi nih!” Kuro mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh keyakinan diri. Tampilan Menu dibuka oleh Kuro dan terlihat ia sedang menekan beberapa tombol untuk mengatur sesuatu. ‘Apa yang sedang ia rencanakan, ya?’ Pikirku sebelum akhirnya terjawab dengan notifikasi yang muncul di hadapan aku dan Maria.
“I… Ini maksudnya gimana? Kemarin kita kan cukup kewalahan loh mengalahkan final boss si Minotaur itu, dan butuh waktu yang lama juga kan?” Suaraku keluar dengan nada agak panik, aku kembali teringat saat-saat di mana hanya tersisa aku seorang diri berhadapan dengan monster raksasa berkepala banteng di ujung labirin itu.
“O.. Ooh!! Rasanya aku tahu!” Namun reaksi Maria lain, sepertinya ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kuro.
“Hehehe, jadi begini rencanaku…” Dengan notifikasi ajakan untuk melakukan Dungeon Run di Underground Labyrinth masih terpampang jelas di hadapanku, Kuro memaparkan rencana yang ia buat kepada kami yang masih berdiri di wilayah Grand Oasis.
Menurut Kuro, tempat yang bisa memunculkan banyak monster dengan level tinggi namun sepi didatangi pemain adalah lantai pertama dari dungeon Underground Labyrinth. Karena tempat ini adalah Dungeon maka yang ada di dalam hanyalah para anggota party yang bergabung saja. Kemudian Kuro juga mengingatkan kembali bahwa area lantai satu memiliki layout yang agak lurus, tidak terlalu memusingkan seperti di lantai dua dan lantai tiga. Ia juga menambahkan bahwa ada satu sudut lantai ruangan yang memiliki perangkap jika kami menginjakkan kaki di sana maka akan muncul sekumpulan monster yang menyerang. Ide Kuro adalah mengajak kami untuk pergi ke sudut ruangan tersebut dan menginjakkan kaki di perangkapnya berkali-kali sampai kami mendapatkan EXP yang cukup.
“Tapi, bukanya kalau di dalam Dungeon kita tidak bisa melihat jelas informasi level dan peningkatan EXP yang kita terima sebelum keluar dari Dungeon ya?” Aku melontarkan pertanyaan karena memang seingat ku ketika pemain masuk ke Dungeon, game ini memiliki sistem “Level Scaling” di mana setiap Dungeon memiliki level maksimalnya. Untuk Dungeon Underground Labyrinth sendiri level maksimalnya adalah level 34, sehingga jika ada pemain di bawah level tersebut masuk ke dalam, jumlah levelnya akan ditampilkan seperti biasa. Namun jika pemain di atas level 34 masuk ke sana, maka level yang ditampilkan akan dikunci berada pada level 34. Hal ini dimaksudkan agar ketika ada pemain dengan level tinggi masuk ke Dungeon, tidak akan serta merta membuat perjalanan mereka di dalam Dungeon menjadi lebih mudah karena tingkatan level, status, dan kemampuan mereka akan di lock pada level maksimal Dungeon tersebut.
Masalahnya kami semua saat ini memiliki level di atas 34 semua, aku di level 35 dan Maria serta Kuro di level 37. Begitu masuk level kami akan ditulis hanya sebagai level 34 dan kami tidak akan tahu sudah berapa banyak dan level berapa yang kami capai selama masih di dalam sana.
“Nah soal itu, di situlah letak tahap berikutnya dari rencanaku ini berperan. Nantinya kita hanya akan berkeliling di lantai satu dan menginjakkan kaki di ruangan perangkap itu sampai semua monsternya habis. Kemudian kita akan melawan Boss lantai pertama dan setelah itu kita akan langsung keluar. Tadi aku sudah bertanya kepada Blaze jika kita keluar setelah melawan Boss pertama, tidak akan dihitung sebagai Dungeon Run yang berhasil namun EXP yang kita terima tetap akan didapatkan dan kita bisa melihat seberapa banyak EXP yang kita peroleh saat sudah keluar!” Kuro kembali memberikan penjelasannya, jadi ternyata ini yang dari tadi ia bahas dengan Blaze.
“Jadi singkatnya, kita akan masuk ke Dungeon, melawan semua monsternya, lalu keluar setelah selesai satu lantai, dan masuk lagi, begitu terus, kan?” Maria melontarkan pertanyaan untuk medapatkan kejelasan atas rencana Kuro.
“Benar sekali! Seratus poin untuk Maria!” Kuro memberikan acungan jempol kepada Maria, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.”Jadi gimana? Mau coba cara ini?
Aku menatap ke arah Maria, kemudian ia menganggukkan kepalanya lengkap dengan senyuman penuh percaya diri merekah di wajahnya. Kemudian aku menatap ke arah layar notifikasi untuk pergi ke Dungeon yang ada di hadapanku, dan mengucapkan kalimat, “Baik, kalau gitu mari kita coba!”