Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 7



Sudah berjam-jam yang lalu aku berada di kafe sendiri, sementara pelanggan hari ini banyak yang datang, bahkan melebihi hari biasanya, padahal ini bukanlah hari libur.


"Duuh si Edzard dimana sih kok belum dateng juga, dia kenapa ya?" Ucapku dengan perasaan was-was.


Aku benar-benar lelah, sementara pelanggan banyak yang tidak sabar hingga mengutarakan protesnya bahkan ada juga yang memilih pergi.


"Mbak kok lama banget mbak"


"Mbak bisa cepetan dikit nggak mbak"


"Minumannya kurang manis"


"Ini masih setengah matang"


"Lama banget"


"Saya udah dari tadi looh, kok pesanan saya nggak datang datang juga"


"Heh Lo bisa kerja yang bener nggak sih"


"Lemot banget"


Dan masih banyak lagi suara suara yang membuatku jenuh dan jengkel. Awas saja kalau aku bertemu Edzard aku akan meminta gaji dua kali lipat. Tapi apa yang sebenarnya terjadi dengan Edzard? Kemana ia?


"Evelyne"


"Lo ngapain kesini Grace?"


"Emang gak boleh?"


"Bukannya gak boleh sih, cuma basa basi aja"


"Gue mau ketemuan disini sama pacar gue"


"Oh"


"Kok kafe sepi?"


"Ya sekarang emang cuma ada dikit pelanggan, tapi tadi, banyak banget sampe capek banget gue"


"Sabar ya? Bentar lagi juga lulus kuliah, setelah itu lo nggak perlu kerja disini lagi deh"


"Benar, setelah lulus kuliah gue nggak perlu kerja disini lagi deh, tapi........ Kalau gue nggak kerja disini gue masih bisa ketemu Edzard gak ya? Ntar gue bakal kangen dong sama dia, ntar siapa yang jaga kafe ini kalau Edzard ada urusan kantor. Apa gue kerja di kantor Edzard aja ya, supaya gue tetep bisa ketemu sama dia? Eehh...... Tapi yang ada, ntar gue nyusahin dia lagi gimana? Gue tuh udah banyak nyusahin Edzard, nggak nggak gue nggak boleh nyusahin Edzard lagi, Tapikan gak ada alasan lagi buat ketemu Edzard, jangan jangan Edzard nggak bisa ke kafe hari ini karena ketemu sama cewek yang dia ceritain ke gue lagi, dia nembak cewek itu supaya nggak jomblo lagi, aaah iya iya, dia kan pernah bilang kalau dia gak mau jomblo lama lama" ucapku dalam hati.


"Vel woooi" teriak Grace di telingaku yang membuyarkan lamunanku.


"Apaan sih lo Ed...Grace"


"Kok Ed Grace? Nama gue itu Grace Adelician, lo lagi mikirin Edzard ya? Ciiiee Evelyne"


"Apaan sih lo ngaco aja kalau ngomong"


"Diih salting, tumben Edzard nggak ada, kemana dia?"


"Ya mana gue tahu, emang gue emaknya apa?" Ucapku dengan nada yang tidak bisa dibilang santai.


"Ya santuy dong"


"Mending lo pesen makanan atau minuman gitu kek, terus pilih tempat duduk"


"Gue duduk disini aja deh, biar bisa ngobrol sama lo, gue pesen jus alpukat aja deh"


"Minum doang? Mending lo pulang"


"Gue pesen makanannya nanti kalau pacar gue dateng"


"Terserah" ucapku meninggalkannya pergi dan membuatkan pesanannya.


"Eeeh si bledug, ingatlah wahai ferguso bahwa raja adalah pembeli, eh pembeli adalah raja"ucap Grace berteriak


"Bodoamat nggak denger burem" gumamku.


Setelah aku membuat minuman yang dipesan Grace, aku memberikan minuman itu padanya.


"Lo ngapain duduk sini, duduk di tempat karyawan".


"Karyawannya juga cuma Lo, tapi kursinya empat mubazir tau, eh kenapa Edzard nggak nambah karyawan ya, kalau kafe ramekan lo jadi kerepotan"


"Kenapa lo mau kerja disini?"


"Ogah,gue tuh mau fokus kuliah, kerja nanti kalau udah lulus. Kenapa ya Edzard gak nambah karyawan"


"Nggak ada duit buat gaji mungkin"


"Hello, Edzard itu tajir nggak mungkin dia nggak mampu buat gaji karyawan, mungkin dia cuma mau berduaan aja sama lo kali ya?"


"Ngelantur lo kalau ngomong"


"Vel, lo nggak taukan Edzard dimana?"


"Nggak"


"Telfon dia dong"


"Nggak"


"Ntar kalau ternyata dia kenapa-kenapa gimana?"


"Bodo"


"Lo nggak khawatir?"


"Nggak"


"Dasar upil kudanil Lo"


"Hemb"


"Telfon dong"


"Nggak"


"Bentar doang lima menit deh"


"Nggak"


"Tiga menit"


"Nggak"


"Semenit deh"


"Nggak"


"Ish lo mah"


"Kenapa maksa gue nelfon dia?"


"Gue penasaran aja dia lagi ngapain"


"Mungkin ada urusan kantor"


"Kalau nggak gimana? Kalau ternyata dia jalan sama cewek gimana hayo"


"Makanya gue nggak mau nelfon Edzard, gue takut kalau dia emang lagi sama cewek" ucapku dalam hati.


"Ya terserah dia, mau sama cewek, cowok, atau bencong juga terserah"


Grace diam dan setelah itu, kami membicarakan hal lain.


"Eh ini udah malem banget loh Grace, gue mau tutup dan pacar lo belum dateng juga, udah dua jam lo disini"


"Udah dua jam ternyata, nggak kerasa lo sih ngajakin gue ngobrol"


"Gue telfon pacar gue dulu deh, lo diem jangan ganggu" Grace tengah menelpon seseorang, tapi kenapa dia tetap di samping ku dan tidak pergi menjauh??


"Sayang kamu dimana sih? Aku tuh udah berjam-jam nungguin kamu tau"


"Maaf ya, aku bantuin temen aku" aku bisa mendengarkan suara pacar Grace dengan jelas, apa Grace mencoba untuk membuat ku cemburu? Agar aku bosan jomblo?


"Kenapa nggak ngasih tau aku kalau kamu nggak bisa dateng"


"Handphone ku lowbat, jadi nggak bisa ngasih tau kamu tadi"


"Iish nyebelin"


"Jangan ngambek dong sayang, besok kita jalan jalan deh"


"Nggak, nggak mau ujung ujungnya nanti juga sibuk lagi"


"Kalau besok benaran deh nggak bohong, aku free besok, besok aku jemput ya manis"


"Jangan bohong"


"Nggak bohong kok sayang"


"Janji ya?"


"Iya sayang ku, cintaku, manisku, kesayangannya aku"


"Yaudah aku matiin teleponnya, mau pulang"


"Hati hati pulangnya"


"Iya" dan Grace mematikan sambungan telepon.


Entah kenapa aku seperti mengenali suara itu, tapi dimana? Atau perasaanku saja.


"Kenapa bengong vel, bosen jomblo ya?"


"Apaan lo, gue tonjok mampus Lo"


"Sensian amat jomblo yaak"


"Pulang nggak, pulang sana, udah di suruh pacar lo pulang juga"


"Jangan sensi dong, bay jomblo"


"Waaah songong banget, sabar vel sabar" ucapku dan mengusap dada.


Btw Edzard kok belum datang juga ya? Biasanya meskipun dia sibuk dia tetap pergi ke kafe meskipun hanya menggantarku pulang. Kalau memang dia ada urusan kantor kenapa tidak bilang, biasanya dia akan bilang padaku. Edzard kenapa kau sebenarnya? Lebih baik aku meneleponnya.


Panggilan tak terjawab


Panggilan di tolak


Panggilan di tolak


Panggilan di tolak


Sudah aku telepon Edzard beberapa kali tapi dia malah menolak panggilannya.


Karena aku lelah dan sudah nggak tahu harus ngapain lagi jadi aku chat saja dia.


Edzard Lo kok gak ke kafe kenapa?


_evelyne


Sbk


_edzard


Edzard sibuk?


Memangnya sesibuk apa?


Apa yang Edzard lakukan sampai untuk menjawab telepon tidak sempat.


Apa aku tanya Bunda Bianca aja ya?


Benar cara satu satunya adalah itu.


"Halo bunda"


"Evelyne tumben nelfon bunda, ada apa nak?" Ucap seseorang dari sebrang sana.


"Edzard kenapa ya Bun"


"Maksud kamu gimana Tante nggak paham, Edzard itu nggak ada di rumah, kemarin dia beli apartemen, mungkin dia di apartemennya sekarang"


"Boleh minta alamatnya nggak Bun"


"Boleh dong, kamu itu kenapa sih vel? Ada ada aja"Aku hanya menanggapi dengan kekehan singkat.


"Evelyne Evelyne, kamu itu ada ada aja, bunda kangen sama kamu tahu, udah lama kamu nggak ke rumah bunda, kalau ada waktu kesini ya?"


"Iya bunda"


"Bunda tutup teleponnya ya?"


"Iya Bun"


Tak lama kemudian bunda udah mengirim alamat padaku. Aku bersegera menutup kafe dan pergi ke apartemen Edzard. Setelah sampai di sana, aku segera memencet bel apartemen Edzard, dan tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu.


"Edzard, Ed" panggilku karena Edzard hendak menutup pintu kembali sewaktu pandangan mata kami bertemu.


"Ed lo kenapa sih? Kalau lo marah sama gue, nggak papa kok, tapi lo kasih tau gue kenapa lo marah sama gue?"


"Gue nggak marah" elak Edzard masuk apartemennya dan aku mengikutinya, lalu menutup pintu apartemen.


Edzard duduk di sofa.


"Edzard jangan kaya gini dong, gue minta maaf kalau gue ada salah, jangan marah ya?" Ucapku sembari terisak memeluk kakinya karena aku duduk dilantai.


"Gue nggak marah sama lo vel, gue nggak bisa marah sama Lo, mungkin nggak akan pernah bisa" ucapnya meraih tangan ku, dan membantuku duduk di sofa dengannya. Dia memelukku.


"Tapi kenapa lo nggak ke kafe, bukannya gue maksa Lo ke kafe, seenggaknya kalau lo nggak ke kafe lo kasih tau gue kabar, gue nggak bisa kayak gini Ed, gue khawatir" tanyaku kemudian aku menangis begitu saja.


"Gue minta maaf, gue kecewa sama lo vel, gue kecewa lo tuh nggak pernah ngertiin gue"


"Gue nggak paham sama apa yang lo ucapkan" aku merasa tubuh Edzard hangat, apa Edzard demam.


"Nggak usah dipahami, karena lo nggak akan bisa paham, mending lo pulang sekarang ini udah malem"


"Suhu badan lo hangat, lo demam Ed"


"Gak usah peduliin gue"


"Edzard gue mohon, lo jangan kaya gini Ed, lo tuh kenapa?"


"Gue nggak kenapa-napa, lo pulang oke"


"Nggak, gue bakal ngerawat lo, sampai lo sembuh"


"Vel mending lo pulang, gue nggak kenapa-napa kok"


"Gue nggak mau" ucapku, aku semakin terisak dan memeluk tubuh Edzard erat, aku menenggelamkan wajahku ke ceruk lehernya.


"Terserah lo deh vel"ucapnya dan aku merasakan sentuhan lembut di kepala ku.


Edzard kini sudah membaringkan tubuhnya di kasur, karena aku memintanya, dan aku segera merawatnya sebisaku.


"Vel, jangan kaya gini, jauhin gue vel, jauhin gue" ucap Edzard di dalam hati dan menatap Evelyne penuh arti.