
Author POV
Evelyne diam duduk di mobil dengan mengedarkan pandangannya ke jalanan yang sudah basah karena hujan, sementara itu Azelvin terlihat fokus menyetir dan mengacuhkan Evelyne.
Kenapa Evelyne tidak mengerti kalau Azelvin marah? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Sedari Evelyne kembali ke kantor tadi, Azelvin sudah mengacuhkannya dan langsung menarik tangan Evelyne untuk mengikutinya masuk ke mobil.
Azelvin tahu apa yang dilakukan Evelyne sedari tadi, Azelvin pikir Evelyne hanya pergi sebentar tapi ternyata berjam-jam Evelyne pergi dengan Edzard.
"Sir sebenarnya kita ini hendak kemana?" Tanya Evelyne membuka suara, tetapi Azelvin diam.
Evelyne yang merasa diacuhkan hanya menghembuskan nafas kasar dan memilih untuk memperhatikan bulir-bulir air yang jatuh dari langit.
Hujannya tidak kunjung mereda, sebenarnya tidak terlalu deras tetapi cukup menganggu perjalanan mereka.
Evelyne melihat kearah jendela, disana Evelyne melihat sepasang remaja SMA yang sedang berteduh, karena mereka menaiki motor sebelumnya.
Lelaki itu memakaikan jaketnya pada sang perempuan dan lelaki itu juga memeluk perempuan itu dengan erat untuk memberikan kehangatan.
Evelyne tersenyum melihat itu karena mengingatkannya pada kejadian yang pernah dia alami juga.
Dia melihat Azelvin yang masih fokus pada jalanan, senyum mengembang dibibir Evelyne.
"Sedang mengingat sesuatu nona?" Ucap Azelvin yang masih terlihat fokus pada jalanan. Sebenarnya Azelvin tahu apa yang dilihat Evelyne tadi, Azelvin juga tahu apa yang sedang dilakukan Evelyne sekarang, Azelvin juga tahu alasan mengapa Evelyne tersenyum.
Evelyne kini tengah memikirkan tentang kejadian yang dulu pernah dia alami. Saat itu Azelvin mengantarkannya pulang, Evelyne membonceng motor Azelvin, dan saat itu hujan turun dengan derasnya, sehingga mereka berteduh di halte, karena mereka tidak membawa jaket jadi Azelvin memeluk Evelyne sangat erat, hingga Evelyne dapat mendengar degup jantung Azelvin.
Evelyne terlalu larut dalam pikirannya, akhirnya mereka telah sampai pada tempat tujuan.
Azelvin keluar terlebih dahulu dari mobil, dia membukakan pintu Evelyne, dia juga menjadikan jas nya sebagai payung untuk mereka.
Azelvin mengeringkan rambut Evelyne menggunakan jas nya, sementara Evelyne mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Rumah sakit jiwa? Untuk apa Azelvin membawanya kemari?
Itulah yang berada di pikiran Evelyne sekarang.
"Ikut gue" ucap Azelvin dan Evelyne mengangguk, dia melangkahkan kakinya mengikuti Azelvin.
Mereka memasuki sebuah ruangan.
"Mas Azelvin, Bu ini ada anak ibu" ucap seseorang perawat kepada orang yang tengah duduk di ranjang yang ada di ruangan itu.
"Elvin... Ini evin kan?" Ujar perempuan yang kini tengah memegang pipi Azelvin.
"Iya ma ... Ini Elvin ... Azelvin"
"Dia..." Ucap Ariel mengarahkan telunjuknya pada Evelyne.
"Cucu dimana cucu... Mana cucu ku... Mana cucu" racau Ariel
"Ma... Mama jangan kaya gini dong Ma..." Azelvin yang tidak ditanggapi Ariel, Ariel malah turun dari ranjang dan menghampiri Evelyne.
"Cucu... Mana cucu... Cucu ku nggak dibawa? Nggak diajak? Mana cucu.....CUCU..... MANA CUCU MAMA... MANA??? Kamu sembunyikan dimana cucu ku... Aku ingin melihatnya... Aku ingin melihatnya saja aku tidak akan melukainya lagi... Mana cucu ku" racau Ariel sesekali mengelus perut rata Evelyne.
"Ma... Mama jangan gini dong... Ma.... Evelyne kamu tunggu di luar saja" Evelyne melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari ruangan tersebut.
Dia menjauh dari ruangan itu, dan mendudukkan diri di sebuah kursi panjang, sesekali dia menadahkan air hujan di tangannya.
Sementara itu Azelvin terlihat berkonsultasi pada dokter tentang kondisi sang ibu.
"Dok... Kenapa kondisi Mama saya tidak ada perkembangan" tanya Azelvin
"Saya rasa penyebab ibu Ariel gangguan jiwa ada hubungannya dengan wanita tadi" ucap sang dokter.
"Dokter yakin?" Tanya Azelvin dan Dokter itu mengangguk.
Azelvin menghampiri Evelyne.
"Dingin?" Tanyanya dan di jawab gelengan kepala oleh Evelyne.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan ibuku" ucap Azelvin, Evelyne menghentikan kegiatannya mengadakan air hujan pada tangannya.
"Tidak ada"
"Sungguh?" Tanya Azelvin tidak percaya dengan penuturan Evelyne. Evelyne bergumam sembari mengangguk.
"Kau tidak mengenal ibuku sebelumnya?" Tanya Azelvin lagi.
"Aku tidak mengenal ibu mu dan tidak ada apapun yang terjadi antara aku dan ibumu, jangan tanyakan itu lagi" ujar Evelyne emosi dan berjalan menjauh dari Azelvin.
"Jika tidak ada apapun, kenapa Evelyne sangat marah? Baiklah jika dia tidak memberi tahu, aku akan mencari tahu sendiri" Azelvin yang berjalan menyusul langkah kaki Evelyne.
.
.
.
.
.
"Apa kau lapar?" Tanya Azelvin yang berniat untuk mampir di sebuah restoran. Ya kini mereka sedang dalam perjalanan pulang, Evelyne marah dan ingin segera pulang.
"Tidak sama sekali" ucap Evelyne datar.
"Aku lapar"
"Kau lapar? Berhentilah ke sebuah restoran terdekat"
"Baiklah ayo"
"Turunkan aku disini, lebih baik aku menaiki taksi"
"Aaaaiiisssh, ku rasa aku akan menahan lapar kali ini" gumam Azelvin.
Mereka telah sampai di rumah Evelyne, akhirnya Azelvin dapat bernafas lega karena telah berhasil mengakhiri suasana hening dan canggung dalam perjalanan.
"Kenapa ikut turun" tanya Evelyne.
"Atasanmu ingin berkunjung ke rumahmu, apakah tidak boleh?" Jawab Azelvin.
"Terserah" ucap Evelyne dan berjalan mendahului Azelvin.
"Kenapa masuk ke kamar?" Tanya Evelyne.
"Aaa badan ku, terasa lelah sekali. aaaaiiisssh ku rasa aku harus merebahkan tubuhku" Azelvin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Evelyne tidak menghiraukannya, Evelyne masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Azelvin bangkit dari tidurnya, dan melihat ke sekeliling. Pandangannya terpaku pada sebuah kotak hitam yang berbeda di atas meja, letaknya cukup dekat dengan ranjang.
Azelvin membuka kotak itu dan hal pertama yang dia lihat adalah, sebuah foto yang menampilkan usg.
"Ini siapa?" Azelvin memperhatikan foto itu, dan dia membalik foto itu. Dibelakang foto itu bertuliskan sesuatu.
Azka Aleston
11 Juni 2015
Putraku
"Azka Aleston? Siapa dia"
"Ini berarti 5 tahun yang lalukan?"
"Azka? Azka Aleston? Kenapa nama ini memakai marga keluarga ku?"
"Seperti memang ada yang di sembunyikan oleh Evelyne dariku"
Azelvin mengambil kotak itu dan segera pergi dari rumah Evelyne.
"Azelvin mana? Udah pulang kali ya? Baguslah" Evelyne merebahkan tubuhnya.
_____
Azelvin merasa ada hal yang perlu dia tahu, dia merasa ada yang telah disembunyikan dari Evelyne.
Azelvin menghubungi seseorang.
"Ngapain lo? Mau nantangin balap lagi? Sorry aja nih
Gue sibuk soalnya" ucap seseorang dari seberang tanya.
"Gue cuma mau nanya"
"Nanya apa? Lo percaya sama gue?"
"..."
Azelvin diam sejenak.
"Jadi nanya? Gue sibuk"
"Ini tentang Evelyne"
"Ooowwh Evelyne, seperti menarik. Tanya saja"
"Waktu lo merebut kesuciannya..."
"Hah? Merebut kesuciannya Lo bilang? Waktu itu Evelyne udah nggak suci. Mungkin Lo kali, atau Edzard. Emang dasarnya cewek murahan"
"Diem lo, atau gue sobek mulut Lo"
"Wooow aku takut.... Haaa haa haa"
Azelvin memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Azelvin semakin yakin dengan apa yang dia pikirkan.
"Gue harus tanya siapa lagi?" Ucap Azelvin frustasi.
Azelvin berhenti di sebuah minimarket untuk membeli minum. Setelah itu dia duduk di kursi yang berada di depan minimarket.
Azelvin menegak minumnya dan mengusap tengkuknya kasar.
"Woooi bro" ucap seseorang yang duduk di depannya.
"Bintang"
"Eeh Lo sekarang kerja dimana? Atau masih kuliah niiih"
"Gue ngelola perusahaan bokap gue"
"Serius Lo? Seorang Azelvin Aleston mengelola perusahaan? Wooow"
"Gini-gini gue berprestasi dan mampu"
"Iya deeh... Eh Lo kok udah nggak pernah ke club nya kakak gue, udah lima tahun yang lalukan?"
"Lima tahun yang lalu?" Ucap Azelvin
"Terakhir lo ke club nya kakak gue, itu pas SMA deh kayaknya, atau baru-baru ini lo kesana?" Tanya Bintang
Azelvin menggelengkan kepalanya.
"Gue udah nggak ke club lagi, udah lama banget"
"Jangan-jangan Lo udah nggak pernah minum lagi" tebak Bintang
"Emang engak"
"Serius? Padahal terakhir kali lo ke club sampai mabuk beratkan? Waktu itu kalau nggak salah lo nelfon seseorang terus si cupu dateng, bawa lo pulang. Mana cupu masih pake seragam sekolah lagi" tutur Bintang.
"Si cupu?" Tanya Azelvin
"Iya... Itu looh siapa sih namanya gue lupa. Yang dulu sering lo isengin"
"Naaah iya Evelyne"
"Jadi waktu itu, gue mabuk berat dan Evelyne yang bawa pulang?" Tanya Azelvin
"Sama gue juga sih sebenarnya, tapi gue cuma nganterin sampai depan apartemen Lo aja"
"Lo tau nggak apa yang terjadi setelah itu?"
"Ya mana gue tahu... Tapi gue kaya denger teriakan Evelyne, terus gue tanya ada apa Vel tapi nggak dijawab jadi gue langsung pergi deh"
"Oooh gitu"
"Emang ada apa sih? Lo kok kaya penasaran banget"
"Nggak kok"
"Oooh.... Gue duluan ya ada kerjaan soalnya" pamit bintang dan pergi dari hadapan Azelvin.
Azelvin bersegera menuju apartemennya.
Apartemen Azelvin
Azelvin tengah mencari-cari sebuah tayangan cctv yang lebih dari lima tahun yang lalu, dia berharap masih ada.
Apartemennya ini memang sudah lama dia tempati, ini hadiah dari eyangnya, karena dia malas bertemu sang papa jadi sejak SMA dia memang biasanya tidur di apartemen.
Dan dia memasang cctv di semua ruangan apartemen, kecuali pada kamar mandi tentunya. Karena dulu dia menempati apartemen hanya sesekali, jadi untuk berjaga-jaga saja agar tidak ada yang hilang.
Setelah berjam-jam akhirnya Azelvin menemukan apa yang dia cari.
"Ini dia" ucapnya memperhatikan setiap gerak-gerik dua remaja yang pada saat itu sedang berada di apartemennya.
Ya..... Dua remaja itu adalah Azelvin dan Evelyne, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan.
Apa ini yang membuat Evelyne memiliki trauma yang sampai saat ini masih memperangkapnya.
"Bajingan lu Vin" ucapnya memaki diri sendiri.
"Gue harus bicara sama Mama" Azelvin bergegas melangkahkan kakinya untuk segera menemui sang ibu.
Azelvin melajukan kendaraannya di atas rata-rata, bahkan dia menerobos jalan padahal lampu merah menyala dengan jelas.
Hujan bahkan sudah tidak ada lagi artinya, dia menerjang hujan yang turun dengan derasnya.
"Mas Azelvin kehujanan?" Tanya perawat itu basa-basi yang menurutnya terlalu basi, tidak mungkinkan dia mandi dengan pakaian lengkap? Tentu saja dia kehujanan.
"Mana Mama?" Tanya Azelvin
"Ruangan ini sedang di bersihkan..." Ucap perawat yang di potong oleh Azelvin.
"Persetan dengan ruangan ini, mana Mama"
"Ibu Ariel sedang berada di taman" Azelvin segera melangkahkan kakinya mencari keberadaan sang ibu.
Dia melihat keberadaan Ariel yang tengah berdiri memperhatikan tetesan air yang turun dari langit.
Kenapa Ariel bisa sendirian disini, dimana para perawat? Kenapa tidak ada yang menemani ibunya.
Bagaimana jika Ariel tiba-tiba berniat kabur?
Bagaimana jika ada orang yang berniat berbuat jahat pada Ariel?
"Sialan" gumam Azelvin memaki perawat dan dokter yang ada di rumah sakit ini.
"Mama" panggil Azelvin.
"Elvin, Azelvin kesini?" Tanya Ariel dan Azelvin mengangguk.
"Basah... Elvin basah.... Basah hujan... Kehujanan?"
Azelvin mengangguk lagi sebagai jawaban.
"Cucu tidak kehujanankan? Baik-baik sajakan? Si cantik mana? Tidak ikut? Hujan ya..." Ucap Ariel
"Mama punya cucu?" Tanya Azelvin
"Punya... Mama punya cucu... Iya... Si cantik punya anak, anaknya Azelvin" tutur Ariel apa yang dimaksud Ariel itu Evelyne atau Elsa? Pasalnya dulu mamanya ini juga memanggil Elsa cantik.
"Elsa?" Tanya Azelvin yang dijawab anggukan oleh Ariel.
"Evelyne" ucap Azelvin yang dijawab anggukan antusias oleh Ariel.
"Evelyne mengandung anaknya Azelvin" ucap Azelvin dan Ariel mengangguk dan tersenyum senang.
"Buku... Buku... Buku mama.... Baca buku mama... Mama punya buku... Dibaca Azelvin ya!" Ariel meraih tangan Azelvin dan menggandengnya menuju ke suatu tempat, ternyata Ariel mengajak Azelvin untuk keruangannya.
"Buku mana buku?" Tanya Ariel pada perawat.
Sang perawat mengambil buku, yang selalu dibawa oleh Ariel dan sering Ariel baca.
"Ini buku baca" ucap Ariel menyerahkan sebuah buku pada Azelvin.
"Buku apa ini?" Tanya Azelvin
"Saya juga tidak tahu mas, tapi Ibu Ariel selalu membawanya dan sering membacanya. Saya tidak tahu isinya, karena jika saya mencoba membaca buku itu, Ibu Ariel akan sangat marah"
"Kalau begitu saya pulang, dan satu lagi jangan biarkan Mama saya sendiri seperti tadi atau saya akan memusnahkan gedung ini" Azelvin berpamitan pada mamanya.
_____
Azelvin sedang berada di dalam mobil dan melihat buku yang diberikan Mamanya.
Tetapi dia meletakkan buku dari Ariel dan membuka kotak yang dia temukan di kamar Evelyne, ternyata dia juga menemukan sebuah buku disana.
"Kenapa dua orang wanita yang ku cinta suka menulis, kenapa tidak langsung berbicara saja" ucap Azelvin, yang membalik balik halaman buku yang ditulis Evelyne.
"Banyak sekali" ucapnya meletakkan kembali buku itu pada kotaknya.
Dan meraih buku yang ditulis oleh Ariel, dia membuka halaman buku yang ternyata hanya satu lembar yang terdapat goresan tinta halaman berikutnya bersih dari tinta.
"Lebih baik aku membaca buku dari Mama dulu"
Semua ini mengganggu ku
Dia selalu muncul dimana-mana dan merusak kerja otak ku.
Aku selalu mendengar tangisnya
Yang membuat ku takut dan merasa bersalah.
Aku tahu hal itu perlahan dapat menganggu kejiwaan ku, apa dia berniat balas dendam?
Sebelum semuanya terlambat aku memutuskan untuk menulis ini.
Aku rasa Azelvin perlu tahu apa yang terjadi.
Saat itu setelah aku menghantarkannya ke bandara, aku sangat senang akhirnya anak ku yang selalu ku banggakan menuruti perkataan ku.
Aku menginginkan yang terbaik untuknya.
Tetapi saat aku sampai di rumah, seorang perempuan berdiri di depan gerbang.
"Siapa kau?"
"Aku hanya ingin menemui Azelvin"
Ku rasa perempuan ini menginginkan sesuatu dari putraku.
"Aku tidak bertanya tujuan mu, aku bertanya siapa dirimu"
"Aku adalah ibu yang mengandung anaknya"
Apa perempuan ini sedang mengincar harta?
"Jika kau kemari hanya ingin harta, kau tidak perlu berbicara seperti itu" ucapku dan mengeluarkan uang dari dompet ku kemudian melempar ke arahnya.
"Dimana Azelvin?"
Perempuan ini sungguh membuatku emosi saja.
"Kau terlambat, Azelvin sudah pergi untuk meraih cita-cita nya, jadi jangan pernah kau macam-macam, jangan sampai kehadiran mu menghancurkan masa depannya"
Setelah itu aku mengusir dia pergi melangkahkan kakinya dengan air matanya,
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan otakku
Kenapa aku bisa berbuat sekejam itu.
Ya Tuhan
Tidak berhenti disana, aku segera mendatangi kantor suami ku dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
Tetapi aku hanya mendapat kalimat sarkas darinya.
"Kamu memang bodoh Ariel, seharusnya kamu mendidik Azelvin dengan benar, tetapi apa yang kamu lakukan selama ini? Kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi?"
"Jangan hanya memarahi ku setidaknya beri solusi, Azelvin juga anak mu"
"Lenyapkan saja mereka"
Aku tahu apa yang dimaksud Jackson
Dan pada saat itu yang ada dipikiranku hanyalah Azelvin.
Aku menyayangi putraku, aku tidak mau masa depannya hancur.
Bersamaan dengan perasaan cemas ku aku berbuat nekad.
Mobil kesayanganku membuat tubuhnya terpental dan terkapar dijalannan dengan darah yang mengalir, aku yakin kalau dia mati. Aku hendak mengeceknya tetapi jika ada orang yang melihat, aku bisa terkurung dalam jeruji besi, jadi aku tidak ingin membahayakan diri.
Tapi beberapa bulan kemudian aku bertemu dia dengan perutnya yang rata, bukankah seharusnya perutnya membesar.
"Kupikir kau mati"
"Aku tahu kau yang melakukannya nyonya Ariel"
"Ya... Kau benar, tapi apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak punya bukti apalagi uang"
"Kau benar nyonya. Tapi ingat kau telah membunuh orang yang tidak berdosa, aku yakin Tuhan menyayanginya dan Tuhan akan membalas perbuatan mu padanya"
Ucapan Evelyne selalu terngiang di pikiran ku, sejak saat itu.
Setiap saat aku selalu mendengar tangis bayi,
Dia selalu datang dalam mimpiku,
Semua itu telah menganggu pikiran ku.
Aku tahu aku salah
Aku tahu apa yang dirasakan Evelyne
Seharusnya aku memberi tahu putraku
Tetapi aku sayang Azelvin aku tidak mau masa depannya hancur.
Aku Ariell Bo Brice dengan segenap hati
Meminta maaf kepada
Evelyne, Azelvin dan anak mereka.
Semoga berbahagia