
Seoul Korea Selatan
Malam ini hujan mengguyur kota Seoul Korea Selatan dengan derasnya. Bintang-bintang yang biasa menghiasi kini tak tampak karena tertutup mendung, seolah tahu perasaan seseorang kini tengah sama mendungnya, air yang berjatuhan dari langit tidak sederas kesedihan yang dihadapi seorang perempuan yang tegar menghadapi cobaan, entah sampai kapan perempuan itu sanggup menghadapi situasi ini?
Evelyne Chalesthane Mariolin seseorang dengan nasib yang kurang beruntung, seseorang yang kini sedang dipermainkan oleh takdir. Bukankah manusia hanya bisa berusaha dan berdoa untuk urusan bagaimana nasib Tuhan yang mengatur dan menentukan.
Tapi sungguh semua sudah Evelyne lakukan berdoa, berusaha, semua....... Tapi Evelyne belum mendapatkan apa yang diinginkannya, keinginan yang sederhana tapi sukar untuk didapatkannya.
Hanya sekedar maaf yang Evelyne inginkan sekarang. Apakah hanya untuk maaf saja tidak pantas didapatkan Evelyne? Kapankah kata maaf darinya itu mampu di terima oleh kedua orang tuanya, besok? Lusa? Minggu depan? Bulan depan? Semester depan? Tahun depan? Ataukah memang tidak ada kata maaf untuknya? Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain memasrahkan diri kepada Tuhan.
Huuuuffttthhh
Hembusan nafas kasar sesekali terdengar dari mulut Evelyne yang kini tengah sibuk dengan khayalannya. Memang benar kata orang, dunia dalam halusinasi lebih indah dari dunia asli.
"Bengong mulu dah, niih ya... kalau bengong dibayar gue yakin lo bakal jadi orang terkaya di dunia" ucap Edzard membuyarkan lamunan indah Evelyne.
"Receh"
"Yaah elah, gue ingetin lagi niih, gue buka jasa setrika wajah, biar gak kusut kaya muka lo, muka sama keset welcome nggak ada bedanya"
"Udah sana pergi, bikin tambah badmood aja"
"Mikirin apa lo"
"Nggak ada"
"Ooh iya lo nggak punya otakkan ya, makanya nggak ada yang perlu lo pikir"
"Udah siiih"
"Ya makanya ayo masuk, lo diluar hujan hujan gini, nggak dingin apa? Ayo masuk"
"Nggak lo aja, gue ngelihat bintang"
"Bintang-bintang mata lo kicer, mendung gini bintang pada nggak kelihatan kali vel"
"Ed, kita pulang besok"
"Belum juga setengah Minggu udah kengen rumah aja lo, lagian orang tua lo aja belum mau ketemu sama lo, dan lo juga belum jenguk adik lo"
"Udah nggak ada harapan lagi buat gue"
"Wait wait wait, kenapa lo jadi kaya gini? Mana Evelyne yang semangat menghadapi apapun? Mana Evelyne yang nggak mudah menyerah? Mana Evelyne yang selalu ceria disituasi apapun? Kenapa lo tiba tiba jadi kaya gini?"
"Semuanya udah beda Ed, keadaan udah nggak kaya dulu lagi, semuanya udah terlanjur dan nggak bisa diubah lagi Edzard"
"Emang apa yang udah terjadi? Sebenarnya apa yang nggak gue tahu?"
"Semuanya rumit untuk dijelasin, lo nggak akan paham, ini bener bener ribet, gue nggak tahu gue harus cerita atau nggak sama lo, dan gue juga ragu buat cerita sama lo"
"Lo bisa percaya sama guekan? Lo itu udah kenal lama sama gue"
"Tapi Ed ini semua rumit dan bahkan gue nggak sanggup menghadapi ini, gue belum bisa cerita sama lo, gue takut semuanya bakal berubah jadi hal yang nggak sama sekali gue inginkan"
"Gue nggak bisa cerita sama lo Edzard, gue nggak sanggup lo jauhin gue, gue nggak bisa hadapin ini sendiri, gue butuh lo Edzard, gue mohon ngertiin gue" ucap Evelyne dalam hati, sembari menatap Edzard penuh harapan.
"Kalau lo emang nggak bisa cerita sekarang gue paham kok, tapi jangan pulang besok ya? Please.... seenggaknya kita menikmati liburan dulu disini, buat refreshing"
"Iya deh gue nurut aja, makasih Ed"
Edzard paham dengan ucapan terimakasih dari Evelyne, itu karena dia sudah pengertian dan paham kondisi Evelyne sekarang.
"Evelyne Chalesthane Mariolin, sebisa mungkin gue akan tetep jadi orang yang bisa lo andelin vel" ucap Edzard dalam hati.
"Vel, Evelyne" teriak Edzard karena sedari tadi panggilannya tidak digubris oleh Evelyne.
" Apa?"ucap Evelyne dengan malas karena dia merasakan kantuk.
"Gue mau nyanyi dengerin ya?"
"Hujan hujan gini pake acara nyanyi-nyanyi segala, tidur-tidur besok mulung"
"Idih emang gue lo apa? Mulung? Mulung is not my style. Lagian ya, hujan hujan gini emang cocok buat nyanyi, Lo tuh beruntung hujan hujan gini dinyanyiin sama cogan, romantis banget gue deh" ucap Edzard memuji dirinya sendiri.
"Yaudah cepat gih nyanyi"
"Bentar gue ambil gitar dulu"
"Hemb cepet" Evelyne tertawa melihat tingkah laku Edzard, lelaki itu benar-benar tahu caranya menyenangkan hatinya.
"Niih udah gue ambil gitarnya"
"Udah tau"
"Sekarang lo diem, jangan banyak bacot, dengerin suara gue yang merdu"
"Paling juga jelek suara lo"
"Suara gue tuh tetep enak didengar, eh gak jadi pakai gitar deh" Evelyne hanya tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Edzard, sudah menggambil gitar tapi malah tidak jadi dipakai.
"Lah terus kenapa tadi ngambil gitar?"
"Masuk aja yuk disini dingin"
"Katanya mau nyanyiin"
"Di dalem aja, mau pakai piano aja"
"Oh gitu, okey" Evelyne masuk ke kamar, karena sedari tadi mereka berada di balkon kamar Evelyne.
Edzard mengikuti langkah kaki Evelyne.
"Eeh bentar gitarnya ketinggalan"
"Ada ya orang sebego lo Ed, Edzard..."
Kemudian tak lama Edzard datang.
"Lo diem aja, dengerin gue nyanyi, awas aja lo bacot, gue lakban mulut lo vel"
annyeong naege dagawa
sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo
huimihan kkumsogeseo
nuni busidorok banjjagyeosseo
seolleime nado moreuge
hanbaldubal nege dagaga
neoui gyeote nama
neoui misoe nae maeumi noganaeryeo
nuni majuchyeosseulttaen
dugeungeoryeo
oh~ neoui gaseume nae misoreul gieokhaejwo
haruedo myeoccbeonssik
saenggakhaejwo
oh~ neoege hago sipeun geu mal
you're beautiful
gomawo. nal mannaseo
hangyeol gatassdeon ni moseubi boyeo
nareul gidaryeo wassdeon
neoui jiteun hyanggi gipeun ullim
al su eopsneun ganghan ikkeullim
neoreul hyanghan naui dunalgae
pyeolchyeojugo sipeo
neoui misoe naemaeumi noganaeryeo
nuni majuchyeosseulttaen
dugeungeoryeo
oh~ neoui bomnare nae noraereul deullyeojulge
haruedo myeoccbeonssik saenggakhaejwo
oh~ ireohge neoreul saenggakhae
you're beautiful
nareul bangyeojwo
ttuttutturururu seolleyeo
gureumwireul geotneundeus
geojismalgati nan nege dagaga hanbal deo~
dasi chajaon neowa naui gyejeore
gieokhal su issgessni
ttururururuttuttuttu oh yeh all right
uri dasi mannamyeon
malhae jullae
fly to you naegyeote isseojwo
you're beautiful
Evelyne diam selama Edzard menyanyi, suaranya benar benar merdu di tambah piano yang mengiringi menambah Evelyne semakin menikmati lagu yang dinyanyikan Edzard.
"Edzard emang lo tau artinya?"
"Tau dong"
"Apa coba?"
"Halo, kau datang padaku
memberikanku aroma malumu itu
Dalam mimpi samarku
Kau terihat bersinar dan mempesona
Tanpa kusadari, dengan hati yang bahagia
Aku datang padamu, selangkah demi selangkah
Dan aku akan tinggal disisimu
Hatiku meleleh saat kau tersenyum
Saat mata kita bertemu pandang
Hatiku berdebar-debar
Oh ingatlah senyumku dalam hatimu
Pikirkan tentang itu beberapa kali sehari
Oh kata-kata yang ingin kukatakan padamu
Kamu cantik
Terima kasih telah bertemu denganku
Aku melihatmu, dan akan selalu melihatmu
Aroma tebalmu yang menungguku
Itu sangat mendalam untukku
Dengan daya tarik yang misterius dan kuat ini
Aku ingin serius terhadapmu
Hatiku meleleh saat kau tersenyum
Saat mata kita bertemu
Hatiku berdebar-debar
Oh aku akan bernyanyi untukmu pada hari musim semimu
Pikirkan tentang itu beberapa kali sehari
Oh ini adalah hal yang kupikirkan tentangmu
Kau cantik
Bila kau senang melihatku
Hatiku berdebar-debar
Rasanya seperti berjalan diatas awan
Seperti sihir, aku mengambil satu langkah lagi padamu
Waktu untuk kau dan aku telah datang kembali
Dapatkah kau mengingatnya?
Oh yeh baiklah
Aku sangat beruntung telah bertemu denganmu
Jika kita bertemu lagi, aku ingin memberitahumu
Aku akan datang padamu, dan memintamu untuk tinggal disisiku
Kau cantik
gimana bener gak artinya?"
"Katanya nggak bisa bahasa Korea"
"Hello, gue tuh cari lirik sekalian sama terjemahannya di google, jadi gue tahu deh"
"Belajar bahasa Korea dong"
"Males ah, udah banyak pikiran gue"
"Terserah lo, gue mau tidur"
"Pasti lo tidur nyenyak niih, kan habis dinyanyiin cogan"
"Yang ada susah tidur niih"
"Iya susah tidur, karena selalu terngiang-ngiang suara merdu cogankan?"
"Bacot"
"Wweeeeeeeiiitts itu mulut perlu dikontrol, cium nih"
"Apaan sih, gue mau tidur jangan berisik" Evelyne berjalan menjauhi Edzard dan menuju ke kamarnya.
"Evelyne"
"Heeemb" ucap Evelyne dan menoleh kebelakang"
"Good night"
"Good night to"
Hari ini adalah hari yang panjang dan melelahkan untuk keduanya. Evelyne Chalesthane Mariolin adalah perempuan beruntung yang dipertemukan lelaki sebaik Edzard, lelaki yang selalu membuatnya lupa akan masalahnya walaupun sementara. Lelaki yang selalu membuatnya merasa nyaman dan aman ketika bersamanya.
Ada apakah yang membuat Evelyne datang menemuiku. Tapi sayangnya anak itu, telah membuatku kecewa.
Hatiku teriris mendengar ketukan pintu dan suaranya yang memohon.
Bohong jika aku tidak merindukannya, bohong jika aku tidak memperdulikannya.
Aku Caroline Quenby Loveta ibunya, ibu yang terburuk, bahkan aku merasa tidak pantas mendapatkan gelar ibu. Mana mungkin aku tidak merindukannya, aku ingin sekali memeluknya sekarang, aku ingin sekali melihat senyumnya. Suara tangisnya saat pertama kali terdengar oleh dunia, sentuhan pertama yang ku berikan, itu yang selalu ku ingat.
"Caroline. Ini semua tidak benar, Evelyne itu anak kita, anak kesayangan kita, anak yang selalu patuh, anak yang selalu menjadi kebanggaan, tapi karena satu kesalahannya saja, kamu memperlakukannya seperti ini, apa pantas? Ini salah Caroline, ini salah" ucap Mario Elvano suamiku. Ketika suara Evelyne tidak terdengar lagi, kurasa mereka sudah pergi.
"Tapi kamu pikir kesalahannya itu bisa di maafkan begitu saja? Kesalahannya itu fatal"
"Kamu harus ingat, Evelyne itu korban dia tidak menginginkannya, Evelyne Chalesthane Mariolin. Mariolin, Mario dan Caroline, Evelyne anak kesayangan ku, bukankah dulu kamu sudah berjanji akan menjadi ibu terbaik untuknya, tapi apa? Apa ini yang dinamakan ibu terbaik? Membiarkannya hidup kelimpungan, membiayai kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan kamu meninggalkan pergi jauh darinya, dan engan bertemu dengannya"
"Ya... Kamu benar aku telah melanggar janjiku sendiri, aku tidak pantas disebut ibu yang terbaik bahkan aku tidak pantas disebut ibu yang baik, tapi asal kamu tahu Mario, setelah aku tahu Evelyne mempunyai seorang anak dirahimnya, apalagi Evelyne bilang ayah dari anak itu mempunyai seorang kekasih. Aku berpikir bahwa anak kita Evelyne merusak hubungan orang bukan? Bagaimana perasaan perempuan yang hubungannya sudah dirusak oleh Evelyne? Aku tahu rasanya, aku merasakannya"
"Jangan samakan Evelyne dengan Clarissa mereka berbeda. Clarissa menjebak ku, tapi Evelyne? Aku yakin Evelyne hanya korban, Evelyne anak kesayangan ku, anak yang ku didik dengan baik"
"Clarissa? Kamu membahasnya sekarang? Tapi asal kamu tahu tidak pernah sekalipun aku, menyamakan Evelyne dengan Clarissa. Aku hanya tidak ingin wanita yang dirusak hubungannya oleh Evelyne memiliki nasib yang sama sepertiku. Clarissa tiba-tiba datang membawa seorang anak dan mengaku bahwa itu anakmu"
"Belum tentu Evelyne merusak hubungan mereka.Apa kamu memikirkan perasaan wanita yang tidak kamu kenal sekarang? Dan kamu lupa memikirkan perasaan anak mu. Caroline sadar, Evelyne membutuhkan kita. Aku minta maaf karena ini kesalahan ku, aku tahu bagaimana perasaan mu, semua salahku"
"Sudahlah tidak perlu diperpanjang lagi"
"Mau kemana kamu Caroline"
"Ke depan" aku membuka pintu apartemen ku, dan menemukan banyak paper bag. Aku membawanya masuk ke dalam apartemen.
"Apa itu?"
"Mungkin ini dari Evelyne"
"Apa isinya?" Aku mulai membuka paper bag itu.
"Sepertinya ini makanan, apa Evelyne memasaknya sendiri?"
"Mungkin saja, biar ku bantu" Mario membantuku membuka paper bag yang lain.
"Untuk apa Evelyne membelikan kita baju sebanyak ini, kurasa ini baju yang mahal dan cocok untuk menghadiri sebuah acara"
"Apa Evelyne menikah?"
"Jika Evelyne akan menikah, bukankah itu sudah terlambat, ini sudah bertahun-tahun, mungkin anaknya sudah menjadi balita yang lucu"
"Aku ingin melihat cucuku"
"Sudahlah bereskan saja barangnya dulu, kita harus ke rumah sakit, aku rindu Zidan"
"Caroline makasih...." Aku memotong ucapannya.
"Karena sudah menganggap Zidan seperti anakmu sendiri? Kamu sudah mengatakan itu berulang kali Mario bahkan sudah tidak terhitung lagi"
Aku dan Mario bersiap berangkat menuju rumah sakit.