
Evelyne POV
Sebenarnya hari ini aku sangat malas kerja, jujur saja aku masih memikirkan kejadian semalam.
Entah mengapa aku ingin melihatnya membelaku semalam, namun yang dia lakukan hanya diam, aku tahu itu persepektif yang gila, aku juga tidak tahu mengapa aku bisa menginginkan hal yang tidak penting seperti itu.
Kini aku hanya diam membisu sedari pagi tadi, hari ini bahkan aku tidak mempersiapkan sarapan untuknya, tetapi dia juga diam, dia tidak menanyakan hal itu, tidak hanya itu saja aku juga tidak menyapanya namun tetap saja dia terlihat acuh.
Sesekali aku meliriknya, mengharapkan sesuatu hal yang gila, ya... Aku mengharap kata maaf terlontar dari bibirnya, tapi hanya zonk yang ku dapat. Dia sedari pagi tadi hanya fokus pada apa yang tengah ia kerjakan.
"Evelyne" panggil Azelvin.
Untuk apa dia memanggilku? Minta maaf? Hah
Sudah terlambat, aku sudah menunggu itu sedari tadi, dan dia baru akan minta maaf sekarang? Huh menyebalkan. Dengan malas aku berjalan ke mejanya.
"Ada apa Sir?" tanyaku
"Ini, tolong revisi ini" ucap Azelvin menyodorkan dokumen kepada ku.
Damn
Damn
Ternyata aku benar-benar mengharapkan sesuatu hal yang gila dan yang tidak akan pernah terjadi. Oooh iya aku lupa.... Aku hanya sekretaris bukan??
"Baik Sir, saya akan selesaikan sesegera mungkin" ucapku dan hendak kembali ke mejaku.
"Eeem tunggu"
"Ada lagi Sir?" Tanya ku
"Mengenai kejadian semalam ak..." Ucap Azelvin
"Saya paham Sir. Tidak perlu dilanjutkan, saya tahu sekali pecundang akan tetap jadi pecundang"
Braak
Suara yang timbul karena Azelvin menggebrak meja, aku terkejut, dan aku takut dengan situasi seperti ini, apalagi kini trauma ku belum sepenuhnya hilang.
Azelvin mendekat kemudian dia menarik tanganku, dan mendorong ku sehingga aku terduduk di sofa yang ada pada ruangan ini.
Azelvin mensejajarkan tubuhnya dengan ku, sehingga kini wajah kami hanya berjarak beberapa inci.
"Pecundang?" Ucapnya lirih
"Lo bilang gue pecundang, hah? LO BILANG GUE PECUNDANG?" Azelvin emosi
"Lo bener Vel, gue pecundang, PECUNDANG, gue pecundang Vel. Gue belain Lo aja nggak bisa apalagi jagain lo Vel, gue cuma bisa nyakitin lo Vel, gue nambahin beban lo Vel. Evelyne maafin gue"
"Gue nggak bermaksud untuk bersikap seperti itu tadi malam, tapi gue nggak bisa kalau harus menentang eyang, eyang itu satu-satunya orang yang ngertiin gue dari gue kecil. Cuma eyang yang selalu tahu apa isi hati gue Vel. Mama? Mama sibuk nyari siapa wanita simpanan papa, Papa? Papa sibuk sama cewek-cewek nya. Cuma eyang yang selalu ada buat gue"
Azelvin mengucap dengan sedih bahkan sesekali dia terisak, entah dorongan dari setan mana tangan ku bergerak begitu saja untuk membelai rambutnya.
____
Jackson POV
Aku memutuskan untuk pergi ke Alsh galaxy company sebelum ke Jepang. Aku ingin mengucap maaf kepada Evelyne, bagaimanapun juga ibu kandung ku telah menyakiti perasaannya.
Aku baru tahu saat ini, kalau ternyata Evelyne sudah pindah ruangan, dia satu ruangan dengan Azelvin, sebenarnya tidak masalah lagipula hal itu juga dapat mempermudah Evelyne dan juga Azelvin. Namun yang membuat ku cukup terkejut adalah, ketika aku melihat Evelyne duduk di sofa dengan Azelvin yang menjadikan paha Evelyne sebagai bantal, dan tidak hanya itu satu tangan Evelyne membelai rambut Azelvin dan satu tangannya lagi digenggam oleh Azelvin.
Ekkhhem
Dehem ku yang mengejutkan mereka.
"Mr. Jack" terkejut keduanya bersamaan.
"Apa yang terjadi?" Tanya ku
"Ini bukan seperti yang anda bayangkan Sir, hanya saja.." ucapan Evelyne terpotong olehku.
"Memang apa yang aku bayangkan" ucapku
"Sepertinya telah terjadi hal yang tidak Mr. Jack ketahui" timpal Ken yang juga melihat apa yang terjadi.
"Saya mau jujur Mr Jack, sebenarnya dulu saya kerap memergoki mereka, sepertinya hubungan mereka lebih dari atasan dan bawahan" ungkap Ken.
"Tidak Sir, apa yang dikatakan Mr. Ken tidak benar" Jelas Evelyne yang terlihat tidak terima dengan ucapan Ken.
"Evelyne kamu harus menjaga perasaan kekasih kamu Evelyne, jika dia tahu pasti dia kecewa"
"Sudah berakhir" celetuk Azelvin.
"Kamu sudah akhiri hubungan dengan kekasih mu?" Tanyaku. Evelyne hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa kalian pikir, jika Evelyne sudah mengakhiri hubungannya, lalu kalian bisa seenaknya sendiri? Jika sampai aku tahu kalian memiliki hubungan khusus aku tidak akan segan-segan untuk...." Ucapku yang terpotong karena Azelvin menyela.
"Segan-segan untuk apa? Apa anda pikir saya takut" Azelvin yang terlihat emosi.
"Wow lihatlah Sir, karena perempuan ini putra semata wayang anda jadi kurang ajar" timpal Ken.
"Kalau sampai aku tahu kalian memiliki hubungan spesial aku tidak akan segan-segan untuk menikahkan kalian"
Aku dapat melihat dengan jelas senyuman yang terukir dibibir putraku, senyum yang tidak pernah dia tampakkan padaku. Dan sekarang dia menunjukkan hal yang telah ku nanti-nantikan selama ini, hanya karena ucapan dia tersenyum seperti itu, aku yakin Evelyne adalah orang yang tepat.
Aku tidak tahu apa ini hanya perasaan ku saja atau bagaimana, tetapi kelihatannya putraku ini mencintai Evelyne, aku tidak mempermasalahkan hal itu, justru aku senang dengan itu.
Evelyne adalah orang yang baik dan tulus, aku yakin Evelyne dapat menjadi sumber kebahagiaan Azelvin.
"Mr. Jack, apa yang membawa anda kemari?" Tanya Evelyne.
"Sebenarnya aku kemari untuk membicarakan sesuatu hal dengan mu Evelyne" ucapku
"Ada hal apa Sir?" Tanya Evelyne.
Entah mengapa saat ini aku ingin mengerjai sekaligus mengetahui apakah Azelvin mencintai Evelyne atau hanya feeling ku saja.
"Kamu dipindahkan tugas"
"Bagaimana maksudnya?" Tanya Azelvin
"Evelyne akan pindah tugas, dia akan bertugas di Alsh galaxy company yang ada di Korea, bukankah keluarga mu ada disana Evelyne? Bagaimana?" Tanyaku.
"Baik Sir, saya bersedia" jawab Evelyne
"Ooh ya.. Ada hal yang ingin saya bicarakan kepada Evelyne, tapi sebelumnya Mr. Ken dan Mr. Azel kalian sebaiknya keluar terlebih dahulu" ucapku dan keduanya keluar.
"Evelyne atas nama ibu saya, saya minta maaf. Saya tahu apa yang ibu saya lakukan kepada mu bukan hal yang baik dan sulit untuk dimaafkan, tapi saya mohon maafkan ibu saya. Saya menyayanginya."
"Tidak apa Sir, saya tidak lagi memikirkannya" jawab Evelyne.
"Kalau begitu saya pamit, saya harus segera ke bandara"
"Perlu saya antar Sir?" Tanya Evelyne
"Tidak perlu. Dan satu lagi, aku percayakan dia padamu Evelyne" ucapku yang membuat Evelyne terlihat kebingungan.
Aku segera keluar dari ruangan dan menaiki mobil.
Tok tok tok
Terdengar ketukan kaca yang dilakukan oleh seseorang dari luar mobil, aku menurunkan kaca mobil.
"Azelvin, ada apa?" Tanyaku
"Ada yang ingin saya bicarakan"
"Aku akan menghubungi kamu nanti"
"Tidak bisa, saya menginginkan sekarang" ucapnya, lalu aku menuruti perkataannya, aku keluar dari mobil.
"Jadi ada apa vin?"
"Jika Evelyne dipindahkan tugas, saya tidak mau mengelola perusahaan ini lagi, kalau bisa saya mohon kepada anda untuk memberikan kesempatan mengelola Alsh galaxy company yang ada di Korea, lagipula saya lancar dalam berbahasa" ucap Azelvin, hampir saja aku tertawa... Tapi aku mampu menahannya, aku samasekali tidak membayangkan kalau Azelvin akan seperti ini.
Memang benar kata orang cinta merubah segalanya, lihatlah sekarang putraku sampai memohon kepada ku seperti ini.
"Aku tidak serius dengan ucapan ku Vin, itu hanya sebuah gurauan" ucapku dan ekspresi Azelvin berubah antara tersenyum dan kesal.
"Perjuangkan" aku menepuk pundak Azelvin.
Kemudian aku masuk mobil dan melihat kearahnya yang melambaikan tangan padaku.
Edzard POV
"Edzard, bunda merasa tidak enak hati kepada Evelyne" ucap Bunda dan masih fokus melihat tontonannya.
"Edzard juga Bun, apa sebaiknya aku meminta Evelyne kesini saja ya..?" Tanyaku
"Itu bukan ide yang buruk"
"Tapi bunda kalau Evelyne menolak bagaimana...?" Tanyaku
"Dicoba dulu" jawab Bunda
"Tapi Bunda habis ini Edzard ada kerjaan"
"Tunda dulu apa nggak bisa?" Tanya Bunda
"Tapi Bun, kerjaannya penting banget"
"Dari tadi tapi tapi, pokoknya Bunda nggak mau tahu telfon Evelyne sekarang" ucap Bunda emosi.
"Iihh Bunda kok jadi marah-marah"
"Ya makanya cepet itu Evelyne ditelpon suruh kesini"
"Iya-iya ini juga udah Edzard telpon"
"Gitu kek dari tadi, Bunda mau masak dulu deh buat Evelyne"
"Anak sendiri dimarahin giliran yang bukan anaknya dimanjain dasar Bunda"
"Kamu iri... Iri ya?" Goda Bunda, aku hanya mengangguk.
"Pergi aja ke rawa-rawa, siapa tahu ada yang peduli" ucap Bunda setelah itu dia tertawa melihat tingkah ku yang seperti anak kecil.
"Kata Evelyne, dia otw kesini" ucapku yang berteriak agar Bunda mendengar.
"Gak usah teriak teriak, kamu pikir ini hutan?" Tanya Bunda
"Takut Bunda nggak denger"
"Kamu katanya ada kerjaan, yaudah sana"
"Nanti aja deh, Evelyne mau kesini masa Edzard nggak ada"
"Katanya tadi penting banget, sana sana"
"Nggak jadi Bunda"
"Makanya, nggak usah kerja"
"Kerja dimarahin nggak kerja dimarahin, mau bunda apa sih sebenarnya"
"Kamu nikah dong"
"Nikah nikah Bunda kira nikah gampang, nikah itu butuh mental yang kuat"
"Kamu lagi ngomong sama Bunda loh ini... Kamu kira Bunda belum nikah apa?" Ucap Bunda dan aku hanya menunjukkan deretan gigi-gigiku. Setelah Bunda memutuskan untuk pergi ke dapur melanjutkan memasaknya. Tak berselang lama Evelyne sudah sampai di rumahku.
"Bunda, Evelyne udah sampai, duduk dulu Vel" aku mempersilahkan Evelyne untuk duduk.
Kemudian aku melihat kedatangan Bunda dengan membawa tiga gelas minuman segar dengan dominan warna merah.
"Edzard kamu ambil cemilan yang Bunda buat gih" minta Bunda yang aku turuti.
Aku beranjak pergi ke dapur mengambil beberapa cemilan yang diminta Bunda.
Evelyne POV
Setelah mendapat izin dari Azelvin aku segera pergi ke rumah Edzard, dia bilang ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Sebenarnya aku tidak memberi tahu kemana aku pergi, tapi entah kenapa Azelvin mengizinkannya biasanya Azelvin banyak tanya ketika aku izin pergi.
Pergi kemana?
Dengan siapa?
Penting tidak?
Naik apa?
Kenapa aku harus pergi kesana?
Kembali ke kantor jam berapa?
Tapi kali ini dia langsung memberikan izin begitu saja, sebenarnya ini adalah keuntungan bagi ku, lagipula aku merindukan Bunda.
Ketika aku sampai di rumah Edzard, Edzard langsung mempersiapkan aku untuk duduk.
"Bunda, Evelyne udah sampai, duduk dulu vel" ucap Edzard.
Kemudian tidak berselang lama Bunda datang membawa minuman yang terlihat merah dan segar.
"Edzard kamu ambil cemilan yang Bunda buat gih" pinta Bunda yang dituruti oleh Edzard.
"Evelyne, kamu tahu kalau Azelvin dan Edzard itu bersaudara?" Tanya Bunda dan aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.
"Maaf sebenarnya Bunda dari dulu mau ngasih tahu, tapi Edzard bilang jangan, Edzard takut kalau kamu tahu dia saudara Azelvin kamu akan menjauh darinya, maafkan Edzard vel" ucap Bunda
Apakah harus berbohong?
Kenapa Edzard tidak jujur padaku, kenapa Edzard bisa berpikiran seperti itu?
"Iya Bunda, tapi Bunda. Apa Evelyne boleh bertanya?" Tanyaku
"Tanya saja tidak apa" Jawab Bunda
"Kenapa Edzard dan Azelvin tidak memiliki marga yang sama" tanyaku
"Karena Ravindra dan Jackson terlahir dari ayah yang berbeda, eyang menikah dua kali karena suami pertamanya meninggal, Zachary dia meninggal beberapa tahun setelah Ravindra lahir jadi eyang memutuskan untuk menikah lagi dengan Aleston. Kamu pasti juga bertanya kenapa mereka bisa menjadi rival? Iya bukan?.... Aleston tidak menyukai Ravindra hingga akhirnya Ravindra jauh dari keluarga dia di asrama, jadi hubungannya dengan Jackson tidak begitu akrab. Dan ketika Aleston meninggal dalam perjalanan bisnis semua hartanya dia berikan kepada Jackson, Ravindra tidak mempermasalahkan karena dia diasingkan dan tidak memperoleh warisan, hingga saat itu aku dan Ravindra ingin menikah tetapi eyang tidak merestui karena aku memang bukan dari keluarga kaya apalagi terpandang. Jadi Ravindra pergi dari rumah untuk menikahi ku tanpa sepengetahuan eyang, hingga aku mengandung anak pertama ku, eyang mencari kami dan meminta kami untuk tinggal di rumah bersamanya, eyang sangat manis dan perhatian padaku hingga aku pikir eyang sudah menerima ku sebagai menantunya, ternyata eyang hanya ingin mengugurkan bayi yang ada di dalam rahim ku perlahan, dia memberikan ku sebuah ramuan yang ternyata dapat mengugurkan anak yang aku tunggu saat itu, rencana eyang berhasil, eyang berhasil membunuh anak ku secara tidak langsung, aku tidak kuat saat itu, aku lemah, akhirnya aku memutuskan pergi dari Ravindra. Ravindra mencari ku. Sampai suatu saat Ravindra dan aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah itu, sampai..... Jackson dan Ariel akan menikah, sejujurnya aku iri pada Ariel yang langsung mendapat restu dari eyang karena memang Ariel keturunan dari keluarga terpandang. Aku bicara terus terang kepada Ravindra kalau aku juga ingin mendapatkan restu dari eyang, seharusnya kami ingin hidup bahagia dengan cara sederhana, tapi mendapatkan restu dari eyang bukanlah hal yang mudah, Ravindra merintis usaha hingga berkembang dan akhirnya menjadi perusahaan besar. Saat itu Edzard berusia lima tahun dan kami baru menunjukkan muka kami lagi pada eyang, eyang menerima kami eyang memberikan restu padaku dan Ravindra, meskipun aku tahu itu tidak tulus, tapi aku senang karena sekarang aku pantas duduk di samping eyang. Aku pikir eyang tidak akan menyayangi Edzard karena saat itu dia juga memiliki cucu laki-laki... Iya Azelvin saat itu Azelvin berusia empat tahun. Tetapi eyang menyayangi Edzard dan Azelvin, eyang tidak pernah membeda-bedakan mereka, meskipun begitu aku tetap merasa canggung jika bersama eyang.
Azelvin dan Edzard sangat dekat, karena mereka bermain bersama setiap hari. Tapi sekarang Azelvin dan Edzard sudah seperti air dan minyak, mereka tidak bisa disatukan.
Azelvin itu sangat penurut pada eyang, berbeda dengan Edzard yang terkadang tidak menyukai beberapa sifat eyang. Hingga suatu hari eyang bilang kalau Azelvin adalah cucu kesayangannya, Edzard yang saat itu marah, melukai lengan Azelvin, luka itu cukup dalam mungkin meninggalkan bekas. Aku tidak marah pada Edzard karena Edzard masih kecil, tapi aku tidak membenarkan perilakunya, jadi aku menasihati Edzard dan entah kenapa Edzard menjadi tidak ingin berada didekat Azelvin lagi.
Ariel tidak diam saja saat anaknya dilukai, ia meminta eyang untuk mengusir kami dari rumah, karena dia tidak mau kalau Azelvin terluka lagi.
Jadi aku lebih memilih pergi dari rumah itu, kami membeli rumah ini dan tinggal disini, sejak saat itu Azelvin dan Edzard saling membenci." Cerita Bunda dengan runtut yang ku dengarkan dengan seksama.
"Lagi pada ngapain ini?" Tanya Edzard
"Bunda sama Evelyne lagi bicara masalah perempuan, jadi kamu jangan iku campur" ucap Bunda.
"Iiisssh Bunda... Beneran nggak lagi pada bicarain Edzard kan? Kuping Edzard panas soalnya" ujar Edzard yang membuat aku dan Bunda saling berpandangan.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Edzard.
"Kepo kamu" jawab Bunda.
"Kamu semangat ya... Perjuangkan apa yang kamu inginkan, lakukan dengan semangat dan yakin" bisik Bunda di telinga ku.
Ternyata Bunda dan Om Ravindra tidak mendapatkan semuanya dengan mudah.
Bunda saja bisa.... Masa aku tidak bisa?
Aku harus semangat
Semangat Evelyne
Oke
"Vel, bunda bisikin apasih?" Tanya Edzard
"Ada deh, pengen tahu aja lo"
"Bunda masuk dulu ya" ucap Bunda, aku dan Edzard mengangguk.
"Eeeh... Evelyne kita jalan jalan yuk" ajak Edzard
"Kita ke Taman Kota naik sepeda, gimana?" Tanyanya lagi
"Oke, udah lama juga gue nggak naik sepeda"