
"Aku membenci kata itu, karena kata itu membuat manusia tidak bisa membedakan tulus, perhatian, dan segala bentuk kenyamanan dengan bucin"
Edzard Zachary
TRAUMA IHYBILY
Jakarta Indonesia
Hari ini Evelyne dan Edzard sudah menjejakkan kakinya di tanah air, seharusnya Evelyne masih ingin menikmati liburan, tetapi ada pekerjaan yang harus segera dia laksanakan, lagipula dia tidak enak kepada Azelvin yang akhir-akhir ini sudah memberikan dia keringanan.
Evelyne bersama dengan Edzard berada di dalam taksi untuk menuju ke kediaman mereka masing-masing. Edzard pada mulanya ingin tetap berlibur sampai lusa bersama orangtuanya tapi dia tidak tega membiarkan Evelyne pulang seorang diri, jadi dia ikut pulang bersama Evelyne, sementara itu Bianca, Ravindra dan Caroline masih berada di Thailand menikmati liburan bersama mereka sampai lusa nanti.
"Evelyne... Lihat niih foto-foto kita, bagus banget, apalagi foto lo yang ini... Bagus banget kan? Kayanya gue cocok jadi fotografer profesional" ucap Edzard sembari menunjukkan foto-foto hasil jepretannya kemarin.
"Itu karena gue cantik, coba kalo nggak, nggak jadi bagus itu gambarnya"
"Iyadeh Evelyne yang cantik"
"Iyalah guekan cewek"
"Cieee cieee... Edzard pacarnya cantik" ucap Edzard mencubit pipi Evelyne.
"Diih... Tengil banget jadi orang"
"Tengil tengil gini juga kamu sukakan?"
"Pede banget mas nya"
"Biarin" ucap Edzard menjulurkan lidahnya.
"Eeh... Bentar lagi ulang tahun kamu kan ya?" Tanya Evelyne
"Ooh iya, waah... Ini bakal jadi ulang tahun pertama ku tanpa menyandang status jomblo"
"Yee... Bisa aja, btw mau hadiah apa nih?" Tanya Evelyne
"Apa aja, asalkan kau bahagia"
"Dasar tukang kardus"
"Eeh aku bukan tukang kardus ya... Tapi tukang Styrofoam"
"Haha receh"
"Receh mana sama lo, masa tanya mau hadiah apa? Gak surprise dong"
"Ya... Gue bingung mau kasih hadiah apa"
"Cinta aja cukup"
"Diih... Bucin"
"Aku membenci kata itu, karena kata itu membuat manusia tidak bisa membedakan tulus, perhatian, dan segala bentuk kenyamanan dengan bucin"
"Puitis amat... Udah sampai"
Edzard keluar dari mobil dan membawa kopernya.
Edzard mengetuk kaca mobil.
"Maaf gak bisa nganterin sampai rumah" ucap Edzard
"Oke, gak masalah"
"Kalau ada apa-apa di jalan langsung telfon aku, kalau udah sampai rumah kabarin"
"Iya Edzard... Cerewet banget sih"
"Oke deh... Pak hati-hati bawa mobilnya, pastikan pacar saya nyaman selama perjalanan" ucap Edzard kepada sopir taksi.
"Siap mas"
"Edzard kamu apa-apa sih, yaudah sana buruan" ucap Evelyne dan melambaikan tangannya. " Pak ayo jalan"
"Pak maafin temen saya ya... Emang kadang rada gitu orangnya"
"Temennya ya mbak? Saya pikir tadi pacarnya, masnya tadi juga bilangnya pacar"
Evelyne hanya tersenyum kikuk dan menundukkan kepalanya, berusaha menghilangkan rasa malunya.
Setelah sampai di depan rumahnya, Evelyne turun dan dibantu sang sopir mengeluarkan kopernya.
"Makasih pak"
"Iya mbak"
"Iiih itu mobil siapa?" Evelyne bertanya-tanya, akhirnya Evelyne segera menyeret kopernya.
"Evelyne" panggil seseorang dari dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Oh... Mr. Azel" ucap Evelyne terkejut, mungkin itu mobil baru Azelvin jadi Evelyne tidak mengenali mobil itu.
"Ayo... Kita harus segera ke kantor"
"Mr. Azel duluan saja, saya harus beres-beres dan membersihkan diri"
"Ini perintah, saya tunggu 10 menit, lebih dari itu gaji kamu saya potong" ucap Azelvin
"Tapi Sir"
"9 menit"
Evelyne segera berlari, dia meletakkan koper di kamarnya asal, kemudian bergegas mandi dan berpakaian.
Evelyne bisa membereskan barang-barang setelah kerja.
Evelyne menyisir rambutnya dan kemudian berlari menuju mobil Azelvin.
"15 menit 46 detik... Payah" ucap Azelvin
Kemudian mobil mulai melaju membelah jalan raya yang nampak lebih sepi daripada biasanya.
Setelah sampai di kantor banyak karyawan lain yang memperhatikan Evelyne dengan tatapan yang eeerrr... Sulit dijelaskan.
Namun Evelyne tidak sadar akan hal itu, sementara itu Azelvin yang menyadarinya kemudian melihat kearah Evelyne... Pantas saja Evelyne jadi bahan tontonan, Evelyne mengenakan kemeja putih dan rambut Evelyne yang basah karena Evelyne tidak sempat mengeringkan rambutnya, hal itu membuat...
Tentu kalian tahu.
"Apa yang kalian lihat" ucap Azelvin
"Maaf Mr. Azel"
Evelyne tidak tahu dengan apa yang terjadi dia hanya mengikuti langkah kaki Azelvin yang tiba-tiba saja cepat. Namun kemudian Azelvin berhenti mendadak dan berbalik arah, sehingga Evelyne menabrak tubuh Azelvin.
Aaawww
Ringisnya yang merasa sakit karena kepalanya menubruk dada Azelvin.
Aaaawww
Ringisnya lagi karena Azelvin menjitak kepalanya.
"Bodoh" ucap Azelvin, Evelyne tidak mengerti dengan apa maksud dari ucapan Azelvin.
"Apa maksudmu?" Tanya Evelyne kesal
Aaawww
Ringisnya lagi karena Azelvin menjitak kepalanya lagi.
"Hei apa yang kau lakukan bodoh" ucap Evelyne yang tidak terima.
"Kau yang bodoh"
"Ha?" Jelas saja Evelyne tidak mengerti maksud Azelvin.
"Apa maksudnya pria ini, tiba-tiba mengatakan aku bodoh dan menjitak kepalaku" ucap Evelyne dalam hati.
"Pakai ini" Azelvin menyedorkan jas yang sebelumnya dia pakai.
"Untuk apa? Aku tidak membutuhkannya"
"Yakin? Ya sudah" Azelvin berjalan mendahuluinya.
"Apa maksudnya orang gila itu" gumam Evelyne menatap Azelvin sinis, Evelyne kini mulai menyadari kalau rambutnya basah dan itu bukan hal baik untuknya.
"Azelvin" teriak Evelyne berlari mengejar Azelvin.
"Apa?"
"Pinjamkan jas mu, aku membutuhkannya"
"Beberapa menit yang lalu ku dengar kau tidak membutuhkannya"
"Itu tadi, sekarang aku membutuhkannya, benar-benar membutuhkannya. Tolonglah pinjamkan jas mu, apa ruginya meminjamkan jas mu u..."
"Diamlah, ini"
"Terimakasih"
"Itu tidak gratis"
"Dasar perhitungan"
Ucapan Evelyne diabaikan oleh Azelvin yang sudah lebih dahulu sampai ke dalam ruangannya.
"Cepat keringkan rambut mu"
Evelyne paham dengan itu.. Evelyne memasuki ruangan rahasia itu, yang terdapat ranjang dan benda-benda lain, bisa dibilang ruangan ini seperti kamar hotel mewah.
Evelyne mencari letak hairdryer dan kemudian menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Tetapi bajunya masih basah.
Jadi Evelyne masih menggunakan jas milik Azelvin, Evelyne mengambil jas dari sebuah lemari yang ada di ruangan itu. Kemudian memberikannya ke Azelvin.
"Mr. Azel" panggil Evelyne sembari menyodorkan jas ke Azelvin. Evelyne membantu Azelvin menggenakan jasnya, meskipun Azelvin tidak meminta bantuannya tapi sebagai sekretaris yang baik Evelyne harus peka dalam setiap keadaan.
Setelah selesai membantu Azelvin dia berbalik berniat untuk duduk ditempatnya, namun Azelvin memeluknya dari belakang dan menariknya, sehingga dia terduduk dipangkuan Azelvin.
Evelyne hendak berdiri dan mengeluarkan segala macam bentuk protes dan sumpah serapahnya, tetapi dia kalah cepat dengan Azelvin.
"Hanya sebentar" ucap Azelvin lembut dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Evelyne.
"Damn ... Apa ini? Kenapa aku tidak sanggup melakukan sesuatu? Kenapa aku diam? Kenapa aku tidak melakukan pemberontakan seperti biasanya? Kenapa ini? Damn... Ada apa dengan jantung ku, diamlah kau jantung sialan... Tidak tidak itu sama saja aku menginginkan kematian. Intinya berdetaklah dengan normal dasar jantung sialan, apa aku harus menggantinya dengan jantung lain. Dan apa-apaan ini? Kenapa terasa begitu nyaman? Hah? Apa tadi? Aku tidak serius dengan ucapan ku... Ahhh damn aku tidak bisa seperti ini" ucap Evelyne dalam hati.
Evelyne berdiri tiba-tiba.
"Maaf" Azelvin dengan lesu dan tidak terlihat baik.
Evelyne menganggukkan kepalanya singkat.
"Ada apa dengannya?... Aah sudahlah itu bukan urusan mu Evelyne, lakukan saja pekerjaan mu dengan benar" ujar Evelyne dalam hati.
"Ikutlah, kau harus menemani ku ke suatu tempat"
"Harus?" Tanya Evelyne dan Azelvin mengangguk kemudian berjalan terlebih dahulu.
*****
Terlihat tiga orang yang sudah duduk di tempat duduk yang sudah tersedia di sebuah restoran.
Kemudian Azelvin duduk diikuti dengan Evelyne.
"Azelvin, Tante sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu?" Tanya Clara.
Clara adalah sahabat... Eem bukan sahabat, lebih tepatnya rekan Ariel. Mereka berdua sangat akrab dan memiliki selera yang sama dan gaya hidup yang sama, kenapa tidak bisa dikatakan sahabat? Karena tentu saja mereka akan berpura-pura tidak saling kenal jika salah satu dari mereka jatuh miskin. Ya... Seperti itulah, semuanya hanya sebatas status.
Clara dan Ariel berniat menjodohkan Azelvin dan Violet, ya... Violet putri Clara satu-satunya. Tetapi Azelvin dan Violet tidak saling tertarik, apa Clara dan Ariel diam saja, tidak berusaha mempersatukan mereka? Tentu saja tidak... Banyak cara yang sudah dilakukan oleh keduanya tetapi tetap saja, mereka tidak bisa menyalahi takdir.
"Saya baik Tante" ucap Azelvin
"Kamu ini dari dulu tidak berubah vin, sopan, baik, ramah dan sekarang kamu terlihat semakin tampan dan berwibawa. Andaikan Violet tidak dibutakan cintanya, pasti kalian bahagia sekarang" ujar Clara.
"Ma... Aku sudah bahagia dengan pilihan ku" ucap Violet.
"Ya... Tapi kamu akan lebih bahagia jika bersama Azelvin"
"Sudahlah Ma... Sudah ada Mawar yang membuat kebahagiaan ku sempurna" ucap Violet yang terlihat kesal.
"Aah sudahlah terserah kau saja.....oooh iya Azelvin, bagaimana kamu sekarang?" Tanya Clara.
"Saya mengelola Alsh galaxy company... Tante"
"Waah, luar biasa" puji Clara sementara Azelvin hanya tersenyum simpul.
"Dan dia sekretaris mu?" Tanya Clara
"Ya dan calon ku"
"Apa lagi ini ? Calon? Calon apa?" Ujar Evelyne dalam hati.
"Seperti itu, Violet lebih cantik daripada dia dan ku yakin Violet jauh lebih berpendidikan"
"Dia jauh lebih baik" ucap Azelvin.
"Ma, sebentar lagi kita harus ke salon karena suamiku sudah ada di depan" ucap Violet setelah mendapat pesan dari seseorang.
Kemudian datanglah seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah suami Violet.
"Evelyne" ucap orang yang baru saja datang itu.
"Kau mengenalnya?" Tanya Azelvin
Evelyne berjabat tangan dengan Erlan, Erlan itu berbeda dengan Alvero meskipun mereka berteman, tetapi Erlan adalah orang yang baik.
Lalu kenapa Clara tidak menyukai Erlan? Tentu saja karena meskipun Erlan termasuk golongan orang kaya tetapi Azelvin lebih jauh diatasnya.
"Ayo Mawar, kita ke salon" ucap Violet tetapi Mawar menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menunggu sampai bosan, karena jika Violet dan Clara ke salon tidak bisa jika tidak berlama-lama, tentu saja Mawar bosan.
"Aku mau ikut kakak cantik" ucap Mawar.
"Jangan dong sayang, nanti ngerepotin kakaknya" ucap Violet.
"Biar Mawar ikut Azelvin" karena Clara ingin Bunga akrab dengan Azelvin, keinginannya untuk mempersatukan mereka tidak pernah luntur dari otaknya.
"Apa kamu nggak keberatan vel?" Tanya Erlan.
"Tidak, dia cantik" jawab Evelyne dan tersenyum kearah Bunga.
"Baiklah terimakasih"
"Lo kaya sama siapa aja sih" ucap Evelyne.
"Evelyne jika Mawar merepotkan mu, telfon aku" pinta Erlan dan Evelyne mengangguk.
Kemudian mereka pergi meninggalkan Bunga bersama Azelvin dan Evelyne.
"Merepotkan saja" gumam Azelvin
"Sudahlah lagi pula dia lucu dan cantik, aku suka" ucap Evelyne.
"Akan lebih cantik dan lucu, kalau kita yang..."
"Hentikan ucapan mu" Evelyne yang sudah tahu apa yang akan diucapkan Azelvin.
"Kakak cantik, ayo jalan-jalan"
"Mawar mau kemana?" Tanya Evelyne
"Mall"
"Baiklah, ayo"
"Hei kau kemari bersamaku, kenapa kau meninggalkanku"
"Ayo Azelvin"
"Kenapa kamu duduk dibelakang?"
"Tentu saja, aku akan menemani Mawar"
"Kau menyebalkan" Azelvin melihat kearah Mawar.
"Om selem kaya hantu" ejek Mawar.
"Enak aja kaya hantu, ganteng gini masa disamain sama hantu" Azelvin tidak terima.
"Udah dong, biarin namanya juga anak kecil"
"Kakak cantik, nama kakak siapa?"
"Kakak Evelyne"
"Nama kakak pendek tapi susah"
"Ooh kamu nanya nama lengkap?" Tanya Evelyne dan Mawar mengangguk.
"Nama lengkap kakak, Evelyne Chalesthane Mariolin"
"Evelyne Aleston" timpal Azelvin.
"Nama kakak susah, nama ku Bunga Mawal"
"Waah cantik sekali, kaya yang punya nama" puji Evelyne.Sementara itu Azelvin tertawa terbahak-bahak.
"Ha haa haaa.... Bunga Mawar? Siapa yang memberikan nama itu... Ha ha haaa... Tidak kreatif sekali" ucap Azelvin.
Evelyne yakin pasti Erlan yang memberikan nama itu, dasar Erlan.
Bunga Mawar lahir bertepatan dengan hari kelulusan Erlan karena Erlan dan Violet sudah menikah sejak Erlan masih semester 3.
"Azelvin tidak boleh seperti itu tahu" nasehat Evelyne.
"Ha ha ha. Nama apa yang akan mereka berikan pada anak kedua mereka? Bunga lili? Bunga sepatu? Sepatu kaca? Hewan ikan? Ikan laut... Ha ha ha"
"Azelvin sudahlah"
"Om kenapa teytawa, jelek tau" ucap Mawar
"Sudah sampai" Evelyne berusaha menghentikan pertikaian yang akan terjadi antara Azelvin dengan Mawar.
Sebenarnya tidak terlalu seru pergi ke mall karena mereka sudah sering.
Jadi mereka hanya makan, melihat-lihat dan terkadang bermain kejar-kejaran. Terlihat seperti keluarga bahagia.
"Mawar kita ke taman saja yuk" ajak Evelyne dan Mawar mengangguk.
"Mawal capek" ucap Mawar
"Sini... Kakak gendong"
"Biar gue" Azelvin menggendong Mawar di pundaknya dan berlari meninggalkan Evelyne.
"Ini tidak gratis nona... Kau harus membayarnya" Evelyne tahu apa maksud Azelvin, Azelvin itu pamrih. Dia tidak tulus mengendong Mawar.
Akhirnya mereka sampai di taman terdekat.
"Huuft capek" Azelvin menurunkan Mawar.
"Kakak cantik, itu ada teman Mawal"
"Mana?"
"Itu"
"Ooh itu... Kamu mau main sama dia?" Tanya Evelyne
"Iya"
"Jangan jauh-jauh ya"
Mawar bermain dengan temannya itu. Azelvin tiba-tiba duduk di pahanya.
"Capek ya?" Tanya Evelyne
"Tumben sekali dia bersikap lembut" ucap Azelvin dalam hati
"Nggak... Gue kuat"
"Tadi katanya capek"
"Udah nggak karena ada kamu" ucap Azelvin
Ada apa ini? Ada apa dengan hatinya? Kenapa seperti ini? Biasanya Edzard juga mengeluarkan gombalannya tetapi itu tidak membuat jantungnya seperti ini, tapi kenapa Azelvin bisa membuat hatinya seperti ini.
Mungkin karena Evelyne sudah terbiasa dengan Edzard jadi tidak membuatnya salting, dan Azelvin... Mungkin karena Evelyne tidak terbiasa dengan Azelvin yang seperti ini jadi itu membuatnya merasa aneh. Ya... Mungkin memang seperti itu... Maybe
"Terserah deh"
"Dibilangin gak percaya, kamu itu sumber kekuatan ku vel" ucap Azelvin
"Terimakasih karena sudah menggendong Mawar sampai sini" Evelyne mengalihkan bahan pembicaraan.
"Tidak perlu berterimakasih seperti itu... Lagipula Mawar bukan kerabatmu, bahkan kau baru saja mengenalnya"
"Entahlah... Tapi aku menyayanginya, bisakah aku sering bertemu dengannya"
"Jika kau ingin bertemu Mawar bilang saja padaku, aku akan mengusahakannya"
Ponsel Evelyne berdering dan Evelyne nampak menjawab panggilan telepon dari seseorang.
"Vin... Mawar harus pulang sekarang"
"Ayahnya Mawar menelepon mu?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk.
"Kenapa kau menyimpan nomornya?" Tanya Azelvin
"Dia temanku" ucap Evelyne dan Azelvin merebut ponsel milih Evelyne.
"Azelvin apa yang kau lakukan? Kenapa menghapus nomor Erlan?" Tanya Evelyne tidak terima.
"Memangnya kenapa?"
"Jika aku ingin bertemu Mawar bagaimana?"
"Aku akan menelepon Violet"
"Kenapa kau menyimpan nomornya?... Eem maksudnya... Maksud ku kenapa..." Ucap Evelyne tidak jelas.
"Kau cemburu?" Tanya Azelvin
"Hah?... Untuk apa aku cemburu"
"Tapi wajahmu berkata lain... Raut wajahmu seperti berkata 'iya aku cemburu, kenapa kau tidak pengertian' seperti itulah yang dapat kulihat dari raut wajahmu"
"Mimpi saja kau Azelvin, aku hanya merasa ini tidak adil, kenapa aku tidak boleh menyimpan nomor Erlan sedangkan kau boleh menyimpan nomor Violet. Apa kau cemburu aku menyimpan nomor Erlan?"
"IYA" jawab Azelvin yang diluar dugaan Evelyne.
"Sudahlah... Mawar kemarilah, mari kita pulang" Evelyne memanggil Mawar, Mawar menuju kearahnya. Dan memeluk Evelyne erat.
Azelvin yang merasa iri, tiba-tiba ia juga ikut memeluk Evelyne.
"Kalian terlihat seperti keluarga bahagia" ucap seorang ibu.
"Kami memang keluarga bahagia" ucap Azelvin
"Semoga kalian menjadi keluarga bahagia yang saling melengkapi"
"Itu pasti" ucap Azelvin
"Aku berdoa semoga kalian dilimpahkan kebahagiaan, dan dipersatukan sampai akhir hayat" ucap ibu itu.
"Terimakasih atas doanya" ucap Azelvin. Kemudian ibu itu pergi dan Azelvin tersenyum ramah kepada ibu itu.
"Azelvin apa yang kau lakukan?" Tanya Evelyne
"Kau tidak tahu? Aku mencintaimu... Itulah yang ku lakukan"
"Kakak cantik sama om gak punya anak?" Tanya Mawar
"Punya" jawab Azelvin sementara Evelyne menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah...ayo Mawar kita pulang mama dan papamu sudah menunggu" ucap Evelyne
"Apa yang kau katakan bodoh" ucap Evelyne
"Hei... Aku berbicara fakta, apa yang salah dengan itu"
"Tentu saja salah, kau berbohong"
"Kau yang berbohong"
"Kita memang tidak memiliki hubungan... Jadi aku tidak berbohong"
"Kau benar, tapi kita memiliki anak" Azelvin merangkul Evelyne dan mencium keningnya.
"Mawar, jangan sampai dia tertinggal" ucap Evelyne
"Mawal capek"
"Gendong Mawar" pinta Evelyne
"Tapi ada syaratnya, kau harus memelukku selama aku menggendong Mawar"
"Tidak, lebih baik aku saja yang menggendongnya"
"Kau yakin? Mawar cukup berat" Azelvin tidak berbohong memang itu faktanya. Karena usia Mawar kini enam tahun dan Mawar itu berisi, bisa dibilang gemuk.
"Aku yakin"
"Ayolah permudah ini, aku menggendong Mawar dan kau memelukku, apa susahnya?"
"Oke-oke" ucap Evelyne pasrah dan melakukan apa yang diminta Azelvin.
Akhirnya sampai juga di mobil, sungguh Evelyne tidak menyukai tatapan orang yang melihatnya. Bahkan ada yang berkata kalau dia itu istri yang posesif, apa-apaan itu?
Di dalam mobil Azelvin hanya diam dan fokus pada jalanan, sementara Evelyne nampak berbicara banyak hal dengan Mawar.
"Terimakasih telah menjaga Mawar" ucap Erlan.
"Dia menyusahkanmu?" Tanya Violet.
"Tidak... Dia anak yang menyenangkan" jawab Evelyne.
"Kita pamit" ucap Azelvin
Kini Evelyne duduk disebelah Azelvin. Evelyne melambaikan tangannya pada Mawar, Mawar juga melakukan hal yang sama.
Kemudian Evelyne tersenyum dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Kau merindukannya?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk. Evelyne merindukan Azka sungguh, sebenarnya ada yang jauh merindukan Azka yaitu Azelvin.