Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 44



Tokyo Jepang


Kini setelah menginap semalaman di rumah sakit keadaan Evelyne sudah membaik hanya saja ada beberapa luka yang belum hilang, tapi Evelyne sudah yakin kalau dia baik-baik saja.


Siang ini Azelvin dan Evelyne berada dalam perjalanan menuju Alsh galaxy company Japan untuk melaksanakan meeting mengenai sebuah proyek yang akan mereka kerjakan.


Mereka melangkahkan kakinya tergesa-gesa karena tidak enak hati jika datang terlambat.


Setelah meeting selesai Azelvin dan Jackson nampak sedang memperbincangkan sesuatu namun Evelyne tidak tahu apa itu, untung saja disini ada Axel jadi tidak begitu membosankan.


"Evelyne... Maafin gue ya... Tadi malem gue tidur capek banget sumpah deh, jadi gue melacak keberadaan lo pagi-pagi" ucap Axel yang merasa bersalah, meskipun Evelyne sudah kelihatan baik-baik saja tapi tetap saja tidak ada yang tahu apa yang sudah dialami Evelyne.


Btw sebagai informasi aja, nggak terlalu penting juga sih tapi dibaca aja deh...


Axel ini jagonya dalam hal lacak melacak, bukan hanya melelehkan hati para wanita saja. Jadi Azelvin banyak meminta bantuan kepadanya. Axel ini sebenarnya orang yang baik hanya saja dia menyukai balap motor dan berfoya-foya, tapi tidak masalah lagipula dia punya jadi haknya dong.


Dan Axel adalah orang yang pengertian apalagi saat Azelvin meminta bantuan meskipun dia malas tapi dia akan memberi bantuan yang Azelvin butuhkan.


"Tau kalau salah, makanya jangan kebanyakan tidur" celetuk Azelvin yang baru saja datang.


"Lo apasih vin, btw gausah minta maaf, seharusnya gue yang minta maaf karena ngerepotin Lo dan sekali lagi terimakasih" Evelyne tersenyum kecil.


"Udah deh, gausah pada lebay" ucap Azelvin.


"Yang sabar ngadepin orang gak waras" bisik Axel yang dapat didengar Azelvin.


"Kurang ngajar Lo ngatain gue nggak waras"


"Emang gitu kenyataannya"ejek Evelyne.


"Lo kenapasih ikut-ikut bukannya belain bosnya" Azelvin kesal.


"Udah ya Vel ada unta ngamuk" ejek Axel.


"Iya hati-hati" ucap Evelyne


"Siap cantik" ucap Axel kemudian berlari setelah melihat tatapan mengerikan dari Azelvin.


"Sialan Lo Axel" teriak Azelvin


"Mr. Azel anda masih berada dilingkungan kantor jadi mohon dijaga bicaranya" ucap Evelyne.


"Bodoamat gak peduli, mereka juga nggak paham" Azelvin berlalu meninggalkan Evelyne dengan kesal, Evelyne harus berusaha payah mengejar langkahnya.


......


Berjam-jam mereka berada dalam perjalanan tanpa tujuan yang jelas demi mengikuti kemauan Azelvin yang sedang tidak waras.


"Azelvin sebenarnya kita mau kemana sih, cari makan dari tadi nggak sampai-sampai" Evelyne yang mulai bosan.


"Diem lo gue lagi nggak mau ngomong sama Lo" Azelvin kesal.


"Kaya bocah Lo, Vin sebentar lagi udah malem dan kita dari siang belum makan"


"Iya-iya ini juga lagi nyari tempat makan"


"Padahal tadi disekitar Alsh galaxy company ada banyak tempat makan, kenapa kesini coba nggak jelas"


"Gue tuh mau makan ditempat yang bernuansa alam kaya gini"


"Iya kalau ada yang jual makanan, kalau nggak gimana? Mana jalanannya sepi gini"


"Udah deh diem"


"Sebenarnya Lo tau jalan disekitar sini nggak sih?" Tanya Evelyne dan Azelvin menggeleng.


Apa?


Sabar Evelyne sabar


Evelyne memutarkan bola matanya malas, lebih baik dia memperhatikan pemandangan yang indah di luar kaca, rindangnya pepohonan memperbaiki moodnya. Evelyne tidak sengaja melihat kaca spion dan ternyata ada mobil lain dibelakang, dia pikir hanya ada mereka dijalan ini syukurlah.


Tiba-tiba Azelvin mengerem mobilnya mendadak.


"Lo apaan sih vin?" Tanya Evelyne, Evelyne mengikuti arah pandang Azelvin. Beberapa meter didepan mereka ada seorang pria bertubuh kekar yang berdiri ditengah jalan, meskipun jarak mereka lumayan jauh tetapi Azelvin tidak mau mengambil resiko.


Pria itu melangkah maju sembari menodongkan pistol. Azelvin memundurkan mobilnya....


Bruk


Mobil yang mereka kendarai kini menabrak mobil yang berada dibelakang. Azelvin melihat dari spion beberapa orang keluar dari mobil dibelakangnya.


Evelyne juga melihat apa yang Azelvin lihat. 5 orang yang keluar dari mobil itu bertubuh kekar sama seperti orang didepan yang tengah menghadang mereka.


"Azelvin" ucap Evelyne lirih.


"Evelyne tutup mata, dan pegangan"


"Hah?"


"Evelyne nurut aja kenapa sih" marah Azelvin dan Evelyne menuruti ucapan Azelvin.


Azelvin membunyikan klakson mobil dan melajukan mobilnya. Hampir saja pria bertubuh kekar dihadapan sana itu tertabrak jika saja orang itu tidak menghindar.


"Azelvin gue takut" Evelyne yang sudah tidak memejamkan matanya.


"Lo percayakan sama gue? Semuanya akan baik-baik saja, tutup mata dan pegangan kuat" Azelvin yang semakin melajukan mobilnya karena mobil dibelakangnya itu semakin dekat.


Azelvin memperlambat sedikit laju mobilnya dan mobil dibelakangnya semakin melaju kencang.


Azelvin berbelok balik arah sementara mobil dibelakangnya terlihat kesulitan berbalik arah akibat terlalu cepat.


Evelyne merasakan tubuhnya diputar, jujur apa yang dia rasakan ini seperti adegan dalam sebuah film laga.


Jika kalian pikir situasi sudah aman... Kalian salah karena kini sebelah ban Azelvin ditembak sehingga Azelvin sulit mengendalikan mobilnya dan....


Braak


Mobil Azelvin menabrak sebuah pohon, kini mereka terkepung oleh orang-orang jahat itu.


"Azelvin"


"Dengerin gue, tetep didalam mobil dulu, sampai gue alihin perhatian mereka setelah itu Lo lari kedalam hutan" pinta Azelvin.


"Lo..."


"Gak usah mikirin gue"


"Tapi kalau sampai terjadi apa-apa sama Lo gimana?"


"Cukup Lo selamat gue seneng" Azelvin tersenyum. Evelyne kembali merasakan ada hal yang tidak beres dengan jantungnya, apa ini efek karena ketakutan?


Kemudian Azelvin mengusap rambut Evelyne dan keluar dari mobil.


Azelvin mulai berkelahi dengan pria pria bertubuh kekar itu, satu banding lima..


It's okey Azelvin bisa mengatasinya.


Salah satu dari mereka menodongkan pistol dan sayang sekali tembakannya meleset, kini Azelvin berhasil mengambil alih pistol dari tangan pria itu, ini dapat mempermudahnya, Azelvin menembak kaki para pria pria itu agar mereka susah berjalan.


Kemudian Azelvin menghampiri mobil yang ternyata Evelyne tidak ada disana. Tunggu-tunggu jumlah semua pria itu seharusnya 6 bukan? Dan...


Evelyne dalam bahaya, Azelvin berlari memasuki hutan, Azelvin yakin Evelyne tidak jauh dari sini.


......


Aku melihat bagaimana perkelahian antara Azelvin dengan para pria bertubuh kekar itu, aku tidak tega dengannya yang terus terkena pukulan. Namun apalah dayaku yang tidak bisa membantu apapun.


Tiba-tiba salah seorang pria menuju kearahku, dan aku segera pindah ke kursi belakang dan ketika pria itu membuka pintu mobil aku juga membuka pintu mobil dan berlari ke dalam hutan.


Pria itu mengejarku dan aku sempat menoleh kebelakang.


Alvero


Aku yakin yang tengah mengejarku kini adalah Alvero. Kakiku masih terasa sakit karena kemarin, sehingga tenagaku tidak maksimal.


Alvero berhasil menangkapku...


Apa yang harus aku lakukan?


Azelvin dimana dia? Apa dia baik-baik saja?


Evelyne cukuplah jangan pikirkan orang lain, pikiran dulu bagaimana nasibmu.


"My dear... Jangan kabur-kaburan dong, kakinya nggak sakit?" Tutur Alvero lembut yang terdengar menjijikkan ditelingaku. Alvero kini mendekapku kedalam pelukannya.


"Lepasin"


"Mau dilepasin? Sayang sekali my dear, aku tidak mau melakukan hal itu" Alvero mendorong tubuhku hingga membentur pohon dibelakangku.


Aku terduduk di tanah, rasanya punggungku sakit sekali. Alvero mencengkeram tanganku erat, tanganku yang sebelumnya masih sakit kini menjadi tambah sakit.


"Ternyata apa yang lo bilang kemarin benar, anak itu anak Erlan... Eeem sorry gue gagal buat Lo hamil, tapi lo tenang aja gue pastiin lo akan hamil anak gue"


"Gak Sudi"


"Woow... Berani sekali ya, sepertinya bereproduksi di hutan bukan sesuatu hal yang buruk"


"Mau apa lo"


"Gue pikir lo ngerti apa maksud dari ucapan gue my dear" Alvero menunjukkan seringainya, Alvero mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku menundukkan wajahku, namun wajahku dicekal oleh tangan Alvero. Alvero mencium daguku.


Aku memberontak dan mendorong tubuhnya menjauh dariku. Aku berhasil berdiri namun saat aku hendak melangkahkan kakiku untuk kabur, dia mencekal kakiku dan menariknya, hal itu membuat aku terjatuh tengkurap di tanah, kemudian aku berbalik badan melihat kearahnya.


Alvero kini berada di atasku, wajahku sejajar dengan wajahnya. Aku dalam kungkungan Alvero.


Aku tidak bisa memberontak memejamkan mata adalah hal yang baik, setidaknya aku tidak melihat apa yang terjadi padaku.


Aku merasakan bibirnya menempel di bibirku, aku merapatkan bibirku, namun dia mengigit bibirku sehingga aku meringis hal itu menjadi kesempatan untuknya untuk ******* bibirku. Air mataku sudah tidak bisa terbendung lagi.


Alvero benar-benar beringas aku sampai kehabisan nafas.


"Jangan menangis my dear, ini akan menjadi hal yang menyenangkan untuk kita" ujar Alvero dan kembali mencium bibirku.


Aku memejamkan mataku bukan menikmati, aku tidak ingin melihat wajah beringasnya itu.


Ada yang menarik Alvero dan aku juga mendengar suara seperti pukulan dan aku membuka mataku, senyum terbit di wajahku saat aku melihat Azelvin.


Azelvin memukul Alvero lagi hingga membuat Alvero tersungkur, namun Alvero bangkit dan membalas pukulan dari Azelvin.


Azelvin akhirnya menembak kaki Alvero dan segera menggendongku berlari.


Kini kita sampai di depan mobil yang seharusnya kita tumpangi, namun tidak bisa menyala.


"Gimana vin?"


"Nggak bisa"


"Terus kita pulangnya gimana?"


"Pakai mobil itu"


"Mobilnya Alvero?" Tanyaku dan Azelvin mengangguk, Azelvin kini berjalan mendekati mobil milik Alvero dan mencoba menyalakan mobil Alvero ternyata bisa. Sementara aku, aku terpukau dengan keindahan sunset.


"Evelyne" panggil Azelvin


"Sebentar" ucapku yang masih ingin melihat sunset, Azelvin keluar dari mobil dan kini ia disampingku.


"Cantik?" Tanyanya dan aku mengangguk.


"Tapi ada yang lebih cantik" Azelvin tiba-tiba dia mencium bibirku dan menarik tengkukku agar memperdalam ciuman.


INI GILA


ada yang lebih gila lagi, aku MEMELUK pinggangnya.


"Kau tidak menamparku.... Kau... Kau tidak menamparku" ucap Azelvin sembari tersenyum dan berjalan mundur memasuki mobil.


Dalam perjalanan terasa hening karena rasa canggung.


........


Author POV


Mereka telah sampai ditempat penginapan. Evelyne mencari kotak P3K dan akhirnya berhasil menemukannya.


"Azelvin" panggil Evelyne


"Heem"


"Kemarilah" Evelyne meminta Azelvin duduk disampingnya, namun Azelvin malah tiduran dan menjadikan paha Evelyne sebagai bantal.


"Gue minta lo duduk" cibir Evelyne


"Terserah gue dong" ucap Azelvin


"Yaudah, sini tangan Lo" Evelyne memegang tangan Azelvin, Evelyne membersihkan luka dipunggung tangan Azelvin, mungkin Azelvin tadi memukul terlalu keras hingga membuat tangannya terluka. Kemudian Evelyne mengobati dan membalut perban.


Evelyne beralih memandangi wajah Azelvin yang kini sudah memejamkan mata, pelipisnya membiru dan sudut bibirnya berdarah.


Evelyne mengusap pelipis Azelvin yang terluka, kemudian membersihkannya.


"Aaaww" ringis Azelvin yang membuka kelopak matanya.


"Sorry" Azelvin mengangguk dan terpejam lagi, Evelyne melakukan hal yang sebelumnya tertunda, ia memberikan obat merah dan plester pada pelipis Azelvin.


Evelyne mengusap sudut bibir Azelvin yang terluka.


Evelyne bingung bagaimana mengobati sudut bibir Azelvin, jika diberi obat merah dan tidak sengaja masuk ke mulut Azelvin tentu Azelvin akan merasakan rasanya obat merah, lalu harus bagaimana?


"Kalau mau cium nggak usah ragu" Azelvin yang masih memejamkan matanya.


"Iish... Apaan sih, minggir" ucap Evelyne dan Azelvin bangkit, namun Azelvin menatap Evelyne lekat-lekat jarak mereka sangat dekat.


"Bibir Lo" Azelvin yang melihat bibir Evelyne berdarah meskipun sudah kering, itu semua karena Alvero.


Azelvin melihat leher Evelyne yang masih ada bekas gigitan Alvero.


"Alvero bangsat" Azelvin mengepalkan tangannya.


"Azelvin awas" Evelyne hendak mengembalikan kotak P3K.


"Dia melakukan hal yang lebih dari ini?" Tanya Azelvin dan Evelyne menggelengkan kepalanya.


Tetap saja Azelvin tidak terima.


Azelvin mencium bibir Evelyne menghilangkan bekas dari Alvero, bukankah tadi Azelvin sudah mencium Evelyne? Iya memang, tapi Azelvin merasa belum cukup untuk menghapus jejak si bangsat itu.