
Jakarta Indonesia
Evelyne Chalesthane Mariolin kini sedang melangkahkan kakinya bersama dengan Alvero Galen Ray menuju ketempat dimana Evelyne akan melamar pekerjaan, tentu saja hanya Evelyne yang melamar pekerjaan karena Alvero belum menyelesaikan kuliahnya.
"Permisi mbak, saya ingin melamar pekerjaan" ucap Evelyne kepada personalia.
"Mari mbak, saya antar" ucap orang itu, dan Evelyne mengikuti langkah kaki orang tersebut. Dan Alvero mengikuti Evelyne.
"Permisi pak, ini ada orang yang ingin melamar pekerjaan" ucap wanita itu.
"Suruh saja masuk"
"Silahkan masuk mbak"
"Vero lo tunggu disini dulu saja" Alvero yang mengangguk dan duduk di kursi yang ada.
"Kebetulan sekali, Mr. Jack sedang ada disini, kamu Evelyne yang melamar menjadi sekertaris bukan?"
"Iya pak" ucap Evelyne sopan.
"Evelyne perkenalkan ini Mr. Jack yang menjadi CEO di perusahaan ini" Evelyne berjabat tangan dengan Mr Jack.
"Evelyne saya harap kamu bisa bekerja dengan baik" ucap Mr. Jack
"Saya akan melakukan yang terbaik Sir"
"Besok kamu sudah mulai bekerja"
"Kalau begitu saya permisi" ucap Evelyne sopan dan menundukkan kepalanya.
Evelyne keluar dari ruangan tersebut, dia sudah melihat Alvero yang masih setia duduk di kursi. Ternyata Mr. Jack juga keluar dari ruangan tersebut.
"Kalau boleh tahu, ini siapa Evelyne?" Tanya Mr Jack kepada Evelyne.
"Saya pacar Evelyne" jawab Alvero. Evelyne menyenggol lengan Alvero.
"Sudah lama?" Tanya Mr Jack lagi
"3 tahun" jawab Alvero.
"Oowh langeng ya? Saya harap bisa menempuh ke jenjang yang lebih serius"
"Terimakasih pak, kita pamit" ucap Alvero, sementara Evelyne hanya bisa tersenyum dan memaki Alvero dalam hati.
.
.
.
.
.
Evelyne dan Alvero kini berada di sebuah rumah.
"Guekan tadi udah nganterin lo ke kantor, nah sekarang Lo gue kenalin ke orang tua gue" ucap Alvero kepada Evelyne.
"Apa harus sekarang? Besok ajalah besok-besok ya??" Ucap Evelyne memohon kepada Alvero, karena sungguh Evelyne gugup sekarang, padahal hubungan mereka hanya sebuah sandiwara.
"Eeh Alvero, itu siapa kok nggak diajak masuk, sini masuk" ucap seseorang wanita dari dalam rumah Alvero.
"Udah ayo" ajak Alvero dan menggandeng tangan Evelyne.
"Mama ini Evelyne pacar Al" ujar Alvero memperkenalkan Evelyne.
"Evelyne tante" Evelyne memperkenalkan diri dan bersalaman dengan perempuan itu yang ia yakini ibu Alvero.
"Cantik sekali, mama jadi tidak yakin ini pacar kamu, diancam kamu ya?" Tanya Cecilia yang notebenenya adalah ibu Alvero.
"Emang bukan pacarnya, nggak diancem sih, cuma terpaksa juga" ucap Evelyne dalam hati. Evelyne tidak menjawab pertanyaan dari Cecilia dan hanya tersenyum.
"Alvero itu tampan, baik, perhatian, makanya Evelyne terpesona sama Al" ucap Alvero.
"Tapi Evelyne terlihat terlalu cantik untuk kamu Al" ucap Cecilia yang membuat Evelyne dan Cecilia tertawa.
"Seneng banget nistain anak sendiri" ucap Alvero sembari mengerucutkan bibirnya.
"Jangan gitu ah, tambah jelek tau" ejek Evelyne.
"Yasudah Evelyne duduk dulu, Tante belum selesai masak" pinta Cecilia hendak pergi.
"Eem tante Evelyne boleh bantu?"
"Tante malah seneng kalau Evelyne mau bantu" jawab Cecilia mengandeng tangan Evelyne.
"Al ditinggal" ucap Alvero dengan muka betenya, kemudian Alvero lebih memilih untuk ke kamarnya.
.
.
.
Setelah beberapa saat kemudian Cecilia dan Evelyne sudah selesai memasak bahkan sudah menata rapi meja makan.
"Evelyne kamu panggil Alvero suruh makan"
"Saya Tante?" Tanya Evelyne
"Yang namanya Evelyne siapa lagi kalau bukan kamu?" Canda Cecilia dan membuat Evelyne terkekeh, Evelyne melangkahkan kakinya. Kemudian berbalik lagi.
"Kamar Alvero yang mana Tante?" Tanya Evelyne
"Naik tangga itu, terus pintu yang ada tulisannya my dear" jawab Cecilia
"My dear" ucap Evelyne dalam hati.
Evelyne melangkahkan kakinya menaiki tangga sesuai arahan Cecilia.
Tok tok tok
Evelyne mengetuk pintu kamar Alvero.
Ada seseorang yang membuka pintu dan menarik pergelangan tangan Evelyne.
"Lo apa-apaan sih"
"Evelyne"
"Apa?"
"Inget ya, se-real mungkin"
"Oke, lo udah ngingetin gue berkali-kali"
"Ya siapa tahu aja lo lupa"
"Emang gue lo apa? Pelupa"
"Lo ngapain kesini?"
"Lo disuruh makan, yuk" ucap Evelyne yang hendak melangkah ke luar kamar Alvero, tetapi Alvero meraih tubuhnya kedalam pelukan.
"Ver, lo apaan sih" tanya Evelyne berbisik
"Ada mama gue" jawab Alvero berbisik.
"Mama nggak liat" cibir Cecilia masuk ke kamar Alvero.
"Iish mama ganggu" tanggapinya.
"Disuruh manggil lama banget ternyata" ejek Cecilia yang membuat Evelyne hanya tersenyum renyah.
"Nggak tan, tadi itu..." Terang Evelyne yang terpotong karena di dahului Cecilia
"Udahlah, Tante juga pernah muda kok, eeh tapi jangan sampai kebablasan loh, harus tau batas" nasehat Cecilia memotong ucapan Evelyne.
Alvaro mengangguk sementara Evelyne hanya tersenyum tak nyaman.
.
.
.
.
.
RSJ cempaka putih
Seorang lelaki berjalan menuju ruangan dimana Mamanya dirawat.
"Azelvin" ucap perempuan itu.
"Iya ma"
"Kkaakaaamuu aaazeelvin, evin anakku, aanaak anakku" gumam perempuan itu kepada perawat di sebelahnya.
"Iya Bu, itu mas Azelvin anak ibu" ucap si perawat
Azelvin memeluk ibunya yang sangat dia rindukan, bahkan dia rela pulang ke Indonesia hanya untuk melepas kerinduannya kepada ibunya.
"Cucu mana cucu? Mana? Cucuku?" Ucap Ariel yang notabenenya merupakan mama Azelvin.
"Ma... jangan kaya gini terus ma, Azelvin mohon, mam cepat sembuh ya?" Pinta Azelvin mengecup kening Ariel. Kemudian Azelvin pergi dari tempat itu.
Sebenarnya Azelvin masih merindukan mamanya itu, tapi Azelvin tidak sanggup melihat keadaan mamanya yang sekarang.
Azelvin mengendarai kendaraannya menuju rumah orang yang dia rindukan. Setelah dia sampai, Azelvin memarkir kendaraan di tempat yang lumayan jauh dari tempat tujuannya, kemudian dia membuka pintu rumah Evelyne.... Ya rumah Evelyne lah tempat tujuannya. Tentu saja pintunya terkunci, tetapi jangan sebut dia Azelvin kalau tidak bisa mengatasi hal itu, Azelvin punya kunci duplikat rumah Evelyne, jadi dia bisa dengan mudah memasuki rumah Evelyne tanpa harus permisi.
.
.
.
Evelyne kini berada dalam mobil dengan Alvero, karena mereka sudah sampai di depan rumah Evelyne, maka Evelyne turun dari mobil Alvero dan diikuti oleh Alvero.
"Lo pulang aja ver"
"Gue juga mau pulang kok"
"Yaudah sana buruan"
"Kuatir amat lo gue nginep sini"
"Nggak gitu ini udah malem ver, ntar kalau lo kenapa-napa di jalan gimana?"
"Ciiee khawatir sama gue, kayanya ada yang udah mulai bapernih" ucap Alvero menaikan sebelah alisnya.
"Diih udah buruan" ucap Evelyne mendorong tubuh Alvero masuk ke mobil. Kemudian Evelyne kembali berjalan ke rumahnya.
"Daah... MY DEAR" teriak Alvero yang membuat Evelyne menoleh, kemudian Alvero melajukan mobilnya dan Evelyne segera masuk ke rumahnya. Dan menutup tidak lupa juga dia mengunci pintunya. Betapa terkejutnya dia melihat seseorang yang tidak ingin dia lihat lagi.
"Lo..." ucap Evelyne dan terus melangkah ke belakang sampai tubuhnya bertabrakan dengan pintu rumahnya.
"Evelyne" ucap Azelvin dan terus melangkah maju mendekati Evelyne, Azelvin meraih Evelyne kepelukannya.
"Evelyne kamu harus mulai memaksakan diri untuk bisa bertahan ketika berdekatan dengan dia, kamu harus melawan rasa takutmu, kamu hanya perlu mengingat kejadian atau perbuatan baiknya, tidak mungkin manusia tidak memiliki kebaikan, saya yakin dia juga memiliki sisi baik, jadi kamu harus mengingat kebaikannya, dengan itu mungkin kamu bisa melawan rasa takutmu" ucapan Dokter Kris tempo hari terngiang di kepalanya.
Evelyne perlahan mulai membalas pukulan Azelvin, Evelyne ingin kesembuhan pada dirinya, dia tidak ingin terus terusan seperti orang gila ketika melihat orang yang kini tengah ia peluk ataupun anak-anak badung diluar sana. Dia ingin hidup dengan normal.
Sementara itu Azelvin merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh orang yang berada di hadapannya sekarang.
Evelyne memeluknya?
Apa hanya khayalan belaka?
Jika ini khayalan Azelvin rela, berkhayal setiap detik dihidupnya jika khayalannya terasa sangat nyata.
Tapi apakah ini hanya sebuah khayalan semata?
Kenapa terasa nyata?
Yang Azelvin harapkan adalah Tuhan menghentikan waktu sekarang.
"Pergi" pinta Evelyne dan melepas pelukan dari Azelvin.
"Apa bedanya sama lo" ucap Evelyne.
"Gue tau, tapi Alvero punya niat jahat, dia merencanakan....."
"Vin, cukup, Lo pergi sekarang, gue nggak mau denger apapun dari mulut lo, gue NGGAK PERCAYA" ucap Evelyne dengan tegas.
"Kali ini aja, percaya sama gue vel, jauhin Vero"
.
.
.
.
.
Evelyne Chalesthane Mariolin kini tengah bersiap berangkat untuk bekerja, sebenarnya dia masih lelah dan mengantuk, ingin tidur lagi rasanya, tapi karena hari ini adalah hari pertama untuk dia bekerja, jadi dia sangat bersemangat sekarang.
"Eem... Rapi? Sudah, sopan... Oke, Selamat pagi Mr. Jack, anda makan apa tadi?..... No no no, terlalu kepo. Selamat pagi Mr. Jack bagaimana kabar anda hari ini?.... Aaaissh terlihat....aaah" tutur Evelyne bermonolog di depan cermin.
"Oke Evelyne sudah jam segini, jangan biarkan dirimu terlambat dihari pertama bekerja" ucap Evelyne menyemangati diri sendiri, Evelyne berangkat menuju tempat dia bekerja. Dia sangat bersyukur karena bekerja di kantor yang terkenal.
Sesampainya di kantor, Evelyne segera memasuki ruangannya dan membereskan sedikit tatanan ruangannya, karena sudah rapi.
Setelah itu Evelyne membuat 2 kopi satu untuknya dan satu lagi untuk Mr. Jack.
Evelyne menaruh kopi tersebut di meja Mr. Jack.
Beberapa saat setelah itu pintu terbuka dan nampak Mr. Jack di sana.
"Selamat pagi Mr. Jack" sapa Evelyne sembari sedikit membungkuk.
"Pagi, kamu berangkat jam berapa Evelyne?" Tanya Jack
"Beberapa menit yang lalu Sir saya sudah membuatkan Mr. Jack kopi" Jack meminum kopi itu dan.....
"Saya rasa kamu perlu mengurangi takaran gulanya" opini Jack.
"Maafkan saya Sir... saya akan buatkan kopi lagi" tawar Evelyne hendak beranjak.
"Tidak perlu Evelyne, lagi pula saya belum makan"
"Mrs. Jack tidak memasak? Kalau begitu biar saya.."
"Tidak perlu seperti ini Evelyne, saya sudah biasa makan saat siang hari saja, karena istri saya sedang dirawat di rumah sakit"
"Maaf Sir saya sudah membuat anda kepikiran dengan Mrs. Jack, kalau boleh saya bisa membuat makanan untuk anda setiap pagi"
"Tidak perlu Evelyne, itu akan sangat merepotkan"
"Tidak Sir... setiap pagi saya memang memasak dan saya hanya tinggal seorang diri, jadi makanan yang saya buat itu terlalu banyak"
"Kalau begitu tidak apa, asalkan tidak merepotkan, yang terpenting kamu tidak melalaikan tugas utama kamu"
"Baik Sir kalau begitu saya permisi, apa ada pekerjaan yang harus saya selesaikan?"
"Kamu tanyakan kepada Mr. Ken dan sebaiknya kamu harus belajar banyak darinya"
"Baik Sir"
Kemudian Evelyne keluar dari ruangan Jack dan pergi ke ruang kerjanya.
"Evelyne"
"Iya Sir" Ken adalah sekretaris Jack, karena Ken harus ke Jepang untuk menikah dengan orang sana, maka ia di pindahkan tugas untuk mengurus kantor di Jepang. Dan sekarang Evelyne yang akan menggantikan posisinya.
"Saya akan menjelaskan beberapa hal lainnya sebelum keberangkatan saya ke Jepang besok"
"Iya Sir"
"Kamu harus mendengarkan, ingat, kalau perlu di catat"
"Baik Sir" ucap Evelyne dan mulai mengambil sebuah buku dan pena.
Ken mulai berbicara banyak hal mengenai urusan kantor, dan juga masih banyak lagi. Evelyne mendengarkan dengan baik serta mencatat apa yang dia dengar.
"Dan ini" Ken menyerahkan beberapa lampir kertas.
"Apa ini?" Tanya Evelyne
"Dibaca saja" jawab Ken yang Evelyne tahu sekarang Ken benar-benar orang yang tegas, bijaksana, teliti, dan sangat profesional dalam bekerja.
Evelyne mulai membaca kertas tersebut.
Siapkan minum di meja Mr. Jack, segelas air putih dan segelas minuman selain air putih (dengan kadar gula rendah)
Pesan makanan untuk sarapan Mr. Jack, makanan yang higienis dan sehat.
Datang tepat waktu
Ingatkan Mr. Jack untuk setiap hal yang harus dilakukan misalnya meeting, peninjauan dll
Pastikan Mr. Jack minum obat dengan teratur. Jangan sampai terlambat.
Jangan berisik saat bersama dengan Mr. Jack, karena Mr. Jack tidak menyukai kebisingan.
Bekerjalah dengan baik dan profesional.
Jangan tampakkan wajah kusut dan tidak pantas kepada Mr. Jack.
Sopan dan patuh pada Mr. Jack.
Jangan lalaikan perintah Mr. Jack
Lakukan apa yang diperintahkan Mr. Jack dengan segera.
Profesional dalam bekerja, jangan campur urusan kantor dengan urusan pribadi.
Dll
"Ribet banget, perasaan Mr. Jack nggak gitu-gitu amat, emang lebay niih orang depan gue" ucap Evelyne dalam hati.
"Baik Sir, saya akan ingat ini" ucap Evelyne dan hanya dijawab anggukan oleh Ken.
Menyebalkan
Huuft
Evelyne menghembuskan nafas kasar.
"Sabar Evelyne, sabar, kamu pasti bisa" ucap Evelyne dan menyeruput kopinya.
Waktunya jam istirahat dan itu artinya Evelyne harus menyiapkan makanan untuk Jack.
Evelyne memesan makanan untuk Jack dan membeli beberapa buah-buahan di supermarket depan kantor.
Evelyne membuatkan jus jeruk untuk Jack, dan buah yang lainnya dia hanya memotong kecil-kecil dan menaruhnya di sebuah piring.
"Sir ini minum dan buahnya, saya jamin sehat dan higienis" ucap Evelyne
"Terimakasih Evelyne"
"Makanan anda belum sampai? Sir"
"Belum"
"Saya sudah memesankan tadi, kalau begitu saya ke kafe di lantai bawah"
"Tidak perlu Evelyne, sebentar lagi juga pasti sampai, sebaiknya kamu makan siang dulu, kamu terlihat lelah" ucap Mr Jack.
Jangan tampakkan wajah kusut dan tidak pantas kepada Mr. Jack.
"Kalau begitu saya permisi Sir" Evelyne keluar dari ruangan Jack dan makan siang.
"Boleh gabung" ucap salah satu orang itu.
"Okey" jawab Evelyne.
"Lo pegawai baru?"
"Perkenalkan, Evelyne Chalesthane Mariolin sekretaris baru Mr. Jack" ucap Evelyne
"Tidak perlu seformal itu, gue Eros Addison, administrasi perkantoran"
"Gue Aidan Dananjaya"
"Orang Jawa?" Tanya Evelyne
"Kok tau?"
"Dananjaya, nama lainnya Arjuna, iya nggak sih?" Tanya Evelyne.
"Iya juga ya? Kok gue baru nyadar sih?" Celetuk Eros
"Emang dasar otak lo nggak nyampe" ejek Aidan.
Evelyne hanya terkekeh geli melihat tingkah dua orang yang baru dia kenal ini, setidaknya sudah ada teman kantor untuknya.