
Seoul Korea Selatan
Hari ini aku berniat untuk membeli beberapa bahan makanan juga kado untuk kedua orang tuaku dan adikku.
"Ed lo mandi lama banget deh, buruan dong, heran gue tuh cowok mandi lama banget" gerutuku
"Cowok kalau mandinya lama, itu ngapain dulu sih?" Ucapku dalam hati.
Aku menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Edzard" teriakku dan keluar dari kamar Edzard.
"Gila atau gimana tuh cowok ya, gila"
Edzard benar-benar membuat ku menunggu sampai lumutan, mandi lama pakai baju lama.
"Edzard lo bisa pake baju nggak sih, lama banget"teriak ku
"Ya makanya pakein dong" Edzard membuka pintu dan aku menutup mata.
"Lo ngapain tutup mata gitu, nggak sanggup melihat ketampanan gue yang di atas rata-rata ya?"
"Kepedean lo tuh yang di atas rata-rata"
"Terus kenapa lo tutup mata tadi"
"Ya gue ngira lo bakal telanjang kaya tadi"
"Eh gue nggak telanjang tadi kok, gue pake handuk you know"
"Ya tapi yg ketutup cuma pinggang ke bawah sampai atas lutut"
"Lo terpesona sama otot perut gue ya" goda Edzard
"Oh gue kira tadi lemak yang menggumpal"
"Enak aja, tubuh gue itu atletis"
"Udah ayok buruan deh"
.
.
.
.
Aku dan Edzard sedang bingung sekarang, harus membelikan apa untuk keluarga ku. Uuuppss salah salah lebih tepatnya aku yang kebingungan, sementara Edzard hanya mengekori ku, dia melambaikan tangan dan tersenyum manis ke perempuan perempuan yang dilihatnya, bukan hanya yang muda tapi juga anak kecil bahkan perempuan yang sudah tua,sesekali Edzard juga mengedipkan sebelah matanya.
Edzard benar-benar memalukan. Kalian tahu apa yang aku rasakan sekarang?
Aku menyesal mengajaknya, lebih baik aku pergi sendiri saja.
Aku meninggalkannya yang masih fokus dengan perempuan perempuan itu, dan mereka hanya tertawa geli dengan kelakuan Edzard.
"Aaah akhirnya, gue bisa fokus nyari kado buat keluarga gue, gue beli apa ya? Eeemmm makanan aja dulu kali ya?"
Setelah selesai memilih bahan makanan yang aku butuhkan aku segera membayarnya.
"Gue beli apa lagi ya? Masak gue ngasih makanan doang? Tapi gue beliin apa?" Gue terus berfikir-fikir apa yang cocok untuk mereka.
"Beli baju bukan ide yang buruk" (dalam bahasa Korea)
"Pinter Lo"
"Eh tunggu Edzardkan nggak bisa bahasa Korea" ucapku dalam hati, aku membalikkan tubuhku.
Tubuhku rasanya membeku, nafasku tercekat, dan kepala ku mulai pusing. Aku ingin berlari menjauh namun yang terjadi adalah aku diam mematung.
"Evelyne hello" ucapnya dan melambai lambaikan tangannya didepan wajahku.
"Pergi" ucapku dengan lemah dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.
.
Seoul Korea Selatan
Seorang lelaki kini tengah memperhatikan dua orang yang sedang berbelanja itu. Seorang perempuan dan seorang lelaki, yang perempuan sibuk mencari apa yang ingin dibelinya sedangkan yang lelaki tebar pesona sana-sini.
"Sialan dia membuat Evelyne malu untuk yang kesekian kalinya" umpat orang itu.
Dan entah apa yang dia rasakan sekarang yang jelas dia tersenyum melihat Evelyne meninggalkan lelaki menyebalkan sejenis Edzard.
Orang itu mengikutinya yang sibuk memilih bahan makanan, dia terlihat sangat telaten memilih bahan makanan.
"Sudah cocok menjadi istri" ucap orang itu dan tersenyum penuh arti.
Setelah Evelyne selesai dengan bahan makanan. Evelyne berjalan lagi dengan membawa paper bag.
"Gue beli apa lagi ya? Masak gue ngasih makanan doang? Tapi gue beliin apa?"ucap Evelyne.
"Beli baju bukan ide yang buruk" (dalam bahasa Korea) ucap orang yang sudah mengikutinya dari tadi.
Evelyne mematung tidak melakukan pergerakan sedikitpun.
"Evelyne hello" ucap orang itu dan melambai lambaikan tangannya di depan wajah Evelyne.
"Pergi" ucap Evelyne yang terdengar lirih dan detik berikutnya Evelyne pingsan.
Lelaki itu menggendong tubuh Evelyne dan meminta bantuan seseorang untuk membawa belanjaan Evelyne. Orang itu membawa Evelyne ke mobilnya dan membawanya pulang ke apartemen.
Sementara Edzard tengah sibuk mencari Evelyne, bahkan dia bersusah payah bertanya kepada orang orang, dalam hati Edzard sudah terucap berbagai macam sumpah serapah dan juga umpatan yang ditujukan untuk Evelyne.
.
.
.
.
Di apartemen pria yang mengikuti Evelyne.
"Vel, Evelyne" ucap orang itu berusaha membangunkan Evelyne dengan menepuk-nepuk pipi Evelyne dan memberikan minyak aromaterapi agar di hirup Evelyne.
Eeeuuunggh
"Vel, syukurlah lo udah sadar"
"Pergi dari sini"
"Ini apartemen gue"
"Keluar dari kamar ini"
"Ini kamar gue"
"Oke gue pergi"
"Vel, udah gue aja yang keluar dari kamar"
"Tutup pintunya"
"Kenapa harus ditutup?"
"Oke gue pergi"
"Iya iya oke gue tutup pintunya"
"Bukannya gue udah pernah minta sama lo buat pergi dari hadapan gue" ucap Evelyne dengan suara keras agar terdengar oleh orang yang berada di luar kamar itu.
"Gue emang nggak muncul di hadapan lo kok, gue dibelakang lo, dan lo liat kearah belakang tanpa gue minta"
"Kenapa lo bisa ada di sana?"
"Gue kuliah di sini, kebetulan juga belanja di sana"
"Yakin kebetulan"
"Iya.. gue emang sengaja ngikutin lo"
"Gue tegaskan sekali lagi, jangan ikut campur urusan gue, dan jangan tunjukkin tampang lo itu di depan gue"
"Nggak bisa, gue nggak sanggup, dari kemarin gue udah ngikutin lo, dan gue ngelihat lo kaya marah marahan sama nyokap lo, lo kenapa?"
"Apa urusannya sama lo"
"Yang jelas, kamar ini udah gue kunci"
"Itu semua salah lo Azelvin Aleston"
"Jelasin ke gue dengan jelas, jangan setengah-setengah kaya gini"
"Lo punya otakkan? buat mikir dong jangan dianggurin"
Azelvin membuka pintu itu dengan kasar dan membanting keras pintu itu. Hingga terdengar suara benturan pintu dengan tembok yang membuat Evelyne terkejut.
Azelvin menarik tangan Evelyne sehingga Evelyne yang semula duduk di ranjang Azelvin kini berdiri tegak dan hanya berjarak beberapa inci dari Azelvin.
Azelvin mendekatkan wajahnya ke wajah Evelyne dan kemudian dia mencium bibir Evelyne.
Evelyne tidak menolaknya seperti biasanya dia hanya diam membeku.
Ketika Evelyne sadar dengan apa yang terjadi, dia memberontak tapi tenaganya tidak sebanding dengan Azelvin dan itu malah membuat Azelvin semakin memperdalam ciuman.
Azelvin mendorong tubuh Evelyne sehingga terjatuh di ranjang. Dan Azelvin menindihnya dan hendak mencium Evelyne lagi tapi....
"Cukup vin" ucap Evelyne sembari menanggis.
"Lo mau ngulang kesalahan lo lagi?"ucap Evelyne.
"Vel, maksud lo?" Azelvin masih sibuk dengan pikirannya dengan apa yang diucapkan Evelyne, Evelyne mendorong tubuh Azelvin kemudian dia berlari keluar kamar Azelvin.
Untuk saja pintu apartemen Azelvin bisa dibuka dari dalam dengan mudahnya. Sehingga memudahkan Evelyne untuk kabur dari sana.
"Apa yang udah gue lakuin vel?"
"Kenapa gue ngelakuin hal tadi, lo udah nggak waras vin, kalau kaya gini Evelyne pasti semakin benci sama lo vin"
"Apa yang dimaksud dengan Evelyne tadi?, Vel...." ucap Azelvin dan berlari mengejar Evelyne namun, Azelvin sudah ketinggalan jejak Evelyne, Azelvin memilih untuk kembali ke apartemennya dan beristirahat untuk menjernihkan pikiran.
.
.
.
.
.
"Untung gue terlahir sebagai orang yang sabar dan pengertian vel"
"Lo dimana sih vel"
"Berat tau nggak bawa ini semua" ya.... Aku memang sudah belanja bahan makanan meskipun aku tidak tahu apa yang mau Evelyne buat, dan bukan hanya itu aku juga sudah membeli pakaian buat keluarga Evelyne.
"Gue duduk aja dulu deh, siapa tahu Evelyne lihat gue ntar, capek gue jalan terus, eeh gue tunggu di mobil aja deh"
Aku segera ke mobil untuk meletakkan belanjaan belanjaan ini ke bagasi, setelah itu aku berdiri bersandar pada mobil, sebenarnya bisa saja aku duduk manis didalam mobil namun aku takut jika Evelyne tidak melihatku.
Tak lama seorang perempuan yang familiar datang kearahku. Perempuan yang ku cari-cari yang telah ku umpatin segala macam jenis binatang di kebun binatang sudah ku absen semua.
"Vel lo dari mana tadi, kenapa lo ning...." Ucapanku terpotong karena Evelyne memeluk tubuhku erat dan dia terisak.
Evelyne menangis?
Kenapa?
Disaat seperti ini, aku sudah paham dengan apa yang harus kulakukan.
Aku tidak bisa menanyakan apa yang terjadi sekarang kepada Evelyne, aku akan bertanya nanti setelah Evelyne tenang.
"Vel pulang yuuk" aku membuka pintu mobil untuk Evelyne, melajukan mobilku ke tempat penginapan.
"Vel udah kenapa sih, muka kusut banget, kalau lo lupa gue buka jasa setrika wajah"
"Ed gue belum beli apapun buat orang tua gue"
"Tenang gue udah beliin kok, udah gue tarok bagasi"
"Makasih" ucap Evelyne dan tersenyum singkat.
"Yaudah turun" aku turun dari mobil dan diikuti Evelyne. Aku mengambil yang sudah ku beli tadi.
"Lo beli apa aja Ed? Banyak banget"
"Bahan makanan sama pakaian buat keluarga lo"
"Banyak banget"
"Gue beli bahan makanan banyak karena gue nggak tau apa yang mau lo masak"
"Terus pakaiannya kok banyak juga"
"Gue beli pakaian banyak karena gue nggak tahu selera orang tua lo kaya gimana, kalau pakaian buat adik lo sih gue udah beli yang cocok dan gue yakin pas buat dia, dan gue juga beli baju buat gue dong, buat keluarga gue juga"
"Gue enggak?"
Aku memegang kedua pipi Evelyne dengan kedua tangan ku.
"Nggak terlupakan" ucapku dan hanya di balas senyuman dari Evelyne. Kurasa Evelyne sudah membaik sekarang.
"Apa gue tanya sekarang aja gimana ya? Masalah tadi" bimbangku dalam hati.
"Vel"
"Apa?"
"Eeemmm eeh nggak jadi deh"
"Aneh lo, kenapa? Kepala lo kepentok" ucap Evelyne mengusap-usap keningku dan meniupnya.
"Maksud gue, gue bantuin lo masak"
"Yaudah ayo"
Kini aku dan Evelyne sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku memotong motong sayuran, sementara Evelyne sedang menggoreng ikan.
"Mau masak apa vel?"
"Makanan kesukaan mama gue"
"Makanan khas Korea?"
"Enggak, gue mau masak yang khas Indonesia, karena pasti mama kangen makanan Indonesia"
"Eeh tapi vel, nanti kita makannya beli aja ya? Gue pengen nyobain makanan khas Korea"
"Oke, bos"
"Dibilangin jangan manggil gue bos juga, bandel amat dah"
"Serah gue dong, mulut mulut gue"
"Cium nih" Evelyne menghentikan kegiatannya, entah apa yang terjadi dengan Evelyne, apa yang salah dari ucapan ku?
"Vel gue bercanda kok"
"Nggak lucu"
"Ya sorry"
"Udahlah lanjut masak lagi, udah hampir tengah hari"
.
.
.
"Akhirnya jadi juga makanannya, wangi banget aromanya, gue cobain"
"Eeeiits enak aja, tadi katanya mau makan makanan khas Korea, ini khusus buat keluarga gue"
"Iya deh" ucapku pasrah.
"Yaudah ayo anterin makanan ini"
"Eeh pakaian buat keluarga lo juga jangan lupa di bawa"
"Oooh iya, ini mana yang buat mama gue?"
"Ini niih, yang warna coklat susu sama biru laut itu yang buat keluarga lo, gue emang sengaja beliin mereka warna yang sama"
"Pinter, yang punya gue yang mana?"
"Udah nanti aja, ini kita ke apartemen bonyok lo dulu"
.
.
.
.
.
.
.
Kini aku dan Evelyne sudah sampai di depan apartemen orang tua Evelyne tapi, seperti tidak ada orang di dalam, karena kita sudah memencet bel berkali kali. Bahkan Evelyne sampai mengetuk pintu apartemen ini.
"Maa... Mama papa.... Kalian ada didalamkan" ucap Evelyne dan menggeraskan ketukan pintu itu.
"Mama papa please bukain pintunya"
"Udah vel, kayanya orang tua lo gak ada di rumah"
"Nggak, gue mau disini sampai orang tua gue bukain pintu"
"Siapa tahu aja, mama papa lo di rumah sakit nemenin adik lo"
"Nggak, gue tahu mereka pasti di dalam"
"Udah vel ayo"
"Nggak, ma pa buka pintunya"ucap Evelyne dan terus menggedor pintu apartemen sesekali dia memencet bel.
"Jangan berisik, mengganggu orang saja kalian" (dalam bahasa Korea) ucap seseorang yang keluar dari apartemen sebelah.
"Maaf, bukan maksud untuk mengganggu istirahat Anda" (dalam bahasa Korea).
"Tuuh orang bacot apaan vel?"
"Nggak boleh berisik katanya"
"Ooh... bacot banget dah tuh orang"
"Yaudah kita pulang aja, barang sama makanan di taruh sini aja"
"Nanti kalau diambil orang gimana?"
"Nggak papa dari pada mubazir"
Akhirnya kami meninggalkan barang serta makanan yang sudah kami bawa. Kami memutuskan untuk pergi dari apartemen orang tua Evelyne dan memilih untuk membeli makan.