Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 49



"kau gila"


"Kenapa?"


"Dengar Evelyne, apa yang kau lakukan disini?"


"Bekerja apa lagi?"


"Ikut aku" kesal Azelvin menarik tangan Evelyne untuk mengikutinya, Azelvin meminta Evelyne masuk kedalam mobil dan Evelyne mengikuti permintaannya.


"Apa yang kau bicarakan dengan Jackson tempo hari?"


"Jackson? Dia itu ayahmu, setidaknya...."


"Bukan itu yang mau ku bahas, sudahlah jangan mengalihkan bahan pembicaraan, jawab saja pertanyaan ku, apa yang kau bicarakan dengannya?"


"Tentu saja masalah pekerjaan apa lagi?"


"PEKERJAAN?"


"Hu'um"


"Lalu? Apa yang kau lakukan di perusahaan tidak jelas tadi?"


"Bekerja"


"Ciih.... Kau bahkan belum menyerahkan surat pengunduran diri mu tapi kau sudah bekerja di perusahaan lain, bahkan sudah seminggu kau tidak datang ke kantor atau hanya sekedar menemuiku, kau menghindariku karena kau tidak mau hubungan mu dengan Edzard rengang? Kalau itu alasan mu aku akan menerimanya dan akan ku tunggu surat pengunduran dirimu"


"Kau ingin sekali aku resign?"


"TIDAK, tapi apa boleh buat"


"Aku benar-benar tidak paham apa yang terjadi pada kepalamu, tapi Mr. Azel jika anda memang menginginkan surat pengunduran diri dari saya, akan saya serahkan itu besok dan ini..


Ini adalah perjanjian untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan yang kau sebut tidak jelas itu, kau hanya perlu menandatanganinya, kalau begitu saya pamit"


"Apa-apaan kau Evelyne, kau menghilang satu Minggu ini seperti ditelan bumi dan sekarang kau tiba-tiba menyerahkan ini padaku, apa yang terjadi? Jelaskan padaku?"


"Saya mengusahakan kerjasama dengan perusahaan teman Mr. Jack seperti permintaan beliau dan saya sudah mendapatkan itu, sudah paham? Karena ini tinggal ditandatangani saja jadi kalau anda menginginkan saya resign, saya akan..."


"Stop, ini aaah... Ini membingungkan untukku, kenapa kau tidak memberi tahuku tentang hal ini? Dan kenapa kau sangat mengusahakan hal ini? Perusahaan tadi bukanlah perusahaan yang bisa membuat kita untung besar"


"Mr. Azel yang terhormat saya diberikan tugas ini langsung oleh Mr. Jack, saya pikir beliau sudah memberitahukan hal ini pada anda, dan pertanyaan kedua anda sebaiknya anda tanyakan pada Mr. Jack, kalau begitu saya..." Sebelum Evelyne menyelesaikan ucapannya, karena sebenarnya Evelyne ingin turun dari mobil Azelvin, tapi Azelvin sudah lebih dulu melajukan mobilnya.


Sesampainya di kantor Azelvin menanyakan hal yang menurutnya penting.


"Bagaimana?"


"Apa?"


"Kau dan Edzard"


"Memangnya ada apa dengan aku dan Edzard?"


"Kalian bertengkar bukan? Apa sudah baikan?"


"Tidak ada yang terjadi"


"Terserah lah, sampaikan dokumen dokumen ini sesuai dengan nama yang tertera" ucap Azelvin dan pergi, Evelyne tidak mau menanggapi hal tersebut secara berlebihan jadi lebih baik dia mengerjakan apa yang diminta Azelvin tadi.


.


.


.


.


.


Zachary company


"Bang" ucap Azelvin yang tiba-tiba masuk keruangan Edzard.


"Bang? Emang gue tukang somay, tukang bakso"


"Edzard, baikan dong sama Evelyne, gue jadi ngerasa nggak enak tau"


"Emang gue sama Evelyne kenapa? Perlu banget baikan gitu"


"Edzard, salah lo juga sih, kalian pacaran tapi kalian nyembunyiin itu dari gue"


"Sekarang gini deh Vin, kalau seandainya Lo udah tau tentang gue sama Evelyne, apa Lo yakin Lo bisa relain perasaan lo?"


"Seenggaknya gue... Gue bisa usaha jauhin Evelyne, mulai sekarang gue janji, gue akan berusaha jauhin Evelyne"


"Vin, jangan kaya bocah dong, lagian gue sama Evelyne juga fine fine aja, Lo nggak bisa jauhin Evelyne gitu aja, Evelyne sekretaris Lo"


"Tapi..."


"Udahdeh Vin, Lo ganggu gue kerja aja, pergi Lo"


"Gak asik Lo" ucap Azelvin dan pergi.


.


.


.


.


.


Kacau satu kata itu yang dapat mendeskripsikan keadaan sekarang, Azelvin dan Edzard sudah seminggu ini menjauhi Evelyne, Edzard yang tidak bisa dihubungi, Azelvin yang irit bicara.


Awalnya Evelyne tidak terlalu memikirkan hal itu tapi lama-lama terasa aneh dan Evelyne tidak terbiasa dengan itu.


"Sir bagaimana kalau kita makan siang di luar?"


"Tidak perlu"


"Oh... Kalau begitu saya pesankan makan siang untuk Mr. Azel"


"Tidak perlu"


"Ya sudah, saya akan makan siang di luar kantor, kalau ada hal penting hubungi saya" ucap Evelyne dan Azelvin hanya berdehem sebagai jawaban.


Evelyne menghembuskan nafas kasar dan melangkahkan kakinya ke luar kantor.


Evelyne menghubungi Edzard berkali-kali namun Edzard menolak panggilan telepon darinya, bukan Evelyne jika menyerah begitu saja.


"Edzard, halo Ed" ucap Evelyne saat panggilan teleponnya sudah diangkat.


"Apa?"


"Lo bisa nemenin gue makan siang nggak"


"Gue sibuk"


"Ooh okey, see you"


Evelyne menghembuskan nafas kasar dan melanjutkan langkah kakinya, Azelvin hendak menghampiri Evelyne namun tidak jadi karena ragu.


Evelyne kini berada di restoran dekat kantor dan memakan hidangannya dengan tidak bernafsu, lebih tepatnya memandangi hidangan makanan dengan tidak nafsu.


"Kok cuma dilihatin doang? Emang kalau lihat makanan bisa bikin kenyang" ucap seseorang yang membuat Evelyne mendongakkan kepalanya.


Evelyne bangkit dari duduknya dan hendak menjauh dari orang tersebut, namun tangannya lebih dahulu dicekal.


"Gue nggak akan berbuat jahat kok, Lo gak percaya? Lagian disini banyak orang, gue juga mikir-mikir kali kalau mau jahatin Lo"


"Oke, Lo mau apa?" Tanya Evelyne to the poin.


"Gue cuma mau minta maaf, gue tahu apa yang udah gue perbuat itu bukan hal yang sepele dan pantes dibuat main-main, tapi Vel Lo harus percaya sama gue, gue beneran minta maaf sama Lo, gue juga nggak maksa Lo buat maafin gue kok"


"Gue nggak habis pikir ya, Lo berbuat hal yang buruk ke gue dan tiba-tiba minta maaf kaya gini, Lo pikir gue percaya"


"Vel dengerin gue dulu, gue terobsesi sama Elsa, jadi gue bales dendam ke Azelvin lewat Lo, maaf udah ngelibatin Lo dalam masalah gue, dan sekarang gue udah sadar Elsa bukan orang yang pantes gue perjuangin sampe segitunya. Lo tahu gue menyesal banget, padahal Lo orang baik, Lo baik ke gue, Lo satu-satunya orang yang memahami gue, gue masih inget dulu waktu kuliah Lo nasehatin gue vel dan gue juga masih inget apa yang lo bilang seberapa besar kecil kesalahan yang Lo perbuat yang terpenting adalah Lo nggak ngulangin kesalahan itu dan berusaha memperbaikinya. Lo pernah bilang kaya gitu ke gue vel, dan gue mau memperbaiki keselahan yang udah gue perbuat"


"Serius ver, gue masih bingung dengan apa maksud semua ini. Coba lo bayangin kalau Lo yang ada di posisi gue, apa Lo akan maafin gitu aja? Perbuatan Lo itu fatal Alvero"


"Gue tau, tapi maafin gue vel, gue bener bener nggak habis pikir juga sama diri gue sendiri, kenapa gue bisa berbuat hal sekeji itu, maafin gue ya" ucap Alvero, Evelyne lelah dengan semua ini dan hendak beranjak pergi namun langkahnya terhenti.


"Mama gue meninggal" ucap Alvero yang membuat Evelyne menghentikan langkahnya.


"Ini nggak lucu, gausah sampe segitunya cuma gara-gara lo ingin mendapatkan maaf dari gue"


"Gue nggak bohong, Mama gue kecelakaan saat dia mau nemuin Lo, Mama gue tau apa yang gue perbuat ke Lo waktu di Jepang dan akhirnya dia mau minta maaf sama Lo"


"Serius?" Tanya Evelyne dan Alvero mengangguk.


"Terus, sekarang Lo gimana?"


"Gue makin kacau vel, mama gue udah nggak ada dan papa nyalahin gue atas meninggalnya mama, papa gue sekarang sering mabuk-mabukan dan bawa cewek nggak jelas. Ini emang salah gue, kalau seandainya gue nggak berbuat kaya gitu ke Lo mama nggak akan kecelakaan"


"Gue turut berduka, gue belum bisa maafin Lo sepenuhnya, tapi gue tahu lo itu aslinya orang yang baik mungkin saat itu Lo bener bener terobsesi jadi gue bisa pahami itu, yang terpenting Lo bisa memperbaiki keadaan Lo dan keluarga Lo sekarang. Lo nggak perlu mikirin tentang gue, dengan Lo yang menjadi lebih baik dan papa Lo yang bisa ikhlas atas kepergian mama lo, gue yakin gue akan maafin Lo, sekarang Lo fokus aja sama cita-cita lo"


"Lo tahu nggak vel, gue nggak punya cita-cita" lirih Alvero yang membuat Evelyne tertawa.


"Terus Lo mau gimana? Masih kuliah?"


"Udah lulus lah, gue juga udah kerja kok"


"Ya bagus dong, Lo tekuni aja kerjaan lo itu"


"Tapi..."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-napa kok"


"Oh, Lo gak pesen makan gitu?" Tanya Evelyne akhirnya Alvero memesan makanan, setidaknya kini Evelyne melupakan masalahnya sejenak.


"Oh ya, di kantor Lo ada lowongan kerja nggak?"


"Ada kok, tapi tadi katanya udah ada kerjaan"


"Kantor gue nggak enak, ada Elsa jadi nggak nyaman deh"


"Bilang aja belum bisa move on"


"Enak aja kalau ngomong, masa seorang Alvero nggak bisa move on. Tapi ya... Sebenarnya gue pengen punya usaha sendiri gitu"


"Usaha apa emang?"


"Gue pengen punya bengkel, gimana menurut lo? Gue cocok jadi pegawai kantoran apa montir?"


"Gausah cocok cocokkan yang penting Lo nyaman aja sama pekerjaan Lo. Jadi mau kerja apa nih?"


"Gue kerja kantoran dulu aja kali ya... Buat cari modal, nggak enak kalau apa-apa papa"


"Ini baru temen gue, yaudah besok Lo datang ke Alsh galaxy company, okey"


"Oke, Lo mau balik ke kantor sekarang?"


"Hu'um masih ada kerjaan soalnya"


"Yaudah gue anterin"


"Orang deket juga, jalan juga nyampe"


"Nggak boleh menolak tawaran orang istimewa kaya gue"


"Oke deh kalau Lo maksa, lagian gue males jalan" ucap Evelyne yang membuat Alvero tertawa.


.


.


.


.


.


Alsh galaxy company


Evelyne kembali ke kantor sedikit terlambat selain karena terlalu asik dengan Alvero, sebenarnya Evelyne eem... katakan saja dia sengaja melakukan itu, Evelyne sungguh-sungguh rindu dengan Omelan seorang Azelvin Aleston, rindu keangkuhannya, rindu tatapan tajamnya, rindu ketidak warasannya, Evelyne merindukan semua yang dimiliki Azelvin.


Oleh karena itu dia kembali ke kantor terlambat agar Azelvin memarahinya, katakan saja Evelyne bodoh, Evelyne sudah tidak peduli dengan itu.


"Mr. Azel maaf say..."


"Segera selesaikan pekerjaanmu" ucap Azelvin yang membuat Evelyne menghembuskan nafas kasar. Jangankan memarahinya melihat kearahnya saja tidak.


"Lihat saja aku akan membuatnya marah, tunggu saja besok" ucap Evelyne dalam hati. Evelyne menghentakkan kakinya.


"Apa yang kau lakukan? Selesaikan pekerjaanmu" sentak Azelvin yang masih saja fokus pada dokumen yang berada ditangannya.


"Baik Sir" Evelyne menatap Azelvin dengan kesal. Evelyne segera menyelesaikan pekerjaannya.


Ketika sudah waktunya mereka pulang, Azelvin berlalu melewatinya begitu saja. Evelyne meneteskan air matanya.


"Azelvin kenapa kau melakukannya?" Ucap Evelyne yang membuat Azelvin menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau mengacuhkanku, aku tidak bisa menerima ini, tidak bisakah kau bersikap seperti biasanya" ucap Evelyne mulai terisak.


"Dan membiarkan rasa ini semakin tumbuh yang bisa saja melukaiku dikemudian hari? Kau pikir kau yang lebih tersakiti disini? Kau pikir aku baik-baik saja saat harus mengacuhkanmu? Jika kau tidak bisa membalasnya setidaknya jangan membuatnya semakin rumit" Azelvin sama sekali tidak menoleh kebelakang hanya sekedar melihat Evelyne, bahkan kini Azelvin melanjutkan langkah kakinya lagi.


Tubuh Evelyne merosot dan terduduk dilantai sembari terisak pilu, bagaimana? Apa yang harus dia lakukan?


Azelvin menoleh kebelakang dan hendak menghampiri Evelyne, namun dia menggelengkan kepalanya dan mengurungkan niatnya.


.


.


.


.


.


Ketika Evelyne dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Evelyne berhenti disebuah taman ketika melihat seseorang yang familiar.


"Lo kenapa?" Tanya Evelyne menepuk bahu Alvero.


"Evelyne" ucap Alvero yang bangkit dari duduknya dan memeluk Evelyne.


Alvero menangis?


"Ada apa?"


"Papa Vel, bokap gue kritis"


"Hah? Emang apa yang terjadi" ucap Evelyne dan duduk diikuti oleh Alvero.


"Perusahaan papa gue gulung tikar, dia ditipu sama rekan kerjanya, papa gue kena serangan jantung Vel. Gue nggak tahu harus apa? Gue nggak pegang uang banyak sekarang, gue... gue nggak tahu harus gimana Vel? Apa gue bawa papa gue ke Indonesia aja ya?"


"Nggak Ver, disana papa Lo lebih terjamin, Lo harus kerja, Lo udah nggak bisa jadi Alvero yang dulu, Alvero yang menghambur-hamburkan uang, Alvero yang melakukan hal yang nggak bermanfaat, gue bisa bantu Lo kalau Lo mau, besok datang ke Alsh galaxy company, Lo harus kerja"


"Makasih"


"Yaudah ya... Gue harus pulang, ngantuk banget gue" ucap Evelyne meninggalkan Alvero. "ALVERO SEMANGAT" teriak Evelyne yang membuat senyuman terulas dibibir Alvero.


"EVELYNE BESOK GUE JEMPUT LO"


"OKE, BYE ALVERO"


.............


Keesokan harinya Alvero menjemput Evelyne, mereka berangkat bersama menuju Alsh galaxy company.


Sesampainya di kantor mereka berpisah di lobby.


"Lo semangat interview nya oke" ucap Evelyne memberikan semangat kepada Alvero. Alvero tersenyum dan mengangguk.


Azelvin yang baru saja datang ke kantor melirik kearah Evelyne yang sedang bersama cowok, awalnya dia tidak peduli tapi ketika Azelvin tahu cowok itu adalah Alvero, Azelvin segera menarik tangan Evelyne.


Sesampainya di ruangan mereka suasananya menjadi hening sejenak.


"Lo gak perlu cari muka sampe kaya gini"


"Maksud lo? Siapa yang cari muka coba?"


"Cukup Vel, Lo bertingkah nggak jelas. Datang terlambat dan aaah... Banyak kelakuan aneh Lo akhir-akhir ini.." ucap Azelvin


"Lo pikir gue ngelakuin itu buat apa? Salah lo cuekin gue" ucap Evelyne dalam hati.


"Dan sekarang, sekarang Lo bawa Alvero kesini, Lo lupa apa yang Alvero udah perbuat ke Lo? Stop kaya gini vel. Lo udah gila apa? Itu Alvero, Alvero bukan orang yang bisa diajak main-main, dan sekarang Lo malah bawa dia kesini"


"Alvero cuma mau kerja, dimana salahnya coba?"


"Disini? Gue nggak akan terima dia"


"Semua orang bisa berubah, Alvero itu sebenarnya baik cuma..."


"Stop gue nggak peduli, terserah lo mau apa, lakuin sesuka Lo tapi kalau ada apa-apa gue nggak akan peduli" ucap Azelvin meninggalkan Evelyne begitu saja.