
Jakarta Indonesia
Sudah beberapa hari setelah kejadian Edzard membentak Evelyne, dan sudah berhari-hari pula Evelyne merasa aneh dengan apa yang terjadi pada Edzard, Edzard yang dulunya membawa virus keceriaan untuknya, kini Edzard benar benar menjadi orang yang berbeda, bahkan sekarang Edzard mudah letih.
"Sayang ku Evelyne" teriak seseorang.
"Kebiasaan lo Grace, ngagetin gue aja"
"Hello, salah siapa coba dari tadi bengong" ucap Grace dengan suara cetarnya
"Eeem nggak kok"
"Kalau nggak,kenapa itu minuman lo aduk-aduk mulu hah"
"Gue cuma terlalu seneng aja, lusa baksos kan? Jadi gue seneng aja semuanya udah clear"
"Beneran gitu?"
"Iyalah, gue juga mau terimakasih sama Vero"
"Ngapain juga lo terimakasih sama dia?"
"Dia udah bantu banyak, udah seharusnya gue berterimakasih sama dia"
"Nggak usah, lo tuh jangan deket-deket sama dia"
"Kenapa? Vero itu udah tergabung dalam panitia penyelenggara baksos jadi mau nggak mau gue harus deket sama dia" ucap Evelyne menjelaskan.
"Lo nggak ada perasaan apa-apa sama Vero kan?"
Tanya Grace yang hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Evelyne.
"Bagus, kalau ginikan ada kesempatan buat si...." Ujar Grace
"Si?"
"Si.... Siapa aja, intinya jangan si Vero"
"Vero itu baik kok, ya walaupun kadang-kadang ngeselin tapi..... Dia itu bisa bikin gue ketawa" tutur Evelyne yang tidak disetujui Grace.
"NOOOO NO NO NO BIG NO, pokoknya lo jauh-jauh dari Vero, feeling gue mengatakan bahwa Vero itu nggak baik"
"Dia baik kok sama gue, dia nggak pernah nyakitin gue"
"Evelyne jangan deket-deket Vero dia mau jahatin lo, duuuh gue bilang sama Evelyne gimana ya?" Ucap Grace dalam hati.
"Gue itu sahabat lo, lo maukan kabulin permintaan gue, gue juga nggak pernah minta hal-hal aneh sama Lo, gue minta lo jauhin Vero, dia itu nggak baik buat Lo dia it........."
"Itu apa?" Ucap seseorang yang memotong pembicaraan Grace.
"Lo kalau nggak tau apa-apa tentang gue nggak usah sok tau, apalagi sampai lo jelek-jelekin gue" ucap Vero kemudian pergi.
"Lo sih Grace kasihankan Vero, gue samperin Vero dulu" ucap Evelyne
"Vel vel.... Duuuh kok malah Evelyne nyamperin Vero" ucap Grace dan diam diam mengikuti mereka.
.
.
.
"Ver.. Vero tunggu dong"
"Ngapain sih lo ngikutin gue? Mau jelek-jelekin gue juga?" Tanya Vero emosi.
"Nggak gitu, duduk dulu"
"Buat apa?"
"Udah duduk aja kek, ribet amat" ucap Evelyne yang sudah duduk dan menarik tangan Vero sehingga dia terduduk juga.
Hening
Evelyne harus bingung berbuat apa, bicara apa dia bingung.
"Ver" "Vel" ucap mereka berdua bersamaan.
"Lo aja dulu" ucap Vero
"Gue minta maaf karena perkataan Grace tadi, Grace emang gitu orangnya, jadi nggak usah diambil hati ucapannya, mungkin tadi Grace bercanda" ujar Evelyne meminta maaf kepada Vero.
"Nggak usah minta maaf, emang gue ini orang yang nggak pantes dapat kata maaf, gue pembuat onar, biang masalah, gue suka tawuran, balap liar, mabuk-mabukan, tapi itu dulu... Apa udah nggak ada kesempatan buat orang bejat ini untuk berubah? Gue emang sering mukul orang sering dipukul orang, tapi sakit itu nggak sesakit hati gue ketika orang-orang remehin gue, jelek-jelekin gue" tutur Vero dan Evelyne hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Vero, ada rasa simpati sehingga Evelyne mulai mengusap-usap bahu Vero berusaha menegarkan hati lelaki disampingnya ini.
"Mereka selalu memandang rendah gue... Vero? Siapa Vero? Si pembuat onar, biang masalah, tapi mereka nggak pernah tahu gimana usaha kerasnya gue buat jadi orang yang baik, gue berteman sama mereka semua karena emang gue beneran mau berteman sama mereka, tapi mereka berteman sama gue karena punya tujuan, gue tahu itu gue tahu, tapi apa? Gue coba terima mereka semua dengan baik, gue pura-pura nggak tahu, tapi tetep aja gue nggak pernah dihargai siapapun, temen-temen gue, bahkan keluarga gue, gue adalah orang yang nggak penting buat mereka, apa lo juga kaya mereka vel?" Ucap Vero yang mulai terbawa emosi.
"Kenapa lo nggak jawab? Hah lo sama aja kaya mereka vel" emosi Vero yang hendak beranjak.
"Ver, gue percaya kok sama Lo, lo orang yang baik ver, buktinya lo bantuin gue, lo .... Lo nggak pernah nyakitin gue, lo ikhlas nganterin gue, lo baik ver"
"Lo nggak bohong, kalau yang lo ucapin cuman bertujuan buat gue seneng mending lo jauhin gue, Grace juga minta lo jauhin guekan?"
"Nggak ver, lo jangan kaya gini, gue tahu lo itu orangnya tulus, buktinya sampai sekarang lo nggak pernah nyakitin gue, Lo bener lo itu pembuat onar, pembuat masalah, tapi.... Bukankah semua orang bisa berubah, semua orang pernah membuat kesalahan, gue juga pernah buat kesalahan, nggak cuma lo, bahkan sampai sekarang keluarga gue belum maafin kesalahan gue, tapi gue juga paham perasaan mereka mungkin mereka kecewa sama apa yang udah gue lakuin, mereka merasa gagal jadi orang tua, jadi mereka belum bisa maafin gue, dan lo juga harus positif thinking sama keluarga lo, orang tua lo pasti sayang sama lo, apa yang dilakuin orang tua lo itu demi kebaikan Lo, nggak peduli seberapa besar kecil kesalahan yang pernah lo buat, yang terpenting lo nggak ngulangin kesalahan itu dan lo berusaha memperbaikinya" usaha Evelyne menasehati Vero.
"Lo bener. Lo sama gue ternyata nggak beda-beda jauh, gue sama lo punya masalah yang sama"
"Idiiiih ya bedalah, Lo ngelakuin kesalahan lo karena kesenengan lo, sementara gue itu cuma salah server ajalah" ucap Evelyne berusaha menghibur Vero.
"Ngeselin ya, tiba-tiba bisa berubah tadi aja nasehatin gue sampe hampir nangis"
"Apa apa hampir nangis? Nggak salah gue? Bukannya udah nangis ya? Dasar cowok lemah"
"Eeh apa-apa?" Vero menggelitiki Evelyne.
"Udah dong, geli tau, mau gue tendang lo"
"Tendang aja tendang, tapi pake cinta ya"
"Bucin"
"Vel....... Eem gue boleh peluk lo? janji nggak macem-macem, cuma peluk" ucap Vero yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Evelyne.
Vero memeluk Evelyne, rasanya Vero tidak pernah menemukan orang setulus Evelyne, sementara Evelyne mengusap-usap punggung Vero berusaha memberikan ketenangan untuk Vero.
Ekheem ekheem
Deheman seseorang membuat keduanya menoleh ke sumber suara.
"Nggak mau lepasin dulu itu pelukannya?" Sindir Grace.... Ya orang itu Grace.
"Apa Lo?" Ucap Vero dan malah mempererat pelukannya.
"Udah dong ver, jangan kaya anak kecil deh, dan lo Grace, minta maaf sama Vero" ucap Evelyne mengarahkan telunjuknya ke Grace.
"Ogah, ngapain juga gue minta maaf sama orang kaya dia" ucap Grace tidak mengindahkan permintaan Evelyne.
"Udahlah kalau Grace nggak mau minta maaf sama gue, gue aja yang berterima kasih ke Grace" ujar Vero membuat Evelyne dan Grace bingung dengan ucapannya. Evelyne dan Grace saling melirik, keduanya juga menggelengkan kepalanya masing-masing tanda mereka tidak paham.
"Karena Grace gue jadi bisa deket dan peluk my dear" ucap Vero dan pergi sembari bersenandung ria, senyuman tidak henti-hentinya terulas dibibir Vero.
"Vel, Evelyne, dengerin gue dong"
"Apa?"
"Jauhin Vero"
"Ya buat apa?"
"Jauhin dia"
"Lo nggak ngasih tau ke gue alesan yang jelas kenapa gue harus jauhin dia"
"Vero itu berbahaya buat Lo"
"Mceek.... Udahlah Grace nggak usah nethink gitu sama Vero, Vero itu nggak seburuk yang lo pikirin"
"Masalahnya lo nggak tahu sih"
"Yaaa.... Gimana gue tahu? Lo nggak ngasih tahu apa-apa"
"Vero itu....... Aaah susah jelasinnya.... Mending lo sama Azelvin aja daripada sama Vero"
"Lo kok tiba-tiba bahas Azelvin, jangan-jangan waktu lo di Korea lo ketemu sama dia, terus dia ngancem Lo supaya....."
"Eenggg....... Nggak kok, gue nggak pernah ketemu Azelvin, gue aja nggak tau gimana mukanya"
"Loh?? Bukannya udah gue kirim fotonya ke lo?"
"Udah sih emang, tapi habis lo kirim gue hapus fotonya, ngapain gue nyimpen fotonya lama-lama, nggak penting juga kan, dan gue udah lupa gimana mukanya"
Evelyne hanya ber'oh' ria.
"Yaudah ayo pulang" ajak Evelyne
"Duuuh gimana ini? Kalau sampai Evelyne lihat Ezra dan tahu kalau gue pacaran sama Ezra, aaah mampus gue, siapa aja dong tolong" ucap Grace dalam hati.
"Grace ..... Kenapa bengong, ayo"
"My dear bareng gue yuk"
"Naah mending lo bareng Vero"
"Aneh lo Grace, tadi nyuruh gue jauhin Vero, sekarang nyuruh gue pulang bareng Vero" heran Evelyne
"Udahlah Vel, Grace emang aneh orangnya" Vero mengejek Grace dan hanya di jawab hembusan nafas kasar oleh Grace.
"Udah vel, Lo pulang bareng Vero aja daripada lo nunggu taksi dulukan, lagi pula dianterin Vero menghemat biaya"
"Oke gue duluan ya" pit Evelyne dan menaiki motor Vero. Vero dan Evelyne sudah berlalu.
"Huufft untung aja" Grace bernafas lega, kemudian dia menghampiri Ezra.
"Sayang gimana? Kamu udah berhasil bujuk Evelyne untuk jauhin Vero" tanya Ezra
"Nggak, mereka malah semakin dekat tau nggak" ucap Grace kesal.
"Sekarang emang Evelyne belum jauhin Vero siapa tahu aja besok, iyakan? Nggak boleh pesimis kaya gitu aah"
"Kamu benar"
.
.
.
"Evelyne"
"Oooi EVELYNE"
Teriak Vero karena Evelyne tidak menjawab ketika ia memanggilnya.
"Gausah teriak juga kali, lo nggak malu apa?"
"Salah lo sendiri, gue panggil nggak nyaut nyaut"
"Haaah APA? SUARA LO KEBAWA ANGIN NGGAK KEDENGARAN"
"GUE MANGGIL LO, TAPI LO NGGAK DENGER"
"OOOH GITUUUU, APAAN?"
"TEMENIN GUE KE MALL"
"NGGAK AAH, NGAPAIN?"
"BELI KADO BUAT NYOKAP, MAU YA"
"NGGAK, KENAPA HARUS SAMA GUE"
"LO KAN CEWEK"
"EMANG KENAPA KALAU GUE CEWEK"
"BISA AJA SELERA LO SAMA KAYA NYOKAP GUE"
"OOH GITU, IYADEH"
"mbak mas kenapa teriak-teriak kaya gitu" ucap seseorang di sebelah mereka yang juga menaiki sepeda motor.
"Maaf pak" ucap Evelyne.
"Lo sih ver jadi malukan gue"
"Salah lo lah, kuping lo tuli"
"Eeh itu mulut mau gue cincang"
"Jangan, cium aja boleh"
"Ogah"
Evelyne dan Alvero sudah sampai di mall.
"Lo mau ngado nyokap lo apa?"
"Enaknya apa?"
"Makanan"
"Kok makanan?"
"Lo tanya enaknya apa ya.... makananlah, makanankan enak"
"Maksud gue tuh, kado yang pantes buat nyokap gue apa?"
"Apa ya?"
"Kok lo nanya balik"
"Siapa yang nanya balik"
"Tadi lo bilang 'apa ya?'"
"Gue lagi mikir bukan nanya balik"
"Ooh, udah belum mikirnya"
"Belumlah, lo ganggu gue siih"
"Lama lo, Lo pengen beli apa?"
"Makanan"
"Selain makanan"
"Minum"
"Selain itu"
"Lollipop"
"Itu makanan"
"Bukanlah, lollipop itu permen"
"Sekarang gue tanya, lollipop makanan apa cor-coran semen hah"
"Makananlah, bego lo gitu pake ditanyain" ucap Evelyne meninggalkan Vero
"Diiih yang bego siapa? Yang dibego-begoin siapa?"
Vero mengejar langkah kaki Evelyne.
"Ver mending lo beliin mama lo kalung aja"
"Eeem ide bagus, pilihin gih" Evelyne mulai melihat lihat kalung yang ada.
"Ini bagus"
"Iya sip, mbak yang ini satu"
"Yaudah buru yok balik"
"Lo nggak mau makan dulu?"
"Nggak"
"Minum"
"Nggak, udah ayok"
Akhirnya Alvero mengantarkan Evelyne pulang ke rumahnya.
.
.
.
Evelyne memasuki rumahnya.
"Duuuh duit habis, kafe tutup mulu, emang kurang ngajar banget si Edzard"
Evelyne merebahkan tubuhnya di kasur.
"Saatnya melakukan penyembuhan" Evelyne kini sedang memperhatikan foto Azelvin di layar ponselnya sembari mendengarkan rekaman suara Azelvin.
.
.
.
.
.
Seoul Korea Selatan
Azelvin kini sedang berusaha menghubungi seseorang.
"Buset, gue telfon dari tadi baru lo angkat" ucap Azelvin dengan orang di seberang sana.
"Gue baru nyape rumah"
"Gimana? Lo udah berhasil bujuk Evelyne buat jauhin Alvero?"
"Belum, malah niih ya mereka semakin dekat tau nggak"
"Kok bisa"
"Jadi tadi gue udah bilang ke Evelyne untuk jauhin Vero, tapi Evelyne tanya alesan kenapa dia harus jauhin Vero"
"Terus lo bilang?"
"Nggak lah, si Vero keburu dateng dan kaya tersinggung gitu, terus Vero marah dan pergi naaah Evelyne ngejar si Vero"
"Terus terus gimana? Kekejar nggak?"
"Jangan potong dulu, dengerin. Naaah gue ikutin mereka, mereka duduk di taman berdua, mereka kaya ngomong apa gitu? Gue juga nggak tahu kayanya sih curhat curhatan karena Vero kaya nangis nangis gitu, terus mereka pelukan mana lama banget lagi, pas gue dateng aja mereka nggak lepasin pelukannya dan Vero malah tambah meluk Evelyne"
"Kenapa Evelyne mau? Alvero bener bener pinter buat nyari perhatian Evelyne sampai pake nangis-nangis segala, gue yakin itu cuma alibi dia doang biar Evelyne simpati sama dia. Lo lakuin sesuatu dong biar Evelyne jauhin Vero"
"Lo pikir gampang apa? Gue harus ngapain?"
"Lo pikirin lah caranya"
"Kok gue?"
"Iyalah siapa lagi, emang lo mau Evelyne sampai kenapa-napa?"
"Ya nggaklah, amit amit, tapi lo bantuin mikir kek gimana caranya"
"Iya gue pikirin dulu caranya, besok gue kasih tahu sama lo, gue juga akan kirim beberapa orang buat bantuin lo"
"Naaah gitu, yaudah bhaay, ntar pacar gue cemburu lagi"
"Nggak mungkinlah, guekan sahabatnya sendiri, lagian dia juga tahu kalau gue suka sama Evelyne"
Azelvin mematikan sambungan teleponnya secara sepihak seperti kebiasaannya.
"Evelyne gue harap lo juga lakuin apa yang gue lakuin sekarang, tapi mana mungkin" Azelvin sedang menatap layar ponselnya yang menunjukkan foto Evelyne di sana yang tersenyum manis.