
Azelvin menelusuri jalanan, dengan mobil sport miliknya dia membelah jalanan yang nampak sepi, mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang seharian tanpa kabar.
Tidak peduli lagi? Itu adalah tipuan yang paling bullshit yang pernah terlontar dari mulutnya.
Dia melihat sosok yang familiar, kemudian dia menghentikan mobilnya dan menghampiri orang tersebut.
"Evelyne, Lo gila... Lo mabuk vel" ucap Azelvin, "pusing" ucap Evelyne lirih. Azelvin menggendong Evelyne dan membawanya ke dalam mobil.
"Lo kenapa bisa sampai kaya gini sih? Lo gila? Lo nggak pernah sampai kaya gini... Seharian ngilang nggak ada kabar dan tiba-tiba gue nemuin Lo dipinggir jalan dalam keadaan mabuk, Lo gak mikir kalau seandainya ada yang jahatin Lo, kalau Lo diculik terus dibuang ke laut mau Lo dan bla bla bla..." Ucap Azelvin yang terdengar seperti ocehan tidak jelas ditelinganya.
Azelvin menggendong Evelyne sampai ke apartemennya, dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia melepaskan sepatu yang Evelyne kenakan. Azelvin memberikan Evelyne jus buah segar untuk menetralisir mabuk Evelyne.
Evelyne terisak setelah meminum jus yang diberikan oleh Azelvin, bukan karena Evelyne tidak menyukai minuman yang diberikan Azelvin tapi...
"Lo kenapa vel?" Tanya Azelvin lirih dan lembut.
"Dia jahat Vin, gue... gue nggak nyangka dia bisa sejahat ini" ucap Evelyne terdengar tidak jelas.
"Kenapa? Lo kenapa?" Tanya Azelvin yang terdengar sangat khawatir, "Edzard... Dia, dia..." Evelyne tidak melanjutkan ucapannya dan kembali terisak.
"Ada apa Lo bilang sama gue, mungkin gue bisa bantu?" Tanya Azelvin dan Evelyne beranjak kemudian menggelengkan kepalanya. "Gue mau pulang" Evelyne hendak pergi namun tangannya ditarik oleh Azelvin dan memeluknya.
"Edzard, gue nggak nyangka Lo setega itu, gue tahu gue bukan cewek spesial yang pantas Lo cintai, setidaknya Lo hargai gue, gue pacar Lo Ed, kalau Lo emang udah nggak ada perasaan sama gue, seenggaknya lo bilang sama gue, nggak perlu kaya gini Lo jahat Ed, Lo jahat" ucap Evelyne memukul Azelvin melampiaskan kemarahannya. Azelvin hanya diam membiarkan dirinya terkena pukulan tangan Evelyne yang tidak seberapa.
Dari ucapan yang Azelvin dengarkan dengan lamat-lamat tetapi Azelvin masih tetap tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka sebenarnya.
"Vel, ada apa?" Tanya Azelvin. "Edzard dia nggak ngakuin gue, dia malu punya pacar kaya gue, gue nggak tahu yang tadi itu siapa tapi mungkin itu ceweknya" lirih Evelyne yang dapat membuat rahang Azelvin mengeras seketika.
.
.
.
.
.
Buugh buughh
Azelvin yang baru saja datang ke kantor Edzard langsung memberikan pukulan untuk Edzard begitu saja.
"Lo gila"
"Elo yang gila, gue jauhin Evelyne dan nggak peduli sama dia, Lo pikir gampang buat gue ngelakuin itu... Tapi gue tetep ngelakuin itu karena gue percaya Lo cowok baik, cowok yang tepat buat Evelyne, ternyata gue salah lo nggak lebih dari seorang bajingan" ucap Azelvin.
"Apaan sih lo, baru dateng marah-marah gak jelas cuma buat cewek kaya Evelyne" cibir Edzard remeh.
"Maksud lo apa ngomong kaya gitu?"l0
"Nggak perlu segitunya kali, Evelyne bukan cewek spesial yang harus lo jagain sampe segitunya" ucap Edzard remeh.
"Nggak peduli apapun ucapan Lo, gue tetap akan jaga dia" ucap Azelvin penuh penekanan.
"Yakin?" Ucap Edzard remeh sembari menaikan satu alisnya.
"Gue akan jagain Evelyne terutama dari orang kaya Lo, camkan itu" ucap Azelvin dan pergi sembari membanting pintu Edzard.
________
Evelyne berjalan cepat menuju taman setelah mendapat pesan dari Azelvin. Dan ketika Evelyne tanya 'ada apa?' Azelvin malah tidak menjawabnya.
Evelyne berlari setelah melihat keberadaan Azelvin.
Huuft huuft
Nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan.
"Siapa yang nyuruh Lo lari" ucap Azelvin dengan muka garangnya.
"Eeh?"
"Duduk" ucap Azelvin yang langsung di turuti Evelyne begitu saja. Azelvin menyodorkan minuman ke Evelyne tenpa menoleh ke Evelyne.
"Kenapa nggak bawa motor?" Tanya Azelvin.
"Di bengkel" ucap Evelyne sebagai jawaban.
"Tunggu disini" Azelvin beranjak dari duduknya dan entah pergi kemana. Evelyne masih bingung kenapa Azelvin memintanya kemari. Evelyne melihat siswi SMA yang hendak dijahati, saat Evelyne hendak menolongnya, sudah ada siswa SMA yang menolong gadis itu, jadi Evelyne mengurungkan niatnya. Evelyne menyunggingkan senyumnya teringat akan sesuatu. Evelyne dikejutkan tangan dihadapannya yang menyodorkan ice-cream.
"Kata orang ice-cream bisa memperbaiki mood" ujar Azelvin. Evelyne menerima ice-cream yang diberikan Azelvin, sangat sulit menolak sebuah ice-cream apalagi dihari yang panas seperti ini.
"Katanya yang manis-manis juga bisa memperbaiki mood, jadi gue beli ini" ucap Azelvin.
Lollipop? Gulali? Coklat? Boneka? Untuk apa semua itu?
Azelvin merebut ice-cream yang berada di tangan Evelyne, dan memakannya.
"Udah dikasih masa diminta lagi, pamali tau" ucap Evelyne kesal.
"Minta dikit doang kok, pelit amat sih"
"Dikit ya... Jangan banyak-banyak, gue lihatin nih" ucap Evelyne sembari memperhatikan dengan serius Azelvin yang tengah memakan ice-cream. Kemudian Evelyne merebut ice-creamnya kembali.
"Ice-cream gue, Lo makannya banyak banget sih"
"Itu ice-cream juga yang beli gue"
"Tapikan Lo udah ngasih ini buat gue, eh buat apa Lo ngasih ini ke gue? Jadi Lo minta gue kesini cuma mau ngasih ini? Gue pikir lo kenapa-napa" kata Evelyne yang masih saja fokus pada ice-cream nya.
"Kenapa?" Tanya Azelvin.
"Lo sih cuma ngirim pesan ke taman sekarang, kan gue jadi mikirnya Lo kenapa-napa, bikin khawatir orang aja" ucap Evelyne kesal.
"Jadi Lo tadi buru-buru kesini karena kha-wa-tir sama gue?" Tanya Azelvin menekan setiap suku kata yang terdapat dikata khawatir.
"Iyalah... Eeh enggak kok, cuma lagi pengen lari aja, udah lama nggak olahraga" ucap Evelyne alibi.
"Heeem udah ketawan juga masih aja ngelak, yaudah besok kita joging"
"Buat apa?"
"Katanya Lo udah lama nggak olahraga, gue nggak mau punya sekretaris yang nggak sehat dan bugar"
"Dan kalau Lo mau keluar rumah kasih tau gue!!" Pinta Azelvin.
"Buat?" Tanya Evelyne yang tidak paham apa yang Azelvin maksudkan.
"Nurut aja kenapasih, jadi sekretaris harus nurut" ucap Azelvin yang dijawab helaan nafas oleh Evelyne.
.
.
.
.
.
Ketika hendak memejamkan matanya setelah melalui hari yang melelahkan, namun Evelyne mengurungkan niatnya ketika mendapatkan notifikasi di ponselnya, sebuah pesan yang dikirim Bianca sukses menghilangkan kantuknya.
Evelyne dengan tergesa-gesa keluar dari rumahnya dan memesan taksi menuju ke suatu tempat.
"Evelyne, kamu udah datang. Kamu jaga Edzard ya... Bunda harus pulang kan kamu tahu ada baby didalam sini" ucap Bianca mengusap perutnya.
Edzard berusaha meraih botol yang berisikan air mineral, namun dia tidak dapat menjangkau dengan benar sehingga menyebabkan botol itu jatuh mengelinding ke arah pintu. Evelyne membuka pintu dan mengambil botol itu, membuka tutup botolnya dan menyodorkan minuman itu ke Edzard, namun Edzard malah menepis tangan Evelyne yang menyebabkan minuman itu tumpah dan berceceran dimana-mana.
"Lo ngapain kesini?"tanya Edzard tanpa melihat Evelyne.
"Jagain orang bego, Lo sakit apa?"
"Gausah sok care, pergi Lo"
"Gue emang peduli sama Lo, gue nggak akan pergi dari sini sebelum Lo kasih tahu Lo sakit apa?"
"Lo mau ngetawain gue setelah Lo tahu gue sakit apa"
"Itu sama sekali nggak terbesit di pikiran gue Ed, gue nggak tahu kenapa Lo bisa berubah kaya gini, Edzard yang selalu baik sama gue, Edzard yang selalu ada buat gue, Edzard yang selalu bikin gue nyaman dan bahagia tiba-tiba hilang entah kemana?"
"Lo pikir aja sendiri, pernah nggak Lo mikirin gue, mikirin keadaan gue, disaat gue udah berbuat banyak hal buat lo, apa yang udah Lo kasih buat gue?" Ucap Edzard
"Gue tahu selamanya gue nggak akan bisa bales semua perbuatan baik Lo, tapi gue udah berbuat semampu gue Ed. Gue tahu apa yang udah gue lakuin buat Lo itu nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua yang udah Lo kasih kegue, gue tahu dan gue sadar akan hal itu. Tapi kenapa? Kenapa Ed, Lo tega sama gue. Siapa cewek yang sama Lo kemarin, cewek yang udah berhasil bikin lo bilang gue bukan siapa-siapa, siapa dia Ed?"
"Lo pengen tahu? Dia Angel, sama kaya namanya, dia malaikat buat gue, dia yang udah ngasih gue sayap disaat Lo patahin kaki gue" ucap Edzard.
"Kalau Lo emang sayang sama dia harusnya Lo bilang ke gue, Lo nggak perlu lakuin hal kaya kemarin. Lo jahat Ed"
"Gue jahat? Iya itu Lo tahu, jadi lebih baik Lo pergi sebelum orang jahat ini berbuat jahat sama lo"
"Enggak, sebelum Lo kasih tahu gue, Lo sakit apa? seenggaknya lo kasih tahu gue kenapa Lo bisa sakit kaya gini? Kalau Lo kasih tahu gue, gue akan pergi"
"Lo mau tahu alasannya? Karena gue udah jadi orang bego selama ini Vel, gue orang paling bego yang udah menghabiskan waktu berharga gue buat orang kaya Lo, sekarang Lo pergi, gue nggak mau lihat lo lagi" ucap Edzard, Evelyne hendak meraih tangan Edzard, namun seseorang menariknya keluar dari ruangan.
"Evelyne mulai sekarang kamu jangan menemui putra saya, sudah cukup kamu menyakitinya, silakan kamu pergi" usir Ravindra, mau tak mau Evelyne harus segera pergi agar tidak membuat keributan yang dapat mengganggu kenyamanan orang lain.
Alsh galaxy company
Evelyne berjalan terburu-buru meninggalkan kantor setelah dia mengerjakan tugasnya.
"Evelyne" panggil seseorang, Evelyne yang merasa namanya dipanggil akhirnya menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Saya butuh bantuan kamu"
"Tapi Mr. Azel, saya buru-buru"
"Kamu datang kesana lagi setelah apa yang kamu dapatkan kemarin"
"Hah?"
"Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin Evelyne, kau memang sekretaris yang tidak penurut, bukankah aku kemarin sudah bilang beritahu aku jika kau hendak keluar rumah, kemanapun kau pergi beritahu aku"
"Untuk apa saya melakukan itu?"
"Ini perintah"
"Gue cuma mau jenguk orang sakit udah itu aja"
"Gue ikut"
"Nggak Vin, gue..."
"Gue cuma mau jenguk kakak gue, apa nggak boleh?"
"Huuft oke"
_________
Sesampainya di lobby rumah sakit, Azelvin malah menghentikan langkahnya.
"Gue disini aja, gue nggak mau berada dalam jarak dekat dengan bajingan itu" ucap Azelvin.
"Kalau Lo mau pulang, pulang aja"
"Nggak, gue tunggu disini"
"Serius, kalau Lo mau pulang..."
"Gue tunggu disini, titik" ucapan Azelvin tidak terbantahkan, jadi Evelyne hanya mengangguk singkat kemudian menuju ruang rawat Edzard.
"Permisi Suster, biar saya saja" Evelyne menawarkan diri, saat sang perawat hendak menyuapi Edzard.
"Yaudah mbak, terimakasih, saya tinggal dulu" ucap perawat itu kemudian pergi.
"Gue nggak mau makan kalau Lo yang suapin" ujar Edzard yang lagi-lagi tidak mau melihat Evelyne.
"Diih siapa yang mau nyuapin Lo, gue makan sendiri kenyang" ucap Evelyne.
"Itukan punya gue"
"Yaudah niih... aaaa"
"Gue makan sendiri"
"Gue mau suapin Lo gimana dong, kalau Lo nggak mau gue suapin, gue makan sendiri niih... Lihat ini, enak banget loh makanannya, Lo nggak mau? Nggak laper emang?" Evelyne yang terus saja menggoda Edzard.
"Yaudah iya.... Aaa" Edzard akhirnya menurut membuat Evelyne menyunggingkan senyumnya.
"Setelah Lo suapin gue, Lo pergi karena gue nggak mau lihat lo lagi" ucap Edzard yang membuat Evelyne menghela nafasnya.
"Oke gue pergi, tepi besok gue datang lagi buat suapin bayi gede gue, besoknya gue datang lagi, datang lagi, datang lagi"
"Evelyne stop Lo nggak paham sama ucapan gue kemarin? Gue nggak mau lihat muka lo lagi, gue nggak mau ketemu Lo lagi, mulai detik ini dan seterusnya. Lo paham nggak sih? Kalau gue lihat lo gue akan tambah sakit dan semakin sakit" ucap Edzard
"Gue paham, gue tahu, tapi maaf apapun ucapan Lo gue nggak peduli, gue akan terus datang sampai Lo sembuh, kalau Lo nggak mau ketemu sama gue Lo harus sembuh. Lo boleh benci gue tapi lo harus janji Lo akan hidup bahagia"
Evelyne pergi meninggalkan ruang rawat Edzard.Evelyne terisak, dia duduk bersandar pada pintu ruang rawat Edzard. "Gue... Gue tahu, disini gue yang salah. Gue tahu gue bodoh, sebelum eyang meninggal dia bilang sama gue supaya gue nggak nyakitin kedua cucu kesayangannya, tapi gue nyakitin kalian. Gue minta maaf kehadiran gue bikin kalian sakit hati.
Lo tahu dulu waktu SMA, gue nyaman sama lo, gue sayang sama Lo udah sejak SMA sampe sekarang dan selama-lamanya, saat Lo bantuin gue dalam banyak hal gue pikir, gue cinta sama Lo.... tapi maaf, maaf ternyata bukan, andai gue bisa mengendalikan perasaan sesuai kehendak yang gue mau, gue akan cinta sama Lo. Maaf.... Maaf...
Lo tahukan gue udah nyembunyiin rahasia terbesar gue, sebenarnya gue pernah ngandung anaknya Azelvin, gue tahu gue wanita kotor jadi gue rasa gue nggak berhak dicintai cowok sebaik Lo, gue sadar diri... Dan saat gue hamil,gue jadi sering mikirin dia, gue pikir itu cuma bawaan bayi tapi gue salah karena setelah gue udah nggak hamil gue masih mikirin dia,
Saat berada didekat dia rasanya beda, gue nggak tahu, gue belum menyadarinya, gue terlalu bodoh buat menyadarinya, karena gue pikir nggak mungkin ketakutan dan cinta gue rasakan dalam satu waktu... Tapi itu faktanya.
Maaf Ed, maafin gue...
Waktu eyang meninggal dan Lo sedih banget, gue bertindak bego, nggak seharusnya gue buat Lo jatuh terlalu dalam, tapi jujur gue nggak pernah ada niatan buat nyakitin lo apalagi memberi Lo harapan palsu, jadi gue pikir gue bisa berusaha buat cinta sama lo, dan lagi-lagi gue bodoh...
Ternyata saat gue bertemu dia, apa yang mau gue usahain runtuh seketika, gue nggak bisa paksaan perasaan gue, seberapa kuat dan kerasnya gue mencoba, gue tetap sayang sama Lo sebagai kakak gue, sebagai keluarga gue, sekali lagi maaf.
Gue adalah orang yang sudah menyebabkan semuanya seperti ini... Jadi.... Jadi..." Evelyne sudah tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia menangis tersedu-sedu. Azelvin datang dan memeluknya erat, Azelvin sudah menyaksikan dan mendengarkan semua yang Evelyne katakan, bukan hanya Azelvin,tapi dibalik pintu Edzard juga mendengar semua yang diucapkan Evelyne.
Memang tidak seharusnya Evelyne disalahkan dalam hal ini, Evelyne tidak bisa mengendalikan perasaan sesuai yang dia inginkan.
Ini semua takdir...
Bagaimanapun juga Evelyne harus mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat.
Evelyne memandangi rumahnya yang mungkin tidak akan dia kunjungi lagi, rumah yang menyimpan banyak kenangan.
Tapi rumah seharusnya ada sebuah keluarga bukan? Keluarga Evelyne tidak disini, keluarga Evelyne masih ada, jadi lebih baik dia bersama dengan keluarganya.
Evelyne melangkahkan kakinya dengan berat hati, sembari membawa kopernya....
Ini bukan akhir, ya...
Evelyne percaya Tuhan akan melakukan yang terbaik, jadi akan lebih baik dia menjalankan kehidupan barunya, dan menyimpan apa yang terjadi sebagai kenangan dan pembelajaran untuk kedepannya.