
Jakarta Indonesia
Kantin kampus kini terlihat lebih sepi daripada biasanya. Sementara itu Evelyne kini tengah menikmati hidangan makanan yang dia pesan, sebenarnya Evelyne tidak ada jadwal kuliah kali ini tapi dosen tersayangnya itu memintanya untuk datang ke kampus dan membantunya.
"Sayang"ucap seseorang mengejutkannya
"Sayang sayang" ucap Evelyne menatap tajam ke orang yang memanggilnya sayang itu.
"Apa dong kalau gitu? My sweety? Honey? My dear? My love? My sweet heart? Darling?"
"Ganggu makan aja lo, jadi nggak nafsu gue liat Lo"
"Seriusan nggak nafsu" ucapnya dan tersenyum penuh arti.
"Ver, lo nggak ada kegiatan lain selain ganggu gue apa?"
"Ada kok"
"Naah mending lo kerjain kegiatan itu"
"Udah gue lakuin sekarang"
"Hah"
"Hah hoh hah hoh, untung sayang, kegiatan gue selain ganggu lo ya..... Mencintai Lo, sayang sama Lo, mikirin lo, pokoknya semua tentang lo deh"
"Diih, gangguan jiwa lo"
"He'em deh kayaknya, kebanyakan mikirin lo soalnya"
"Ya ampun, Evelyne kan ini?" Ucap seseorang yang baru datang dengan hebohnya kemudian memegang wajah Evelyne dan menolehkannya ke kanan-kiri.
"Weeeh, Evelynenya gue niiih" sewot Vero.
"Eeeh nggak ada nggak ada, Evelyne tuh sahabat gue, jadi Evelyne punya gue"
"Nggak bisa, Evelyne itu punya gue"
"Sok-sok an punya gue punya gue, eeeh situ pacarnya?" Ucap Grace
"Calon suaminya"
"WHAT, LO CALON SUAMI EVELYNE"
"Eeeh eeeh, nggak-nggak sembarangan aja, gue ini punya orang tua gue lo pada nggak usah berebut nggak jelas kaya gitu, lo juga ver ngomong asal nyeblak aja lo"
"Jadi lo calon istri Vero bukan"
"Ogah"
"Berarti bukan dong, wleee" ucap Grace dan menjulurkan lidahnya ke Vero.
"Tunggu aja nanti, pasti Evelyne bakal jadi istri gue"
"Iya nanti, nanti pas lebaran kucing" ucap Grace tertawa terbahak-bahak.
"Lo berdua ganggu gue makan tau nggak, mending lo berdua jadian cocok banget udah" ucap Evelyne santai dan memasukkan makanan ke mulutnya.
"OGAH" ucap Grace dan Vero secara bersamaan.
"Diiih ngikut ngikut, dengerin ya ver, gue udah punya pacar jadi lo nggak usah ngarep lebih"
"Eeeh cor-coran semen lo tuh yang ngikut-ngikut, Lo tuh kepedean banget jadi orang, hati gue ini buat Evelyne seorang, ya nggak beb" ucap Vero dan melihat kearah Evelyne yang mengangkat sebelah alisnya.
"Enak aja lo ngatain gue cor-coran semen, dasar mahluk tak kasat mata lo"
"Ribut aja terus"ucap Evelyne menjadi penengah.
"Tuuhkan, my dear cemburu"
"My deer my deer, lo pikir temen gue rusa"
"Eeh dear, d e a r bukan d e e r" ucap Vero mengeja perhuruf.
"Terus aja terus"ucap Evelyne yang jengah karena tingkah kedua orang di depannya ini yang masih diragukan kewarasannya.
"Lo sih"
"Ooh iya vel, btw kemarin lo ke Korea kok nggak ngajak gue sih, guekan pengen ketemu oppa"
"Unfaedah ngajak lo, mending my dear ngajak guekan, lagian lo pengen ketemu oppa ke Korea segala panti jompo juga banyak"
"Udah stop, stop oke"
"Evelyne jadi tambah bete gara-gara lo"
"Udah ya udah, Grace udah jangan mulai lagi deh"
"Eekhem ada yang belain gue niih"
"Vero lo nggak usah mulai kepedean"
"Tapikan bener lo belain gue tadi, itu berarti lo udah mulai..."
"Apaan lo halu" ucap Grace dan menjitak kening Vero.
"Sakit bego"
"Mulai lagikan"
"Udah dong jangan marah ya? Gimana kalau kita jalan-jalan aja my dear, mau nggak?"
"Gak"
"Eeh vel, gue balik dulu ya, udah dijemput pacar tersayang" ucap Grace dan mencium pipi Evelyne.
"Iish jijik"ucap Evelyne sembari mengusap-usap pipi bekas di cium Grace tadi.
"Grace boleh masa gue nggak boleh, my dear nggak adil niih" kemudian Vero mencium pipi Evelyne. Sontak Evelyne kaget dengan hal itu.
"Mending lo pulang"
"Yaudah yuuuk gue anterin pulang, ribet banget pake kode kode segala, untung gue peka"
"Nggak gue pulang sama temen gue"
"Siapa?"
"Ada"
"Namanya unik banget ada keren-keren"
"Terserah lo" Evelyne tidak menghiraukan ucapan Vero lagi dan berkutat dengan handphonenya.
Ed, jd jemput gue?
_evelyne
Maaf ya
Gue gk bisa jemput Lo
Ada tugas dr kantor
_edzard
Oke, smngt krjny
_evelyne
Hari ini nggak usah buka cafe dulu
_edzard
Laaah knp?
_evelyne
Ntar l kecapean
Udh nrt aj knp sih😒😒
_edzard
Iya okey
_evelyne
Jgn kgn ya
By syng😘😘
_edzard
Evelyne tidak membalas pesan dari Edzard lagi, dia tersenyum dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Udah ayok pulang"ajak Vero dan menarik tangan Evelyne. Evelyne hanya mengikuti langkah kaki Vero saja.
"Lumayan tumpangan gratis" ucap Evelyne dalam hati.
"Ver, anterin gue ke rumah sakit dulu ya"
"Okey, rumah sakit mana?"
"Nanti gue tunjukkin arahnya"
"Oke" Vero menaiki motornya.
"Buruan naik" ucap Vero membuyarkan lamunannya.
"Motornya mirip kaya punya... Stop Evelyne jangan mikirin orang itu lagi okey" ucap Evelyne dalam hati. Kemudian Evelyne menaiki motor Vero.
"Pegangan my dear ntar kalau jatuh"
"Gak"
"Bodoamat, sebelum my dear pegangan gue nggak bakal hidupin ini motor"
"Okey" ucap Evelyne dan memegang pundak Vero
"Diih kok gitu"ucap Vero dan meraih tangan Evelyne, kemudian dia mengarahkannya agar memeluknya.
"Buruan jalan" ucap Evelyne kesal dengan sikap Vero yang mencari kesempatan. Sementara Vero hanya tersenyum manis sebagai tanda kemenangan.
.
.
.
.
.
.
Seoul Korea Selatan
"Iya halo" ucap Azelvin yang sedang berbicara dengan seseorang dari sebrang sana melalui via telepon.
"Dia udah punya calon suami"
"Yang bener aja lo"
"Serius deh, gue nggak bohong, tadi gue ke kantin buat ngintai dia seperti permintaan lo. Naah waktu dia lagi makan terus tiba-tiba ada cowok yang nyamperin dia naah cowok itu calon suaminya"
"Kok lo bisa tau itu cowok calon suaminya"
"Si cowok bilang sendiri ke temen cewek Evelyne, naah yang meyakinkan gue beropini kalau itu cowok beneran calon suami Evelyne karena cowok itu cium pipi Evelyne"
"Haah, lo nggak bohongin guekan? Nama cowok itu siapa?"
"Naah itu"
"Apa?"
"Gue lupa siapa namanya"
"Lo bego banget Lang"
"Namanya juga manusia"
"Alesan aja, pokoknya untuk seterusnya Lo jangan sampe ceroboh kaya gini lagi Lang, nama cowok ini itu informasi terpenting"
"Sorry, gue jamin besok-besok nggak lupa lupa lagi deh vin"
"Oke, gue transfer uangnya"
"Gitu dong vin, kan gue lebih rajin lagi ngasih informasi tentang Evelyne"
"Duit aja suka Lo"
"Semua manusia juga nggak bakal nolak kalau di kasih duit"
"Eh Gilang, awas aja kalau lo sampai suka sama Evelyne"
"Nggak mungkin lah, gue udah punya tunangan kok"
"Gak nanya?"
"Iiisssh, lagian Evelyne bukan tipe gue"
"Gimana niih maksudnya? Lo ngejelekin Evelyne? Ngajak ribut?"
"Eeeh nggak mungkin gue ngajak ribut, maksud gue bukan gitu"
Azelvin menutup telepon secara sepihak seperti kebiasaannya.
"Evelyne punya calon suami? Siapa? Edzard? Tapi kalau Edzard kok bisa satu kampus sama Evelyne, Edzard bukannya udah lulus kuliahnya? nggak mungkin Edzard, tapi siapa dong? Dasar Gilang ceroboh banget tuh bocah" ucap Azelvin
"Punya temen juga pada sibuk masing-masing, gue telfon aja deh"
Azelvin berkutat dengan handphonenya dan tengah mencari nama seseorang di daftar kontak.
"Lo butuh apa lagi?"
"Gitu banget lo sama temen"
"To the poin aja deh, ada apa?"
"Lo kapan kesini nyet?"
"Gue ngikut Ezra aja gimana, gue sih nggak lagi sibuk"
"Ya kalau gue nggak nganggur"
"Selain nganggur emang jadwal lo apa?"
"Jangan salah, gue kalau nggak nganggur ya...... Kosong"
"Receh banget lo"
"Mending lo tanya Ezra"
"Oke"
Seperti biasanya Azelvin selalu mematikan panggilan secara sepihak.
.
.
.
.
.
Jakarta, Indonesia
Evelyne kini telah sampai di rumahnya, dia memikirkan perkataan Dokter Kris tadi.
Apakah dia benar-benar harus mengikuti saran dari Dokter Kris?
Tapi, Evelyne belum siap bertemu bahkan melihatnya.
Flashback
"Jadi gini Dok, beberapa hari yang lalu, saya ini ke Korea nah, di Korea itu saya ketemu sama dia"
"Terus bagaimana reaksi kamu"
"Reaksi saya tuh, masih sama tapi nggak begitu takut yang sampai kaya dulu gitu, saya berani ngomong sama dia, bahkan saya menatap matanya dalam jarak dekat, meskipun hanya sebentar sih" ucap Evelyne dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dan kemarin saya itu di jalan ketemu sama anak SMA yang kaya kelihatan brandalan gitu tapi saya sama sekali nggak takut"
"Itu sebuah kemajuan Evelyne, mungkin jika kamu...."
"Stop Dok saya gak bisa"
"Jangan menyerah dulu Evelyne, kamu pasti bisa"
"Nggak Dok, saya nggak bisa, apa tidak ada cara yang lain gitu?"
"Saya juga ada pasien yang sama kaya kamu gini, dia itu melakukan pengobatan dengan caranya sendiri melihat foto orang yang membuatnya trauma, tapi harus foto yang tersenyum paling nggak tidak terlihat menyeramkan, dan juga dia mendengarkan suara orang yang membuatnya trauma, mungkin kamu juga bisa sembuh dengan cara itu"
"Jadi dia sering-sering melihat foto orang yang membuatnya trauma dan juga mendengar suaranya? bagaimana caranya mendapatkan foto dan rekaman suara orang itu"
"Evelyne kamu ini hidup di zaman kapan sih? Orang yang membuatnya trauma itu punya sosmed tentunya, semacam Instagram dan yang lainnya gitu, dia melihat foto yang di posting oleh orang yang membuatnya trauma, kalau suara kebetulan orang yang membuatnya trauma adalah seorang YouTubers dia sering cover lagu gitu, jadi mudah untuknya mendapatkan foto dan rekaman suaranya"
"Oooh gitu ya"
"Tapi"
"Tapi apa Dok?"
"Dia menjadi memiliki perasaan terhadap orang yang membuatnya trauma itu" bisik dokter Kris dan terkekeh.
"Iiissh, Dokter Kris ternyata bisa ngeselin juga ya ternyata"
"Saya manusia kalau kamu lupa"
"Terserah Dokter Kris aja deeh, eeh tapi btw beneran bisa nggak cara itu"
"Saya juga belum tahu pasti, tapi apa salahnya untuk mencoba"
"Bener juga, terimakasih dok"
"Oke, jangan lupa tetap semangat, saya yakin kamu bisa sembuh, yang terpenting kamu jangan sampai stress berlebihan, karena itu akan membuat kondisimu semakin memburuk"
"Siap dok, sebelumnya terimakasih, saya pamit dok"
"Oke hati-hati, lain kali kalau kesini bawa sesuatu ya"
"Sesuatu apa? Batu?"
"Ya minimal makananlah"
"Dokter Kris bisa aja" ucap Evelyne dan menggelengkan kepalanya.
Flashback off
Evelyne membuka aplikasi Instagram dan mencari akun Instagram milik Azelvin.
"Naaah ini dia"
"Kok fotonya nggak ada yang kelihatan mukanya gitu, eeh ini ada, tapi nggak senyum niih, ekspresi juga nggak ada, apanih foto kaya gini di posting, mana yang like banyak, gila atau gimana tuh yang like? Foto kaya gini di like, eeeh ini ada yang senyum. Eeeh anjiir ini foto yang senyum cuma sama gue, nggak ada foto yang lain lagi"
"Gue screenshot yang ini aja deh"
"Akhirnya udah dapet fotonya, suaranya gimana ya?"
"Guekan punya nomer handphone dia, gue telfon terus gue rekam aja atau gimana ya? Duuuh tapi gue berani nggak ya, coba dulu deh"
Evelyne kemudian menelepon Azelvin.
"Semoga aja nomernya nggak aktif" ucap Evelyne dalam hati.
"Vel, ini Evelyne atau bukan ya?"
"Hallo, Evelyne ini lo bukan?"
"Atau salah sambung"
"Eeem saya nggak ada waktu buat ladenin orang nggak jelas gini ya"
Ucap seseorang dari sebrang sana, secara beruntun, mungkin Azelvin terkejut dengan yang terjadi sekarang.
"Eeem vin, iiii... Eeemm ini gue Evelyne"
"Beneran ini Evelyne?"
"Heeem"
"Kok gue nggak percaya ya? Masa beneran Evelyne, bukannya Evelyne bakal....."
"Nyanyi lagu buat gue"
"Haah? Eeeh ini beneran Evelyne bukan sih? Tiba tiba minta dinyanyiin"
"Eeem vin ini beneran gue Evelyne, dan gue minta nyanyiin lagu buat gue"
"Gue nggak yakin"
"Makhluk astral kebanyakan minum comberan lo?"
"Evelyne ini bener lo? Lo udah sembuh"
"Vin nyanyi buat gue please"
"Oke, eeem gue nyanyi lagu apa ya? Don't go aja gimana?"
Evelyne tidak menjawabnya.
"jogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim
nayege ttaraora sonjjitan geot gataseo
aejeolhan nunppitgwa mueone iyagi
gaseume hweoriga morachideon geunal bam
omyohan geudaeye moseube neokseul noko
hanappunin yeonghoneul ppaetgigo
geudaeye momjjise wanjeonhi chwihaeseo
sum shwineun geotjocha ijeobeorin nainde
walcheucheoreom sappunhi anja
nuneul ttel su eopseo
shiseoni jayeonseure georeummada
neol ttaragajana
nal annaehae jweo
Yeah geudaega salgo inneun gose
nado hamkke deryeoga jweo
Oh sesange kkeuchirado dwittaragal teni
budi nae shiyaeseo beoseonaji mara jweo
achimi wado sarajiji mara jweo Oh
kkumeul kkuneun georeum
geudaen namane areumdaun nabi
Oh woo whoo whoo oh yeah yeah
Woo whoo whoo yeah
Woo whoo whoo listen
eodiseo wanneunji eodiro ganeunji
chinjeolhi yeogikkaji majungeul wa jun neo
gapareun oreumak kkakkajin jeolbyeokdo
geokjeong ma mueotto duryeoul kkeoshi eopseuni
neoneun ppomnae uahan jatae
Oh nan myeot beonigo banhago
sarangeun ireoke nado moreuge
yegodo eopshi bulshie chajawa
walcheucheoreom sappunhi anja
nuneul ttel su eopseo
shiseoni jayeonseure georeummada
neol ttaragajana Oh no
nal annaehae jweo
Yeah geudaega salgo inneun gose
nado hamkke deryeoga jweo
Oh sesange kkeuchirado dwittaragal teni
budi nae shiyaeseo beoseonaji mara jweo
achimi wado sarajiji mara jweo Oh
kkumeul kkuneun georeum
geudaen namane areumdaun nabi
nasseon goseul hemaenda haedo
gireul ireobeorindaedo
nuguboda soljjikan
naye mameul ttareul kkeoya
joyonghi nune ttineun momjjit
ganghago budeureoun nunppit
geobuhal su eomneun nanikka Yeah
nal deryeoga jweo
Yeah geudaega salgo inneun gose
nado hamkke deryeoga jweo
Oh sesange kkeuchirado ttaragalkke Oh no
nae shiyaeseo beoseonaji mara jweo
achimi wado sarajiji mara jweo Oh
jogeumahan sonjjit
naye gaseumen hweoriga chinda
Woo whoo whoo (Oh yeah yeah)
Woo whoo whoo (Oh yeah yeah)
Woo whoo whoo
Vel gimana su......"
Evelyne mematikan panggilan telepon secara sepihak sebelum Azelvin menyelesaikan ucapannya.
"Akhirnya dapet, oke Evelyne sekarang tidur"
"Eeh apa sih nih, telfon telfon" ucap Evelyne memandang layar ponselnya. Azelvin menelponnya tapi Evelyne menolaknya dan memblokir nomor Azelvin.