Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 6



Sudah satu minggu tepat saat kejadian aku meminta Azelvin pergi, sudah satu minggu juga aku tidak bertemu dengannya. Dan sudah satu minggu pula aku merasa ada yang hilang. Apakah aku merasa kehilangannya?


Bukankah itu bagus? Azelvin pergi dan tidak ada yang mengacau lagi. Tapi kenapa? Ada apa dengan diriku? Kenapa jadi seperti ini?


Aku menghembuskan nafas kasar ...


"Vel, lo kenapa jadi gini?"


"Maksud lo?"


"Lo pikir gue nggak tau, dari tadi bahkan dari kemarin kemarin lo selalu aja ngelamun sambil ngeliatin meja yang biasanya ditempati Azelvin, kenapa? lo rindu sama dia?"


"Nggak, bukan gitu, gue cuma...."


"Cuma apa hah? Cuma pengen ketemu Azelvin... Itukan yang mau lo bilang?" Edzard tiba tiba bicara seperti itu, dengan kasar.


"Kok lo jadi marah sih? Nggak gitu vin" mampus gue salah ngomong, ini mulut ya bener bener.


"Vin? Azelvin?"


"Lo salah denger kali"


"Salah denger gimana, lo pikir gue tuli apa?" Kemudian Edzard beres beres dapur.


"Ed mau ngapain?"


"Tutup kafe"


"Tapi ini baru jam delapan"


"Males kerja sama orang yang gak profesional"


Edzard mengambil dan memakai jaketnya lalu pergi begitu saja.


Apakah hari ini aku sedang sial?


Lagipula kenapa dengan Edzard? Tidak biasanya dia seperti ini padaku.


Aku segera menutup kafez mencari taksi untuk pulang. Sudah lama aku menunggu tapi taksi tidak kunjung datang.


Ada apa dengan hari ini?


Ada seseorang yang mendekat ke arahku dengan menggunakan motor, motor itu seperti motor Azelvin. Apakah itu Azelvin?


Lalu orang itu turun dari motornya dan membuka helmnya. "Azelvin?" Gumamku


"Mbak, di daerah sini SPBU terdekat dimana ya?"


"Eeem.... Masnya tinggal lurus aja ngikutin jalan ini, kurang lebih 4 kilometer,naaah di kiri jalan ada SPBU kok"


"Terimakasih ya mbak"


"Iya"


Lalu orang tersebut pergi, kenapa banyak sekali motor yang mirip dengan punya Azelvin ya?


Dan kenapa aku berharap itu Azelvin?


Ada apa denganku?


Huuft


"Stop vel, berhenti mikirin hal yang nggak penting, bukannya bagus nggak ada dia, lo bisa aman bukan" ucapku pada diri sendiri.


Tidak lama kemudian ada taksi yang datang.


πŸš•πŸš•


Malam ini terasa aneh, aku merasa kesepian, biasanya jam segini aku masih di kafe, mungkin itu yang membuatku kesepian.


Aku mengambil kotak dan juga kaos. Ya..... Pemberian dari Azelvin Aleston seseorang yang membuatku selalu bingung dengan apa yang harus kulakukan, seseorang yang selalu membuatku merasa aneh.


Aku melihat bintang dari jendala kamarku, berusaha untuk melupakanmu, tapi apa? tetap saja aku mengingatmu...


Flashback


"Lo kenapa bawa gue kesini, inikan udah malem, jangan jangan lo mau apa-apain gue lagi"


"Negatif thinking mulu lo sama gue"


"Ya tampang tampang lo kan emang tampang orang bejat, coba lo kaya Kak Edzard...."


"Bisa gak sih sekali aja lo nggak ngomongin Edzard sialan itu, lo itu lagi sama gue bukan sama Edzard"


"Ya" ucapku takut karena Azelvin tiba-tiba marah.


"Sini" ucapnya sembari menepuk tanah berumput disebelahnya, karena sekarang Azelvin sedang berbaring di rerumputan, dan melihat langit, lebih tepatnya melihat bintang.


Evelyne menggelengkan kepalanya.


"Nurut aja kenapa sih? Sini nggak, kalau dalam hitungan ketiga lo nggak kesini lo akan tau akibatnya"


"Satu" Evelyne segera turun dari motor Azelvin.


"Dua" Evelyne sudah berada di samping Azelvin.


"Huft" Evelyne menghembuskan nafasnya kasar.


"Tiga"Evelyne merasa ada sesuatu yang menempel di pipinya dan ternyata Azelvin mencium pipi Evelyne.


"Lo ngapain sih"ucap Evelyne


"Emang lo nggak tahu gue ngapain tadi? Perlu diulang?"


"Nggak" dan detik berikutnya terjadilah keheningan menyelimuti keduanya. Karena mereka sedang melihat bintang dan sibuk dengan apa yang mereka pikirkan masing masing.


Evelyne menoleh dan melihat wajah Azelvin, Azelvin tersenyum, senyuman yang jarang dia tunjukkan kepada orang orang, senyuman yang jarang terukir di bibirnya, senyuman yang mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya, tidak terkecuali dengan Evelyne.


"Ekheem gue tau gue ganteng tapi nggak usah segitunya juga dong liatnya" ucap Azelvin tanpa menoleh ke arah Evelyne, dan terus melihat bintang.


"Bagaimana dia bisa tahu"ucap Evelyne dalam hati.


"Dih kepedeannya kumat, udah yuk anterin pulang"


"Pulang aja sendiri"ucap Azelvin yang masih saja fokus dengan bintang di langit.


"Aaah orang ini benar benar seperti baru melihat bintang untuk yang pertama kalinya"ucap Evelyne kesal. Evelyne berdiri.


"Mau kemana?"


"Pulanglah"


"Yaudah yuuuk"ucap Azelvin dan menggandeng tangan Evelyne.


"Katanya nggak mau nganterin pulang"


"Gitu aja ngambek lebay, yuk pulang"


Flashback end


Jakarta Indonesia


Bulir air mata menetes ke pipi Evelyne. Kenangannya dengan Azelvin tidak semuanya pahit, tapi kenapa rasanya dia sulit memaafkan kesalahan Azelvin.


Malam ini Evelyne menangis dengan di temani bintang bintang, yang dulunya menemaninya saat bahagia.


Kata orang bintang memberi kebahagiaan.


Kata orang dengan melihat bintang kita bisa tersenyum senang.


Tapi mana? Mana? Mana buktinya? Apakah itu hanya bualan belaka?


I can't believe


Gidaryeossdeon ireon neukkim


Naman duetgo sipeun geunyeoneun naui mellodi


Haru Jongil go on and on and ooh


Tteonaji anhge geunyeol nae gyeote


Bunyi ringtone handphone Evelyne.


Evelyne mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Evelyne sayang, malam ini sibuk nggak?"ucap seseorang dari sebrang sana.


"Enggak Grace"


"Suara lo kok.... Jangan-jangan lo habis nangis ya?"


"Nggak kok, gue cuma flu"


"Lo nggak lagi bohongin guekan vel? Gue tau kok gue cuma temen lo dari semester satu, bukan dari SMA..."


"Besok gue ceritain"ucap Evelyne memotong pembicaraan Grace, karena Evelyne tahu Grace itu baperan


"Beneran ya, janji?"


"Iya"


"Macul? Lo kira gue petani apa?"


"Cocoksih sebenernya"


"Anjir lah"


"Wah omongannya itu looh. Kasar sekali awas aj........" Evelyne mematikan panggilan telepon dari Grace.


Dia lelah, mungkin tidur bisa menghilangkan kesedihannya meskipun hanya sementara.


🐣🐣🐣


Cahaya yang menembus dari jendela kamar Evelyne, membangun Evelyne dari tidurnya.


"Jam berapa ini?"ucapnya sembari melihat kearah jam dinding yang ada di kamarnya.


"Astaga" Evelyne terburu buru mandi dan segera berangkat kuliah.


Skip


Evelyne menempati tempat duduknya.


"Tumben baru berangkat, untung dosennya telat vel" tanya Grace


"Gue kesiangan"


"Gue tau kali kalau lo kesiangan tapi kenapa? Kenapa kok bisa kesiangan?"


"Tidur kemaleman"


"Gue juga tau kalo kesiangan, itu karena tidur kemaleman, tapi kenapa kok tidur kemaleman?"


"Nggak bisa tidur"


"Iya iya tau kok, lo tidur kemaleman karena nggak bisa tid...."


"Udah deh banyak ngomong lo"


"Salah sendiri, di tanya bukannya jawab yang to the poin malah bertele-tele"


"Udah diem, dosen udah dateng tuh"


Evelyne benar benar malas sekarang, dia memperhatikan semua yang di jelaskan oleh dosen, tapi tidak dengan pikirannya, Evelyne sangat ingin tidur sekarang, dia malas untuk melakukan apapun. Berulang kali dia menghembuskan nafasnya kasar.


Grace yang sedari tadi memperhatikan kelakuan sahabatnya itu hanya mampu geleng geleng kepala.


"Awas aja lo vel, gue interogasi ntar" gumam Grace.


Yang di tunggu akhirnya datang. Ya benar kelas sudah berakhir.


"Vel ke kantin yuk"ajak Grace


"Males gue, pengen tidur"


"Nggak mau tau pokoknya ikut gue"ucap Grace dan menarik tangan Evelyne, agar Evelyne mau ke kantin.


"Vel lo kenapa cerita kek"


Evelyne menceritakan semuanya, tentang traumanya, Azelvin, dan kejadian yang terjadi kurang lebih seminggu yang lalu itu.


"Kok lo baru cerita kalau lo punya trauma sih? Edzard udah tau belum?"


"Udah, dia udah gue kasih tau dari dulu"


"Tuh kan jahat, masa Edzard udah di kasih tau dari lama, gue baru sekarang"


"Udahdeh jangan mulai baperannya"


"Eeh btw si siapa tadi?"


"Azelvin"


"Nah iya Azelvin itu kuliah dimana?"


"Mana gue tahu"


"Lo mah nggak asik, guekan mau bantuin lo pdkt sama dia biar lo nggak jadi jomblo karatan"


"Sembarang aja lo ngatain gue jomblo karatan, lagian ya? Gue aja ngerasa takut yang berlebihan kalau deket Azelvin, yakali mau pdkt"


"Tapikan tadi lo bilang, dokter nyaranin lo buat deket sama Azelvin biar trauma lo ilangkan?"


"Ya tapi nggak perlu pdkt juga, belum tentu si Azelvin mau sama gue"


"Iya juga sih, tampang lo kan nggak enak di lihat"


"Enak aja kalau ngomong"


"Sorry bercanda doang kok, lo tuh cantik Evelyne Chalesthane Mariolin tapi kenapa sih lo pesimis mulu kerjaannya"


"Bukan gitu, Azelvinkan dulu suka bully gue"


"Nih ya denger, bisa ajakan Azelvin bully lo itu karena dia suka sama lo jadi dia bully lo deh supaya bisa deket sama Lo"


"Mana ada kaya gitu"


"Ada kok, kemarin gue baca novel yang judulnya apa ya lupa..."


"Dasar, terserah lo aja deh, mending gue makan laper"


Seoul Korea Selatan


"Vin, lo dimana sih? Udah seminggu lebih nggak ketemu lo gue, gue sama Ezra ada di apartemen Ezra,kesini vin" ucap Axel dari sebrang sana melalui via telepon.


"Gue di luar negeri"


"Bercanda lo nggak lucu"


"Siapa juga yang bercanda"


"Lo ngapain di luar negeri, liburan? Waah ngak ngajak ngajak"


"Siapa juga yang liburan, gue ngelanjutin kuliah"


"Kesambet apaan lo? Disuruh bokap?"


"Itu juga alesan salah satunya sih, tapi ada alasan lain"


"Alasan lain gimana?"


"Lo masih inget Evelynekan? Yang sering kita kerjain dulu"


"Kita? Lo ajakali gue sama Ezra cuma ngikut aja. Emang kenapa?"


" Hemb ya deh. Dia yang nyuruh gue pergi"


"Maksudnya gimana nih? Dia nyuruh lo pergi dan lo langsung pergi gitu aja? Dan kenapa dia nyuruh lo pergi"


"Jadi semenjak gue pulang dari luar negeri, karena gue di drop out itu,gue mulai nyari tahu tentang dia. Nah terus gue nemuin tempat dia kerja, dia itu kerja di sebuah kafefe, dan sejak itu hampir tiap hari gue pergi ke kafe itu. Dan lo masih inget nggak waktu terakhir kali gue balap motor sama Alvero"


"Oh yang waktu itu, terus kenapa?"


"Waktu itu keadaan gue nggak bisa dibilang baik baik ajakan, nah nggak tahu kenapa gue bisa ke rumah dia, terus dia nolongin gue dan juga ngobatin luka luka gue, tapi setelah dia bangun dan ngelihat gue dia kelihatan ketakutan banget sampe teriak teriak histeris"


"Kok bisa?"


"Dengerin dulu kek, jangan motong pembicaraan. Nah gue pergi tuh dari rumahnya, terus gue ke kafenya lagi malemnya, dia teriak histeris gitu lagi"


"Tunggu tunggu, bukannya lo bilang lo sering ke kafenya ya kok..."


"Itu karena setiap gue ke kafe tempat Evelyne kerja, gue selalu make masker atau apapun itu pokoknya untuk nutupin muka gue. Nah gue lanjutin lagi ceritanya oke, jangan di potong lagi. Nah karena Evelyne teriak-teriak gitu jadi Edzard dateng, karena kafe tempat Evelyne kerja itu punya Edzard. Nah Edzard tiba-tiba mukul gue dan kita jadi adu jotos deh, terus Evelyne tuh kayak kesakitan gitu kepalanya, jadi kita bawa Evelyne ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit setelah Evelyne di periksa, Edzard nemuin dokter dan cuma ada gue dan Evelyne. Dan Evelyne bilang ke gue kalau gue itu sumber kesengsaraan, kesedihan buat dia, dan gue udah bikin dia trauma, dia nyuruh gue pergi dan nggak nemuin dia lagi, jadi gue pergi deh"


"Trauma apa?"


"Jadi kalau dia ngelihat gue nggak cuma gue sih. Intinya kalau dia ngeliat gue atau nggak anak sekolah yang kelihatan bejat tuh ketakutan gitu, jadi teriak teriak histeris dan juga ingatan buruknya tentang gue jadi terlintas di kepalanya dan membuat kepalanya sakit"


"Oh gitu, tapi sebenarnya gue masih agak-agak bingung sih, enak cerita langsung, nanti deh kalau gue sama Ezra ada waktu kita nyamperin lo keluar negeri"


"Oke thanks"


"Eeh jangan matiin dulu teleponnya. Gue mau nanya sama lo. Lo nyerah gitu aja waktu Evelyne nyuruh lo pergi? Apa nggak sebaiknya lo minta maaf dan perbaikan semuanya"


"Gue bakal minta maaf dan perbaiki semuanya, tapi nggak sekarang"


"Terus kapan?"


"Intinya nggak sekarang"


Azelvin mematikan panggilan telepon secara sepihak.


Azelvin tidak henti-hentinya memperhatikan foto Evelyne di handphonenya.


"Oke gue bakal semangat kuliah, supaya gue cepet cepet wisuda dan gue bakal memperbaiki apa yang harus gue perbaiki, gue janji gue akan menghapus semua luka yang udah gue buat, gue bakal bantuin lo sembuh dari trauma itu"


"Gue yakin gue bisa" ucap Azelvin dengan semangat dan penuh keyakinan.


Edzard kenapa ya?


Akankah Azelvin kembali?