
Jakarta Indonesia
Hari ini adalah hari dimana bakti sosial akan diadakan. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sudah terpilih untuk mengikuti bakti sosial memasuki bus sesuai dengan ketentuan.
"Oke, perhatian untuk teman-teman semua, sekarang sudah ada lima bus, jadi untuk kelompok pertama di bus yang nomer satu, yang lain juga seperti itu, kemarin sudah di beri tahukan masing-masing kelompok anggotanya siapa aja jadi sekarang tinggal menaiki bus masing-masing, untuk kelompok satu akan saya pandu, kelompok dua akan dipandu oleh Evelyne, kelompok tiga akan dipandu oleh Riska, kelompok empat akan dipandu Satria, dan kelompok lima akan dipandu oleh Alvian" ucap Azka, selaku ketua panitia penyelenggara bakti sosial.
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang sudah terpilih memasuki bus masing-masing sesuai ketentuan.
"My dear, gue duduk sama lo ya?" Ucap seseorang siapa lagi kalau bukan Alvero Galen Ray.
"Nggak, Evelyne duduk sama gue" ucap Grace
"Gue tanya my dear bukan lo"
"Nggak bisa, Evelyne itu sahabat gue jadi dia harus duduk sama gue"
"Biar my dear aja yang pilih, mau duduk sama siapa"
"Ya pasti sama guelah, secara gue sahabatnya gitu loh" ucap Grace penuh percaya diri.
"Kalian berdua duduk disini aja"
"What?" Ucap Grace
"Maksud lo kita duduk bertiga gitu?" Tanya Alvero
"Ya enggaklah, gue duduk sama Erland"
Akhirnya Grace duduk dengan Alvero dan yang disampingnya adalah Evelyne dengan Erland.
"Evelyne"
"Ya?" Ucap Evelyne menoleh ke sampingnya.
"Alvero udah banyak berubah sekarang semenjak dia deket sama Lo" ucap Erland.
"Gue sama Alvero nggak lagi deket kok"
"Ya deketlah selangkah juga nyampe"
"Oooh deket tempat duduknya maksud lo"
"Bukan-bukan gue bercanda kok, maksud gue kalian deket dalam arti lain"
"Gimana? Pdkt an maksud lo?"
"Yaa bisa dibilang gitu"
"Enggaklah gue itu cuma temenan doang sama dia"
"Terserah lo deh"
"Emang kenyataan kaya gitu kok"
"Yang jelas gue berterima kasih sama lo, secara nggak langsung lo udah ngerubah Alvero, dia bukan Vero yang seperti dulu lagi, dia bahkan nggak pernah yang namanya bantuin orang, tapi dia bantuin lo ngumpulin orang buat acara inikan? Dia bahkan sekarang nggak pernah bolos kuliahnya, nggak pernah balapan liar, ngerokok, minum dan hubungannya dengan orang tuanya juga udah membaik"
"Kenapa lo bilang ini gara-gara gue, siapa tahu dia emang pengen merubah dirinya sendiri"
"Gue yakin semuanya karena Lo" Evelyne tidak menanggapi ucapan Erland dan lebih memilih memperhatikan Alvero yang sedang tertidur sementara Grace yang sedang melihat ke luar jendela.
Evelyne memperhatikan Alvero yang tertidur, wajahnya benar-benar teduh, tenang, berbeda dengan saat dia sedang tidak tertidur. Tanpa sadar senyum terulas dibibir Evelyne. Dan Grace menyaksikan itu, menyaksikan bagaimana tatapan Evelyne dan senyumnya ketika melihat Vero yang sedang tertidur, Grace menyenggol Vero dengan bahunya agar Vero terbangun dari tidurnya.
"Apaan sih lo, ganggu gue tidur aja" ucap Alvero kepada Grace. Evelyne kemudian memalingkan wajahnya dan memandang ke arah lain.
"Ciiee yang takut ketahuan lagi merhatiin wajahnya" goda Erland.
"Siapa juga yang..... Aaah taudeh gau mau tidur jangan berisik lo" ucap Evelyne dan memejamkan matanya dan memaksakan agar tertidur.
.
.
.
"My dear bangun" ucap Alvero menepuk nepuk pipi Evelyne, tetapi Evelyne masih belum bangun juga.
"My dear, kalau my dear nggak bangun-bangun juga gue ciumniih" Evelyne membuka matanya.
"Apasih Lo" ucap Evelyne yang masih mengumpulkan nyawa.
"Ayo turun, udah sampe tempatnya"
"Udah ya? Looh Erland mana?"
"Udah turun dia"
"Dia lewat mana? Kok gue nggak ngerasa kalau disenggol atau gimana"
"Gue suruh lompat kursi depan" ucap Alvero dengan cengirannya khas ala-ala kuda.
"Kasian tau"
"Salah siapa my dear nggak bangun-bangun, udah yuk turun, atau mau disini berduaan sama gue"
"Ogah" kemudian Evelyne dan Alvero menghampiri teman-temannya yang lain.
Mereka semua sibuk tanpa terkecuali, ada yang membantu membersihkan rumah-rumah yang terkena banjir, ada yang menghibur anak-anak kecil, ada yang memasak untuk konsumsi.
Evelyne tengah sibuk membantu memasak makanan untuk para korban banjir itu.
Alvero menarik tangan Grace dan membawanya ke tempat yang sepi.
"Jangan lo pikir gue nggak tahu siapa lo" ucap Alvero menatap tajam Grace.
"Ya lo taulah, gue Grace temennya Evelyne dan gadis cantik"
"Ciiih, lo suruhannya Azelvinkan?"
"Apasih maksud lo gue nggak paham" ucap Grace seolah-olah tidak tahu.
"Nggak usah berlaga bego, gue tahu Azelvin nyuruh lo mata-matain guekan? Apa rencana kalian hah?"
"Buat apa gue mata-matain lo? Emang lo siapa pake gue mata-matain segala"
"Nggak usah ngelak lo, denger ya jangan ikut campur atau lo tangung akibatnya"
"Ya jelas gue harus ikut campur dong, Evelyne sahabat gue dan gue nggak akan biarin dia kenapa-napa, gue akan lindungi dia dari orang bejat kaya lo"
"Ooh ya? Silahkan. Siapa yang bakal berhasil"
"Maksud lo?"
"Lo akan tahu nanti"
"Ver, denger ya gue akan bikin perhitungan sama lo, kalau Evelyne sampai kenapa-napa"
Alvero pergi meninggalkan Grace dan menghampiri Evelyne, mereka nampak berbicara dengan serius, sayangnya posisi Grace sekarang kurang dekat jadi dia tidak bisa mendengarkan ucapan mereka.
"Duuuh mereka ngomongin apaan ya? Kalau ngomong tuh yang keras kek nggak tau apa gue lagi nguping, kalau Vero bilang ke Evelyne gue ini kerjasama dengan Azelvin gimana? lagian ini juga demi kebaikan Evelyne kok. Kalau sampe Vero ngomong yang macem-macem gimana? Ini nggak bisa dibiarin , gue harus samperin mereka" Grace mendekat ke arah mereka.
"Evelyne, lo lagi ngapain?"
"Lo nggak liat? Gue motong wortel, bantuin kek" ucap Evelyne.
"Gue tau lo lagi motong wortel"
"Terus ngapain nanya"
"Maksud gue itu, kalian lagi ngomongin apa? Kok serius banget"
"Kita cuma ngobrol biasa kok, iyakan my dear" ucap Vero menyela ucapan Evelyne.
"Siapa yang ngomong sama lo, gue nanya Evelyne"
"Iya kok Grace, Vero tadi cuma nanya tentang kegiatan ini aja"
"Oh" Grace hanya ber'oh'ria. Kemudian Grace pergi.
"Grace kenapa sih? Dia kok aneh banget sekarang" ucap Evelyne yang heran dengan sikap Grace.
"Bukannya kata lo, dia emang aneh ya?"
"Tapi dia tuuh kaya nyembunyiin sesuatu dari gue"
"Kalau lo penasaran, kenapa nggak ngikutin dia? Mumpung dia belum jauh"
"Yaudah ini lanjutin potong potong sayurannya"
"Kok gue"
"Sebentar aja kok" ucap Evelyne kemudian berlari mengejar Grace, Evelyne mengikutinya diam-diam.
"Halo vin" ucap Grace dengan seseorang di seberang sana melalui via telepon.
Evelyne tidak bisa mendengar suara orang yang berbicara dengan Grace, hanya suara Grace saja yang dia dengar.
"Iya vin, tadi di bus itu Evelyne merhatiin wajah Vero yang lagi tidur, tapi tatapan mata Evelyne tuuh kaya gimana gitu"
"Yaaa gue juga nggak tahu Evelyne suka sama Vero atau nggak, tapi ya jangan sampai Evelyne suka sama Vero, Vero itukan....."
"Vero kenapa Grace? Lo telfonnan sama siapa?"
"Oooh ini pacar gue kok"
"Coba sini gue lihat" ucap Evelyne hendak meraih ponsel Grace.
"Eem bentar ya vel, pacar gue itu kerja jadi waktunya cuma sebentar buat telfonnan sama gue"
"Ooh gitu"
Grace mematikan sambungan teleponnya.
"Ooh biasalah, gue curhat gitu sama pacar gue"
"Tapi seenggaknya lo harus hargai privasi orang dong, nggak semuanya harus lo ceritain ke pacar lo"
"Iya gue tahu, tadi itu cuma nggak ada yang dibahas aja"
"Oh. Tadi lo bilang Vero itukan.... Vero kenapa emang?"
"Vero itu orang yang nggak tau aturan, brandalan, Lo jauhin dia dong"
"Vero itu nggak seburuk yang lo pikirkan Grace, nggak usah nethink gitu deh" ucap Evelyne dan pergi meninggalkan Grace.
"Huuuuffttthhh hampir aja, nggak kebayang deh kalau gue sampe ketahuan Evelyne" ucap Grace lega.
.
.
.
.
.
Tidak terasa sudah lama mereka menjalankan bakti sosialnya, dan kini para mahasiswa maupun mahasiswi berkumpul bersama anak-anak yang terkena musibah itu, sedang bernyanyi riang gembira.
"Eem kakak disini mau nyanyi sebuah lagu spesial untuk orang yang spesial juga" ucap Alvero
Ciiee cieee
Buat siapa kak?
Lagu apa kak?
Buruan nyanyi dong kak
Itulah sejumlah sorakan yang terdengar dari anak anak dan juga para mahasiswa mahasiswi.
"Judul lagunya my dear untuk my dear
Yeoreodun munteum sairo deullyeo-on
Nal bureundeon moksori seolleineun ttaseuhan songil
Neureojideon byeoldeuldo sori eopsi jamdeun bam
Uriui chu-eogeul kkeonae-eo bollaeyo nun gama
Challanhan darui jonyeong majimak chumeul chwo
Geunereul tadeut neoege moereojyeodo
Pogeunhaetdeon hyanggido huimihaejyeoganeun bam
Geuriul chu-eoge gidaeeo ballaeyo nun gama
Challanhan darui jonyeong majimak chumeul chwo
Geunereul tadeut neoege moereojyeodo
Ssodajyeo naerineun dalbit area geudae-ege
I bamui byeori doeeo
Bichwojul yaksogeul dama
Challanhan darui jonyeong majimak chumeul chwo
Geunereul tadeut neo-ege dahasseumyeon
My dear gue emang bukan cowok yang romantis tapi gue yakin gue adalah cowok yang bisa memberi lo kebahagiaan.
Gue nggak tahu kapan rasa itu mulai tumbuh tapi yang jelas gue udah nyaman sama Lo, gue....
Gue sayang sama lo
Evelyne Chalesthane Mariolin lo maukan jadi pacar gue..." Ucap Vero
Grace berada di samping Evelyne dan menggelengkan kepalanya, memberi tanda supaya Evelyne tidak menerima cowok yang menurutnya menyebalkan itu.
Evelyne tidak menjawab ucapan Alvero tetapi Evelyne hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian Alvero memeluknya.
Flashback
Alvaro menghampiri Evelyne.
"Vel" jika Alvero sudah memanggilnya vel atau Evelyne pasti ada sesuatu yang serius.
"Apa?" Ucap Evelyne dan menghentikan aktivitasnya.
"Guekan udah bantuin lo buat nyari orang untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan baksos"
"Iya kenapa? Lo nggak ikhlas, minta bayaran? Gue nggak ada duit"
"Bukan, bukan gitu"
"Terus?"
"Jadi gue itu dijodohin sama orang tua gue"
"Baguslah, yes akhirnya gue terbebas dari orang kaya lo"
"Gue serius ini, gue minta tolong sama Lo buat pura-pura jadi pacar gue, maukan?"
"Nggak, emang kenapa sih? Kenapa lo nggak nerima aja perjodohan itu, lo nggak perlu nyari pacarkan?"
"Masalahnya gue udah mencintai orang lain, dan kata mama gue, kalau misalnya gue udah punya pacar gue nggak perlu dijodohin, lo mau bantuin nggak?"
"Kenapa lo nggak pacaran aja sama orang yang lo cinta itu, kenapa harus gue?"
"Gue belum bisa naklukin hati cewek itu, maka
nya gue minta lo buat jadi pacar pura-pura gue"
"Kenapa harus gue? Cewek banyak"
"Gini nih, biarpun kata orang gue bejat, tapi gue nggak tega ngelukain hati cewek, coba lo bayangin kalau misalkan gue minta cewek lain buat pura-pura jadi pacar gue terus cewek itu baper dan udah terlanjur cinta sama gue gimana?"
"Ternyata Vero nggak seburuk yang gue pikirin ya, buktinya dia nggak mau nyakitin hati cewek" ucap Evelyne dalam hati.
"Evelyne diajak ngomong malah bengong"
"Siapa yang bengong" elak Evelyne
"Kalau nggak bengong apa tadi namanya?"
"Tadi lo nyuruh gue bayangin kan? Naah gue lagi bayangin terus dimana letak kesalahan gue?"
"Aaah bomatlah, Lo mau bantu guekan. Gue yakin lo nggak akan baper. Lo nggak akan baperkan?" Ucap Alvero meledek.
"Ya enggaklah, tapi tetep aja gue nggak minat"
"Bantuin gue kek please"
"Yaudah iya, tapi gue bilang Grace dulu"
"Eeeh jangan, mata-mata bonyok gue tuh banyak, Lo taukan gimana mulut Grace, intinya lo nggak boleh kasih tau siapapun soal ini, kalau ketahuankan percuma, dan kalau didepan orang kita harus buat ini se real mungkin"
"Maksudnya?"
"Ya kaya orang pacaran beneranlah" ucap Alvero yang hanya di jawab deheman oleh Evelyne.
"Jangan hamb hemb hamb hemb doang, ini tuh masalah yang serius"ucap Alvero mulai emosi
"Iya, iya aman semuanya"
"Nah gitu dong, vel gue bener bener berharap bantuan Lo"
"Okey"
Flashback off
Kegiatan bakti sosial telah usai dilaksanakan, para mahasiswa mahasiswi kembali ke bus.
"Eeeh lo kok duduk sama my dear sih" ucap Alvero yang hendak duduk disebelah Evelyne tetapi di dahului oleh Grace.
"Gue sahabatnya, jadi fine - fine aja dong gue duduk samping Evelyne" ucap Grace.
"Gue pacarnya, jadi fine - fine aja dong kalau gue mau duduk di samping Evelyne"ucap Alvero tidak kalah sewot dengan Grace.
"Heh pacar-pacar, gue nggak ngerestuin kalian pacaran, you know?" Ucap Grace berusaha agar Evelyne tidak duduk disampingnya Alvero, bisa-bisa mereka semakin dekat.
"Emang lo siapa? Orang tuanya? Gue nggak butuh restu dari lo untuk pacaran sama Evelyne" ucap Alvero kemudian menatap Evelyne seolah memberi kode.
Real se real mungkin
Itulah yang terngiang-ngiang di kepala Evelyne sekarang.
"Udah Grace, biarin Alvero duduk disini, lo kan bisa duduk di bangku sebrang, lagian nggak jauh dari guekan? Lo tetep bisa lihat gue" ucap Evelyne, yang membuat Grace sebal dan menghentakkan kakinya, kemudian beranjak dari duduknya dan duduk di bangku seberang.
"Lo ngapain sih, pake tidur segala nyender nyender lagi, iiish ver" ucap Evelyne karena Alvero
"Diem kenapasih? Lo nggak liat Grace merhatiin kita?"ucap Alvero sembari melirik Grace.
"Inget vel, se real mungkin" imbuhnya
"Iya" ucap Evelyne pasrah, malas menanggapi Alvero. Dan kemudian Alvero menyenderkan kepalanya ke bahu Evelyne, dan Evelyne juga menyenderkan kepalanya.
Terlihat sangat real.