
Seoul Korea Selatan
Azelvin Aleston seseorang yang kini sedang mengerjakan tugas kuliahnya, tidak ada sejarahnya Azelvin Aleston mengerjakan tugas, tapi itu dulu, sekarang dia harus berusaha keras mengerjakan tugas kuliahnya, Azelvin bukanlah orang yang pandai, tapi dia tidak bisa dikatakan bodoh. Azelvin pandai dengan caranya sendiri.
Bagi orang yang sudah lama mengenal Azelvin pasti dia akan terkejut melihat apa yang dilakukan Azelvin Aleston sekarang.
Azelvin Aleston sangat anti dengan yang namanya mengerjakan tugas, bahkan membaca buku saja dia malas. Tapi lihatlah kini, dia membaca setiap halaman buku buku, untuk mengerjakan tugasnya, memang benar kata orang cinta merubah segalanya.
Bukan, bukan cinta dengan buku.
Membaca buku bukan berarti Azelvin mencintai buku, sebenarnya dia malas membaca buku, tapi apa boleh buat.
Untuk Evelyne Chalesthane Mariolin seseorang yang kini tengah menempati hatinya, pikirannya dan semuanya, Azelvin Aleston rela melakukan hal yang tidak disukainya sama sekali bahkan tidak penting baginya.
"Gue nggak bisa konsentrasi niih" ucapnya sembari mengusap rambut kasar.
"Hhuft, nyari udara segar dulu deh" Azelvin Aleston pergi ke balkon kamarnya, pemandangan indah kota Seoul dapat terlihat dengan jelas dari apartemennya, tentu saja, apartemennya memiliki kisaran harga yang fantastis.
"Dingin banget" udara dingin menerpa tubuh Azelvin sangat terasa karena Azelvin hanya mengenakan kaos tipis dengan lengan pendek dan juga celana pendek selutut. Tapi Azelvin menikmati setiap udara yang menerpa wajahnya.
Hening
Itu yang Azelvin rasakan sekarang, daerah di apartemennya sepi, karena Azelvin tidak menyukai keramaian dan itu akan membuat kebising jadi dia memilih apartemen yang menurutnya tepat ini.
"Bintang itu terlihat cantik meskipun sendirian tidak bersama yang lain, aaaah gue jadi kangen Evelyne" Azelvin tersenyum membayangkan suatu kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan.
Flashback
"Jackson mau kemana lagi kamu hah?"
"Kamu tidak perlu tahu Ariel"
"Kamu itu suami aku, jadi aku berhak tahu"
"Tidak bisakah kau diam, aku pusing, aku ingin mencari kebahagiaan di luar"
"Apa maksudmu Jackson?"
"Ku rasa tidak perlu aku jelaskan kau juga tahu maksudku"
"JACKSON" teriak perempuan itu, kemudian terduduk di lantai dan menanggis sejadi-jadinya.
Kejadian itu tidak luput dari mata Azelvin Aleston, yang setiap harinya menyaksikan kejadian seperti ini, dia tidak tega melihat ibunya diperlukan seperti itu oleh ayahnya.
Azelvin Aleston lebih memilih diam dan pergi ke luar rumah memacu kendaraannya di jalanan yang sepi, dia berhenti di sebuah jembatan dan bersandar di pinggiran jembatan yang tinggi, melihat kebawah derasnya air entah kenapa membuatnya ingin menceburkan diri.
Seseorang datang menghampirinya.
"Hei.. lo kalau mau bunuh diri jangan disini, niih ya tempat banyak kenapa lo mau bundir di sini coba? Gue tuh kalau mau ke sekolah, ke supermarket, ke pasar, ke mana aja deh pokoknya, gue lewat sini, nah kalau lo bunuh diri disini, ini jembatan jadi angker, gue jadi nggak berani lewat sini, masa iya gue harus muter lewat sana? Kan jauh"
"Berisik Lo" ucap Azelvin dan berbalik.
"Azelvin" ucap orang itu hendak berjalan menjauh dari Azelvin, tapi Azelvin lebih dahulu menarik tangan orang itu dan membawanya ke dalam pelukan Azelvin.
"Lepasin" ucapnya memberontak.
"Bentar, jangan berontak, gue ceburin lo ke sungai kalau lo nggak diem" detik kemudian orang itu diam tidak melakukan perlawanan lagi.
"Kalau gue tau ternyata Lo, gue biarin aja lo bundir, gue rela deh ni jembatan angker"
"Segitu bencinya lo sama gue" ucap Azelvin menggertakan gigi-giginya, dan mendorong tubuh orang itu menjauhi tubuhnya.
"Eeeh, main dorong-dorong aja lo, ntar kalau gue nyebur gimana? Lo mau tanggung jaw..." Orang itu tidak meneruskan ucapannya karena Azelvin membungkam bibirnya dengan bibir Azelvin.
"Iiih najis, ini namanya pelecehan, gue laporin lo kepolisi mampus lo" ucap orang itu mengusap-usap kasar bibirnya.
"Lo diem atau gue cium lagi? Sekarang gue tanya kenapa lo benci sama gue, emang gue punya salah sama lo"
"Hello, Lo masih tanya kenapa? Lo itu nyebelin, ngeselin, bikin gue emosi, capek, lo sumber kesengsaraan dan masalah buat gue"
"Berani banget lo ngomong gitu"
"Lo tanya, ya gue jawab lah. Eeh btw lo ngapain malem-malem kesini?"
"Nangkep hantu" kemudian orang itu melihat ke sekitar dengan tatapan antara bingung dan ketakutan.
"Bwaahaaahaa, komuk lo jelek" ucap Azelvin menertawakan orang itu.
"Apa sih lo" teriak orang itu dan menangkis tangan Azelvin dari pipinya.
"Evelyne, Evelyne bego banget lo, kurang kerjaan banget gue nangkep hantu, lagian kalau gue mau nangkep hantu, lo bakal jadi yang pertama buat gue tangkep"
"Eeh maksudnya gimana niih"
Azelvin tidak menghiraukan ucapan Evelyne dan sibuk dengan lamunannya.
"Wooi, gue ngomong nih, muka lo kusut amat, makhluk astral kebanyakan minum comberan lo ya?"
"Stop jangan ganti nama gue, nama gue tuh bagus Azelvin Aleston"
"Siapa yang nanya nama lo coba, gue udah tau kali"
"Ya kalau lo udah tau kenapa masih sebut gue makhluk astral"
"Emang kenapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? Salah ortu gue? Salah saudara saudara gue?"
"Malah bercanda"
"Muka lo tuh lecek banget, harusnya Lo berterimakasih sambil sujud syukur karena gue udah menghibur lo"
"Yang ada lo tuh gangguin gue tau nggak?"
"Oke, gue pergi bhaay"
"Eeh... sini duduk samping gue"
"Lo kalau mau bundir ya bundir aja sendiri nggak usah ngajak gue segala"
"Nggak bakal jatoh kok, ntar kalau lo jatuh gue..."
"Beneran pegangin ya"
"Diih siapa yang mau pegangin, makanya kalau orang belum selesai ngomong tuh jangan di potong, kalau lo jatuh ya gue ketawain lah"
"Setan Lo"
"Udah sini buru naik"
"Nggak ntar jatoh"
"Gue pegangin"
"Nggak nyampe"
"Gue bantuin sini tangan lo" Azelvin meraih tangan Evelyne dan membantunya duduk di sampingnya.
"Serem tau nggak, ntar kalau jatuh gimana? Tuuh batu batu kelihatan tajem banget"
"Jangan liat bawah makanya, liat gue aja, ganteng gini masa Lo nggak mau liat"
"Diiih, mending gue liat bintang" Evelyne melihat bintang dan tersenyum manis membayangkan kejadian-kejadian indah yang selama ini sudah di laluinya.
"Oooi gurita bakar, lo kenapa senyum-senyum gitu? Kesambet? Eeeh mana ada setan kesambet setan"
"Sembarang aja lo, ganggu aja lo, mending lo liat bintang"
"Buat apa? Bintang juga cuma gitu-gitu doang bentuknya"
"Menurut gue tuh bintang membawa kebahagiaan, setiap gue ngeliat bintang hati gue merasa tenang tentram banget, bintang itu baik hati dia itu nemenin bulan dan juga orang orang yang bersedih, setiap gue sedih, capek, ada masalah, atau apapun itu gue selalu liat bintang, rasanya tuh sedih kalau mendung malam hari, karena gue nggak bisa lihat bintang, gue nggak bisa lihat kebahagiaan, dan lihat orang orang yang gue sayang, Lo percaya nggak kalau bintang itu membawa kebahagiaan?" Ucap Evelyne dengan senyum yang tidak henti-hentinya terulas dan mata yang berbinar. Sementara Azelvin hanya memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir mungil Evelyne, senyum itu membuatnya merasa nyaman dan bahagia.
"Entah"
Flashback off
"Evelyne kira kira dia lagi lihat bintang nggak ya?"
"Gue kangen berat sama dia, gue lihat fotonya aja kali ya.." Azelvin masuk ke dalam kamarnya dan meraih handphonenya.
Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat layar ponselnya.
Evelyne menelponnya.
Tanpa pikir panjang Azelvin langsung menerima panggilan telepon dari Evelyne.
"Vel, ini Evelyne atau bukan ya?"
"Ini Evelyne bukan sih?, Tapi ini nomernya Evelyne, atau Evelyne udah ganti nomer dan ini nomer orang" ucap Azelvin dalam hati.
"Hallo, Evelyne ini lo bukan?"
"Kok diem aja, jangan-jangan emang beneran bukan Evelyne" ucap Azelvin dalam hati
"Atau salah sambung"
"Kok hening gini, ini bukan Evelyne mungkin" ucap Azelvin dalam hati lagi.
"Eeem saya nggak ada waktu buat ladenin orang nggak jelas gini ya"
"Eeem vin, iiii... Eeemm ini gue Evelyne" ucap seseorang dari sebrang sana.
"Masa sih Evelyne nelepon gue?" Ucap Azelvin dalam hati. Dari suaranya memang terdengar seperti Evelyne, tapi...
"Heeem"
"Kok gue nggak percaya ya? Masa beneran Evelyne, bukannya Evelyne bakal....."
"Nyanyi lagu buat gue" ucap Evelyne memotong pembicaraan Azelvin.
"Haah? Eeeh ini beneran Evelyne bukan sih? Tiba tiba minta dinyanyiin"
"Eeem vin ini beneran gue Evelyne, dan gue minta nyanyiin lagu buat gue"
"Gue nggak yakin"
"Makhluk astral kebanyakan minum comberan lo ya?"
"Evelyne ini bener lo? Lo udah sembuh"
"Vin nyanyi buat gue please"
"Oke, eeem gue nyanyi lagu apa ya? Don't go aja gimana?"
"Kok nggak di jawab sih, bodo lah, gue nyanyi lagu don't go aja"
Evelyne tidak menjawabnya.
"jogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim
nayege ttaraora sonjjitan geot gataseo
aejeolhan nunppitgwa mueone iyagi
gaseume hweoriga morachideon geunal bam
omyohan geudaeye moseube neokseul noko
hanappunin yeonghoneul ppaetgigo
geudaeye momjjise wanjeonhi chwihaeseo
sum shwineun geotjocha ijeobeorin nainde
walcheucheoreom sappunhi anja
nuneul ttel su eopseo
shiseoni jayeonseure georeummada
neol ttaragajana
nal annaehae jweo
Yeah geudaega salgo inneun gose
nado hamkke deryeoga jweo
Oh sesange kkeuchirado dwittaragal teni
budi nae shiyaeseo beoseonaji mara jweo
achimi wado sarajiji mara jweo Oh
kkumeul kkuneun georeum
geudaen namane areumdaun nabi
Oh woo whoo whoo oh yeah yeah
Woo whoo whoo yeah
Woo whoo whoo listen
eodiseo wanneunji eodiro ganeunji
chinjeolhi yeogikkaji majungeul wa jun neo
gapareun oreumak kkakkajin jeolbyeokdo
geokjeong ma mueotto duryeoul kkeoshi eopseuni
neoneun ppomnae uahan jatae
Oh nan myeot beonigo banhago
sarangeun ireoke nado moreuge
yegodo eopshi bulshie chajawa
walcheucheoreom sappunhi anja
nuneul ttel su eopseo
shiseoni jayeonseure georeummada
neol ttaragajana Oh no
nal annaehae jweo
Yeah geudaega salgo inneun gose
nado hamkke deryeoga jweo
Oh sesange kkeuchirado dwittaragal teni
budi nae shiyaeseo beoseonaji mara jweo
achimi wado sarajiji mara jweo Oh
kkumeul kkuneun georeum
geudaen namane areumdaun nabi
nasseon goseul hemaenda haedo
gireul ireobeorindaedo
nuguboda soljjikan
naye mameul ttareul kkeoya
joyonghi nune ttineun momjjit
ganghago budeureoun nunppit
geobuhal su eomneun nanikka Yeah
nal deryeoga jweo
Yeah geudaega salgo inneun gose
nado hamkke deryeoga jweo
Oh sesange kkeuchirado ttaragalkke Oh no
nae shiyaeseo beoseonaji mara jweo
achimi wado sarajiji mara jweo Oh
jogeumahan sonjjit
naye gaseumen hweoriga chinda
Woo whoo whoo (Oh yeah yeah)
Woo whoo whoo (Oh yeah yeah)
Woo whoo whoo
Vel gimana su......" Panggilan dimatikan oleh Evelyne.
"Vel, Evelyne ooi, main matiin aja"
"Gue telfon lagi aja deh"
"Eeh kok nggak di jawab, nggak boleh putus asa telfon terus"
"Anjir, gue di block ini?"
"Aaah sial"
"Evelyne kenapa tiba-tiba nelfon gue ya? Mana minta dinyanyiin segala lagi? Dia kenapa? Dia udah nggak trauma lagi? Gue telfon Gilang aja deh"
Azelvin memutuskan untuk menelepon Gilang si mata-matanya, tapi Gilang tidak menjawab panggilan telepon dari Azelvin.
"Huuft Gilang, Lo nggak tahu apa? Gue lagi butuh lo banget. Ngilang aja niih bocah, udah kaya makhluk astral aja. Eeeh nggak-nggak makhluk astral panggilan sayang dari Evelyne buat gue seorang, aaah jadi baper"
Kemudian malam ini Azelvin Aleston tidur dengan nyenyak dan berakhir dengan melupakan tugas kuliahnya tadi.